Cara Mengatasi Anak JAHIL


sumber : tabloidnakita.com

Ada 8 cara untuk menghentikannya.
Rika (7) sedang asyik menggambar ketika tiba-tiba saja kertas gambarnya direnggut oleh Rifki (4;8), sang adik, yang langsung berlari sambil tertawa-tawa. Rika langsung berteriak sambil mengejar sang adik sampai akhirnya kertas itu dirobek si adik. Si kakak pun menangislah. Gambar yang dibuatnya dengan susah payah kini rusak sudah.
Kali lain, Rifki menjahili adiknya yang berusia 2;8 tahun dengan kata-kata yang membuat si adik marah dan menangis. “Ayo, nanti kamu kan enggak diajak Mama jalan-jalan. Betul, lo!” Si adik tak mau terima dan dipukullah Rifki. Akhirnya keduanya bertengkar. Belum lagi laporan guru di sekolah yang menceritakan kalau Rifki kadang kala mendorong temannya yang sedang berdiri diam, dan mengambil mainan teman tanpa izin.
Nah, Anda punya anak jahil seperti Rifki? Apakah Anda sering kesal atau malu karena sudah banyak keluhan sampai ke telinga? Di sini, Dra. Rozamon Anwar, M.Si., dari SD Al Fikri, Depok, memberikan 8 cara mengatasinya. Yuk, kita simak bersama!
1. Tidak memberikan respons reaktif seperti memarahi, menegur ataupun menghukumnya.
Abaikan jika anak bersikap jahil.
Dengan mengabaikan sikap jahilnya, anak akan paham bahwa apa yang dia lakukan tak bisa menarik perhatian orangtuanya. Pada akhirnya ia tidak akan lagi menggunakan cara-cara jahil untuk mendapatkan pengakuan/perhatian. Jika orangtua berkomentar marah atau malah tertawa karena menganggapnya lucu, maka anak merasa seperti mendapatkan dukungan untuk mengulangi kejahilannya
2. Beri perhatian yang cukup pada sikap baik anak.
Umumnya, sikap jahil muncul karena anak menuntut perhatian. Nah, agar anak tidak bersikap demikian, berikan selalu perhatian sebelum ia berulah. Luangkan waktu bersama anak. Saat anak bersikap manis, lontarkan pujian, “Mama bangga lo sama kamu karena kamu mau meminjamkan mainanmu kepada adik. Mama yakin kamu begitu menyayangi adikmu.”
3. Gunakan “pesan saya”
Hilangkan kebiasaan melabel anak atau jangan gunakan “pesan kamu” seperti, “Kamu kok jahat sih, jahil banget sih, iseng banget sih,” dan lain sebagainya. Sebaliknya, gunakan “pesan saya” atau ungkapan perasaan Anda. Umpama saja orangtua sedang baca koran dan si kecil dengan jahil menepiskan koran itu, maka sampaikan “pesan saya”, seperti, “Mama kaget kalau kamu berbuat seperti itu. Mama jadi tidak bisa baca koran. Mama tidak suka kalau kamu seperti itu.” Atau misalnya anak menjahili adiknya, orangtua bisa mengatakan, “Mama sedih melihat kamu mengganggu adik. Adik jadi menangis. Mama tidak suka kalau kamu mengganggu adik lagi.”
4. Perhatikan korban.
Tunjukkan bahwa orangtua justru memberikan perhatian pada si korban, bukan pada si jahil. Maksudnya juga untuk mencegah reaksi lanjutan seperti anak menangis, marah, bertengkar dan sebagainya. “Wah, krayon kakak diambil adik ya? Ya sudah, sekarang pakai krayon lain saja yang ada. Nanti, minta baik-baik sama adik supaya ia mau mengembalikan krayonmu.”
Tanyakan pula pada korban bagaimana perasaannya; apakah sedih, terganggu atau kesal. Perhatikan adakah cedera atau rasa sakit pada tubuh korban, apakah ada sesuatu yang hilang, dan sebagainya. Berempatilah padanya. Tegaskan pada anak yang jahil untuk minta maaf atas kejahilannya.
5. Alihkan sikap jahil menjadi perilaku baik.
