Cara Mengatasi Anak JAHIL

sumber : tabloidnakita.com

Ada 8 cara untuk menghentikannya.
Rika (7) sedang asyik menggambar ketika tiba-tiba saja kertas gambarnya direnggut oleh Rifki (4;8), sang adik, yang langsung berlari sambil tertawa-tawa. Rika langsung berteriak sambil mengejar sang adik sampai akhirnya kertas itu dirobek si adik. Si kakak pun menangislah. Gambar yang dibuatnya dengan susah payah kini rusak sudah.
Kali lain, Rifki menjahili adiknya yang berusia 2;8 tahun dengan kata-kata yang membuat si adik marah dan menangis. “Ayo, nanti kamu kan enggak diajak Mama jalan-jalan. Betul, lo!” Si adik tak mau terima dan dipukullah Rifki. Akhirnya keduanya bertengkar. Belum lagi laporan guru di sekolah yang menceritakan kalau Rifki kadang kala mendorong temannya yang sedang berdiri diam, dan mengambil mainan teman tanpa izin.
Nah, Anda punya anak jahil seperti Rifki? Apakah Anda sering kesal atau malu karena sudah banyak keluhan sampai ke telinga? Di sini, Dra. Rozamon Anwar, M.Si., dari SD Al Fikri, Depok, memberikan 8 cara mengatasinya. Yuk, kita simak bersama!
1. Tidak memberikan respons reaktif seperti memarahi, menegur ataupun menghukumnya.
Abaikan jika anak bersikap jahil.
Dengan mengabaikan sikap jahilnya, anak akan paham bahwa apa yang dia lakukan tak bisa menarik perhatian orangtuanya. Pada akhirnya ia tidak akan lagi menggunakan cara-cara jahil untuk mendapatkan pengakuan/perhatian. Jika orangtua berkomentar marah atau malah tertawa karena menganggapnya lucu, maka anak merasa seperti mendapatkan dukungan untuk mengulangi kejahilannya
2. Beri perhatian yang cukup pada sikap baik anak.
Umumnya, sikap jahil muncul karena anak menuntut perhatian. Nah, agar anak tidak bersikap demikian, berikan selalu perhatian sebelum ia berulah. Luangkan waktu bersama anak. Saat anak bersikap manis, lontarkan pujian, “Mama bangga lo sama kamu karena kamu mau meminjamkan mainanmu kepada adik. Mama yakin kamu begitu menyayangi adikmu.”
3. Gunakan “pesan saya”
Hilangkan kebiasaan melabel anak atau jangan gunakan “pesan kamu” seperti, “Kamu kok jahat sih, jahil banget sih, iseng banget sih,” dan lain sebagainya. Sebaliknya, gunakan “pesan saya” atau ungkapan perasaan Anda. Umpama saja orangtua sedang baca koran dan si kecil dengan jahil menepiskan koran itu, maka sampaikan “pesan saya”, seperti, “Mama kaget kalau kamu berbuat seperti itu. Mama jadi tidak bisa baca koran. Mama tidak suka kalau kamu seperti itu.” Atau misalnya anak menjahili adiknya, orangtua bisa mengatakan, “Mama sedih melihat kamu mengganggu adik. Adik jadi menangis. Mama tidak suka kalau kamu mengganggu adik lagi.”
4. Perhatikan korban.
Tunjukkan bahwa orangtua justru memberikan perhatian pada si korban, bukan pada si jahil. Maksudnya juga untuk mencegah reaksi lanjutan seperti anak menangis, marah, bertengkar dan sebagainya. “Wah, krayon kakak diambil adik ya? Ya sudah, sekarang pakai krayon lain saja yang ada. Nanti, minta baik-baik sama adik supaya ia mau mengembalikan krayonmu.”
Tanyakan pula pada korban bagaimana perasaannya; apakah sedih, terganggu atau kesal. Perhatikan adakah cedera atau rasa sakit pada tubuh korban, apakah ada sesuatu yang hilang, dan sebagainya. Berempatilah padanya. Tegaskan pada anak yang jahil untuk minta maaf atas kejahilannya.
