Aturan “MENYEKOLAHKAN” Si Batita

sumber : tabloidnakita.com

Sesuaikan jam sekolah dengan waktu bangun si kecil.
Selain sudah mampu berjalan dan terampil menggunakan kedua tangannya, kemampuan berpikir anak usia batita umumnya makin berkembang baik. Ia sudah dapat mengatasi masalah-masalah yang sederhana dan perkembangan berbahasanya mulai kompleks. Ketika ia mulai mengeksplorasi seisi rumah, biasanya terpikirlah untuk “menyekolahkannya”.
Sekolah memang belum diperlukan mutlak di usia ini. Namun, sekolah bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan sosial anak jika di lingkungan rumah ia tidak memiliki teman sebaya. Dengan “bersekolah”, anak berada dalam situasi dimana dia bisa bersosialisasi, belajar, dan mengembangkan kognitifnya. Selain jadi lebih mudah bergaul, diharapkan anak lebih percaya diri dan diasah kemampuannya untuk menyelesaikan masalah.
Intinya, Kelompok Bermain (KB) memiliki fungsi untuk merangsang, memfasilitasi serta mengembangkan kemampuan anak, baik fisik, intelektual, sosial emosional, sesuai kebutuhan anak pada masa perkembangannya. Memang, beberapa pakar berpendapat, usia yang tepat untuk masuk kelompok bermain adalah 3 tahun. Pasalnya, di usia ini anak mulai bisa melepaskan diri dari ketergantungannya terhadap orangtua. Anak usia ini pun mulai kenal dengan orang-orang di luar lingkungannya. Meski begitu, tak selalu anak usia 3 tahun sudah siap sekolah. Bahkan, ada pula anak usia di bawah 3 tahun yang sudah siap sekolah. Maka yang paling penting diketahui adalah bagaimana kesiapan anak untuk memasuki sekolah.
BERMINAT ATAU TIDAK
Jadi, keputusan untuk memasukkan si kecil ke kelompok bermain, tak perlu tergesa-gesa. Bisa jadi, keinginan anak untuk sekolah lantaran melihat kakak-nya yang bersekolah. Alhasil, dia “ikut-ikutan” ingin sekolah. Tak ada salahnya kita terlebih dahulu melihat apakah si kecil sekadar meniru kakaknya atau memang benar-benar ingin bersekolah. Misalnya, bila keinginannya bersekolah diungkapkan hanya sesekali saja, terutama ketika melihat kakaknya berseragam sekolah, mungkin dia tak serius ingin sekolah. Akan tetapi kalau keinginannya itu berulangkali diungkapkan, mungkin anak memang benar-benar sudah ingin bersekolah.
Nah, untuk memastikannya, sesekali ajaklah si batita bermain ke sekolah. Biarkan dia merasakan bersekolah itu seperti apa. Ajak dia ikut kakaknya ke sekolah atau ketika ada perayaan sekolah. Kunjungan “percobaan” ini bisa dilakukan paling tidak 1-2 minggu. Atau ikutkan dia dalam kelas percobaan jika pihak sekolah memiliki program demikian untuk mengetahui apakah anak memang benar-benar berminat sekolah atau tidak. Biar dia bisa mengenal pula lebih dekat mengenai sekolah, tentang permainan yang ada di sana dan sebagainya sehingga ia terbiasa dengan lingkungan sekolah. Jangan lupa, beri gambaran pada anak siapa saja yang akan ditemuinya di sekolah, entah itu guru atau teman-teman bermainnya. Yang jelas, bukan karena paksaan orangtua, ya. Tetap harus ada minat dari si batita sendiri untuk sekolah.
BEBERAPA ATURAN
Nah, ketika anak benar-benar siap untuk sekolah, tentu orangtua perlu menerapkan bermacam “aturan” agar proses bersekolah bisa berjalan baik, di antaranya:
* Kebutuhan gizi
Agar si batita benar-benar siap sekolah, berikan makanan dengan gizi yang baik agar taraf kemampuan perkembangan fisiknya optimal. Gizi yang tidak baik hanya akan membuat fisik anak lemah dan menghambat aktivitasnya.
