Aturan “MENYEKOLAHKAN” Si Batita


sumber : tabloidnakita.com

Sesuaikan jam sekolah dengan waktu bangun si kecil.
Selain sudah mampu berjalan dan terampil menggunakan kedua tangannya, kemampuan berpikir anak usia batita umumnya makin berkembang baik. Ia sudah dapat mengatasi masalah-masalah yang sederhana dan perkembangan berbahasanya mulai kompleks. Ketika ia mulai mengeksplorasi seisi rumah, biasanya terpikirlah untuk “menyekolahkannya”.
Sekolah memang belum diperlukan mutlak di usia ini. Namun, sekolah bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan sosial anak jika di lingkungan rumah ia tidak memiliki teman sebaya. Dengan “bersekolah”, anak berada dalam situasi dimana dia bisa bersosialisasi, belajar, dan mengembangkan kognitifnya. Selain jadi lebih mudah bergaul, diharapkan anak lebih percaya diri dan diasah kemampuannya untuk menyelesaikan masalah.
Intinya, Kelompok Bermain (KB) memiliki fungsi untuk merangsang, memfasilitasi serta mengembangkan kemampuan anak, baik fisik, intelektual, sosial emosional, sesuai kebutuhan anak pada masa perkembangannya. Memang, beberapa pakar berpendapat, usia yang tepat untuk masuk kelompok bermain adalah 3 tahun. Pasalnya, di usia ini anak mulai bisa melepaskan diri dari ketergantungannya terhadap orangtua. Anak usia ini pun mulai kenal dengan orang-orang di luar lingkungannya. Meski begitu, tak selalu anak usia 3 tahun sudah siap sekolah. Bahkan, ada pula anak usia di bawah 3 tahun yang sudah siap sekolah. Maka yang paling penting diketahui adalah bagaimana kesiapan anak untuk memasuki sekolah.
BERMINAT ATAU TIDAK
Jadi, keputusan untuk memasukkan si kecil ke kelompok bermain, tak perlu tergesa-gesa. Bisa jadi, keinginan anak untuk sekolah lantaran melihat kakak-nya yang bersekolah. Alhasil, dia “ikut-ikutan” ingin sekolah. Tak ada salahnya kita terlebih dahulu melihat apakah si kecil sekadar meniru kakaknya atau memang benar-benar ingin bersekolah. Misalnya, bila keinginannya bersekolah diungkapkan hanya sesekali saja, terutama ketika melihat kakaknya berseragam sekolah, mungkin dia tak serius ingin sekolah. Akan tetapi kalau keinginannya itu berulangkali diungkapkan, mungkin anak memang benar-benar sudah ingin bersekolah.
Nah, untuk memastikannya, sesekali ajaklah si batita bermain ke sekolah. Biarkan dia merasakan bersekolah itu seperti apa. Ajak dia ikut kakaknya ke sekolah atau ketika ada perayaan sekolah. Kunjungan “percobaan” ini bisa dilakukan paling tidak 1-2 minggu. Atau ikutkan dia dalam kelas percobaan jika pihak sekolah memiliki program demikian untuk mengetahui apakah anak memang benar-benar berminat sekolah atau tidak. Biar dia bisa mengenal pula lebih dekat mengenai sekolah, tentang permainan yang ada di sana dan sebagainya sehingga ia terbiasa dengan lingkungan sekolah. Jangan lupa, beri gambaran pada anak siapa saja yang akan ditemuinya di sekolah, entah itu guru atau teman-teman bermainnya. Yang jelas, bukan karena paksaan orangtua, ya. Tetap harus ada minat dari si batita sendiri untuk sekolah.
BEBERAPA ATURAN
Nah, ketika anak benar-benar siap untuk sekolah, tentu orangtua perlu menerapkan bermacam “aturan” agar proses bersekolah bisa berjalan baik, di antaranya:
* Kebutuhan gizi
Agar si batita benar-benar siap sekolah, berikan makanan dengan gizi yang baik agar taraf kemampuan perkembangan fisiknya optimal. Gizi yang tidak baik hanya akan membuat fisik anak lemah dan menghambat aktivitasnya.
* Kebutuhan basic trust
Anak batita masih mengembangkan basic trust (kepercayaan dasar) sebagai bekal untuk mengeksplorasi lingkungannya yang makin luas. Tugas orangtualah untuk mengembangkan basic trust agar dia yakin bahwa lingkungannya bisa ia percaya, sehingga ia pun berani bereksplorasi di lingkungannya yang baru. Biasanya masalah muncul saat pengalaman pertamanya di sekolah yaitu anak masih ingin ditemani orangtua. Kalau memungkinkan, minta izin pada pihak sekolah supaya bisa menemani anak dalam beberapa waktu sekadar untuk proses adaptasi. Selanjutnya, berikan kesempatan kepada anak untuk menyesuaikan diri. Umumnya, kalau dia sudah menemukan keasyikan tersendiri, anak tak lagi cemas berpisah dengan orangtuanya. Lepaskan anak secara bertahap sambil menenangkannya. Ucapkan kata-kata yang membuatnya nyaman. “Bu Gurunya baik sekali, kamu tidak perlu takut, ya!” misalnya. Jika anak sudah merasa nyaman, sudah waktunya meninggalkan anak bersama teman-temannya. Di hari-hari berikutnya, anak sudah tak perlu lagi ditemani orangtua.
* Sesuaikan ritme
Ada sekolah yang memberlakukan jam belajar pagi hari, tapi tak sedikit pula yang menjelang siang. Sebaiknya, sesuaikan jam belajar dengan ritme anak sehari-hari. Ada anak yang terbiasa bangun pagi tapi ada pula yang tidak. Boleh jadi lo, karena terbiasa bangun siang, dia jadi ogah-ogahan masuk “sekolah”.