5. Alihkan sikap jahil menjadi perilaku baik.
Contohnya, ketika anak hendak memukul, tahanlah tangannya dan buatlah menjadi usapan yang lembut pada orang yang akan dipukul. Jelaskan, “Tangan ini bukan untuk memukul tapi untuk menyayangi.” Begitu juga jika si kecil mengejek atau mengancam, alihkan perkataannya menjadi yang baik-baik. Anak prasekolah belum sepenuhnya paham mana perilaku yang baik dan buruk. Jadi, orangtualah yang harus selalu menanamkan perilaku baik padanya.
6. Beri pengertian dan pemahaman.
Berikan pemahaman bagaimana rasanya bila diganggu, “Kebiasaan mengganggu itu tidak baik. Apakah kamu suka jika ada orang yang mengganggumu?” Lalu tanamkan tentang sikap apa yang diharapkan dari dirinya, “Oleh sebab itu tidak boleh mengganggu orang lain, ya.” Sertakan berbagai alasannya, bahwa sikap jahil bisa merugikan dirinya sendiri maupun orang lain; orang lain bisa saja cedera karena perilaku jahilnya, dan orang lain bisa marah serta tidak suka berteman dengannya. Gunakan bahasa yang mudah dipahami anak.
7. Berikan aktivitas positif dan kreatif.
Sikap jahil mungkin juga didorong oleh rasa bosan dan desakan energi. Karenanya, berikan aktivitas menyenangkan yang dapat menyalurkan energi anak dengan cara positif dan kreatif, seperti menggambar, main sepeda, berenang, main kejar-kejaran, membuat rumah-rumahan, dan sebagainya.
8. Berikan sanksi jika perlu.
Bila anak yang sudah diberi penjelasan masih mengulangi kejahilannya, bersikaplah tegas dengan memberinya sanksi. Tentunya bukan berupa hukuman fisik yang bisa berdampak buruk dan menambah kejahilan, tetapi dengan cara menghentikan kesenangannya. Umpama, “Kalau kamu sering mengganggu kakak (adik), Mama tidak akan bacakan dongeng sebelum tidur.” Hukuman perlu agar anak mengerti mana perilaku yang benar dan salah.
KENAPA, SIH, JAHIL BANGET?
Sebetulnya, perilaku jahil merupakan salah satu cara si prasekolah untuk menunjukkan eksistensi atau egonya. “Ia ingin diakui dengan cara mencoba-coba, melihat bagaimana reaksi orang lain terhadap sikapnya,” ungkap Rozamon Anwar. “Anak mungkin merasa penasaran akan respons orang yang dijahilinya. Mungkin ia merasa senang bila melihat orang menangis atau marah.” Inilah bagian dari ekplorasi terhadap reaksi lingkungan atas sikap-sikapnya.
Selain pengungkapan ego, sikap jahil bertujuan mendapatkan perhatian, apakah dari orangtua, teman, atau lingkungan yang lebih luas. Bisa juga karena dilandasi perasaan cemburu pada saudara kandung yang menurutnya lebih banyak mendapatkan perhatian orangtua.
Ada juga perilaku jahil yang dikarenakan minimnya keterampilan interpersonal, sementara anak ingin dirinya diterima dalam lingkungan. Karena ingin diajak bermain, ia menarik perhatian si teman dengan mendorong, misalnya.
Bentuk kejahilan ini bermacam-macam, seperti merebut, membuang, menyembunyikan, mendorong, memukul, mengancam, mengejek, dan cara lainnya. Tergantung pada pengalaman dijahili yang pernah dialaminya atau contoh perilaku jahil yang dilihatnya.
Dedeh Kurniasih.

