AGAR RIANG “BERSEKOLAH”


sumber : tabloidnakita.com

Di usia yang belum genap tiga tahun memang tak mudah mengajak anak “bersekolah” di Kelompok Bermain (KB). Ada yang dari awal sudah angot, ada yang sempat masuk sebentar lalu bosan, ada juga yang mau “sekolah” tapi harus ditunggui terus di dalam kelas. Apa yang dilakukan para orangtua dan apa kata Santi Gunawan, seorang guru pada lembaga pendidikan prasekolah, Kinderfield.
DARI AWAL LANGSUNG MOGOK
“Waktu saya masukkan ke KB, usia Nadia baru 2 tahun. Saat trial dan observasi awal, sepertinya dia senang, karena memang ruangannya penuh dengan alat bermain. Akhirnya saya putuskan untuk memasukkannya ke KB itu. Saya lihat selain fasilitasnya lengkap, lokasi sekolahnya ramah anak, guru-gurunya pun kelihatan sabar dan mempunyai latar belakang sebagai pendidik. Rasanya semuanya ideal. Tapi apa mau dikata, hari pertama masuk kelas, Nadia langsung nangis kenceng. Dia benar-benar tidak mau lepas dari gendongan saya. Bahkan gantian dipangku pengasuhnya pun enggak mau. Gurunya mengatakan itu biasa, setelah beberapa hari nanti berhenti sendiri. Sesi kedua sekolah terpaksa saya cuti lagi dari kantor, karena belum tega meninggalkan dia dengan pengasuhnya saja. Kejadian kemarin terulang lagi. Sesi berikutnya saya paksakan hanya dengan pengasuhnya saja. Saya pikir dia jadi angot karena ada saya. Ternyata dari laporan guru dan pengasuhnya, Nadia tetap menangis dan tidak mau pisah dari pengasuhnya. Akhirnya saya putuskan untuk stop dulu. Mungkin usianya masih terlalu muda untuk masuk KB, jadi belum siap,” tutur Linda Saraswati, ibu dari Nadia Dewanti (2;8).
KOMENTAR AHLI
Ada anak-anak yang dari awal masuk KB sudah angot dan cenderung rewel terus seperti kasus Nadia, hingga akhirnya orangtua memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya. Beberapa hal bisa menyebabkan anak angot masuk KB, di antaranya:
* Usia terlalu muda.
Anak-anak yang usianya di bawah 2 tahun biasanya memang sulit berpisah dengan figur yang dikenalnya, seperti orangtua atau pengasuhnya. Jangankan bertemu dengan banyak orang yang wajahnya masih “asing” di lingkungan baru, di rumah pun kalau ditinggal sendiri kadang masih menangis.
Solusi:
Tidak ada patokan pasti usia berapa anak siap masuk KB. Ada yang masih 1;5 tahun sudah enjoy, ada pula yang usianya hampir 3 tahun belum siap juga. Orangtua harus bijak, kalau dirasa umur menjadi kendala, sebaiknya jangan dipaksakan. Latih anak untuk bertemu dengan orang-orang baru di segala suasana sebanyak mungkin. Misal, mengajaknya ke pusat keramaian, ke taman bermain, ke acara keluarga, dan sebagainya. Setelah anak dirasa siap bersosialisasi dengan banyak orang, barulah dicoba lagi.
* Kendala bahasa.
Anak-anak yang di masukkan ke KB dengan bahasa pengantar bahasa asing, sementara di rumah hanya menggunakan bahasa ibu, biasanya akan bermasalah. Hanya anak-anak dengan kemampuan adaptasi yang bagus yang bisa melewatinya. Tapi pada beberapa anak, hal ini menimbulkan rasa “frustrasi” hingga akhirnya selalu rewel kalau diajak ke sekolah.
Solusi:
Kalau bahasa yang menjadi kendala, sebaiknya orangtua mencarikan KB dengan bahasa pengantar bahasa ibu. Kalaupun orangtua menginginkan anaknya belajar bahasa asing sejak dini, ada baiknya memilih KB bilingual, yakni menggunakan dua bahasa sekaligus, bahasa asing dan bahasa ibu sebagai pengantar. Jangan karena KB berbahasa pengantar bahasa asing lebih prestise, orangtua lalu memaksakan diri dan berakibat fatal, anak ogah datang lagi ke sekolah.
