Agar tak “DIPERBUDAK” Teman


SUMBER : tabloidnakita.com

Kiatnya ternyata berawal dari pola asuh di rumah.
“Hei, Adit! Cepat beliin aku permen!” kata Ponco dengan nada tinggi sambil melotot. “Habis itu, balikin piring ini ke abang siomay!” perintahnya sambil berkacak pinggang. Adit cuma mengiyakan diperintah ini-itu oleh temannya.
Semoga saja kejadian seperti itu tak dialami anak Anda. Tapi seandainya terjadi, sebal enggak, sih? Pastinya Anda tidak rela bila tahu si anak kesayangan kerap diperalat kawan-kawannya. Apalagi kalau dia manut saja diperintah ini-itu, tak bisa menolak apalagi melawan.
3 TITIK LEMAH
Sebenarnya, apa yang menyebabkan anak mau saja diperbudak teman? Berikut paparan Dra. Ratih Andjayani Ibrahim, MM, dari Personal Growth, Jakarta.
* Tak bisa melawan
Ketidakberanian melawan tentu ada lagi penyebabnya. Antara lain, fisik si teman lebih besar ketimbang dirinya. Anak merasa terancam oleh fisik yang lebih besar dan memilih diam.
Bisa juga pada dasarnya anak penakut atau cengeng. Tipe ini selalu menghindari konflik. Ia enggan melakukan negosiasi dan sulit untuk bilang “tidak”. Ia tak bisa mengekspresikan keinginannya, justru yang terlontar hanya “ya” dan “ya deh”.
* Kurang “jam terbang”
Bisa jadi anak mau saja mondar-mandir disuruh kawannya karena “jam terbang” bersosialisasi masih kurang. Teman sepermainan atau teman sebayanya hanya sebatas hitungan jari. Ia jadi kikuk begitu bertemu banyak anak dengan beragam karakter di sekolahnya. Dia belum terbiasa dengan situasi dan kondisi yang mungkin mendominasinya sehingga lebih banyak mengalah karena membutuhkan waktu panjang untuk bisa beradaptasi.
* Pola asuh tak tepat
Apa hubungannya dengan pola asuh di rumah yang kurang tepat? Kalau orangtua selalu memarahi anak kala berbuat salah, banyak melarang, tak memberikan kesempatan seluas-luasnya agar anak bisa bereksplorasi dan berinisiatif, atau selalu mendikte sehingga bertindak pun ia ragu-ragu, ujung-ujungnya anak lebih sering memilih mengalah, bahkan ketika sang teman memperbudaknya. Dia tak mampu mempertahankan diri, melawan atau membalas perilaku teman yang terus mengeksploitasinya.
KIAT HADAPI SI BOSSY
Lalu, bagaimana supaya anak bisa menghadapi situasi seperti itu?
* Beri perhatian
Langkah pertama, ajak dia mengungkapkan perasaannya. Ketahui apa pun yang ia rasakan dan alami, sehingga kita tahu apa permasalahan yang dihadapinya. Kalau dia bilang temannya suka menyuruh ini-itu, katakan padanya, “Ya, Mama mengerti, tidak enak ya diperlakukan seperti itu oleh teman.” Pada intinya, ketika anak dalam posisi tak berdaya seperti itu, orangtua perlu memberikan perhatian sebagai antisipasi agar perlakuan yang didapat sang buah hati tidak mengganggu perkembangannya di kemudian hari. Bukan mustahil, lingkungan yang menekan membuat anak tak percaya diri atau minder.
* Beri penjelasan
Selanjutnya, beri tahu bahwa sikap atau perilaku orang memang berbeda-beda. Tak semuanya bisa bersikap baik seperti yang kita harapkan. Jelaskan, karena perbuatan seperti itu tidak baik, minta anak untuk tidak mencontoh perilaku suka memerintah teman. Agar mudah dipahami, sampaikan melalui dongeng bermuatan moral baik dan buruk, seperti kisah “Bawang Putih dan Bawang Merah” dimana ada dua karakter manusia yang berbeda, yaitu baik dan buruk. Dengan begitu, anak menyadari bahwa dalam menjalani kehidupan sehari-hari bakal ada rintangan yang menghadang.
* Ajarkan untuk bilang “tidak”
Langkah selanjutnya, tanamkan bahwa diam tidak selalu tepat dijadikan solusi menghadapi sosok yang kelihatannya lebih kuat. Secara bertahap dorong si prasekolah untuk berani dan mau menolak diperlakukan seperti itu lagi. Siapkan mentalnya untuk tidak takut ketika dihadapkan pada situasi yang sama dan ajarkan untuk bisa berkata “tidak”. Bila si prasekolah termasuk tipe penakut atau cengeng, terlebih dulu hilangkan sikap tersebut. Jelaskan pada si kecil, “Kalau Adek enggak mau diperlakukan seperti itu, Adek harus berani bilang, ‘Enggak mau’ pada perintah teman yang memaksa.” Menilai perintah yang tidak baik atau memaksa tentu butuh waktu, tetapi hal itu tetap penting untuk diajarkan.
* Minta bantuan
Bila anak belum terlatih menolak perintah teman yang sok jagoan, jangan malu untuk meminta bantuan atau melapor pada guru. Guru bisa menjadi fasilitator pendamai di antara mereka.
* Melakukan aktivitas lain
Coba cari alternatif lingkungan pergaulan lain buat anak; yakni lingkungan berbeda dan teman yang lebih variatif. Misal, ikutkan anak pada sanggar atau klub sehingga memungkinkannya mengembangkan kemampuan. Mungkin saja, kalau di sekolah ia kerap jadi “korban”, maka di sanggar ia bisa mencapai prestasi dan mendapatkan rasa percaya diri. Selain itu, “jam terbang” bersosialisasinya juga makin tinggi dan bervariasi. Dengan bertambah kepercayaan diri dan keberanian, kemungkinan besar anak akan sanggup berkata “tidak”. Anak yang merasa dirinya mampu melakukan sesuatu takkan membiarkan dirinya diatur seenaknya oleh orang lain.
* Introspeksi diri
Satu hal lagi yang cukup penting, orangtua perlu introspeksi diri. Boleh jadi, anak mudah diperalat temannya lantaran pola asuh yang kurang tepat. Bila itu yang menjadi penyebab, segera ubah pola asuh tersebut. Contoh, dengan memberikan kesempatan luas kepada anak untuk bereksplorasi. Biarkan anak mengungkapkan perasaannya, entah itu gembira, kesal, sedih dan sebagainya. Perlu diketahui, perkembangan harga diri anak selanjutnya sangat dipengaruhi oleh perkembangan emosi.
Dengan komunikasi yang baik, anak pun tak sungkan mengungkapkan pendapat dan keinginannya. Ubah sikap kita yang selalu mendikte, keras, menghakimi atau selalu memojokkan anak karena justru membuatnya jauh dari kita. Jangan sampai kita saling berseberangan, sebaliknya jadilah teman bahkan sahabat bagi anak.
Hilman Hilmansyah.

One thought on “Agar tak “DIPERBUDAK” Teman

  1. Terkadang orang tua yang terlalu sibuk membiarkan anaknya bermain begitu saja, atau memberikan mereka kepada pengasuh anak, padahal belum tentu pengasuh anak itu tahu cara mengajar anak dengan tepat…
    jadi sebaik-baiknya guru adalah orang tua sendiri. terima kasih atar informasinya, semoga bisa menjadi referensi bagi para orang tua…

    salam dari ronanusantara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s