Jika Anak Mau Sama Ayahnya saja


sumber : tabloidnakita.com

Mengapa anak terlihat pilih kasih pada orangtua? Berikut penjelasan Roslina Verauli, M.Psi., dari Lembaga Psikologi Empati Development Centre, Jakarta, sebagaimana yang dipaparkannya kepada Irfan Hasuki, reporter nakita.
Ada KESAMAAN MINAT
Tentunya bukan tanpa sebab bila si kecil lebih dekat dengan ayah saja atau ibu saja. Salah satunya adalah faktor minat yang sama. Anak perempuan umumnya akan berminat dengan kegiatan keperempuanan. Misal, dia sangat tertarik dengan ibu yang sering merias wajahnya di depan cermin, memasak, membuat kue, dan sebagainya. Persamaan minat ini membuat anak ingin mengidentifikasi perilaku ibunya sehingga apa yang dilakukan sang ibu akan ditiru anak. Hal ini membuat anak perempuan umumnya lebih dekat dengan ibu.
Hal yang sama pun bisa terjadi pada anak laki-laki terhadap ayahnya. Dia senang dengan aktivitas kelelakian seperti membengkel, olahraga, bermain mobil-mobilan, dan lainnya. Nah, adanya kesamaan minat ini membuat anak merasa lebih dekat pada ayah. Apalagi banyak masyarakat yang masih mengotak-kotakkan minat berdasarkan jenis kelamin, bahwa laki-laki harus meniru ayah dan perempuan meniru ibu.
Tentu, bisa saja terjadi kalau anak laki-laki lebih berminat dengan kegiatan ibu sedangkan anak perempuan lebih berminat pada kegiatan ayahnya. Hal ini sah-sah saja. Yang jelas, selain adanya kesamaan minat, kedekatan anak dengan salah satu orangtuanya juga bisa disebabkan perhatian dan perlakuan si ayah/ibu kepada si anak.
Contoh, ibu begitu perhatian; apa yang anak butuhkan, ibu selalu bisa memenuhinya. Menemaninya tidur, memandikan, menyuapi makan, memakaikan baju, dan sebagainya. Kepenuhperhatian inilah yang membuat anak lebih dekat ibunya dibandingkan ayahnya yang mungkin hanya sesekali memberikan perhatian. Apalagi bila sang ayah sering bersikap kasar, tidak peduli dengan kebutuhan anak, bersikap dingin, dan sebagainya, maka anak dengan ibu akan semakin lekat. Umumnya anak akan menjauh dari ayahnya. Bila ayah berada di rumah, anak merasa tak nyaman karena takut kena marah: Hal sebaliknya juga bisa saja terjadi, anak akan lebih dekat pada ayah yang penuh perhatian dibandingkan ibu.
WAKTU BERSAMA
Banyaknya waktu yang dihabiskan orangtua bersama anak juga bisa membuat anak lebih dekat pada salah satu orangtua. Jika ayah sibuk di kantor sehingga waktu bersama anak menjadi sangat jarang, sedangkan ibu selalu menemani anak di rumah, maka anak akan lebih dekat dengan ibu. Hal ini akan semakin menguat bila sang ayah tak berusaha untuk dekat dengan anaknya, tidak mengajak bermain, menyerahkan semua urusan anak ke istri, dan sebagainya. Begitu pula sebaliknya, bila ibu yang sibuk bekerja dan ayah yang lebih banyak di rumah bersama anak, bisa saja anak akan lebih dekat pada ayah. Bukankah saat bersama, banyak hal yang dilakukan ayah? Seperti, mengantar-jemput ke sekolah, bermain bersama, mengajarkan pelajaran TK, dan sebagainya.
Hal yang sama juga akan terjadi bila anak hanya tinggal berdua saja dengan salah satu orangtua, sementara orangtua yang satunya tinggal di kota lain atau sering tugas di luar kota/negeri. Kedekatan ini wajar terjadi karena sehari-hari anak selalu menghabiskan waktunya hanya dengan ibu atau ayahnya saja. Dengan tinggal berdua seperti ini, tak ada orang lain yang menjadi figur terdekat kecuali si ibu atau si ayah. Ketika ia butuh pertolongan, semisal sakit, terjatuh, atau takut terhadap binatang yang menjijikkan hanya ada ibu/ayah seorang yang ada di dekatnya. Tak heran bila kedekatan pun semakin erat terjadi.
FIGUR IDOLA
Ada anak yang sangat mengidolakan ayah atau ibunya. Anak merasakan kalau ayah adalah figur yang sangat mengagumkan dalam hidupnya. Dia sering mengamati ayahnya yang rajin pergi bekerja setiap pagi, pandai bermain gitar, pintar bermain komputer, terampil menyetir mobil, selalu ada untuk melindunginya, dan sebagainya. Muncullah imej dalam diri anak mengenai ayahnya yang pintar, gagah perkasa, pelindung, penolong, dan sebagainya. Sedangkan sang ibu selalu cerewet, melarang ia melakukan sesuatu, memarahinya, dan sebagainya. Pengidolaan ini akan semakin kuat sehingga dia pun merasa lebih dekat pada ayah.
Hal sebaliknya juga bisa terjadi. Dia melihat sang ibu bersikap lemah lembut, selalu cantik berpakaian, pandai menyajikan masakan lezat kesukaannya, sehingga anak sangat mengidolakannya. Tak mustahil bila, anak ingin dekat ibunya.
