Jika Anak SUKA YANG MANIS-MANIS

sumber : tabloidnakita.com

Anda sendiri, apakah juga penggemar makanan dan minuman manis?
Sebetulnya gula yang merupakan sumber karbohidrat adalah makanan yang menguntungkan bagi anak sebagai sumber kalori. Kalori ini diperlukan bagi bocah usia prasekolah yang sedang tumbuh dan memerlukan kecukapan gizi. Tentu saja harus tetap dikonsumsi dalam jumlah yang sesuai kebutuhan. Ini perlu dicermati karena bila sejak kecil hanya menggemari makanan yang manis-manis, kebiasaan kurang baik ini akan terbawa sampai dewasa. Akibatnya, yang bersangkutan akan semakin berpeluang terkena obesitas/kegemukan. Padahal kegemukan di usia relatif muda akan meningkatkan risiko terserang diabetes, darah tinggi, dan jantung.
Untuk itu, perilaku jajan mesti dibatasi. Ironisnya, industri kecil maupun besar seolah berlomba melempar produk mereka berupa penganan manis. Bahkan, sebagian produk makanan anak di pasaran menggunakan pemanis buatan untuk menekan ongkos produksi dan harga jual. Jika tidak diseleksi sejak awal, kebiasaan anak mengonsumsi sembarang jajanan akan berlangsung dalam hitungan tahun selama anak bersekolah di tempat tersebut.
Strategi lain, sediakan dan bekali anak dengan makanan sehat yang dibuat di rumah. Selain lebih bersih, anak-anak juga membutuhkan energi yang berasal dari gula alami. Contohnya, es mambo buatan ibu, selain menggunakan air matang yang bersih, pastilah gula pasir murni dan bukan pemanis atau gula buatan.
BEKAL GURIH
Untuk mencukupi kebutuhan gizi yang lengkap dan diperlukan bagi pertumbuhan tubuhnya, anak usia prasekolah memerlukan aneka makanan sehat. Di usia 4 tahunan, anak mulai mengembangkan kebiasaan makannya sebagai konsumen aktif. Ia mulai bisa memilih sendiri makanan yang ingin dimakannya dan tidak lagi sebagai konsumen pasif yang sepenuhnya bergantung pada orang dewasa di sekitarnya. Di kurun waktu inilah orangtua memiliki peran penting untuk mengarahkan anaknya pada pola makan keluarga yang teratur dan bergizi seimbang. Jangan lupa, orangtua merupakan model utama bagi anak. Bila orangtua memiliki pola makan yang sehat, anak pasti akan mengikutinya.
Guna membantu anak agar mampu menjadi konsumen aktif yang bisa memilih makanan sehat, sediakan selalu menu utama maupun camilan yang memenuhi syarat makanan bergizi. Bergizi di sini tentunya berimbang baik sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineralnya. Sedangkan bervariasi, disamping dikemas sebagai bentuk sajian yang menarik, makanan pun perlu disajikan dalam aneka rasa, seperti gurih, asam, dan manis agar tak membosankan.
Anak usia prasekolah biasanya sudah membawa bekal makanan untuk dibawa ke kelompok bermainnya. Untuk mengurangi “ketergantungan” pada makanan yang manis, sebaiknya jangan bekali anak dengan setangkap roti manis, brownies, atau camilan apa pun yang memiliki kandungan gula cukup tinggi.
Sebagai gantinya, lebih baik bekali anak dengan makanan sehat dan bergizi, siapkan bekal makanan berkalsium seperti selembar keju dalam roti, kue sus isi ragut sayuran, atau nougat dari susu kacang. Jangan lupa selipkan pula satu jenis makanan yang kaya akan zat besi seperti sosis ayam, telur rebus, atau daging sapi gepuk. Bila jam “sekolah”nya cukup panjang, boleh-boleh saja tambahkan pilihan bekalnya dengan jenis serelia seperti spageti. Jangan lupa untuk menyelipkan buah-buahan segar dalam tas bekalnya, terutama jeruk atau pisang.
Semua bekal makanan ini sebaiknya dibuat sendiri di rumah hingga kebersihannya lebih terjamin dibanding bila membelinya di luaran. Kalaupun tidak sempat hingga terpaksa membeli, sebaiknya pilih tempat jualan yang bersih. Untuk jenis penganannya, sebaiknya pilih yang lengkap gizinya.
GOODIE BAG
Selera rasa manis umumnya dipengaruhi oleh lingkungan. Artinya, pengalaman dan pembiasaan memberi kontribusi amat besar dalam hal ini. Saat beranjak dewasa, selera seseorang akan ditentukan oleh apa yang mereka pelajari lewat pengalaman makan dan kebiasaan makan yang mereka lakoni.
Umumnya anak-anak tak pernah bisa menolak karbohidrat sebagai salah satu sumber zat gizi yang memberikan rasa manis. Terutama karbohidrat sederhana, semisal gula, madu, maupun gula dalam buah. Coba saja perhatikan, anak-anak begitu mudah terbangkitkan selera makannya hanya dengan menambahkan 1-2 sendok teh gula pasir ke dalam susunya atau makanan lain. Sebaliknya, anak-anak tak menyukai rasa pahit. Bisa dimaklumi kalau mereka biasanya juga tidak menyukai sayuran karena dalam sayuran terselip rasa pahit.
Selain melalui menu keluarga, pengenalan anak prasekolah secara intensif pada rasa manis umumnya tak bisa dilepaskan dari sosialisasinya. Bukankah mereka kerap mendapat undangan ulang tahun dari teman sebaya yang dimeriahkan pula oleh buah tangan berupa goodie bag (tas bekal) berisi aneka cokelat, penganan manis, dan permen. Penyumbang lain dari tingginya selera anak terhadap makanan manis-manis apalagi kalau bukan aneka jajanan yang dijual di toko.
BAGAIMANA DENGAN MINUMAN MANIS?
Bukan cuma permen dan batang cokelat sebagai sumber gula yang harus dibatasi. Makanan dan minuman lain yang mengandung rasa manis pun sebaiknya tidak dikonsumsi secara berlebihan. Misalnya kue-kue dan biskuit yang mengandung tepung dan gula, madu, butir cokelat, cokelat oles, sari buah, susu kental manis dan sebagainya. Begitu juga minuman yang termasuk jenis sirup dan softdrink.
Meski anak tergila-gila pada jenis-jenis makanan tadi, tidak pada tempatnya bila orangtua memanjakan mereka dengan memberikan makanan yang justru berefek buruk tersebut. Kalaupun tak kuasa menolak, cukup sesekali saja. Soalnya, kendati sebagai sumber kalori, gula dan karbohidrat yang dikonsumsi berlebihan hanya akan menyebabkan gangguan kesehatan di kemudian hari.
Santi Hartono.
Narasumber:
dr. Luciana B. Sutanto, MS.SpGK,
dokter spesialis Gizi Klinik dari RS Mitra Kemayoran, Jakarta

