Supaya anak mau sama Pengasuh

sumber : tabloidnakita.com

Tiba-tiba saja si prasekolah menolak dibantu pengasuhnya. Selesaikan segera. Kalau tidak, mungkin banyak hal jadi enggak beres, salah satunya kita harus bolos kerja.
Tidak SUNGGUHAN
Meski tahu-tahu anak terlihat sangat membenci pengasuhnya, namun itu bukan benci dalam arti yang sebenarnya. Mungkin saja saat itu dia sedang tidak mau bersama si pengasuh yang terkait dengan beberapa faktor penyebab, di antaranya:
* Ingin Mandiri
Anak prasekolah sedang dalam tahap perkembangan initiative versus guilt (ini menurut teori perkembangan psikososial Erikson) yang ditandai masa-masa bereksplorasi, yakni menemukan hal-hal baru dari hidupnya. Mereka juga mulai menemukan bahwa diri mereka dapat melakukan banyak hal yang membuat mereka percaya diri; orangtua yang mulai mengajarkan sosialisasi pada mereka dengan mengenalkannya pada lingkungan sekolah, serta juga masa dimana peran sosial mulai dipelajari.
Dengan semua hal tersebut, anak mulai merasa bahwa mereka bisa mengerjakan beberapa hal tanpa bantuan orang lain, apalagi jika di “sekolah” mereka diajarkan untuk mandiri. Nah, biasanya hal ini membuat anak-anak menjadi lebih mandiri yang mungkin berefek agak menjaga jarak dengan pengasuhnya. Keinginan mereka untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya tapi selalu dilarang karena takut terkena sesuatu hal pada mereka, juga mungkin membuat anak-anak yang cukup percaya diri agak menjaga jarak dari pengasuhnya.
* Meniru
Bisa juga perilaku anak yang enggan berdekatan dengan pengasuhnya karena meniru. Misal, ia melihat adegan sinetron di teve dimana ada seorang anak yang berteriak-teriak ke pengasuhnya supaya tidak dekat-dekat dengan dia. Nah, anak berusaha meniru adegan tersebut. Atau peniruan bisa juga bersumber dari contoh yang ada di lingkungannya. Umpama, ada anak tetangga, om-tante, atau bahkan kita sendiri yang memarahi si pengasuh sehingga ia ikut mencontohnya. Bukankah di usia ini anak sangat mudah meniru? Sekali melihat dia akan langsung menirukannya.
* Sifat Pengasuh
Ada kan pengasuh yang punya sifat tidak sabaran, suka berkata kasar, sering marah-marah, dan sebagainya? Mungkin, ketika bersama si pengasuh, anak mengalami tindakan yang agak menyakiti, dimarahi dengan kata-kata kasar, bahkan dikenai tindakan fisik. Hal tersebut membuat anak enggan untuk bersama pengasuh karena takut disakiti lagi.
Kiat MENGATASI
Beberapa hal bisa kita lakukan untuk menetralkan keadaan. Namun sebelumnya kita perlu tahu dahulu kenapa anak berperilaku demikian. Caranya dengan bertanya kepada anak menggunakan bahasa-bahasa yang mudah dimengertinya. Bukan dengan gaya “menginterogasi penjahat” ya, karena walaupun anak-anak usia ini mulai banyak kosakatanya, bukan berarti mudah untuk menjawab pertanyaan “mengapa”. Bahasa yang mudah dipahami anak bisa lewat berbagai cara, semisal dengan mendongeng dan minta ia meneruskan cerita kita yang temanya kita pilihkan sesuai kondisi perbedaan yang dirasakan tersebut. Umumnya cara ini bisa kita lakukan pada anak yang suka bercerita. Cara lain bisa dengan menggambar; minta ia menggambar tentang anggota keluarga di rumah tersebut lalu minta ia sedikit bercerita tentang apa yang digambarkannya. Atau bisa dengan bermain boneka bersama sambil memerankan tokoh-tokoh yang ada di rumah tersebut
Selanjutnya, setelah kita tahu penyebabnya, inilah beberapa hal yang dapat kita lakukan:
* Ajari Anak Mengontrol Emosi
Bila keengganan anak bersama pengasuh karena ia memang sedang ingin mandiri namun diungkapkan dengan emosi yang meledak-ledak, kita harus pahami dahulu proses perkembangan anak. Di usia ini anak mulai belajar untuk mengekspresikan sekaligus mengontrol emosinya. Mereka mulai belajar untuk dapat mengekspresikan berbagai emosi sehingga di masa-masa awal mereka memasuki usia prasekolah, emosi yang mereka tunjukkan sangat bervariasi dan bisa berubah-ubah dari suatu temperamen ke lainnya.