Perhatikan juga karena ada jam-jam tertentu dimana stamina anak turun atau justru meningkat. Waktu beraktivitas yang tepat membuat si kecil siap menerima semua stimulasi dan aktivitas yang diberikan. Pemilihan jam sekolah yang kurang tepat dengan ritme anak hanya akan membuat proses belajar tak maksimal. Contoh, saat teman-temannya asyik bermain, ia mengantuk karena kelelahan. Bahkan, mungkin juga anak jadi mudah rewel dan gampang marah. Terlebih di usia ini, anak masih sulit mengendalikan emosinya. Alhasil, si batita malah minta pulang.
* Jangan dipaksa
Sekolah tetap berbeda dengan rumah. Jadi walau namanya taman bermain, tetap saja merupakan sebuah lembaga kecil yang menerapkan peraturan. Meski begitu, kalau anak enggan sekolahkarena capek, kesiangan dan sebagainyatak perlu dipaksakan bersekolah. Kalau dipaksa, bisa-bisa ia malah stres. Ingat, perkembangan emosinya masih berubah-ubah, begitu juga keinginannya. Kalaupun di hari itu ia “bolos”, lakukan kegiatan-kegiatan yang tetap mengasah kemampuannya di rumah.
Perlu diketahui, lingkup sosial batita masih terbatas pada keluarga. Memang ia mulai bisa bergaul dengan teman sebaya, tapi masih belum bisa bermain bersama dalam waktu lama dan bekerja sama. Anak usia ini juga rentan terhadap perubahan. Bila dipaksakan, dia bisa mogok mengikuti sekolah. Dia juga belum siap untuk berada dalam suatu situasi baru. Terlebih lagi situasi baru tersebut memiliki aturan-aturan lebih kaku daripada di rumah, yang bagi anak-anak tertentu belum waktunya untuk mengikuti aturan-aturan tersebut.
MEMILIH SEKOLAH
Institusi sekolah makin menjamur, karenanya kita perlu menyeleksi sekolah yang pas untuk si batita:
* Program atau materi
Ketahui program atau materi yang diajarkan di sekolah, apakah sesuai dengan perkembangan anak batita atau tidak. Lakukan observasi untuk menilai program sekolah itu. Misal, sekolah tersebut tidak mengajak anak untuk menghafal secara textbook, tidak harus bisa membaca, dan sebagainya. Jangan sampai program-programnya malah membuat anak “memusuhi” sekolah. Program yang terlalu formal di playgroup contoh, jam pelajaran yang ketat atau ada PRberpeluang membuat si batita kehilangan masa-masa bermainnya.
Yang pasti, kelompok bermain menerapkan konsep bermain sambil belajar. Jadi lebih kepada menstimulasi kelima indra batita, yaitu penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan pengecapan. Perhatikan juga lamanya waktu belajar, yaitu kurang lebih 1,5-2 jam. Jika terlalu lama akan membuat anak bosan dan lelah.
* Tim pengajar
Ketahui mutu tenaga pembimbing serta pengajar di kelompok bermain tersebut. Gurunya harus benar-benar mengerti tumbuh-kembang batita. Ketahui apakah gurunya interaktif, ramah, mampu memberikan stimulasi dan dapat memberikan pendidikan emosi dan sosialisasi dengan baik. Guru juga harus kreatif dan kompeten melakukan aktivitas seperti mendongeng, menyanyi, beraktivitas fisik dan memvariasikannya agar anak tidak bosan. Guru juga harus bersahabat dengan anak. Intinya, guru harus memiliki sifat dan karakter yang menunjang kesuksesan proses belajar dan bermain.
Ketahui juga proporsi jumlah guru dan murid. Semakin sedikit perbandingan jumlah murid dan guru, semakin baik. Guru, kan, jadi bisa lebih mudah mengawasi dan mendidik muridnya. Jumlah 5-6 anak dalam kelas dengan satu guru sangatlah ideal. Anak batita membutuhkan perhatian besar. Pola belajar dan bermain pun bisa dengan mudah dilakukan. Anak yang pemalu, misalnya, membutuhkan pendekatan berbeda dari anak agresif yang pemberani. Begitu juga saat mengajak mereka bermain.
* Fasilitas
Fasilitas bermain merupakan hal vital. Perhatikan apakah sekolah itu memiliki fasilitas umpamanya taman bermain yang nyaman, ruang belajar yang kondusif, peralatan belajar yang lengkap serta berbagai fasilitas lain yang dapat mendukung perkembangan anak. Begitu juga fasilitas pendukung semisal toilet yang bersih dan sebagainya.
* Lokasi
Perhatikan pula lokasinya, jangan terlalu jauh dari rumah karena akan membuat anak capek ketika sampai di sekolah. Belum lagi ia harus bangun lebih pagi, menempuh perjalanan melalui kemacetan, misalnya. Itu bisa membuat anak tertekan dan menurunkan gairah bermainnya di sekolah. Maka lebih baik pilih yang dekat rumah. Jangan lupa, pilih lokasi yang aman, nyaman, dan jauh dari kebisingan, misalnya pasar, stasiun kereta api, terminal bus, atau jalan raya.

Konsultan ahli:
Fitriani F. Syahrul, Psi., M.Si.,
dari Lentera Insan, Depok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s