Ikut Nyekar SAMA BUNDA

SUMBER : tabloidnakita.com

Bagaimana menjawab pertanyaan si kecil seputar hal abstrak ini?
Istilah ziarah kubur atau nyekar bukan sesuatu yang populer di telinga si prasekolah bahkan masih terbilang abstrak. Jadi memang suatu tantangan tersendiri untuk menjelaskannya. Terlebih perkembangan kognitif anak 4-5 tahun yang masih dalam tahap konkret cenderung lebih mudah menangkap hal-hal yang nyata, entah itu yang bisa dilihat, diamati, diraba dan sebagainya. Jadi kalau sekadar dijelaskan dengan kata-kata tentang apa itu nyekar, apa yang dilakukan saat nyekar, dan hal-hal lainnya, anak justru bingung dan akan melontarkan berbagai pertanyaan.
Akan tetapi apa pun yang ditanyakannya, tetap harus dijawab. Tak perlu khawatir penjelasan kita tidak akan dimengerti oleh sang buah hati. Asalkan jawaban atas pertanyaannya itu disesuaikan dengan taraf pemahamannya, ia akan mengambil makna sesuai pengertiannya.
KENAPA DIKUBUR?
Saat nyekar, kemungkinan besar si prasekolah akan mempertanyakan soal kematian, seperti “Kok, kakek ada di dalam kuburan?” Tetap beri jawaban-jawaban yang mudah dipahami anak. “Kakek sudah meninggal, Nak. Jadi tak bisa bermain bersama Adek lagi. Kakek sudah tak bisa ditemui lagi. Tapi kita bisa mengunjungi makamnya.”
Hindari jawaban yang bertele-tele dan terlalu abstrak karena hanya akan membuat anak bertambah bingung. Contoh, “Kalau sudah meninggal, orang akan dikubur. Lalu, akan datang malaikat yang bertanya tentang kebaikan dan keburukannya selama hidup di dunia. Kalau amal kebaikannya lebih banyak dan diterima dia akan masuk surga. Tetapi kalau banyak keburukannya dan tak diampuni maka akan masuk neraka.”
Penjelasan juga mesti bersifat positif. Katakanlah si prasekolah bertanya kenapa orang meninggal harus dikubur, maka bisa dijawab, “Semua orang pasti akan meninggal. Lalu ada yang dikubur. Contohnya, kakek dan nenek yang sekarang dikubur di sini. Mereka yang meninggal akan bertemu dengan Tuhan.” Hal yang positif ini kalau disampaikan dengan baik biasanya dapat dimengerti anak.
Namun, jangan ragu untuk meluruskan pola pikir anak yang kurang tepat meskipun kedengarannya positif. “Nenek sedang tidur, ya, di kuburan ini? Kok enggak bangun-bangun?” Luruskan dengan penjelasan, “Sebenarnya bukan sedang tidur, tapi sudah meninggal. Jadi harus dikubur. Nah, kita harus mendoakannya, supaya kebaikan-kebaikan nenek diterima Tuhan.”
Intinya jadikan acara nyekar untuk memberi pengetahuan atau wawasan mengenai konsep atau makna ziarah kubur. Termasuk bahwa nyekar itu tak sebatas mengunjungi makam leluhur, tapi juga mendoakan serta merupakan ajang silaturahmi karena dapat bertemu dengan kerabat lain di sana.
BILA TAKUT
Tak sedikit juga anak yang merasa takut diajak ke pekuburan, apalagi mereka yang baru pertama kali atau belum pernah sama sekali. Di sisi lain, lantaran pengaruh tontonan hal-hal gaib dimana kuburan identik dengan hantu dan sejenisnya. Mengenai hal ini, segera luruskan pandangan negatif si prasekolah. Jelaskan bahwa kuburan tak seseram yang dilihat dalam tayangan teve dan film. “Kuburan itu tempat orang yang sudah meninggal. Kamu tak usah takut. Hantu yang menakutkan itu hanya ada di teve. Kakak kan mau mendoakan kakek dan nenek yang sudah meninggal di sana.” Kalaupun memang anak tetap menolak, tak perlu memaksakan kehendak. Yang jelas, terus berikan penjelasan tentang apa itu makna ziarah kubur dan kebaikannya.
SEBELUM NYEKAR
Perhatikan hal-hal yang berkaitan dengan ziarah kubur:
• Jelaskan bahwa dulu sebelum si prasekolah lahir atau ketika dia masih kecil, ada kakek/nenek. Nah, karena mereka sudah meninggal, jadi dikubur. Maksud ziarah adalah untuk mengunjungi kuburannya. Kalau si kecil masih belum mengerti, siapa itu eyang atau seperti apa wajahnya, bisa diperlihatkan melalui foto-foto dokumentasi.
• Sebelum mengajak si kecil ke pemakaman, jelaskan apa maksud dan tujuan kita ke sana. Misalnya, mau ziarah ke makam kakek, nenek atau kerabat/saudara yang sudah meninggal. Di sana kita akan mendoakannya, contoh supaya kebaikannya diterima oleh Tuhan, diampuni kesalahannya dan sebagainya.
• Perhatikan kemungkinan rasa tidak nyaman ketika menuju pemakaman. Misalnya, arus lalu lintas yang padat dan macet karena orang lain juga berniat untuk ziarah ke pekuburan yang sama. Belum lagi, jarak dari rumah menuju pemakaman apakah cukup jauh dan membutuhkan waktu berjam-jam, untuk itu bawalah perbekalan secu-kupnya. Bila datang di siang hari, siapkan payung dan minuman untuk melepas dahaga.
• Perhatikan faktor kesehatan anak. Kalau kondisinya kurang fit tak perlu diajak menyekar. Kegiatan ziarah bisa tetap dilakukan di hari-hari lain. Bila belum siap di hari Lebaran, ajaklah ia ziarah di waktu lain.
JAWAB DENGAN TEPAT!
Si kecil bertanya-tanya seputar nyekar? Inilah contoh jawabannya:
[T] “Ibu, apa sih nyekar itu?”
[J] “Nyekar atau ziarah itu artinya mengunjungi makam atau kuburan. Nah, nanti kita nyekar ke kuburan kakek dan nenek, ya.”
[T] “Terus ngapain kita di kuburan?”
[J] “Kita mau mendoakan kakek dan nenek yang sudah meninggal. Supaya segala kebaikannya diterima oleh Tuhan.”
[T] “Selain berdoa, ngapain lagi dong?”
[J] “Kita juga membersihkan kuburannya supaya bersih.”
Pertanyaan si kecil mungkin tak cukup sampai di situ. Jawablah segera dengan tepat, yaitu sederhana dan tidak menyesatkan.
Hilman Hilmansyah.
Konsultan ahli:
Rahmi Dahnan, Psi.,
dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Jakarta