Jika Anak MAU Tinggal DI RUMAH Nenek

sumber : tabloidnakita.com

Boleh jadi bukan semata karena fasilitas yang berlebih, tapi dia butuh kenyamanan.
Seorang teman bercerita kalau anaknya yang berumur 4 tahun tak mau diajak pulang saat diajak mudik Lebaran kemarin ke rumah neneknya. Jadi terpaksa ia dan istri pulang duluan ke Jakarta sementara si kecil tinggal dengan neneknya di Bandung. “Udah pake segala macam cara ngebujuk tapi dia enggak mau pulang juga. Memang sih di sana dia mendapat segala fasilitas yang lebih oke daripada di rumah. Jadi apa yang harus saya lakukan ya?”
Pernah mengalami kejadian yang sama seperti teman tadi? Atau setidaknya mirip, seperti saat diajak ke rumah budenya, si prasekolah susah diajak pulang karena di sana ada fasilitas kolam renang dan PS 3, umpamanya. Nah, menurut Indah Kiranawati Machsus, Psi., pada dasarnya manusia (termasuk anak-anak) cenderung mencari hal-hal yang dianggap lebih enak atau menyenangkan. Dalam konteks ini, anak lebih betah tinggal di rumah kerabatentah itu nenek/kakek, tante/omlantaran mendapatkan pemuasan kesenangan dalam bentuk beragam fasilitas yang tersedia di rumah tersebut.
ENGGAK MAU PULANG
Yang jelas, saran Indah sebaiknya hal ini tak dibiarkan berlarut-larut, hingga si anak jadi emoh pulang dan memilih menetap di rumah tersebut. Kalau sudah begini, tentu orangtua yang jadi kelabakan. Lalu apa saja yang perlu dilakukan orangtua?
* Ajak bicara dan bujuk
Langkah yang pertama dan utama adalah jalin komunikasi yang baik dengan si prasekolah. Ketahui kenapa anak merasa asyik atau senang tinggal di rumah nenek, lantas enggak mau pulang-pulang. Mungkin lantaran adanya sajian fasilitas bermain/permainan yang notabene tak ada di rumah. Kalaupun fasilitas tersebut ada, tapi sudah jelek, rusak, kurang canggih dan sebagainya.
Kemungkinan lain karena adanya fasilitas ruang atau halaman yang begitu lapang. Berbeda dengan di rumah yang serbaterbatas lahannya. Kalau kondisinya berbeda seperti itu, ajak bicara sang buah hati, agar tak keterusan minta tinggal di rumah tersebut. Contoh “Kakak senang main di rumah, Nenek? Tapi, kan, kita mesti pulang. Kakak besok, kan, sekolah? Nanti kalau libur, kita main ke rumah Nenek lagi ya.” Pokoknya bujuk sedemikian rupa sehingga anak tak malah tinggal selamanya bersama nenek.
* Ketahui akar masalahnya
Cari terus lebih dalam, apa alasan anak pengin tinggal di rumah kerabat itu. Boleh kiranya kita meminta ia menceritakan seperti apa sih suasana di sana. Mungkin saja bukan sekadar fasilitas yang komplet, baru dan canggih, akan tetapi ditambah suasana yang begitu nyaman, sikap yang hangat dan ramah dari para penghuni rumah itu sehingga menyebabkan ia lebih betah di sana. Toh, mungkin ada juga orangtua yang menyediakan segambreng fasilitas dan kemudahan, tapi anaknya tetap enggak betah. Malah dia senang main di rumah temannya yang kondisinya biasa-biasa saja. Ada juga, kan, anak yang lebih memilih tetap tinggal di rumah sederhananya, ketimbang berkunjung ke rumah kerabat yang besar, megah dan serbawah. Dia lebih merasa nyaman di rumah mungil orangtuanya.