* Kebutuhan basic trust
Anak batita masih mengembangkan basic trust (kepercayaan dasar) sebagai bekal untuk mengeksplorasi lingkungannya yang makin luas. Tugas orangtualah untuk mengembangkan basic trust agar dia yakin bahwa lingkungannya bisa ia percaya, sehingga ia pun berani bereksplorasi di lingkungannya yang baru. Biasanya masalah muncul saat pengalaman pertamanya di sekolah yaitu anak masih ingin ditemani orangtua. Kalau memungkinkan, minta izin pada pihak sekolah supaya bisa menemani anak dalam beberapa waktu sekadar untuk proses adaptasi. Selanjutnya, berikan kesempatan kepada anak untuk menyesuaikan diri. Umumnya, kalau dia sudah menemukan keasyikan tersendiri, anak tak lagi cemas berpisah dengan orangtuanya. Lepaskan anak secara bertahap sambil menenangkannya. Ucapkan kata-kata yang membuatnya nyaman. “Bu Gurunya baik sekali, kamu tidak perlu takut, ya!” misalnya. Jika anak sudah merasa nyaman, sudah waktunya meninggalkan anak bersama teman-temannya. Di hari-hari berikutnya, anak sudah tak perlu lagi ditemani orangtua.
* Sesuaikan ritme
Ada sekolah yang memberlakukan jam belajar pagi hari, tapi tak sedikit pula yang menjelang siang. Sebaiknya, sesuaikan jam belajar dengan ritme anak sehari-hari. Ada anak yang terbiasa bangun pagi tapi ada pula yang tidak. Boleh jadi lo, karena terbiasa bangun siang, dia jadi ogah-ogahan masuk “sekolah”.
Perhatikan juga karena ada jam-jam tertentu dimana stamina anak turun atau justru meningkat. Waktu beraktivitas yang tepat membuat si kecil siap menerima semua stimulasi dan aktivitas yang diberikan. Pemilihan jam sekolah yang kurang tepat dengan ritme anak hanya akan membuat proses belajar tak maksimal. Contoh, saat teman-temannya asyik bermain, ia mengantuk karena kelelahan. Bahkan, mungkin juga anak jadi mudah rewel dan gampang marah. Terlebih di usia ini, anak masih sulit mengendalikan emosinya. Alhasil, si batita malah minta pulang.
* Jangan dipaksa
Sekolah tetap berbeda dengan rumah. Jadi walau namanya taman bermain, tetap saja merupakan sebuah lembaga kecil yang menerapkan peraturan. Meski begitu, kalau anak enggan sekolahkarena capek, kesiangan dan sebagainyatak perlu dipaksakan bersekolah. Kalau dipaksa, bisa-bisa ia malah stres. Ingat, perkembangan emosinya masih berubah-ubah, begitu juga keinginannya. Kalaupun di hari itu ia “bolos”, lakukan kegiatan-kegiatan yang tetap mengasah kemampuannya di rumah.
Perlu diketahui, lingkup sosial batita masih terbatas pada keluarga. Memang ia mulai bisa bergaul dengan teman sebaya, tapi masih belum bisa bermain bersama dalam waktu lama dan bekerja sama. Anak usia ini juga rentan terhadap perubahan. Bila dipaksakan, dia bisa mogok mengikuti sekolah. Dia juga belum siap untuk berada dalam suatu situasi baru. Terlebih lagi situasi baru tersebut memiliki aturan-aturan lebih kaku daripada di rumah, yang bagi anak-anak tertentu belum waktunya untuk mengikuti aturan-aturan tersebut.
MEMILIH SEKOLAH
Institusi sekolah makin menjamur, karenanya kita perlu menyeleksi sekolah yang pas untuk si batita:
* Program atau materi
Ketahui program atau materi yang diajarkan di sekolah, apakah sesuai dengan perkembangan anak batita atau tidak. Lakukan observasi untuk menilai program sekolah itu. Misal, sekolah tersebut tidak mengajak anak untuk menghafal secara textbook, tidak harus bisa membaca, dan sebagainya. Jangan sampai program-programnya malah membuat anak “memusuhi” sekolah. Program yang terlalu formal di playgroup contoh, jam pelajaran yang ketat atau ada PRberpeluang membuat si batita kehilangan masa-masa bermainnya.
Yang pasti, kelompok bermain menerapkan konsep bermain sambil belajar. Jadi lebih kepada menstimulasi kelima indra batita, yaitu penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan pengecapan. Perhatikan juga lamanya waktu belajar, yaitu kurang lebih 1,5-2 jam. Jika terlalu lama akan membuat anak bosan dan lelah.