Agar tak “DIPERBUDAK” Teman

SUMBER : tabloidnakita.com

Kiatnya ternyata berawal dari pola asuh di rumah.
“Hei, Adit! Cepat beliin aku permen!” kata Ponco dengan nada tinggi sambil melotot. “Habis itu, balikin piring ini ke abang siomay!” perintahnya sambil berkacak pinggang. Adit cuma mengiyakan diperintah ini-itu oleh temannya.
Semoga saja kejadian seperti itu tak dialami anak Anda. Tapi seandainya terjadi, sebal enggak, sih? Pastinya Anda tidak rela bila tahu si anak kesayangan kerap diperalat kawan-kawannya. Apalagi kalau dia manut saja diperintah ini-itu, tak bisa menolak apalagi melawan.
3 TITIK LEMAH
Sebenarnya, apa yang menyebabkan anak mau saja diperbudak teman? Berikut paparan Dra. Ratih Andjayani Ibrahim, MM, dari Personal Growth, Jakarta.
* Tak bisa melawan
Ketidakberanian melawan tentu ada lagi penyebabnya. Antara lain, fisik si teman lebih besar ketimbang dirinya. Anak merasa terancam oleh fisik yang lebih besar dan memilih diam.
Bisa juga pada dasarnya anak penakut atau cengeng. Tipe ini selalu menghindari konflik. Ia enggan melakukan negosiasi dan sulit untuk bilang “tidak”. Ia tak bisa mengekspresikan keinginannya, justru yang terlontar hanya “ya” dan “ya deh”.
* Kurang “jam terbang”
Bisa jadi anak mau saja mondar-mandir disuruh kawannya karena “jam terbang” bersosialisasi masih kurang. Teman sepermainan atau teman sebayanya hanya sebatas hitungan jari. Ia jadi kikuk begitu bertemu banyak anak dengan beragam karakter di sekolahnya. Dia belum terbiasa dengan situasi dan kondisi yang mungkin mendominasinya sehingga lebih banyak mengalah karena membutuhkan waktu panjang untuk bisa beradaptasi.
* Pola asuh tak tepat
Apa hubungannya dengan pola asuh di rumah yang kurang tepat? Kalau orangtua selalu memarahi anak kala berbuat salah, banyak melarang, tak memberikan kesempatan seluas-luasnya agar anak bisa bereksplorasi dan berinisiatif, atau selalu mendikte sehingga bertindak pun ia ragu-ragu, ujung-ujungnya anak lebih sering memilih mengalah, bahkan ketika sang teman memperbudaknya. Dia tak mampu mempertahankan diri, melawan atau membalas perilaku teman yang terus mengeksploitasinya.
KIAT HADAPI SI BOSSY
Lalu, bagaimana supaya anak bisa menghadapi situasi seperti itu?
* Beri perhatian
Langkah pertama, ajak dia mengungkapkan perasaannya. Ketahui apa pun yang ia rasakan dan alami, sehingga kita tahu apa permasalahan yang dihadapinya. Kalau dia bilang temannya suka menyuruh ini-itu, katakan padanya, “Ya, Mama mengerti, tidak enak ya diperlakukan seperti itu oleh teman.” Pada intinya, ketika anak dalam posisi tak berdaya seperti itu, orangtua perlu memberikan perhatian sebagai antisipasi agar perlakuan yang didapat sang buah hati tidak mengganggu perkembangannya di kemudian hari. Bukan mustahil, lingkungan yang menekan membuat anak tak percaya diri atau minder.
* Beri penjelasan
Selanjutnya, beri tahu bahwa sikap atau perilaku orang memang berbeda-beda. Tak semuanya bisa bersikap baik seperti yang kita harapkan. Jelaskan, karena perbuatan seperti itu tidak baik, minta anak untuk tidak mencontoh perilaku suka memerintah teman. Agar mudah dipahami, sampaikan melalui dongeng bermuatan moral baik dan buruk, seperti kisah “Bawang Putih dan Bawang Merah” dimana ada dua karakter manusia yang berbeda, yaitu baik dan buruk. Dengan begitu, anak menyadari bahwa dalam menjalani kehidupan sehari-hari bakal ada rintangan yang menghadang.
* Ajarkan untuk bilang “tidak”
Langkah selanjutnya, tanamkan bahwa diam tidak selalu tepat dijadikan solusi menghadapi sosok yang kelihatannya lebih kuat. Secara bertahap dorong si prasekolah untuk berani dan mau menolak diperlakukan seperti itu lagi. Siapkan mentalnya untuk tidak takut ketika dihadapkan pada situasi yang sama dan ajarkan untuk bisa berkata “tidak”. Bila si prasekolah termasuk tipe penakut atau cengeng, terlebih dulu hilangkan sikap tersebut. Jelaskan pada si kecil, “Kalau Adek enggak mau diperlakukan seperti itu, Adek harus berani bilang, ‘Enggak mau’ pada perintah teman yang memaksa.” Menilai perintah yang tidak baik atau memaksa tentu butuh waktu, tetapi hal itu tetap penting untuk diajarkan.
* Minta bantuan
Bila anak belum terlatih menolak perintah teman yang sok jagoan, jangan malu untuk meminta bantuan atau melapor pada guru. Guru bisa menjadi fasilitator pendamai di antara mereka.
* Melakukan aktivitas lain
Coba cari alternatif lingkungan pergaulan lain buat anak; yakni lingkungan berbeda dan teman yang lebih variatif. Misal, ikutkan anak pada sanggar atau klub sehingga memungkinkannya mengembangkan kemampuan. Mungkin saja, kalau di sekolah ia kerap jadi “korban”, maka di sanggar ia bisa mencapai prestasi dan mendapatkan rasa percaya diri. Selain itu, “jam terbang” bersosialisasinya juga makin tinggi dan bervariasi. Dengan bertambah kepercayaan diri dan keberanian, kemungkinan besar anak akan sanggup berkata “tidak”. Anak yang merasa dirinya mampu melakukan sesuatu takkan membiarkan dirinya diatur seenaknya oleh orang lain.
* Introspeksi diri
Satu hal lagi yang cukup penting, orangtua perlu introspeksi diri. Boleh jadi, anak mudah diperalat temannya lantaran pola asuh yang kurang tepat. Bila itu yang menjadi penyebab, segera ubah pola asuh tersebut. Contoh, dengan memberikan kesempatan luas kepada anak untuk bereksplorasi. Biarkan anak mengungkapkan perasaannya, entah itu gembira, kesal, sedih dan sebagainya. Perlu diketahui, perkembangan harga diri anak selanjutnya sangat dipengaruhi oleh perkembangan emosi.
Dengan komunikasi yang baik, anak pun tak sungkan mengungkapkan pendapat dan keinginannya. Ubah sikap kita yang selalu mendikte, keras, menghakimi atau selalu memojokkan anak karena justru membuatnya jauh dari kita. Jangan sampai kita saling berseberangan, sebaliknya jadilah teman bahkan sahabat bagi anak.
Hilman Hilmansyah.