* Anak-anak berkebutuhan khusus.
Anak-anak dengan kebutuhan khusus, seperti autis, ADHD, DS, dan sebagainya, cenderung lebih sulit saat dimasukkan ke KB, karena perkembangannya yang tidak sama dengan anak lain. Anak lebih sulit diatur, tidak bisa diam, kemampuan komunikasi dan sosialnya terbatas.
Solusi:
Orangtua sebaiknya selektif memilihkan KB yang sesuai untuk anak-anak ini. Pilih KB yang berpengalaman dengan anak-anak kebutuhan khusus. Bandingkan beberapa KB sebelum memutuskan mana yang paling kondusif untuk anak.
LANGSUNG BERBAUR
R. E. Salim, orangtua Reza (masuk KB umur 2;6):
”Sebelumnya Reza sudah beberapa kali ke sekolah itu untuk menjemput sepupunya. Ia kelihatannya senang sekali melihat banyak anak lainnya. Makanya, begitu mulai bersekolah, sudah seperti di rumah sendiri. Tidak ada nangis, tidak ada takut-takut, dia langsung bermain dengan murid-murid di sana. Sepertinya dari hari pertama Reza tidak butuh ditunggui, malah lupa kalau ada mamanya yang menunggui. Sejak hari ketiga Reza menggunakan mobil jemputan dengan ditemani pengasuhnya. Setelah 3 bulan sekolah, ia minta supaya tidak ditemani pengasuhnya lagi. Katanya, ‘Malu, cuma Reza yang ditemani Mbak, yang lain enggak.’ Saya telepon guru kelasnya, menanyakan apakah cukup aman membiarkan Reza naik mobil jemputan sendiri. Ternyata pihak sekolah malahan mendukung. Mereka yakin sopir jemputan bisa menjaga keselamatan Reza selama di jalan. Ya sudah, akhirnya kami turutipermintaan Reza. Sejak umur 2 tahun 9 bulan Reza sudah ke sekolah sendiri!”
KOMENTAR AHLI
Ada juga anak-anak yang sejak awal tidak ada masalah masuk KB. Umumnya mereka ini mempunyai perkembangan sosial yang mantap. Rasa percaya dirinya pun baik sehingga tak masalah baginya berada di lingkungan baru dan bertemu dengan orang-orang baru.
PERJUANGAN BERAT
Indreswari, ibu dari Dianisa (3):
“Pekan-pekan pertama merupakan saat yang sulit. Saya harus ikut masuk kelas karena kalau tidak Nisa akan menangis meraung-raung. Sebulan berlalu, tidak ada perubahan. Ibu gurunya menyarankan, saya harus ‘memaksakan diri’ untuk tidak ikut masuk. Hari pertama tanpa saya, dia menangis keras. Seiring berjalannya hari, tangisnya makin singkat. Berhasil. Sekarang yang sedih malah saya. Setiap saya ikut mengantarnya ke sekolah, dia jadi manja dan tidak fokus. Ibu gurunya sampai berkata, ‘Ibu, kalau bisa jangan ikut ngantar Nisa sekolah. Kalau diantar Mbaknya dia enggak begini.’ Waaah….”
Lely Pandjaitan, ibu dari Debora Ellyana (masuk KB umur 1,5):
“Debora saya masukan ke KB yang punya kelas 1;5 sampai 3 tahun. Memang, waktu itu proses adaptasinya agak sulit. Kurang lebih 4 bulan saya harus menemaninya ke sekolah. Untungnya jam sekolahnya lumayan singkat, sekitar 2 jam saja. Akhirnya saya mencoba rembukan dengan gurunya untuk secara bertahap meninggalkan dia di kelas. Dari waktu yang singkat sampai akhirnya saya bisa mengawasinya dari jauh dan akhirnya bisa ditinggal.”
KOMENTAR AHLI
Umumnya orangtua mempunyai pengalaman serupa. Hanya waktunya saja yang berbeda-beda, ada yang seminggu anaknya sudah bisa ditinggal, ada yang sebulan, bahkan ada 4 bulan seperti yang dialami Ibu Lely. Itu semua wajar saja. Orangtua tidak usah risau. Berikut cara mudah mengajak anak sekolah:
* Pastikan KB yang dipilih juga disukai anak. Manfaatkan fasilitas trial untuk mengetahuinya.
