Jika anak ingin punya hewan peliharaan


sumber : tabloidnakita.com

Sepertinya hewan selalu memiliki magnet bagi anakanak. Lihat saja bagaimana mata mereka berbinarbinar melihat kelinci yang lucu.
Milka (2;5) adalah salah satu dari berjuta anak yang tertarik pada hewan lucu. Ia ingin punya Mumu, kelinci Australia seperti milik Kak Aras, tetangga sebelah rumahnya. Namun apa mau dikata, bundanya bukan tipe penyuka binatang, apalagi yang berbulu. Hiiiiiiih membayangkan saja dia sudah merinding. Apalagi kalau tiap hari harus bertemu, memberi makan dan minum lagi! Buat sang bunda, cuma ada jawaban, “Enggak deh!” Masalahnya, Milka terus merengek-rengek. Bagaimana, ya, cara menyikapinya secara bijak?
Wajar saja kalau Ibu atau Ayah keberatan memelihara hewan di rumah. Alasannya memang berderet. Namun, wajar juga kalau anak seperti Milka ingin punya hewan di rumah. Rasa ingin tahu anak 1-3 tahun terhadap lingkungan memang mulai merasuki jiwanya, termasuk pada hewan. Yang mengherankan, mungkin, mengapa anak sekecil Milka suka kelinci dan bukan yang lain? Atau mungkin ada anak yang mendambakan tidur ditemani gajah kecil, seperti yang dilihatnya dalam buku dongeng.
Umumnya, ketertarikan pada binatang tertentu muncul karena bentuknya yang dianggap paling lucu, berbulu indah, dan berwarna menarik. Bisa juga ia tertarik pada suara binatang tersebut, seperti burung kakaktua atau beo yang bisa bicara.
Yang jelas, anak batita masih menyukai hewan yang dianggapnya tidak menakutkan dan cukup ramah. Jarang mereka menyukai hewan seperti ular, iguana, atau cacing. Selain karena referensinya masih terbatas, mereka umumnya juga menilai binatang-binatang tersebut menakutkan atau menjijikkan. Berbeda dari anak-anak prasekolah yang mungkin justru memfavoritkan hewan berwajah seram semacam dinosaurus atau reptil.
BUKAN SESAAT
Ketertarikan anak batita pada hewan tertentu, sebetulnya bukan karena ia sudah mengerti konsep hewan peliharaan. Tidak demikian. Ia ingin anjing, kucing, kelinci dan lainnya karena suka dan membayangkan hewan itu bisa diajaknya bermain.
Namun biar bagaimana pun, kebutuhan anak jangan dianggap remeh. Meski terkesan hanya kesenangan sesaat, yang nanti teralihkan dan terlupakan, sebetulnya kebutuhan anak yang tidak terpenuhi dapat membekas pada perasaannya. Dampak dari kekecewaannya mungkin muncul sebagai bentuk kerewelan yang tampak tak beralasan.
ATURAN MEMELIHARA HEWAN
Jika orangtua setuju memberikan hewan peliharaan, pertimbangkan beberapa hal ini:
1. Pilih hewan yang aman
Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah keamanan hewan yang diminati si batita baik dari segi ukuran dan sifatnya; apakah berpotensi melukai ataupun menularkan penyakit. Tawarkan beberapa pilihan jika sekiranya si kecil memfavoritkan hewan yang berbahaya baginya. Contoh, “Dek, Ibu khawatir karena anjing kalau menggigit bikin sakit, lo. Bagaimana kalau kelinci saja, kan lucu juga. Kelinci tidak suka menggigit seperti anjing.” Anak batita umumnya senang pada hewan apa pun yang rupanya lucu. Biasanya ia mau menerima hewan lain yang mirip dengan keinginannya (sama-sama berbulu dan imut-imut), atau setidaknya dianggap lucu olehnya. Juga, perhatikan kebersihan dan kesehatan hewan yang akan dipilih.
2. Ada tempat khusus untuk si hewan di halaman rumah.
Jika hewannya berupa ikan hias tentu tak masalah karena ia tidak akan melompat keluar dari akuariumnya bukan? Berbeda jika hewan tersebut adalah anjing, kelinci, atau kucing yang senang berkeliaran ke mana-mana atau burung yang biasa membuang kotoran sembarangan. Katakan kepada anak bahwa hewan peliharaan harus tetap tidur di luar (di kandang yang ditaruh di halaman belakang, umpamanya). Aturan ini perlu agar anak tidak mengajaknya ke dalam rumah apalagi ke kamar. Bermain bersama boleh saja, tetapi hanya sebatas di teras, garasi, atau pekarangan.
3. Kebersihan hewan dan kandang selalu terjaga.
Jika anak dibolehkan memelihara hewan peliharaan maka orangtua harus terlibat memerhatikan kebersihan kandang dan hewan tersebut. Ada baiknya, lakukan kontrol hewan peliharaan ke dokter hewan, juga untuk mendapatkan vaksinasi agar tak menularkan penyakit. Ajari juga si kecil untuk selalu mencuci tangan dengan sabun sehabis memegang hewan. Ajaklah ia melihat bagaimana menjaga kebersihan kandang beserta hewannya.
4. Perilaku anak tetap dalam pengawasan
Ketika sedang bermain bersama hewan peliharaan, anak batita harus tetap dalam pengawasan orang dewasa. Ini untuk mengurangi risiko anak digigit, dicakar, atau dipatuk.
TIDAK SETUJU?
Nah, jika orangtua tidak setuju memelihara hewan di rumah dengan berbagai alasan—entah karena umur anak masih kelewat kecil, orangtua tidak suka binatang, repot mengurusnya, makan biaya banyak, tidak ada lahan untuk kandang hewan—maka sikapi kebutuhan anak ini dengan bijak. Berikan pemahaman kepadanya bahwa memelihara binatang tidaklah gampang. Sebagai gantinya, ajak anak ke kebun binatang, atau ke rumah kerabat yang memelihara hewan jinak, serta bisa juga membelikan boneka berbentuk hewan kesayangannya.
Selanjutnya, orangtua dapat menghibur si kecil dengan mengatakan, “Kita enggak usah memelihara kelinci ya Dek,” umpamanya, “karena ayah dan ibu tidak punya waktu untuk mengurusnya. Kelinci, kan perlu dibersihkan kandangnya. Kalau mau, Adek setiap sore bisa ke rumah Kak Aras untuk melihat Mumu. Bawa makanan untuk si Mumu, nanti Adek yang kasih makanannya.” Intinya, kalau Anda tidak setuju si batita punya hewan peliharaan, tanggapi dengan empati. Asal melarangnya hanya akan berbuah rengekan dan tangisan.
Dedeh Kurniasih.
Narasumber:
Karlinawati Silalahi, M.Si,Psi.,
dosen Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s