AGAR SI KECIL TAK LAGI TIDUR LARUT MALAM

sumber : tabloidnakita.com

Kalau perlu, abaikan ajakan bermainnya di waktu tidur malam tiba.
Umumnya, anak usia batita sudah pergi tidur malam sekitar pukul 8 dan bangunnya sekitar pukul 6 atau mungkin sedikit lebih siang. Sebetulnya, anak yang dibiasakan dengan pola tidur teratur, akan mudah tidur malam. Dengan sendirinya pada jam-jam tersebut karena irama jam biologisnya akan mengikuti.
Tetapi memang, pada usia batita sering ditemui anak yang tidur larut malam. Namun, apa pun penyebabnya, anak seperti ini berarti mengalami gangguan tidur. Tarafnya masih tergolong ringan kecuali bila frekuensi tidur larut malamnya sering sekali.
Kebiasaan tidur larut malam perlu dikoreksi karena akan berdampak tak baik buat kesehatan anak. Antara lain, membuatnya lelah secara fisik karena kurang tidur. Ketika bangun pagi, anak biasanya masih mengantuk atau malah susah bangun. Secara psikologis, ia jadi malas melakukan sesuatu, kurang bersemangat, mungkin mudah rewel, dan lekas marah.
Orangtua pun terkena dampaknya. Waktu untuk beristirahat yang dibutuhkan setelah bekerja keras sepanjang hari, otomatis akan terganggu dengan pola tidur si batita yang kacau. Waktu tidur berkurang karena harus menemani si kecil yang tidurnya larut. Dampaknya akan memengaruhi kondisi emosi juga; rasa penat membuat orangtua tidak sabar, gampang marah, dan anak juga yang akan menjadi sasaran kemarahan.
Jika gangguan tidur ini dibiarkan saja, dampaknya bisa terus berlanjut di usia berikutnya. Anak jadi sulit bangun pagi. Ini akan jadi kendala bila anak harus masuk sekolah. Ia juga mungkin kurang bersemangat dan berkonsentrasi dalam menerima kegiatan yang diberikan di sekolah.
Sementara anak yang sudah terbiasa dengan pola tidur teratur, tentu punya waktu tidur yang cukup. Dampaknya juga baik bagi kesehatan fisik dan jiwanya. Tubuh anak akan terasa fit, kondisi emosinya pun baik, tidak gampang rewel dan marah karena anak merasa nyaman dengan dirinya. Di kelompok bermain atau taman kanak-kanak dan selanjutnya, anak dapat dengan mudah menerima kegiatan yang diberikan, termasuk mudah bergaul dengan teman.
Jika gangguan tidur ini cukup serius, mintalah bantuan pada ahli. Barangkali anak mengalami gangguan neurologis ataukah ada masalah dengan psikisnya.
PENYEBAB GANGGUAN TIDUR LARUT MALAM
* Awalnya karena orangtua membiarkan
Anak-anak mungkin pernah sesekali tidur larut malam. Jika orangtua kemudian tidak membantu mengatasi atau malah membiarkannya, lama-kelamaan pola tidur anak berubah. Jam biologisnya pun akan mengikuti pola tidur larut malamnya.
* Anak sedang mengembangkan otonominya
Anak merasa punya power untuk mengatur dirinya. Ditambah pula dengan sikap negativistiknya yang sedang berkembang di usia ini. Ketika orangtua menyuruhnya tidur, si batita mencoba bertahan dan menolak tak mau segera tidur. Bentuk penolakan ini terkait dengan tahap perkembangannya tadi. Apa yang disuruh orangtuanya tidak ingin dia lakukan.
* Ada kekhawatiran berpisah (separation anxiety) dengan orangtua
Bagi anak, mungkin saja tidur bukanlah aktivitas yang menyenangkan. Di usia ini, anak juga memiliki ketakutan akan bermacam-macam hal. Saat tidur malam, ada kecemasan kalau-kalau ditinggal orangtuanya. Anak merasa takut sendirian, takut jika terjadi sesuatu pada orangtua apabila tidak bersamanya.
* Ada tekanan emosi yang tak terungkap
Misal, si batita punya adik bayi dan ia merasa perhatian orangtuanya terbagi. Tekanan secara emosi karena berkurangnya perhatian orangtua bisa membuat anak mengalami gangguan tidur; tidurnya jadi larut. Dengan begitu, ia berharap mendapat perhatian lebih dari orangtuanya.
* Belum mengantuk
Bisa jadi anak masih ingin bermain atau melakukan suatu kegiatan bersama orangtua, ikut menonton tayangan televisi seperti ayah-ibu, dan sebagainya. Bisa juga anak tidak mengantuk karena terlalu lama tidur siang dan waktu tidur malamnya bergeser lebih larut.
* Berharap kedatangan orangtua dari kantor
Sering kali anak-anak yang ditinggal pergi kerja oleh orangtuanya berusaha menahan kantuk supaya bisa bertemu ayah-ibunya. Bisa jadi perhatian di pagi hari dirasa kurang dan ada sesuatu yang diharapkan seperti oleh-oleh untuknya dari orangtua.
UPAYA MENGATASI
Agar tak sampai terjadi gangguan tidur larut malam yang berkelanjutan, maka atasi dengan langkah-langkah berikut:
