“AKU ENGGAK MAU PAKAI BAJU ITU!”

SUMBER : tabloidnakita.com

Si kecil ogah pakai baju pesta? Sikapi penolakannya dengan bijak.
“Ayo dong Dek, Mama kan sudah belikan baju yang bagus. Masa sih Adek enggak mau pakai bajunya. Adek cantik, lo, kalau pakai baju ini,” bujuk sang ibu. Namun si kecil Mira yang akan berulang tahun ke-2 tetap menggelengkan kepala. “Enggak mau! Enggak mau!” tolaknya sambil setengah menangis. Sementara sang ibu berusaha terus membujuknya sampai akhirnya pecahlah tangis gadis kecil itu dan ibu pun angkat tangan.
Banyak kejadian seputar konflik pemilihan busana yang dimulai di usia batita. Intinya, menolak memakai baju yang kita sodorkan. Bukan hanya saat akan merayakan pesta ulang tahunnya, tapi juga ketika kita akan mengajaknya pergi ke suatu undangan pernikahan, makan malam, dan momen penting lainnya seperti perayaan hari raya keagamaan.
KEINGINAN WAJAR ORANGTUA
Sebetulnya, bukan hal yang salah jika orangtua ingin mendandani si kecil dengan baju yang dianggap bagus di momen-momen tertentu. Katakanlah, baju model putri-putrian untuk si Upik dan baju gamis atau setelan jas untuk si Buyung. Kemudian mereka diberi pernak-pernik, apakah itu jepitan rambut, ikat rambut, ikat pinggang, dasi, syal, atau topi. Suatu keinginan wajar dari orangtua untuk membuat anaknya yang lucu berpenam- pilan lebih baik, lebih cantik atau ganteng.
Hanya saja, tak semua anak suka dengan upaya yang dilakukan orangtua tersebut. Tentunya semua ini tergantung pada masing-masing anak. Ada anak yang memang tak masalah, malah merasa senang, dan menurut saja mau didandani apa pun oleh orangtuanya. Tapi, ada anak-anak yang memang tak suka jika dipakaikan baju tertentu atau didandani seperti yang dikehendaki orangtua. Nah, kerap kali akhirnya timbul masalah dengan orangtua.
SIKAPI DENGAN BIJAK
Tak perlu marah apalagi sampai memaksa jika si kecil menolak dipakaikan baju tertentu. Sikapi dengan bijak melalui langkah-langkah berikut:
1. Cari tahu penyebab penolakannya
Di usia batita, penyebab penolakan ini bukan karena rasa malu yang muncul, tapi lebih karena anak memang merasa tak nyaman dengan baju yang ditawarkan orangtuanya. Mungkin anak merasa gatal dengan bahan bajunya, merasa kepanasan dengan model dan bahan baju tertentu, atau memang tidak menyukai warna, corak, potongan, atau modelnya. Sering kali apa yang dipandang orangtua sudah cukup baik, ternyata tidak demikian bagi anak. Oleh sebab itu, orangtua juga perlu memerhatikan kenyamanan pakaian yang ditawarkan kepada anak dan bagaimana cara menyikapinya dengan baik seandainya ditolak.
2. Berikan penjelasan
Lalu, kemukakan alasan mengapa orangtua menginginkan anak memakai baju pesta. Tentunya dengan bahasa yang mudah diterima anak. Contoh, “Hari ini ulang tahunmu. Adek, kan, mengundang teman-teman untuk sama-sama bersyukur. Teman-teman akan senang melihat Adek tampil cantik dengan pakaian seperti putri raja.” Atau, “Kita mau ke pesta Om Rudi, Sayang. Untuk menghormati orang yang mengundang kita, maka kita harus berpakaian yang baik. Tentunya Adek juga pakai baju yang bagus. Ibu dan Ayah juga pakai baju bagus. Kalau Adek pakai baju jelek, orang yang mengundang Adek tidak merasa dihargai.” Dengan adanya penjelasan ini, anak akan mengerti mengapa dia harus melakukan apa yang dikehendaki orangtuanya, tidak sekadar patuh tanpa tahu alasannya.
3. Berikan pilihan
Bila memang anak tak ingin mengenakan pakaian yang disodorkan orangtua dan alasan si kecil cukup jelas, semisal karena bahannya terasa gatal di badan, maka jangan dipaksakan. Orangtua harus bersikap fleksibel. Pilihkan pakaian lain yang sama bagusnya. Libatkan anak untuk menentukan pilihannya.
Jika anak memilih busana yang tidak sesuai, misalnya singlet untuk pergi ke pesta, tentu orangtua tidak diharuskan menuruti begitu saja keinginannya. Anak tetap harus diberi penjelasan dan tahu aturan bahwa untuk pergi ke acara pesta harus mengenakan pakaian yang pantas. Jadi, bila masalahnya memang mendasar, anak harus tetap ikut aturan.
BELAJAR TENTANG KEPATUTAN
Sebetulnya, dengan menginginkan anak menggunakan pakaian khusus atau paling tidak berpakaian rapi, bersih, dan tampak serasi berarti orangtua telah memberikan pelajaran tentang suatu kepatutan (manners) kepada anak.
Sejak usia batita, anak memang harus dikenalkan dan tahu perlunya kepatutan dalam berpenampilan. Umpama, ke sekolah harus berseragam, menghadiri acara pesta harus berpakaian baik, bersih, dan rapi. Dengan begitu, anak tahu dan mengerti aturan kepatutan agar tidak bersikap atau berpenampilan sembarangan dan seenak-enaknya. Kepatutan yang ditanamkan sejak dini akan terus dibawanya sampai usia besar nanti.
Di sini orangtua juga sebetulnya telah menanamkan rasa kesadaran yang tinggi pada anak untuk menyesuaikan diri dengan situasi sekelilingnya. Dalam hal berpakaian yang pantas, anak diajarkan untuk menghargai dan menghormati orang lain dengan cara berpakaian yang baik. Meski tak harus bagus atau mahal, paling tidak bersih dan rapi. Seperti halnya tuntutan berpakaian bersih dan rapi saat beribadah menghadap Tuhan, begitu pula sebaiknya sikap kita terhadap sesama manusia.
LIBATKAN ANAK UNTUK MEMILIH SAAT MEMBELI BAJU
Jika memang orangtua ingin anak batitanya punya baju-baju istimewa untuk dikenakan di acara-acara tertentu, sebaiknya libatkan anak untuk ikut menentukan pilihan. Anak di atas usia 2 tahun sudah bisa, kok, dilibatkan memilih.
Lakukan kompromi jika pilihan anak kurang berkenan. Orangtua bisa memberikan saran dan pandangan, “Baju yang ini ukurannya kepanjangan di badanmu. Bajunya bisa terinjak dan membuat Adek tersandung. Coba Adek cari baju yang lain.”
Meski pada akhirnya pilihan anak tidak terlalu bagus menurut kacamata orangtua, besarkan hatinya bahwa dia sudah bisa memilih. Bila sejak kecil sudah terbiasa dilibatkan dalam penentuan pilihan, kelak anak dapat membuat suatu keputusan untuk masalah yang dihadapinya.
Dedeh Kurniasih.
Konsultan Ahli:
Ratna S. Darwanto, Psi.,
PT WAY Indonesia, konsultan SDM dan trainer Universal Intelligence