* Tim pengajar
Ketahui mutu tenaga pembimbing serta pengajar di kelompok bermain tersebut. Gurunya harus benar-benar mengerti tumbuh-kembang batita. Ketahui apakah gurunya interaktif, ramah, mampu memberikan stimulasi dan dapat memberikan pendidikan emosi dan sosialisasi dengan baik. Guru juga harus kreatif dan kompeten melakukan aktivitas seperti mendongeng, menyanyi, beraktivitas fisik dan memvariasikannya agar anak tidak bosan. Guru juga harus bersahabat dengan anak. Intinya, guru harus memiliki sifat dan karakter yang menunjang kesuksesan proses belajar dan bermain.
Ketahui juga proporsi jumlah guru dan murid. Semakin sedikit perbandingan jumlah murid dan guru, semakin baik. Guru, kan, jadi bisa lebih mudah mengawasi dan mendidik muridnya. Jumlah 5-6 anak dalam kelas dengan satu guru sangatlah ideal. Anak batita membutuhkan perhatian besar. Pola belajar dan bermain pun bisa dengan mudah dilakukan. Anak yang pemalu, misalnya, membutuhkan pendekatan berbeda dari anak agresif yang pemberani. Begitu juga saat mengajak mereka bermain.
* Fasilitas
Fasilitas bermain merupakan hal vital. Perhatikan apakah sekolah itu memiliki fasilitas umpamanya taman bermain yang nyaman, ruang belajar yang kondusif, peralatan belajar yang lengkap serta berbagai fasilitas lain yang dapat mendukung perkembangan anak. Begitu juga fasilitas pendukung semisal toilet yang bersih dan sebagainya.
* Lokasi
Perhatikan pula lokasinya, jangan terlalu jauh dari rumah karena akan membuat anak capek ketika sampai di sekolah. Belum lagi ia harus bangun lebih pagi, menempuh perjalanan melalui kemacetan, misalnya. Itu bisa membuat anak tertekan dan menurunkan gairah bermainnya di sekolah. Maka lebih baik pilih yang dekat rumah. Jangan lupa, pilih lokasi yang aman, nyaman, dan jauh dari kebisingan, misalnya pasar, stasiun kereta api, terminal bus, atau jalan raya.

Konsultan ahli:
Fitriani F. Syahrul, Psi., M.Si.,
dari Lentera Insan, Depok

Iklan

Jika Anak Mau Sama Ayahnya saja

sumber : tabloidnakita.com

Mengapa anak terlihat pilih kasih pada orangtua? Berikut penjelasan Roslina Verauli, M.Psi., dari Lembaga Psikologi Empati Development Centre, Jakarta, sebagaimana yang dipaparkannya kepada Irfan Hasuki, reporter nakita.
Ada KESAMAAN MINAT
Tentunya bukan tanpa sebab bila si kecil lebih dekat dengan ayah saja atau ibu saja. Salah satunya adalah faktor minat yang sama. Anak perempuan umumnya akan berminat dengan kegiatan keperempuanan. Misal, dia sangat tertarik dengan ibu yang sering merias wajahnya di depan cermin, memasak, membuat kue, dan sebagainya. Persamaan minat ini membuat anak ingin mengidentifikasi perilaku ibunya sehingga apa yang dilakukan sang ibu akan ditiru anak. Hal ini membuat anak perempuan umumnya lebih dekat dengan ibu.
Hal yang sama pun bisa terjadi pada anak laki-laki terhadap ayahnya. Dia senang dengan aktivitas kelelakian seperti membengkel, olahraga, bermain mobil-mobilan, dan lainnya. Nah, adanya kesamaan minat ini membuat anak merasa lebih dekat pada ayah. Apalagi banyak masyarakat yang masih mengotak-kotakkan minat berdasarkan jenis kelamin, bahwa laki-laki harus meniru ayah dan perempuan meniru ibu.
Tentu, bisa saja terjadi kalau anak laki-laki lebih berminat dengan kegiatan ibu sedangkan anak perempuan lebih berminat pada kegiatan ayahnya. Hal ini sah-sah saja. Yang jelas, selain adanya kesamaan minat, kedekatan anak dengan salah satu orangtuanya juga bisa disebabkan perhatian dan perlakuan si ayah/ibu kepada si anak.
Contoh, ibu begitu perhatian; apa yang anak butuhkan, ibu selalu bisa memenuhinya. Menemaninya tidur, memandikan, menyuapi makan, memakaikan baju, dan sebagainya. Kepenuhperhatian inilah yang membuat anak lebih dekat ibunya dibandingkan ayahnya yang mungkin hanya sesekali memberikan perhatian. Apalagi bila sang ayah sering bersikap kasar, tidak peduli dengan kebutuhan anak, bersikap dingin, dan sebagainya, maka anak dengan ibu akan semakin lekat. Umumnya anak akan menjauh dari ayahnya. Bila ayah berada di rumah, anak merasa tak nyaman karena takut kena marah: Hal sebaliknya juga bisa saja terjadi, anak akan lebih dekat pada ayah yang penuh perhatian dibandingkan ibu.