* Lakukan pembiasaan waktu tidur yang teratur
Tentukan pukul berapa anak seharusnya tidur. Begitu pula dengan waktu bangunnya, agar bisa beradaptasi dengan jadwal playgroup-nya kelak. Lakukan pembiasaan tersebut secara konsisten dan terus-menerus. Lama-kelamaan jam biologis tidur anak pun akan mengikuti.
* Jangan secara mendadak dan tiba-tiba menyuruh anak tidur malam
Sebelum waktunya tidur, lakukan persiapan, yaitu menggosok gigi, cuci kaki, ganti baju dengan piyama, membacakan cerita, dan berdoa. Anak perlu waktu transisi sekitar 5-10 menit untuk naik ke tempat tidur. Jika dilakukan secara tiba-tiba, anak umumnya akan menolak.
* Suasana menjelang tidur malam hendaknya mendukung
Misalnya, lampu kamar diredupkan, lampu ruang keluarga dimatikan, tak ada lagi televisi menyala, dan tak ada lagi aktivitas lain yang bisa menarik perhatian anak dari ritual tidur.
* Perhatikan kenyamanan yang dibutuhkan anak di ruang tidur
Jika anak takut gelap, sebaiknya atur pencahayaan di kamar menjadi redup tetapi tidak gelap. Bersihkan tempat tidurnya, rapikan seprainya, selimuti anak, dan berikan boneka kesayangannya agar ia merasa nyaman di tempat tidur.
* Lakukan kegiatan bermain tenang di kamar
Jika anak menolak tidur di waktu yang dijadwalkan dengan
berbagai alasan, ajaklah anak beraktivitas di dalam kamar. Pilih aktivitas yang menenangkan seperti, mendengarkan cerita, bernyanyi lagu tenang, dan mengajaknya bercakap-cakap.
* Perhatikan jam tidur siangnya
Jika anak tidur larut karena tidur siang yang lama, maka kurangi waktu tidur siangnya.
TERBANGUN DI TENGAH MALAM
Bisa terjadi, anak tidur malam sesuai jam tidurnya, namun kemudian di tengah malam terbangun. Ini wajar saja. Biasanya si kecil terbangun karena mau buang air kecil atau haus. Setelah kebutuhannya itu direspons dengan baik oleh orangtua, anak pun akan tidur kembali.
Akan tetapi, ada pula anak yang terbangun tengah malam dan kemudian tidak tidur lagi. Ini juga berarti si anak mengalami gangguan tidur. Orangtua harus memerhatikan apa yang menjadi penyebab si kecil terbangun di tengah malam. Antara lain:
* Ada pengalaman sebelum tidur yang membuatnya resah sehingga ia terbangun di tengah malam. Biasanya adalah pengalaman yang mengecewakan seperti harus berebut mainan dengan adiknya dan merasa orangtua tidak membela dirinya.
* Mimpi buruk (nightmare). Bisa karena anak melihat tayangan yang menakutkan di televisi hingga terbawa dalam mimpi, atau mimpi sesuatu yang menakutkan tanpa sebab sebelumnya. Jika anak terbangun karena mimpi buruk, orangtua perlu menenangkan di samping anak. Tak perlu panik karena anak akan bertambah takut.
* Anak terbangun karena sakit, entah karena terbentur pinggiran tempat tidur atau rasa sakit lainnya. Segera atasi rasa sakit dan penyebabnya. Anak perlu merasa nyaman agar dapat tidur kembali.
* Sebelum tidur banyak makan sehingga pencernaannya tetap bekerja.
* Aktivitas di siang hari berlebihan, contohnya terlalu banyak berlari-lari dan tertawa-tawa.
* Bisa juga karena ada gangguan pada sistem sarafnya yang membuatnya terbangun di malam hari.
* Ingin mendapat perhatian orangtua atau anak ingin melakukan kegiatan seperti bermain.
Abaikan saja keinginan anak bermain dan pergi ke luar kamar. Beri penjelasan pada anak bahwa waktunya untuk tidur dan main bisa dilakukan esok hari. Sebaiknya, orangtua juga tidak menemaninya karena akan memperkuat perilakunya dan mengulang kebiasaan bangun di tengah malamnya. Ini berarti mendukung pola tidurnya yang kacau. Biarkan ia bermain sendiri dengan mainannya di dalam kamar. Hanya saja sebelumnya, pastikan suasana kamar aman buat anak. Selain itu, jangan sediakan banyak mainan dalam kamar yang bisa dimainkan anak saat terbangun di tengah malam. Bila anak dibiarkan main sendiri, ia akan cepat merasa bosan, lelah, dan akan tertidur sendiri.
Sering kali sebelum anak terbangun di tengah malam, ia merengek dalam tidurnya. Jika tampak seperti itu dan penyebabnya bukan karena si anak sakit, orangtua tak perlu mengelus atau menepuk-nepuknya agar tertidur lagi. Bisa-bisa anak malah terbangun. Anak juga jadi tergantung secara fisik pada orangtuanya. Padahal, semakin usianya bertambah, ia sudah harus belajar untuk bisa tidur sendiri. Jadi, sebaiknya abaikan saja dan alihkan pada kenyamanan lain, seperti membetulkan letak selimut dan bantal gulingnya, atau mendekatkan mainan kesayangannya.