Jadi, telusuri akar masalahnya. Selain karena faktor fasilitas yang lebih komplet, kemungkinan juga anak sebenarnya merasa bosan. Bukan semata-mata anak jadi “matre”, inginnya sesuatu yang wah atau bagus. Apalagi kalau kita menyimak tumbuh-kembang anak usia prasekolah yang umumnya masih dalam tahap eksplorasi dimana bila ia sudah tak menemukan hal menarik untuk dieksplorasi, jangan heran dia jadi merasa bosan. Selanjutnya, si anak mulai kerasan dan betah di rumah orang lain yang mungkin memiliki sesuatu yang lebih menarik untuk dieksplorasi.
SOLUSI YANG TEPAT
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan bila kita mulai melihat “gelagat” si prasekolah senang tinggal di rumah kerabat/saudara dan bahkan menolak untuk pulang. Berikut di antaranya:
* Buat kesepakatan
Meskipun masih tergolong dini, akan tetapi dia bisa, kok, diajak untuk membuat kesepakatan bersama. Tinggal bagaimana cara kita menyampaikan dengan bahasa yang dimengertinya. Misal, atur jadwal kapan anak boleh ke rumah nenek atau saudara lain yang fasilitasnya berlebih itu. Apakah tiap hari Minggu atau saat hari libur. Tentukan pula apakah sekadar berkunjung/bermain atau sekalian menginap. Kalau menginap kira-kira berapa lama, dan sebagainya. Jadi meskipun di rumah kerabat sendiri, akan tetapi anak sejak dini belajar untuk mengenal “etika” ke rumah orang lain; ada saatnya juga untuk pulang ke rumah, bukan berarti menginap maksud-nya tinggal di sana untuk selamanya.
Dalam hal ini, ajak anak untuk mengambil keputusan atas pilihannya. Jelaskan pada anak bahwa aturan yang sudah disetujui itu mesti dilakukan dengan baik. Jelaskan dengan bahasanya bahwa aturan atau kesepakatan yang dibuat itu untuk kebaikannya juga bukan berarti untuk mengekangnya.
* Ciptakan suasana nyaman
Meskipun ketersediaan fasilitas yang ada di rumah kurang lengkap, canggih atau sudah “jadul”, kita bisa kok membuat anak betah dengan fasilitas yang ada. Kuncinya adalah menciptakan suasana yang nyaman, hangat, ramah buat anak. Coba bayangkan bagaimana reaksi anak, misalnya kalau kita sebagai orangtua ternyata sering marah-marah, padahal fasilitas di rumah begitu komplet.
Selanjutnya Anda perlu melibatkan diri dengan aktivitas bermain anak. Mungkin selama ini dia enggak betah di rumah, dan doyan di rumah kerabat karena kegiatan bermainnya sungguh menarik. Boleh dicoba dengan melakukan berbagai permainan interaktif bersama anak. Jangan takut kegiatan yang “konvensional” membuat anak lebih betah di rumah orang lain, misalnya, bermain game di komputer. Paling tidak, kalau kita tak bisa memberikan fasilitas yang berlebih, cukup berikan fasilitas yang menunjang hobi si anak tentunya. Misalnya, kalau anak senang bermain game, enggak harus PS, bukan? Bisa melalui game komputer tinggal dipilihkan jenis game-nya mau seperti apa. Kalau perlu, ajak teman-temannya untuk bermain di rumah. Siapa tahu, dengan banyak melakukan aktivitas bersama, anak jadi lebih betah tinggal di rumah. Yang diharapkan, dia tak lagi pengin tinggal di rumah kerabat.
Hilman Hilmansyah.