WAKTU BERSAMA
Banyaknya waktu yang dihabiskan orangtua bersama anak juga bisa membuat anak lebih dekat pada salah satu orangtua. Jika ayah sibuk di kantor sehingga waktu bersama anak menjadi sangat jarang, sedangkan ibu selalu menemani anak di rumah, maka anak akan lebih dekat dengan ibu. Hal ini akan semakin menguat bila sang ayah tak berusaha untuk dekat dengan anaknya, tidak mengajak bermain, menyerahkan semua urusan anak ke istri, dan sebagainya. Begitu pula sebaliknya, bila ibu yang sibuk bekerja dan ayah yang lebih banyak di rumah bersama anak, bisa saja anak akan lebih dekat pada ayah. Bukankah saat bersama, banyak hal yang dilakukan ayah? Seperti, mengantar-jemput ke sekolah, bermain bersama, mengajarkan pelajaran TK, dan sebagainya.
Hal yang sama juga akan terjadi bila anak hanya tinggal berdua saja dengan salah satu orangtua, sementara orangtua yang satunya tinggal di kota lain atau sering tugas di luar kota/negeri. Kedekatan ini wajar terjadi karena sehari-hari anak selalu menghabiskan waktunya hanya dengan ibu atau ayahnya saja. Dengan tinggal berdua seperti ini, tak ada orang lain yang menjadi figur terdekat kecuali si ibu atau si ayah. Ketika ia butuh pertolongan, semisal sakit, terjatuh, atau takut terhadap binatang yang menjijikkan hanya ada ibu/ayah seorang yang ada di dekatnya. Tak heran bila kedekatan pun semakin erat terjadi.
FIGUR IDOLA
Ada anak yang sangat mengidolakan ayah atau ibunya. Anak merasakan kalau ayah adalah figur yang sangat mengagumkan dalam hidupnya. Dia sering mengamati ayahnya yang rajin pergi bekerja setiap pagi, pandai bermain gitar, pintar bermain komputer, terampil menyetir mobil, selalu ada untuk melindunginya, dan sebagainya. Muncullah imej dalam diri anak mengenai ayahnya yang pintar, gagah perkasa, pelindung, penolong, dan sebagainya. Sedangkan sang ibu selalu cerewet, melarang ia melakukan sesuatu, memarahinya, dan sebagainya. Pengidolaan ini akan semakin kuat sehingga dia pun merasa lebih dekat pada ayah.
Hal sebaliknya juga bisa terjadi. Dia melihat sang ibu bersikap lemah lembut, selalu cantik berpakaian, pandai menyajikan masakan lezat kesukaannya, sehingga anak sangat mengidolakannya. Tak mustahil bila, anak ingin dekat ibunya.
KERUGIAN BILA JAUH dengan SALAH SATU ORANGTUA
Kedekatan anak dengan ibu sebenarnya tak terlalu masalah bila tidak sampai mengganggu hubungannya dengan sang ayah. Begitu juga sebaliknya. Sebab, meskipun lebih dekat ke salah satu orangtua, anak masih bisa berhubungan baik dengan kedua orangtuanya. Menjadi tidak wajar bila hubungan oragtua-anak. Biasanya, terputusnya hubungan ini disebabkan oleh sikap kedua orangtua yang sangat kontradiktif. Ibu begitu perhatian, sementara ayah sangat cuek dan pemarah. Atau sebaliknya. Bila hubungan itu terus rusak, maka anak akan mengalami banyak kerugian, antara lain:
Kehilangan Figur Penting
Setiap orangtua, ayah maupun ibu, memiliki karakter berbeda. Umumnya, ayah bersifat kebapakan, gagah, tegas, sementara ibu bersifat keibuan, lembut, tutur katanya halus, penuh perhatian, dan sebagainya. Bila anak sampai jauh dari salah satu orangtuanya, maka dia akan kehilangan figur dari karakter yang ditunjukkan salah satu orangtuanya. Bila jauh dari ayah, maka anak tak bisa belajar dari sosok ayah yang gagah, tegas, dan sebagainya. Kehilangan figur tersebut, bisa membuatnya kehilangan arah bagaimana seharusnya ia bersikap.