Iklan

Mengatasi Aksi Anak Jahil

sumber : tabloidnakita.com

Ada 8 cara untuk menghentikannya.
Rika (7) sedang asyik menggambar ketika tiba-tiba saja kertas gambarnya direnggut oleh Rifki (4;8), sang adik, yang langsung berlari sambil tertawa-tawa. Rika langsung berteriak sambil mengejar sang adik sampai akhirnya kertas itu dirobek si adik. Si kakak pun menangislah. Gambar yang dibuatnya dengan susah payah kini rusak sudah.
Kali lain, Rifki menjahili adiknya yang berusia 2;8 tahun dengan kata-kata yang membuat si adik marah dan menangis. “Ayo, nanti kamu kan enggak diajak Mama jalan-jalan. Betul, lo!” Si adik tak mau terima dan dipukullah Rifki. Akhirnya keduanya bertengkar. Belum lagi laporan guru di sekolah yang menceritakan kalau Rifki kadang kala mendorong temannya yang sedang berdiri diam, dan mengambil mainan teman tanpa izin.
Nah, Anda punya anak jahil seperti Rifki? Apakah Anda sering kesal atau malu karena sudah banyak keluhan sampai ke telinga? Di sini, Dra. Rozamon Anwar, M.Si., dari SD Al Fikri, Depok, memberikan 8 cara mengatasinya. Yuk, kita simak bersama!
1. Tidak memberikan respons reaktif seperti memarahi, menegur ataupun menghukumnya.
Abaikan jika anak bersikap jahil.
Dengan mengabaikan sikap jahilnya, anak akan paham bahwa apa yang dia lakukan tak bisa menarik perhatian orangtuanya. Pada akhirnya ia tidak akan lagi menggunakan cara-cara jahil untuk mendapatkan pengakuan/perhatian. Jika orangtua berkomentar marah atau malah tertawa karena menganggapnya lucu, maka anak merasa seperti mendapatkan dukungan untuk mengulangi kejahilannya
2. Beri perhatian yang cukup pada sikap baik anak.
Umumnya, sikap jahil muncul karena anak menuntut perhatian. Nah, agar anak tidak bersikap demikian, berikan selalu perhatian sebelum ia berulah. Luangkan waktu bersama anak. Saat anak bersikap manis, lontarkan pujian, “Mama bangga lo sama kamu karena kamu mau meminjamkan mainanmu kepada adik. Mama yakin kamu begitu menyayangi adikmu.”
3. Gunakan “pesan saya”
Hilangkan kebiasaan melabel anak atau jangan gunakan “pesan kamu” seperti, “Kamu kok jahat sih, jahil banget sih, iseng banget sih,” dan lain sebagainya. Sebaliknya, gunakan “pesan saya” atau ungkapan perasaan Anda. Umpama saja orangtua sedang baca koran dan si kecil dengan jahil menepiskan koran itu, maka sampaikan “pesan saya”, seperti, “Mama kaget kalau kamu berbuat seperti itu. Mama jadi tidak bisa baca koran. Mama tidak suka kalau kamu seperti itu.” Atau misalnya anak menjahili adiknya, orangtua bisa mengatakan, “Mama sedih melihat kamu mengganggu adik. Adik jadi menangis. Mama tidak suka kalau kamu mengganggu adik lagi.”
4. Perhatikan korban.
Tunjukkan bahwa orangtua justru memberikan perhatian pada si korban, bukan pada si jahil. Maksudnya juga untuk mencegah reaksi lanjutan seperti anak menangis, marah, bertengkar dan sebagainya. “Wah, krayon kakak diambil adik ya? Ya sudah, sekarang pakai krayon lain saja yang ada. Nanti, minta baik-baik sama adik supaya ia mau mengembalikan krayonmu.”
Tanyakan pula pada korban bagaimana perasaannya; apakah sedih, terganggu atau kesal. Perhatikan adakah cedera atau rasa sakit pada tubuh korban, apakah ada sesuatu yang hilang, dan sebagainya. Berempatilah padanya. Tegaskan pada anak yang jahil untuk minta maaf atas kejahilannya.