Narasumber Ahli:
Rini Hildayani, M.Si.
dari Fakultas Psikologi UI

AGAR RIANG “BERSEKOLAH”

sumber : tabloidnakita.com

Di usia yang belum genap tiga tahun memang tak mudah mengajak anak “bersekolah” di Kelompok Bermain (KB). Ada yang dari awal sudah angot, ada yang sempat masuk sebentar lalu bosan, ada juga yang mau “sekolah” tapi harus ditunggui terus di dalam kelas. Apa yang dilakukan para orangtua dan apa kata Santi Gunawan, seorang guru pada lembaga pendidikan prasekolah, Kinderfield.
DARI AWAL LANGSUNG MOGOK
“Waktu saya masukkan ke KB, usia Nadia baru 2 tahun. Saat trial dan observasi awal, sepertinya dia senang, karena memang ruangannya penuh dengan alat bermain. Akhirnya saya putuskan untuk memasukkannya ke KB itu. Saya lihat selain fasilitasnya lengkap, lokasi sekolahnya ramah anak, guru-gurunya pun kelihatan sabar dan mempunyai latar belakang sebagai pendidik. Rasanya semuanya ideal. Tapi apa mau dikata, hari pertama masuk kelas, Nadia langsung nangis kenceng. Dia benar-benar tidak mau lepas dari gendongan saya. Bahkan gantian dipangku pengasuhnya pun enggak mau. Gurunya mengatakan itu biasa, setelah beberapa hari nanti berhenti sendiri. Sesi kedua sekolah terpaksa saya cuti lagi dari kantor, karena belum tega meninggalkan dia dengan pengasuhnya saja. Kejadian kemarin terulang lagi. Sesi berikutnya saya paksakan hanya dengan pengasuhnya saja. Saya pikir dia jadi angot karena ada saya. Ternyata dari laporan guru dan pengasuhnya, Nadia tetap menangis dan tidak mau pisah dari pengasuhnya. Akhirnya saya putuskan untuk stop dulu. Mungkin usianya masih terlalu muda untuk masuk KB, jadi belum siap,” tutur Linda Saraswati, ibu dari Nadia Dewanti (2;8).
KOMENTAR AHLI
Ada anak-anak yang dari awal masuk KB sudah angot dan cenderung rewel terus seperti kasus Nadia, hingga akhirnya orangtua memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya. Beberapa hal bisa menyebabkan anak angot masuk KB, di antaranya:
* Usia terlalu muda.
Anak-anak yang usianya di bawah 2 tahun biasanya memang sulit berpisah dengan figur yang dikenalnya, seperti orangtua atau pengasuhnya. Jangankan bertemu dengan banyak orang yang wajahnya masih “asing” di lingkungan baru, di rumah pun kalau ditinggal sendiri kadang masih menangis.
Solusi:
Tidak ada patokan pasti usia berapa anak siap masuk KB. Ada yang masih 1;5 tahun sudah enjoy, ada pula yang usianya hampir 3 tahun belum siap juga. Orangtua harus bijak, kalau dirasa umur menjadi kendala, sebaiknya jangan dipaksakan. Latih anak untuk bertemu dengan orang-orang baru di segala suasana sebanyak mungkin. Misal, mengajaknya ke pusat keramaian, ke taman bermain, ke acara keluarga, dan sebagainya. Setelah anak dirasa siap bersosialisasi dengan banyak orang, barulah dicoba lagi.
* Kendala bahasa.
Anak-anak yang di masukkan ke KB dengan bahasa pengantar bahasa asing, sementara di rumah hanya menggunakan bahasa ibu, biasanya akan bermasalah. Hanya anak-anak dengan kemampuan adaptasi yang bagus yang bisa melewatinya. Tapi pada beberapa anak, hal ini menimbulkan rasa “frustrasi” hingga akhirnya selalu rewel kalau diajak ke sekolah.
Solusi:
Kalau bahasa yang menjadi kendala, sebaiknya orangtua mencarikan KB dengan bahasa pengantar bahasa ibu. Kalaupun orangtua menginginkan anaknya belajar bahasa asing sejak dini, ada baiknya memilih KB bilingual, yakni menggunakan dua bahasa sekaligus, bahasa asing dan bahasa ibu sebagai pengantar. Jangan karena KB berbahasa pengantar bahasa asing lebih prestise, orangtua lalu memaksakan diri dan berakibat fatal, anak ogah datang lagi ke sekolah.
* Anak-anak berkebutuhan khusus.
Anak-anak dengan kebutuhan khusus, seperti autis, ADHD, DS, dan sebagainya, cenderung lebih sulit saat dimasukkan ke KB, karena perkembangannya yang tidak sama dengan anak lain. Anak lebih sulit diatur, tidak bisa diam, kemampuan komunikasi dan sosialnya terbatas.
Solusi:
Orangtua sebaiknya selektif memilihkan KB yang sesuai untuk anak-anak ini. Pilih KB yang berpengalaman dengan anak-anak kebutuhan khusus. Bandingkan beberapa KB sebelum memutuskan mana yang paling kondusif untuk anak.
LANGSUNG BERBAUR
R. E. Salim, orangtua Reza (masuk KB umur 2;6):
”Sebelumnya Reza sudah beberapa kali ke sekolah itu untuk menjemput sepupunya. Ia kelihatannya senang sekali melihat banyak anak lainnya. Makanya, begitu mulai bersekolah, sudah seperti di rumah sendiri. Tidak ada nangis, tidak ada takut-takut, dia langsung bermain dengan murid-murid di sana. Sepertinya dari hari pertama Reza tidak butuh ditunggui, malah lupa kalau ada mamanya yang menunggui. Sejak hari ketiga Reza menggunakan mobil jemputan dengan ditemani pengasuhnya. Setelah 3 bulan sekolah, ia minta supaya tidak ditemani pengasuhnya lagi. Katanya, ‘Malu, cuma Reza yang ditemani Mbak, yang lain enggak.’ Saya telepon guru kelasnya, menanyakan apakah cukup aman membiarkan Reza naik mobil jemputan sendiri. Ternyata pihak sekolah malahan mendukung. Mereka yakin sopir jemputan bisa menjaga keselamatan Reza selama di jalan. Ya sudah, akhirnya kami turutipermintaan Reza. Sejak umur 2 tahun 9 bulan Reza sudah ke sekolah sendiri!”