Contohnya, ketika anak hendak memukul, tahanlah tangannya dan buatlah menjadi usapan yang lembut pada orang yang akan dipukul. Jelaskan, “Tangan ini bukan untuk memukul tapi untuk menyayangi.” Begitu juga jika si kecil mengejek atau mengancam, alihkan perkataannya menjadi yang baik-baik. Anak prasekolah belum sepenuhnya paham mana perilaku yang baik dan buruk. Jadi, orangtualah yang harus selalu menanamkan perilaku baik padanya.
6. Beri pengertian dan pemahaman.
Berikan pemahaman bagaimana rasanya bila diganggu, “Kebiasaan mengganggu itu tidak baik. Apakah kamu suka jika ada orang yang mengganggumu?” Lalu tanamkan tentang sikap apa yang diharapkan dari dirinya, “Oleh sebab itu tidak boleh mengganggu orang lain, ya.” Sertakan berbagai alasannya, bahwa sikap jahil bisa merugikan dirinya sendiri maupun orang lain; orang lain bisa saja cedera karena perilaku jahilnya, dan orang lain bisa marah serta tidak suka berteman dengannya. Gunakan bahasa yang mudah dipahami anak.
7. Berikan aktivitas positif dan kreatif.
Sikap jahil mungkin juga didorong oleh rasa bosan dan desakan energi. Karenanya, berikan aktivitas menyenangkan yang dapat menyalurkan energi anak dengan cara positif dan kreatif, seperti menggambar, main sepeda, berenang, main kejar-kejaran, membuat rumah-rumahan, dan sebagainya.
8. Berikan sanksi jika perlu.
Bila anak yang sudah diberi penjelasan masih mengulangi kejahilannya, bersikaplah tegas dengan memberinya sanksi. Tentunya bukan berupa hukuman fisik yang bisa berdampak buruk dan menambah kejahilan, tetapi dengan cara menghentikan kesenangannya. Umpama, “Kalau kamu sering mengganggu kakak (adik), Mama tidak akan bacakan dongeng sebelum tidur.” Hukuman perlu agar anak mengerti mana perilaku yang benar dan salah.
KENAPA, SIH, JAHIL BANGET?
Sebetulnya, perilaku jahil merupakan salah satu cara si prasekolah untuk menunjukkan eksistensi atau egonya. “Ia ingin diakui dengan cara mencoba-coba, melihat bagaimana reaksi orang lain terhadap sikapnya,” ungkap Rozamon Anwar. “Anak mungkin merasa penasaran akan respons orang yang dijahilinya. Mungkin ia merasa senang bila melihat orang menangis atau marah.” Inilah bagian dari ekplorasi terhadap reaksi lingkungan atas sikap-sikapnya.
Selain pengungkapan ego, sikap jahil bertujuan mendapatkan perhatian, apakah dari orangtua, teman, atau lingkungan yang lebih luas. Bisa juga karena dilandasi perasaan cemburu pada saudara kandung yang menurutnya lebih banyak mendapatkan perhatian orangtua.
Ada juga perilaku jahil yang dikarenakan minimnya keterampilan interpersonal, sementara anak ingin dirinya diterima dalam lingkungan. Karena ingin diajak bermain, ia menarik perhatian si teman dengan mendorong, misalnya.
Bentuk kejahilan ini bermacam-macam, seperti merebut, membuang, menyembunyikan, mendorong, memukul, mengancam, mengejek, dan cara lainnya. Tergantung pada pengalaman dijahili yang pernah dialaminya atau contoh perilaku jahil yang dilihatnya.
Dedeh Kurniasih.

2 thoughts on “Cara Mengatasi Anak JAHIL

  1. Saya seorng guru taman kanak2..
    Saya dpt artikel ini dr slh satu ortu murid saya krn kbtulan anaknya mmlki sft n skp ♈ªʼnĝ sama dng artikel ini. Sifat n sikapnya terasa berubah drastis sjak memasuki kls TK A atau kls kecil. Saya sdh mlkukn hal ♈ªʼnĝ sma sprti artikel ini,ttpi ank trsbut ttp jhil n naka bhkan sdh bs brbohong. Bgmn mngtsi hal trsebut??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s