Benci Gender
Hanya dekat dengan salah satu orangtuanya sementara dengan orangtua yang lain jauh, bisa saja memunculkan rasa benci. Terutama bila orangtua yang jauh dengannya punya sikap yang tidak terpuji, sering marah-marah, melakukan kekerasan fisik, pelit, dan sebagainya. Bila yang melakukan hal tersebut adalah sang ayah, bisa saja menyamaratakan kalau laki-laki suka berbuat kasar sehingga dia pun akan membenci sosok laki-laki. Begitu pula sebaliknya. Padahal, tidak semua orang sama tetapi anak tidak tahu akan hal itu.
Kehilangan Keharmonisan
Selayaknya anak hidup di lingkungan keluarga yang harmonis. Dia punya hubungan yang dekat dengan kedua orangtuanya sehingga pertumbuhannya jadi optimal di lingkungan yang kondusif. Bila dia hanya dekat ke ibu sementara jauh dari ayah atau sebaliknya, maka anak akan kehilangan keharmonisan di dalam keluarga. Hal ini tentu sangat tidak baik untuk pertumbuhan mentalnya karena dia tak bisa bermanja, bermain, berkumpul bersama ayah/ibunya. Secara mental, anak yang tumbuh di keluarga yang tak harmonis biasanya akan menjadi anak yang kurang percaya diri, kurang berinisiatif, atau bahkan menjadi anak yang sulit dikontrol. Intinya, kemampuan mentalnya bisa lebih rendah dibandingkan anak yang tumbuh di keluarga harmonis.
Sering Tak Nyaman
Saat berdua saja dengan ibu yang dekat dengannya, anak akan merasa sangat nyaman. Tetapi bila ayah yang bertemperamen keras sudah pulang dari kantor, muncullah perasaan tak nyaman pada anak. Anak takut kalau ia akan dimarahi, dikasari, disuruh yang aneh-aneh, dan sebagainya. Ketidaknyamanan ini akan berpengaruh terhadap perkembangan psikisnya, dia akan sering merasa ketakutan meskipun berada di rumahnya sendiri. Imbasnya, bisa saja kelak anak tumbuh menjadi orang yang selalu was-was dan tak percaya diri.
Agar ANAK DEKAT Dengan KEDUA ORANGTUA
Nah, agar anak tidak hanya dekat dengan ayah/ibunya saja, inilah beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan:
Luangkan Waktu Sebentar
Bila kita sudah bekerja seharian, secapek apa pun, kita harus meluangkan sedikit waktu untuk berinteraksi dengan anak. Entah bermain, makan bersama, atau melakukan aktivitas lainnya.
Ngobrol Ringan
Jangan hanya diam saja saat bersama anak tetapi kita harus menciptakan obrolan ringan, dengan menanyakan apa kesenangannya dan yang sudah dia lakukan seharian. Pertanyaan kita membuat anak merasa diperhatikan sehingga dia akan menuturkan apa yang dialaminya sepanjang hari tadi. Dengarkan apa yang dituturkan dan tanyakan hal-hal yang menarik. Dengan begitu kedekatan kita dan anak akan terjaga dengan baik.
Waktu Libur
Banyak orangtua yang libur bekerja saat weekend. Saat ber-weekend banyak hal menarik yang bisa kita lakukan, bermain pasir bersama di pantai, menikmati perjalanan bersama, berfoto bersama, dan sebagainya. Hal-hal inilah yang akan mendekatkan kita dengan anak setelah 5 hari sibuk di kantor.
Hadiah Spesial
Boleh saja sesekali kita memberikan hadiah kepada anak. Misal, membelikan cokelat kesukaannya, menghadiahinya pasel, memberinya poster, dan sebagainya. Kita bisa melakukannya seminggu sekali atau sebulan sekali. Pilihlah hadiah-hadiah yang memang diinginkannya/disukainya sehingga anak antusias menerimanya terutama saat ia merayakan ulang tahun. Dengan pemberian hadiah ini, anak akan merasa bahwa kita begitu perhatian padanya. Tentu, jangan sampai pemberian hadiah ini membuat anak manja; selalu menagih setiap kita pulang kantor. Untuk itu, sangat baik bila kita memberikan penjelasan saat memberikannya.

Jika anak ingin punya hewan peliharaan

sumber : tabloidnakita.com

Sepertinya hewan selalu memiliki magnet bagi anakanak. Lihat saja bagaimana mata mereka berbinarbinar melihat kelinci yang lucu.