KERUGIAN BILA JAUH dengan SALAH SATU ORANGTUA
Kedekatan anak dengan ibu sebenarnya tak terlalu masalah bila tidak sampai mengganggu hubungannya dengan sang ayah. Begitu juga sebaliknya. Sebab, meskipun lebih dekat ke salah satu orangtua, anak masih bisa berhubungan baik dengan kedua orangtuanya. Menjadi tidak wajar bila hubungan oragtua-anak. Biasanya, terputusnya hubungan ini disebabkan oleh sikap kedua orangtua yang sangat kontradiktif. Ibu begitu perhatian, sementara ayah sangat cuek dan pemarah. Atau sebaliknya. Bila hubungan itu terus rusak, maka anak akan mengalami banyak kerugian, antara lain:
Kehilangan Figur Penting
Setiap orangtua, ayah maupun ibu, memiliki karakter berbeda. Umumnya, ayah bersifat kebapakan, gagah, tegas, sementara ibu bersifat keibuan, lembut, tutur katanya halus, penuh perhatian, dan sebagainya. Bila anak sampai jauh dari salah satu orangtuanya, maka dia akan kehilangan figur dari karakter yang ditunjukkan salah satu orangtuanya. Bila jauh dari ayah, maka anak tak bisa belajar dari sosok ayah yang gagah, tegas, dan sebagainya. Kehilangan figur tersebut, bisa membuatnya kehilangan arah bagaimana seharusnya ia bersikap.
Benci Gender
Hanya dekat dengan salah satu orangtuanya sementara dengan orangtua yang lain jauh, bisa saja memunculkan rasa benci. Terutama bila orangtua yang jauh dengannya punya sikap yang tidak terpuji, sering marah-marah, melakukan kekerasan fisik, pelit, dan sebagainya. Bila yang melakukan hal tersebut adalah sang ayah, bisa saja menyamaratakan kalau laki-laki suka berbuat kasar sehingga dia pun akan membenci sosok laki-laki. Begitu pula sebaliknya. Padahal, tidak semua orang sama tetapi anak tidak tahu akan hal itu.
Kehilangan Keharmonisan
Selayaknya anak hidup di lingkungan keluarga yang harmonis. Dia punya hubungan yang dekat dengan kedua orangtuanya sehingga pertumbuhannya jadi optimal di lingkungan yang kondusif. Bila dia hanya dekat ke ibu sementara jauh dari ayah atau sebaliknya, maka anak akan kehilangan keharmonisan di dalam keluarga. Hal ini tentu sangat tidak baik untuk pertumbuhan mentalnya karena dia tak bisa bermanja, bermain, berkumpul bersama ayah/ibunya. Secara mental, anak yang tumbuh di keluarga yang tak harmonis biasanya akan menjadi anak yang kurang percaya diri, kurang berinisiatif, atau bahkan menjadi anak yang sulit dikontrol. Intinya, kemampuan mentalnya bisa lebih rendah dibandingkan anak yang tumbuh di keluarga harmonis.
Sering Tak Nyaman
Saat berdua saja dengan ibu yang dekat dengannya, anak akan merasa sangat nyaman. Tetapi bila ayah yang bertemperamen keras sudah pulang dari kantor, muncullah perasaan tak nyaman pada anak. Anak takut kalau ia akan dimarahi, dikasari, disuruh yang aneh-aneh, dan sebagainya. Ketidaknyamanan ini akan berpengaruh terhadap perkembangan psikisnya, dia akan sering merasa ketakutan meskipun berada di rumahnya sendiri. Imbasnya, bisa saja kelak anak tumbuh menjadi orang yang selalu was-was dan tak percaya diri.
Agar ANAK DEKAT Dengan KEDUA ORANGTUA
Nah, agar anak tidak hanya dekat dengan ayah/ibunya saja, inilah beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan:
Luangkan Waktu Sebentar
Bila kita sudah bekerja seharian, secapek apa pun, kita harus meluangkan sedikit waktu untuk berinteraksi dengan anak. Entah bermain, makan bersama, atau melakukan aktivitas lainnya.
Ngobrol Ringan
Jangan hanya diam saja saat bersama anak tetapi kita harus menciptakan obrolan ringan, dengan menanyakan apa kesenangannya dan yang sudah dia lakukan seharian. Pertanyaan kita membuat anak merasa diperhatikan sehingga dia akan menuturkan apa yang dialaminya sepanjang hari tadi. Dengarkan apa yang dituturkan dan tanyakan hal-hal yang menarik. Dengan begitu kedekatan kita dan anak akan terjaga dengan baik.
Waktu Libur
Banyak orangtua yang libur bekerja saat weekend. Saat ber-weekend banyak hal menarik yang bisa kita lakukan, bermain pasir bersama di pantai, menikmati perjalanan bersama, berfoto bersama, dan sebagainya. Hal-hal inilah yang akan mendekatkan kita dengan anak setelah 5 hari sibuk di kantor.
Hadiah Spesial
Boleh saja sesekali kita memberikan hadiah kepada anak. Misal, membelikan cokelat kesukaannya, menghadiahinya pasel, memberinya poster, dan sebagainya. Kita bisa melakukannya seminggu sekali atau sebulan sekali. Pilihlah hadiah-hadiah yang memang diinginkannya/disukainya sehingga anak antusias menerimanya terutama saat ia merayakan ulang tahun. Dengan pemberian hadiah ini, anak akan merasa bahwa kita begitu perhatian padanya. Tentu, jangan sampai pemberian hadiah ini membuat anak manja; selalu menagih setiap kita pulang kantor. Untuk itu, sangat baik bila kita memberikan penjelasan saat memberikannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s