Nah, sebagai orangtua, saatnya untuk mengajarkan bagaimana cara yang tepat untuk mengontrol emosi tersebut dan mulai memberitahukan pada anak bagaimana cara berperilaku/bersikap pada orang lain. Kalau anak mudah lupa dengan kejadian yang pernah dialaminya, berarti jangan cari alasan mengapa anak bersikap seperti itu. Lebih baik, cari tahu apa yang bisa kita lakukan saat ini agar anak dapat bersikap lebih baik untuk selanjutnya.
* Hindari Contoh Buruk
Bila akar masalahnya karena anak meniru, sangat baik bila kita jauhkan anak dari sumber peniruan tersebut. Contoh, dengan tak membiarkan anak menyaksikan tayangan yang tidak sesuai dengan taraf usianya, seperti sinetron remaja atau dewasa. Bila sulit, anak keburu melihat adegan yang tak layak, kita perlu menjelaskan kepada anak bahwa apa yang disaksikannya tak boleh ditirunya.
Demikian pula bila contoh datang dari lingkungan dekat, nasihati dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami anak. Mungkin sesekali anak lupa, dia tidak patuh pada nasihat kita, jangan putus asa tetapi terus nasihati karena di usia ini anak mudah lupa dengan nasihat yang sudah kita berikan. Sebagai orangtua, selain terus mengingatkan anak, kita pun harus selalu memberi contoh yang baik. Contoh yang baik bisa ditunjukkan lewat bercerita, perilaku sehari-hari, aktivitas menggambar, dan sebagainya. Yang pasti kita harus mengenalkan pada anak, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak.
* Kerja Sama dengan Pengasuh
Bila dari keterangan anak bahwa akar masalahnya karena sikap pengasuh yang kasar, tidak sabaran, atau suka marah-marah, cobalah ajak si pengasuh berbicara secara baik-baik. Minta ia untuk bekerja sama melakukan kesepakatan-kesepakatan, misalnya dengan mengikuti aturan yang sudah kita buat. Di antaranya, pengasuh tak boleh berkata kasar dan tidak senonoh, tak boleh menggunakan kekerasan fisik, mudah marah, dan sebagainya. Bilang pada pengasuh bahwa di usia prasekolah anak memang sedang senang-senangnya bilang “tidak” sehingga banyak hal mengesalkan dilakukan anak.
Bila ternyata sikap pengasuh belum berubah, cobalah usahakan kembali untuk mengubah perilakunya. Tetapi bila sikap pengasuh memang sudah tabiat dan sulit diubah, jangan ambil risiko yang mungkin akan berpengaruh terhadap anak. Umpama, anak ikut berkata kasar, sering menggunakan kekerasan fisik untuk mengungkapkan emosinya. Berbicaralah secara baik-baik bahwa kita tak akan memperpanjang masa bekerjanya.
Untuk selanjutnya, cari pengasuh yang lebih baik sehingga anak bisa tertangani dengan baik pula. Kemudian, saat kita mencari pengasuh baru, pastikan ia cukup paham akan perkembangan anak, dan dapat diajak mengobrol untuk membicarakan perkembangan anak. Ia juga harus dapat mengajarkan pola disiplin yang tepat pada anak, tapi bukan hukuman atau ancaman melainkan mengajarkan konsekuensi perilaku. Artinya ia juga ikut memberikan pujian ketika anak melakukan hal yang baik (konsekuensi positif) dan memberikan konsekuensi negatif ketika anak melakukan perilaku yang kurang diharapkan. Tentumya untuk yang satu ini perlu dibicarakan lebih dulu bentuknya.
* Atasi Ketakutan Anak
Bila anak enggan bersama pengasuh karena takut dikasari lagi maka kita harus membangun kembali kepercayaan dirinya. Tentu sebelumnya kita sudah memberi arahan ke pengasuh untuk tidak melakukan hal itu lagi. Cara membangunnya dengan meyakinkan anak bahwa kejadian yang pernah dialaminya tidak akan terulang lagi. Minta pengasuh untuk memperlihatkan sikap baiknya, dengan minta maaf pada anak. Mungkin anak yang mengalami trauma perlu pengarahan berulang sampai ia benar-benar yakin kalau dirinya sudah aman berada dekat dengan pengasuh.
Irfan Hasuki.
Narasumber:
Farah Farida Tantiani, M.Psi.,
dari Jagadnita Consulting, Jakarta