Milka (2;5) adalah salah satu dari berjuta anak yang tertarik pada hewan lucu. Ia ingin punya Mumu, kelinci Australia seperti milik Kak Aras, tetangga sebelah rumahnya. Namun apa mau dikata, bundanya bukan tipe penyuka binatang, apalagi yang berbulu. Hiiiiiiih membayangkan saja dia sudah merinding. Apalagi kalau tiap hari harus bertemu, memberi makan dan minum lagi! Buat sang bunda, cuma ada jawaban, “Enggak deh!” Masalahnya, Milka terus merengek-rengek. Bagaimana, ya, cara menyikapinya secara bijak?
Wajar saja kalau Ibu atau Ayah keberatan memelihara hewan di rumah. Alasannya memang berderet. Namun, wajar juga kalau anak seperti Milka ingin punya hewan di rumah. Rasa ingin tahu anak 1-3 tahun terhadap lingkungan memang mulai merasuki jiwanya, termasuk pada hewan. Yang mengherankan, mungkin, mengapa anak sekecil Milka suka kelinci dan bukan yang lain? Atau mungkin ada anak yang mendambakan tidur ditemani gajah kecil, seperti yang dilihatnya dalam buku dongeng.
Umumnya, ketertarikan pada binatang tertentu muncul karena bentuknya yang dianggap paling lucu, berbulu indah, dan berwarna menarik. Bisa juga ia tertarik pada suara binatang tersebut, seperti burung kakaktua atau beo yang bisa bicara.
Yang jelas, anak batita masih menyukai hewan yang dianggapnya tidak menakutkan dan cukup ramah. Jarang mereka menyukai hewan seperti ular, iguana, atau cacing. Selain karena referensinya masih terbatas, mereka umumnya juga menilai binatang-binatang tersebut menakutkan atau menjijikkan. Berbeda dari anak-anak prasekolah yang mungkin justru memfavoritkan hewan berwajah seram semacam dinosaurus atau reptil.
BUKAN SESAAT
Ketertarikan anak batita pada hewan tertentu, sebetulnya bukan karena ia sudah mengerti konsep hewan peliharaan. Tidak demikian. Ia ingin anjing, kucing, kelinci dan lainnya karena suka dan membayangkan hewan itu bisa diajaknya bermain.
Namun biar bagaimana pun, kebutuhan anak jangan dianggap remeh. Meski terkesan hanya kesenangan sesaat, yang nanti teralihkan dan terlupakan, sebetulnya kebutuhan anak yang tidak terpenuhi dapat membekas pada perasaannya. Dampak dari kekecewaannya mungkin muncul sebagai bentuk kerewelan yang tampak tak beralasan.
ATURAN MEMELIHARA HEWAN
Jika orangtua setuju memberikan hewan peliharaan, pertimbangkan beberapa hal ini:
1. Pilih hewan yang aman
Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah keamanan hewan yang diminati si batita baik dari segi ukuran dan sifatnya; apakah berpotensi melukai ataupun menularkan penyakit. Tawarkan beberapa pilihan jika sekiranya si kecil memfavoritkan hewan yang berbahaya baginya. Contoh, “Dek, Ibu khawatir karena anjing kalau menggigit bikin sakit, lo. Bagaimana kalau kelinci saja, kan lucu juga. Kelinci tidak suka menggigit seperti anjing.” Anak batita umumnya senang pada hewan apa pun yang rupanya lucu. Biasanya ia mau menerima hewan lain yang mirip dengan keinginannya (sama-sama berbulu dan imut-imut), atau setidaknya dianggap lucu olehnya. Juga, perhatikan kebersihan dan kesehatan hewan yang akan dipilih.
2. Ada tempat khusus untuk si hewan di halaman rumah.
Jika hewannya berupa ikan hias tentu tak masalah karena ia tidak akan melompat keluar dari akuariumnya bukan? Berbeda jika hewan tersebut adalah anjing, kelinci, atau kucing yang senang berkeliaran ke mana-mana atau burung yang biasa membuang kotoran sembarangan. Katakan kepada anak bahwa hewan peliharaan harus tetap tidur di luar (di kandang yang ditaruh di halaman belakang, umpamanya). Aturan ini perlu agar anak tidak mengajaknya ke dalam rumah apalagi ke kamar. Bermain bersama boleh saja, tetapi hanya sebatas di teras, garasi, atau pekarangan.