* Hari pertama tak masalah kalau anak belum mau berpisah. Bahkan kalau anak masih mau dipangku pun turuti saja. Usahakan anak merasa nyaman dan jelaskan bahwa lingkungan baru itu bukan ancaman baginya.
* Hari kedua usahakan untuk duduk di sebelahnya. Jelaskan padanya kalau anak lain juga sudah tidak ada yang dipangku. Kenalkan anak pada teman-temannya. Usahakan anak mau berbaur. Kalau di kelas anak-anak duduk di karpet, usahakan orangtua duduk di bangku sehingga ada “jarak”.
* Setelah itu tunggui anak di pojok ruangan. Cukup pastikan kalau orangtua tetap ada di sekitarnya meski tidak lagi duduk di sebelahnya.
* Bila anak sudah terlihat menikmati, usahakan untuk menungguinya di luar ruang kelas.
AWALNYA MAU LALU MOGOK
Singgih Nugroho, ayah dari M. Alif (3), bercerita, “Meski awalnya harus ditunggui dulu, tapi akhirnya Alif bisa dilepas dengan pengasuhnya saja. Seminggu tiga kali jadwalnya masuk KB. Alif memang cenderung cepat bosan. Di KB pertamanya dia hanya bertahan 2 bulan. Setelah itu jadi rewel kalau harus sekolah. Saya rasa dia bosan. Daripada ribut terus akhirnya saya putuskan
untuk libur dulu di rumah. Menurut saya sih enggak apa-apa ya, toh ini kan masih di KB. Setelah itu saya masukkan lagi ke KB yang sama dengan sepupunya. Dia kelihatan enjoy sekali, tapi ya itu, kalau sedang bosan, pasti rewel lagi.”KOMENTAR AHLIAda beberapa alasan mengapa anak yang awalnya tidak masalah di KB lalu jadi mogok sekolah. Di antaranya:l Bosan Meski tidak banyak, tapi ada juga anak-anak seperti Alif, yang mempunyai kecenderungan cepat bosan. Coba perhatikan, kalau diberi mainan baru, berapa lama ia bisa menikmatinya? Kalau diajak pergi ke suatu tempat, berapa lama ia bisa “bertahan”? Kalau jawabannya tidak lama, bisa jadi ia termasuk anak yang mudah bosan.Solusi: Untuk anak-anak seperti ini, orangtua harus lebih jeli dalam memilih KB. Tanyakan detail aktivitas di dalam kelas, berapa banyak mainan yang disediakan, saat mengikuti trial perhatikan kecakapan dan kreativias gurunya membangun suasana. Kalau semua dirasa sudah cocok tapi di tengah jalan anak tetap mogok juga, jangan buru-buru menyetop/memindahkannya.
Coba diskusikan dahulu dengan gurunya untuk mencari solusi terbaik. Yang penting, saat mogok jangan paksa anak, karena pemaksaan hanya akan membuatnya makin ogah sekolah. l Ada kejadian tak mengenakkan. Namanya bergaul dengan orang banyak, mungkin saja anak mengalami satu-dua kejadian yang tidak mengenakkan. Misal, didorong temannya saat antre mainan, terjatuh saat berlarian di dalam kelas, terantuk kursi dan sebagainya.
Pada beberapa anak kejadian tersebut menimbulkan pengalaman yang membuatnya mogok datang lagi ke sekolah.Solusi:Coba cari tahu dahulu bagaimana kronologis kejadiannya. Kalau dirasa itu adalah kejadian wajar, orangtua sebaiknya tetap mengusahakan anak datang lagi ke KB. Lihat sisi positif kejadian tersebut. Umpamanya anak didorong temannya, jadikan itu sebagai teaching moment, tentang pentingnya budaya antre, larangan mendorong/memukul/melakukan kekerasan pada siapa pun. Coba diskusikan dengan gurunya supaya kejadian yang tidak mengenakkan itu tidak terulang lagi.
Marfuah Panji Astuti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s