Iklan

Mengubah KEBIASAAN Anak Yang Tak PERLU

sumber : tabloidnakita.com

Hanya dengan 5 langkah, si kecil pun siap berubah!
“Ma, kok lewat sini sih? Biasanya, kan, lewat jalan yang ada patung kudanya,” protes Indra. Memang, setiap berangkat ke sekolah dia selalu menempuh jalan pintas melewati taman yang dihiasi patung kuda. Namun karena jalan tersebut sedang rusak, Mama harus melewati jalan memutar. Tak tahunya Indra protes karena dia sudah terbiasa melewati jalur yang lama. “Aku tidak mau lewat sini, aku mau lewat jalan yang ada patung kudanya,” Indra bersikukuh. Terpaksa, Mama pun berbalik arah dan kembali melalui jalan sebelumnya.
Pernah enggak, diprotes anak karena ia tidak mau mengubah kebiasaan? Bukan hanya soal rute berangkat dan pulang “sekolah” yang biasa dilaluinya setiap hari, tetapi juga kebiasaan-kebiasaan lain semisal bangun telat, tidur agak malam, setiap minggu main ke rumah kakek-nenek, harus keliling kompleks dengan kendaraan sebelum kita berangkat ke kantor, dan sebagainya. Karena sudah menjadi kebiasaan, anak akan protes jika kita mengubahnya sedikit saja.
Akan tetapi, benarkah kebiasaan-kebiasaan pada anak sulit diubah? “Ah, enggak juga, kok!” jawab Anna Surti Ariani, Psi., dari Medicare Klinik Jakarta. Hanya saja, kita harus tahu cara mengubahnya. “Kita harus tahu lebih dahulu, kenapa anak berperilaku seperti itu,” tambah Nina, sapaan akrab psikolog ini.
Menurutnya, anak usia prasekolah mulai susah diubah dikarenakan ia sudah bisa memilih kemauannya, bisa berinteraksi lebih baik, juga dapat mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan cara mengambek, marah, rewel, bahkan tantrum. Protes lewat pengungkapan emosi yang berlebihan inilah yang akhirnya membuat kita menganggap anak sulit sekali diubah dari kebiasaannya; berbeda sedikit saja dia langsung marah, ngambek, teriak, dan sebagainya. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Dengan “sentuhan” yang tepat, si kecil mau kok mengubah kebiasaannya itu.
5 LANGKAH Efektif
1. Beri Penjelasan
Memberikan penjelasan sangat diperlukan untuk mengubah kebiasaan anak. Hal ini harus dilakukan sebelum, sesaat, dan setelah perubahan itu dilakukan. Contoh, ketika kita ingin mengubah kebiasaan anak yang selalu minta keliling kompleks dengan kendaraan, kita harus memberinya penjelasan, “Adek, bagaimana kalau besok kamu main sepeda saja sama si Mbak, karena Mama takut terlambat ke kantor.” Kemudian, waktunya tiba, kita beri penjelasan lagi, “Adek bersepedanya sama si Mbak saja ya!” Selanjutnya, setelah berangkat kerja, kita telepon si kecil dan arahkan dengan kata-kata bijak, “Wah, Adek hebat tadi, setuju tidak keliling kompleks, Mama jadi enggak terlambat nih.” Penjelasan seperti ini pun bisa diberikan untuk mengubah kebiasaan anak yang lain.
2. Konsekuen
Bila kemudian anak protes karena dia harus mengubah kebiasaannya itu, kita tetap harus konsekuen. Jangan sampai, hari ini kita menolaknya bersepeda setelah magrib, tapi besoknya kita menyetujuinya atau malah mengajaknya. Jadi, kita harus konsekuen kalau memang ingin mengubah kebiasaannya itu. Atasi protesnya dengan penolakan halus, bukan dengan kata-kata kasar atau kalimat yang membuat anak merasa tersisihkan.
Begitu pun bila kita ingin mengubah kebiasaan-kebiasaan lainnya, semisal bangun tidur pagi terlalu siang. Kita harus mulai membangunkannya agak pagi, bisa dengan memindahkannya ke ruang teve dimana hanya ada matras dan lampu ruangan lebih terang sehingga secara perlahan anak akan terjaga. Lakukan secara konsekuen. Jangan malah sesekali lupa, membiarkan anak tidur hingga siang karena akan membuatnya kembali dengan kebiasaannya bangun tidur terlalu siang.
3. Berikan Penghargaan (reward)
Ketika anak mau mengubah kebiasaannya, mau pergi ke sekolah lewat jalan lain, bangun tidur lebih pagi, makan tidak diemut, dan sebagainya, jangan didiamkan begitu saja. Kita perlu memberinya penghargaan, bisa berupa pujian, belaian, atau hadiah stiker, kue kegemarannya, dan sebagainya. Pemberian reward haruslah yang wajar dan tidak berlebihan, agar ketika ingin melakukan sesuatu, anak memang berniat untuk memperbaiki perilakunya bukan karena ingin mendapatkan hadiah. Pasalnya, bila anak berlaku positif hanya karena ingin hadiah, hal ini tidak baik untuk perkembangan kepribadiannya. Setiap melakukan sesuatu dia selalu mengharapkan imbalan, misal.
4. Berikan Sanksi (Punishment)
Pemberian sanksi lebih ditujukan pada akibat yang akan diterima anak bila dia tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Bukan berupa hukuman yang memang benar-benar ingin dikenakan ke anak. Umpama, bila dia bangun tidur telat, maka akibatnya dia tidak bisa bermain sepeda ke taman, tidak bisa menikmati kue kesukaannya, dan sebagainya. Dengan adanya punishment ini diharapkan anak bisa bersemangat untuk memperbaiki kebiasaannya, “Wah, kalau bangun kesiangan aku tidak bisa bermain sepeda dengan Windi dong.”
Hindari punishment yang bersifat menggurui atau merendahkan anak, semisal, “Makanya, kalau bangun pagi-pagi, biar rasa kalau enggak bisa main sepeda.” Kita bisa ubah dengan kalimat yang lebih halus namun mengena di hati anak, “Adek kan kesiangan bangunnya, jadi enggak bisa main sepeda deh.” Hal ini akan lebih dipahami anak karena bahasanya sederhana dan tidak menekankan amarah.
Irfan Hasuki.