3. Kebersihan hewan dan kandang selalu terjaga.
Jika anak dibolehkan memelihara hewan peliharaan maka orangtua harus terlibat memerhatikan kebersihan kandang dan hewan tersebut. Ada baiknya, lakukan kontrol hewan peliharaan ke dokter hewan, juga untuk mendapatkan vaksinasi agar tak menularkan penyakit. Ajari juga si kecil untuk selalu mencuci tangan dengan sabun sehabis memegang hewan. Ajaklah ia melihat bagaimana menjaga kebersihan kandang beserta hewannya.
4. Perilaku anak tetap dalam pengawasan
Ketika sedang bermain bersama hewan peliharaan, anak batita harus tetap dalam pengawasan orang dewasa. Ini untuk mengurangi risiko anak digigit, dicakar, atau dipatuk.
TIDAK SETUJU?
Nah, jika orangtua tidak setuju memelihara hewan di rumah dengan berbagai alasan—entah karena umur anak masih kelewat kecil, orangtua tidak suka binatang, repot mengurusnya, makan biaya banyak, tidak ada lahan untuk kandang hewan—maka sikapi kebutuhan anak ini dengan bijak. Berikan pemahaman kepadanya bahwa memelihara binatang tidaklah gampang. Sebagai gantinya, ajak anak ke kebun binatang, atau ke rumah kerabat yang memelihara hewan jinak, serta bisa juga membelikan boneka berbentuk hewan kesayangannya.
Selanjutnya, orangtua dapat menghibur si kecil dengan mengatakan, “Kita enggak usah memelihara kelinci ya Dek,” umpamanya, “karena ayah dan ibu tidak punya waktu untuk mengurusnya. Kelinci, kan perlu dibersihkan kandangnya. Kalau mau, Adek setiap sore bisa ke rumah Kak Aras untuk melihat Mumu. Bawa makanan untuk si Mumu, nanti Adek yang kasih makanannya.” Intinya, kalau Anda tidak setuju si batita punya hewan peliharaan, tanggapi dengan empati. Asal melarangnya hanya akan berbuah rengekan dan tangisan.
Dedeh Kurniasih.
Narasumber:
Karlinawati Silalahi, M.Si,Psi.,
dosen Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia

AKU HARUS PIPIS DI KLOSET, KAN!

sumber : tabloidnakita.com

Menahan pipis dan buang air besar sampai menemukan tempat yang tepat adalah salah satu ciri kemampuan anak prasekolah.
Di usia prasekolah anak mengalami lompatan kemajuan yang menakjubkan. Tidak hanya kemajuan fisik, tapi juga sosial dan emosional. Sementara beberapa bentuk kemandirian yang sudah terbentuk/mulai dirintis sejak usia batita semakin menunjukkan kesempurnaan. Di antaranya kemampuan bersih diri. Yang dimaksud dengan kemampuan bersih diri di sini, si prasekolah sudah mampu mandi sendiri disamping mampu membersih-kan alat kelaminnya setelah buang air kecil (BAK) ataupun buang air besar (BAB).
Bentuk kemandirian ini setidaknya terlihat dari kemampuan anak dalam mengontrol keinginan untuk BAK dan BAB. Anak sudah tahu kapan dia ingin BAK atau BAB sekaligus mampu menahan keinginan tersebut sampai ia masuk ke dalam toilet/kamar mandi. Secara fisik mereka juga sudah bisa jongkok atau duduk dengan baik di kloset.
Selain itu mereka juga sudah mengetahui apa saja perlengkapan kamar mandi maupun fungsi dan cara pengoperasiannya masing-masing. Contohnya, sehabis buang air di kloset, si bocah prasekolah ini akan langsung menarik atau memencet tombol otomatis penyiram air. Begitu pula bila harus meng-gunakan gayung ataupun shower untuk membersihkan diri sesudah BAK/BAB.
Usai membersihkan diri, umumnya anak prasekolah sudah dapat mengeringkan bagian tubuhnya dengan handuk/tisu khusus. Selan-jutnya ia juga sudah bisa mengenakan celana/roknya kembali. Beberapa anak memang masih perlu bantuan orang dewasa. Namun bila model baju atau celananya sederhana biasanya anak prasekolah sudah bisa melakukannya sendiri. Aktivitas lain yang juga sudah dikuasai tanpa bantuan/bimbingan lagi adalah mencuci muka dan tangan.
Kendati demikian, tak ada salahnya secara berkala orangtua memonitor anak dalam melakukan aktivitas-aktivitas seputar toilet ini.
KOK NGOMPOL LAGI?
Jangan-jangan ada persoalan yang dipendam anak.
