AKU HARUS PIPIS DI KLOSET, KAN!


sumber : tabloidnakita.com

Menahan pipis dan buang air besar sampai menemukan tempat yang tepat adalah salah satu ciri kemampuan anak prasekolah.
Di usia prasekolah anak mengalami lompatan kemajuan yang menakjubkan. Tidak hanya kemajuan fisik, tapi juga sosial dan emosional. Sementara beberapa bentuk kemandirian yang sudah terbentuk/mulai dirintis sejak usia batita semakin menunjukkan kesempurnaan. Di antaranya kemampuan bersih diri. Yang dimaksud dengan kemampuan bersih diri di sini, si prasekolah sudah mampu mandi sendiri disamping mampu membersih-kan alat kelaminnya setelah buang air kecil (BAK) ataupun buang air besar (BAB).
Bentuk kemandirian ini setidaknya terlihat dari kemampuan anak dalam mengontrol keinginan untuk BAK dan BAB. Anak sudah tahu kapan dia ingin BAK atau BAB sekaligus mampu menahan keinginan tersebut sampai ia masuk ke dalam toilet/kamar mandi. Secara fisik mereka juga sudah bisa jongkok atau duduk dengan baik di kloset.
Selain itu mereka juga sudah mengetahui apa saja perlengkapan kamar mandi maupun fungsi dan cara pengoperasiannya masing-masing. Contohnya, sehabis buang air di kloset, si bocah prasekolah ini akan langsung menarik atau memencet tombol otomatis penyiram air. Begitu pula bila harus meng-gunakan gayung ataupun shower untuk membersihkan diri sesudah BAK/BAB.
Usai membersihkan diri, umumnya anak prasekolah sudah dapat mengeringkan bagian tubuhnya dengan handuk/tisu khusus. Selan-jutnya ia juga sudah bisa mengenakan celana/roknya kembali. Beberapa anak memang masih perlu bantuan orang dewasa. Namun bila model baju atau celananya sederhana biasanya anak prasekolah sudah bisa melakukannya sendiri. Aktivitas lain yang juga sudah dikuasai tanpa bantuan/bimbingan lagi adalah mencuci muka dan tangan.
Kendati demikian, tak ada salahnya secara berkala orangtua memonitor anak dalam melakukan aktivitas-aktivitas seputar toilet ini.
KOK NGOMPOL LAGI?
Jangan-jangan ada persoalan yang dipendam anak.
Kemunduran perilaku ke tahap sebelumnya disebut regresi. Seorang anak dikatakan mengalami regresi bila ia kembali bertingkah laku seperti pada fase perkembangan sebelumnya. Salah satu contohnya ya itu tadi: si prasekolah yang sudah terampil ke toilet kini malah rajin ngompol lagi.
Sebetulnya regresi merupakan bentuk sistem pertahanan diri anak. Ini muncul karena yang bersangkutan mengalami kecemasan, kekecewaan atau malah pengalaman traumatis yang cukup mengganggu kondisi psikologisnya. Di lain pihak, ia sendiri tidak mampu menangani masalahnya hingga anak pun jadi frustrasi. Bisa dimaklumi kalau sistem pertahanan diri muncul lantaran di usia prasekolah umumnya anak belum bisa mengeskpresikan perasaannya secara jelas dan utuh. Tak heran kalau cetusan yang muncul akhirnya dilampiaskannya lewat perilaku regresi.
Kemunduran perilaku juga bisa disebabkan berbagai kecemasan dan ketakutan akibat kondisi keluarga yang tidak kondusif. Atau adanya situasi asing maupun orang-orang baru di sekitarnya. Misalnya bila anak memasuki sekolah baru, mendapat pengasuh baru, atau selalu menyaksikan ayah ibunya bertengkar. Regresi juga biasanya muncul kala anak merasa marah, ingin menarik perhatian atau mencari kasih sayang dari orangtua. Dalam kondisi-kondisi seperti ini secara tidak sadar anak akan memunculkan regresi karena kebutuhan-kebutuhannya yang tak terpenuhi.
Sebagai contoh, regresi muncul ketika si prasekolah mendapat adik baru. Hatinya cemas karena potensi sibling rivalry atau persaingan dengan saudara langsung mengemuka. Maklum, selama ini si prasekolahlah yang menjadi pusat perhatian dalam keluarga. Ia akan berpikir, “Lo kok ada ‘makhluk baru’ yang tiba-tiba jadi pusat perhatian semua orang. Bukan hanya mama papa, tapi juga tamu-tamu yang berkunjung dan membawa kado untuk adik baru.”
Nah, di saat masih ingin disayang, orangtua justru menuntutnya harus mandiri. Soalnya, selain karena si prasekolah memang sudah seharusnya mampu membantu diri sendiri, kini ia pun sudah punya adik bayi yang memerlukan perhatian ekstra dari ayah ibu. Buntut-buntutnya, kekecewaan si prasekolah akhirnya dicetuskan lewat bentuk yang khas, yakni dengan “turun pangkat” mengubah perilakunya persis seperti adik bayi yang masih ngompol hanya agar mendapat perhatian lagi dari ayah dan ibu. Ia tak menghiraukan bahwa perhatian yang didapat berupa teguran. Yang penting baginya ia bisa mendapatkan lagi apa yang dimauinya, yaitu perhatian.
Untunglah, regresi umumnya tak berlangsung lama. Terutama bila orangtua cepat menyadari perubahan perilaku anaknya kemudian sesegera mungkin mencarikan solusinya. Lewat sejumlah penelitian terbukti kalau sekitar 75% anak yang masih mengompol di usia prasekolah umumnya dipicu oleh masalah emosi. Nah, fakta ini sebetulnya memudahkan orangtua untuk mencari tahu penyebab mengapa anaknya ngompol lagi padahal sebelumnya sudah kering.
Agar si prasekolah tak berlarut-larut mengalami regresi, orangtua perlu segera melakukan upaya “penyembuhan”. Caranya? Dengan menjalin komunikasi lebih erat penuh kehangatan agar anak merasa diperhatikan sekaligus terpuaskan kebutuhannya mendapatkan kasih sayang.
Hindari menambah kecemasan anak dengan memarahi, melarang atau bahkan menghukumnya secara fisik. Curahkan perhatian dengan porsi yang kurang lebih sama dengan adik bayinya agar ia tak merasa diabaikan/disisihkan. Bila perlu, sebagai kakak libatkan ia dalam pengasuhan adiknya sehingga ia pun merasa istimewa dengan peran barunya sebagai seorang kakak. Kalaupun Anda merasa tak sanggup menangani masalah ini jangan ragu untuk segera minta bantuan ke pihak yang kompeten, seperti psikolog atau dokter.
Santi Hartono.
Narasumber:
Ester Lianawati, Psi.,
pengajar di Fakultas Psikologi UKRIDA (Universitas Kristen Krida Wacana)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s