Ikut Nyekar SAMA BUNDA


SUMBER : tabloidnakita.com

Bagaimana menjawab pertanyaan si kecil seputar hal abstrak ini?
Istilah ziarah kubur atau nyekar bukan sesuatu yang populer di telinga si prasekolah bahkan masih terbilang abstrak. Jadi memang suatu tantangan tersendiri untuk menjelaskannya. Terlebih perkembangan kognitif anak 4-5 tahun yang masih dalam tahap konkret cenderung lebih mudah menangkap hal-hal yang nyata, entah itu yang bisa dilihat, diamati, diraba dan sebagainya. Jadi kalau sekadar dijelaskan dengan kata-kata tentang apa itu nyekar, apa yang dilakukan saat nyekar, dan hal-hal lainnya, anak justru bingung dan akan melontarkan berbagai pertanyaan.
Akan tetapi apa pun yang ditanyakannya, tetap harus dijawab. Tak perlu khawatir penjelasan kita tidak akan dimengerti oleh sang buah hati. Asalkan jawaban atas pertanyaannya itu disesuaikan dengan taraf pemahamannya, ia akan mengambil makna sesuai pengertiannya.
KENAPA DIKUBUR?
Saat nyekar, kemungkinan besar si prasekolah akan mempertanyakan soal kematian, seperti “Kok, kakek ada di dalam kuburan?” Tetap beri jawaban-jawaban yang mudah dipahami anak. “Kakek sudah meninggal, Nak. Jadi tak bisa bermain bersama Adek lagi. Kakek sudah tak bisa ditemui lagi. Tapi kita bisa mengunjungi makamnya.”
Hindari jawaban yang bertele-tele dan terlalu abstrak karena hanya akan membuat anak bertambah bingung. Contoh, “Kalau sudah meninggal, orang akan dikubur. Lalu, akan datang malaikat yang bertanya tentang kebaikan dan keburukannya selama hidup di dunia. Kalau amal kebaikannya lebih banyak dan diterima dia akan masuk surga. Tetapi kalau banyak keburukannya dan tak diampuni maka akan masuk neraka.”
Penjelasan juga mesti bersifat positif. Katakanlah si prasekolah bertanya kenapa orang meninggal harus dikubur, maka bisa dijawab, “Semua orang pasti akan meninggal. Lalu ada yang dikubur. Contohnya, kakek dan nenek yang sekarang dikubur di sini. Mereka yang meninggal akan bertemu dengan Tuhan.” Hal yang positif ini kalau disampaikan dengan baik biasanya dapat dimengerti anak.
Namun, jangan ragu untuk meluruskan pola pikir anak yang kurang tepat meskipun kedengarannya positif. “Nenek sedang tidur, ya, di kuburan ini? Kok enggak bangun-bangun?” Luruskan dengan penjelasan, “Sebenarnya bukan sedang tidur, tapi sudah meninggal. Jadi harus dikubur. Nah, kita harus mendoakannya, supaya kebaikan-kebaikan nenek diterima Tuhan.”
Intinya jadikan acara nyekar untuk memberi pengetahuan atau wawasan mengenai konsep atau makna ziarah kubur. Termasuk bahwa nyekar itu tak sebatas mengunjungi makam leluhur, tapi juga mendoakan serta merupakan ajang silaturahmi karena dapat bertemu dengan kerabat lain di sana.
BILA TAKUT
Tak sedikit juga anak yang merasa takut diajak ke pekuburan, apalagi mereka yang baru pertama kali atau belum pernah sama sekali. Di sisi lain, lantaran pengaruh tontonan hal-hal gaib dimana kuburan identik dengan hantu dan sejenisnya. Mengenai hal ini, segera luruskan pandangan negatif si prasekolah. Jelaskan bahwa kuburan tak seseram yang dilihat dalam tayangan teve dan film. “Kuburan itu tempat orang yang sudah meninggal. Kamu tak usah takut. Hantu yang menakutkan itu hanya ada di teve. Kakak kan mau mendoakan kakek dan nenek yang sudah meninggal di sana.” Kalaupun memang anak tetap menolak, tak perlu memaksakan kehendak. Yang jelas, terus berikan penjelasan tentang apa itu makna ziarah kubur dan kebaikannya.
SEBELUM NYEKAR
Perhatikan hal-hal yang berkaitan dengan ziarah kubur:
• Jelaskan bahwa dulu sebelum si prasekolah lahir atau ketika dia masih kecil, ada kakek/nenek. Nah, karena mereka sudah meninggal, jadi dikubur. Maksud ziarah adalah untuk mengunjungi kuburannya. Kalau si kecil masih belum mengerti, siapa itu eyang atau seperti apa wajahnya, bisa diperlihatkan melalui foto-foto dokumentasi.
• Sebelum mengajak si kecil ke pemakaman, jelaskan apa maksud dan tujuan kita ke sana. Misalnya, mau ziarah ke makam kakek, nenek atau kerabat/saudara yang sudah meninggal. Di sana kita akan mendoakannya, contoh supaya kebaikannya diterima oleh Tuhan, diampuni kesalahannya dan sebagainya.
• Perhatikan kemungkinan rasa tidak nyaman ketika menuju pemakaman. Misalnya, arus lalu lintas yang padat dan macet karena orang lain juga berniat untuk ziarah ke pekuburan yang sama. Belum lagi, jarak dari rumah menuju pemakaman apakah cukup jauh dan membutuhkan waktu berjam-jam, untuk itu bawalah perbekalan secu-kupnya. Bila datang di siang hari, siapkan payung dan minuman untuk melepas dahaga.
• Perhatikan faktor kesehatan anak. Kalau kondisinya kurang fit tak perlu diajak menyekar. Kegiatan ziarah bisa tetap dilakukan di hari-hari lain. Bila belum siap di hari Lebaran, ajaklah ia ziarah di waktu lain.
JAWAB DENGAN TEPAT!
Si kecil bertanya-tanya seputar nyekar? Inilah contoh jawabannya:
[T] “Ibu, apa sih nyekar itu?”
[J] “Nyekar atau ziarah itu artinya mengunjungi makam atau kuburan. Nah, nanti kita nyekar ke kuburan kakek dan nenek, ya.”
[T] “Terus ngapain kita di kuburan?”
[J] “Kita mau mendoakan kakek dan nenek yang sudah meninggal. Supaya segala kebaikannya diterima oleh Tuhan.”
[T] “Selain berdoa, ngapain lagi dong?”
[J] “Kita juga membersihkan kuburannya supaya bersih.”
Pertanyaan si kecil mungkin tak cukup sampai di situ. Jawablah segera dengan tepat, yaitu sederhana dan tidak menyesatkan.
Hilman Hilmansyah.
Konsultan ahli:
Rahmi Dahnan, Psi.,
dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s