Kemunduran perilaku ke tahap sebelumnya disebut regresi. Seorang anak dikatakan mengalami regresi bila ia kembali bertingkah laku seperti pada fase perkembangan sebelumnya. Salah satu contohnya ya itu tadi: si prasekolah yang sudah terampil ke toilet kini malah rajin ngompol lagi.
Sebetulnya regresi merupakan bentuk sistem pertahanan diri anak. Ini muncul karena yang bersangkutan mengalami kecemasan, kekecewaan atau malah pengalaman traumatis yang cukup mengganggu kondisi psikologisnya. Di lain pihak, ia sendiri tidak mampu menangani masalahnya hingga anak pun jadi frustrasi. Bisa dimaklumi kalau sistem pertahanan diri muncul lantaran di usia prasekolah umumnya anak belum bisa mengeskpresikan perasaannya secara jelas dan utuh. Tak heran kalau cetusan yang muncul akhirnya dilampiaskannya lewat perilaku regresi.
Kemunduran perilaku juga bisa disebabkan berbagai kecemasan dan ketakutan akibat kondisi keluarga yang tidak kondusif. Atau adanya situasi asing maupun orang-orang baru di sekitarnya. Misalnya bila anak memasuki sekolah baru, mendapat pengasuh baru, atau selalu menyaksikan ayah ibunya bertengkar. Regresi juga biasanya muncul kala anak merasa marah, ingin menarik perhatian atau mencari kasih sayang dari orangtua. Dalam kondisi-kondisi seperti ini secara tidak sadar anak akan memunculkan regresi karena kebutuhan-kebutuhannya yang tak terpenuhi.
Sebagai contoh, regresi muncul ketika si prasekolah mendapat adik baru. Hatinya cemas karena potensi sibling rivalry atau persaingan dengan saudara langsung mengemuka. Maklum, selama ini si prasekolahlah yang menjadi pusat perhatian dalam keluarga. Ia akan berpikir, “Lo kok ada ‘makhluk baru’ yang tiba-tiba jadi pusat perhatian semua orang. Bukan hanya mama papa, tapi juga tamu-tamu yang berkunjung dan membawa kado untuk adik baru.”
Nah, di saat masih ingin disayang, orangtua justru menuntutnya harus mandiri. Soalnya, selain karena si prasekolah memang sudah seharusnya mampu membantu diri sendiri, kini ia pun sudah punya adik bayi yang memerlukan perhatian ekstra dari ayah ibu. Buntut-buntutnya, kekecewaan si prasekolah akhirnya dicetuskan lewat bentuk yang khas, yakni dengan “turun pangkat” mengubah perilakunya persis seperti adik bayi yang masih ngompol hanya agar mendapat perhatian lagi dari ayah dan ibu. Ia tak menghiraukan bahwa perhatian yang didapat berupa teguran. Yang penting baginya ia bisa mendapatkan lagi apa yang dimauinya, yaitu perhatian.
Untunglah, regresi umumnya tak berlangsung lama. Terutama bila orangtua cepat menyadari perubahan perilaku anaknya kemudian sesegera mungkin mencarikan solusinya. Lewat sejumlah penelitian terbukti kalau sekitar 75% anak yang masih mengompol di usia prasekolah umumnya dipicu oleh masalah emosi. Nah, fakta ini sebetulnya memudahkan orangtua untuk mencari tahu penyebab mengapa anaknya ngompol lagi padahal sebelumnya sudah kering.
Agar si prasekolah tak berlarut-larut mengalami regresi, orangtua perlu segera melakukan upaya “penyembuhan”. Caranya? Dengan menjalin komunikasi lebih erat penuh kehangatan agar anak merasa diperhatikan sekaligus terpuaskan kebutuhannya mendapatkan kasih sayang.
Hindari menambah kecemasan anak dengan memarahi, melarang atau bahkan menghukumnya secara fisik. Curahkan perhatian dengan porsi yang kurang lebih sama dengan adik bayinya agar ia tak merasa diabaikan/disisihkan. Bila perlu, sebagai kakak libatkan ia dalam pengasuhan adiknya sehingga ia pun merasa istimewa dengan peran barunya sebagai seorang kakak. Kalaupun Anda merasa tak sanggup menangani masalah ini jangan ragu untuk segera minta bantuan ke pihak yang kompeten, seperti psikolog atau dokter.
Santi Hartono.
Narasumber:
Ester Lianawati, Psi.,
pengajar di Fakultas Psikologi UKRIDA (Universitas Kristen Krida Wacana)