5. Alihkan sikap jahil menjadi perilaku baik.
Contohnya, ketika anak hendak memukul, tahanlah tangannya dan buatlah menjadi usapan yang lembut pada orang yang akan dipukul. Jelaskan, “Tangan ini bukan untuk memukul tapi untuk menyayangi.” Begitu juga jika si kecil mengejek atau mengancam, alihkan perkataannya menjadi yang baik-baik. Anak prasekolah belum sepenuhnya paham mana perilaku yang baik dan buruk. Jadi, orangtualah yang harus selalu menanamkan perilaku baik padanya.
6. Beri pengertian dan pemahaman.
Berikan pemahaman bagaimana rasanya bila diganggu, “Kebiasaan mengganggu itu tidak baik. Apakah kamu suka jika ada orang yang mengganggumu?” Lalu tanamkan tentang sikap apa yang diharapkan dari dirinya, “Oleh sebab itu tidak boleh mengganggu orang lain, ya.” Sertakan berbagai alasannya, bahwa sikap jahil bisa merugikan dirinya sendiri maupun orang lain; orang lain bisa saja cedera karena perilaku jahilnya, dan orang lain bisa marah serta tidak suka berteman dengannya. Gunakan bahasa yang mudah dipahami anak.
7. Berikan aktivitas positif dan kreatif.
Sikap jahil mungkin juga didorong oleh rasa bosan dan desakan energi. Karenanya, berikan aktivitas menyenangkan yang dapat menyalurkan energi anak dengan cara positif dan kreatif, seperti menggambar, main sepeda, berenang, main kejar-kejaran, membuat rumah-rumahan, dan sebagainya.
8. Berikan sanksi jika perlu.
Bila anak yang sudah diberi penjelasan masih mengulangi kejahilannya, bersikaplah tegas dengan memberinya sanksi. Tentunya bukan berupa hukuman fisik yang bisa berdampak buruk dan menambah kejahilan, tetapi dengan cara menghentikan kesenangannya. Umpama, “Kalau kamu sering mengganggu kakak (adik), Mama tidak akan bacakan dongeng sebelum tidur.” Hukuman perlu agar anak mengerti mana perilaku yang benar dan salah.
KENAPA, SIH, JAHIL BANGET?
Sebetulnya, perilaku jahil merupakan salah satu cara si prasekolah untuk menunjukkan eksistensi atau egonya. “Ia ingin diakui dengan cara mencoba-coba, melihat bagaimana reaksi orang lain terhadap sikapnya,” ungkap Rozamon Anwar. “Anak mungkin merasa penasaran akan respons orang yang dijahilinya. Mungkin ia merasa senang bila melihat orang menangis atau marah.” Inilah bagian dari ekplorasi terhadap reaksi lingkungan atas sikap-sikapnya.
Selain pengungkapan ego, sikap jahil bertujuan mendapatkan perhatian, apakah dari orangtua, teman, atau lingkungan yang lebih luas. Bisa juga karena dilandasi perasaan cemburu pada saudara kandung yang menurutnya lebih banyak mendapatkan perhatian orangtua.
Ada juga perilaku jahil yang dikarenakan minimnya keterampilan interpersonal, sementara anak ingin dirinya diterima dalam lingkungan. Karena ingin diajak bermain, ia menarik perhatian si teman dengan mendorong, misalnya.
Bentuk kejahilan ini bermacam-macam, seperti merebut, membuang, menyembunyikan, mendorong, memukul, mengancam, mengejek, dan cara lainnya. Tergantung pada pengalaman dijahili yang pernah dialaminya atau contoh perilaku jahil yang dilihatnya.
Dedeh Kurniasih.