KOMENTAR AHLI
Ada juga anak-anak yang sejak awal tidak ada masalah masuk KB. Umumnya mereka ini mempunyai perkembangan sosial yang mantap. Rasa percaya dirinya pun baik sehingga tak masalah baginya berada di lingkungan baru dan bertemu dengan orang-orang baru.
PERJUANGAN BERAT
Indreswari, ibu dari Dianisa (3):
“Pekan-pekan pertama merupakan saat yang sulit. Saya harus ikut masuk kelas karena kalau tidak Nisa akan menangis meraung-raung. Sebulan berlalu, tidak ada perubahan. Ibu gurunya menyarankan, saya harus ‘memaksakan diri’ untuk tidak ikut masuk. Hari pertama tanpa saya, dia menangis keras. Seiring berjalannya hari, tangisnya makin singkat. Berhasil. Sekarang yang sedih malah saya. Setiap saya ikut mengantarnya ke sekolah, dia jadi manja dan tidak fokus. Ibu gurunya sampai berkata, ‘Ibu, kalau bisa jangan ikut ngantar Nisa sekolah. Kalau diantar Mbaknya dia enggak begini.’ Waaah….”
Lely Pandjaitan, ibu dari Debora Ellyana (masuk KB umur 1,5):
“Debora saya masukan ke KB yang punya kelas 1;5 sampai 3 tahun. Memang, waktu itu proses adaptasinya agak sulit. Kurang lebih 4 bulan saya harus menemaninya ke sekolah. Untungnya jam sekolahnya lumayan singkat, sekitar 2 jam saja. Akhirnya saya mencoba rembukan dengan gurunya untuk secara bertahap meninggalkan dia di kelas. Dari waktu yang singkat sampai akhirnya saya bisa mengawasinya dari jauh dan akhirnya bisa ditinggal.”
KOMENTAR AHLI
Umumnya orangtua mempunyai pengalaman serupa. Hanya waktunya saja yang berbeda-beda, ada yang seminggu anaknya sudah bisa ditinggal, ada yang sebulan, bahkan ada 4 bulan seperti yang dialami Ibu Lely. Itu semua wajar saja. Orangtua tidak usah risau. Berikut cara mudah mengajak anak sekolah:
* Pastikan KB yang dipilih juga disukai anak. Manfaatkan fasilitas trial untuk mengetahuinya.
* Hari pertama tak masalah kalau anak belum mau berpisah. Bahkan kalau anak masih mau dipangku pun turuti saja. Usahakan anak merasa nyaman dan jelaskan bahwa lingkungan baru itu bukan ancaman baginya.
* Hari kedua usahakan untuk duduk di sebelahnya. Jelaskan padanya kalau anak lain juga sudah tidak ada yang dipangku. Kenalkan anak pada teman-temannya. Usahakan anak mau berbaur. Kalau di kelas anak-anak duduk di karpet, usahakan orangtua duduk di bangku sehingga ada “jarak”.
* Setelah itu tunggui anak di pojok ruangan. Cukup pastikan kalau orangtua tetap ada di sekitarnya meski tidak lagi duduk di sebelahnya.
* Bila anak sudah terlihat menikmati, usahakan untuk menungguinya di luar ruang kelas.
AWALNYA MAU LALU MOGOK
Singgih Nugroho, ayah dari M. Alif (3), bercerita, “Meski awalnya harus ditunggui dulu, tapi akhirnya Alif bisa dilepas dengan pengasuhnya saja. Seminggu tiga kali jadwalnya masuk KB. Alif memang cenderung cepat bosan. Di KB pertamanya dia hanya bertahan 2 bulan. Setelah itu jadi rewel kalau harus sekolah. Saya rasa dia bosan. Daripada ribut terus akhirnya saya putuskan
untuk libur dulu di rumah. Menurut saya sih enggak apa-apa ya, toh ini kan masih di KB. Setelah itu saya masukkan lagi ke KB yang sama dengan sepupunya. Dia kelihatan enjoy sekali, tapi ya itu, kalau sedang bosan, pasti rewel lagi.”KOMENTAR AHLIAda beberapa alasan mengapa anak yang awalnya tidak masalah di KB lalu jadi mogok sekolah. Di antaranya:l Bosan Meski tidak banyak, tapi ada juga anak-anak seperti Alif, yang mempunyai kecenderungan cepat bosan. Coba perhatikan, kalau diberi mainan baru, berapa lama ia bisa menikmatinya? Kalau diajak pergi ke suatu tempat, berapa lama ia bisa “bertahan”? Kalau jawabannya tidak lama, bisa jadi ia termasuk anak yang mudah bosan.Solusi: Untuk anak-anak seperti ini, orangtua harus lebih jeli dalam memilih KB. Tanyakan detail aktivitas di dalam kelas, berapa banyak mainan yang disediakan, saat mengikuti trial perhatikan kecakapan dan kreativias gurunya membangun suasana. Kalau semua dirasa sudah cocok tapi di tengah jalan anak tetap mogok juga, jangan buru-buru menyetop/memindahkannya.
Coba diskusikan dahulu dengan gurunya untuk mencari solusi terbaik. Yang penting, saat mogok jangan paksa anak, karena pemaksaan hanya akan membuatnya makin ogah sekolah. l Ada kejadian tak mengenakkan. Namanya bergaul dengan orang banyak, mungkin saja anak mengalami satu-dua kejadian yang tidak mengenakkan. Misal, didorong temannya saat antre mainan, terjatuh saat berlarian di dalam kelas, terantuk kursi dan sebagainya.
Pada beberapa anak kejadian tersebut menimbulkan pengalaman yang membuatnya mogok datang lagi ke sekolah.Solusi:Coba cari tahu dahulu bagaimana kronologis kejadiannya. Kalau dirasa itu adalah kejadian wajar, orangtua sebaiknya tetap mengusahakan anak datang lagi ke KB. Lihat sisi positif kejadian tersebut. Umpamanya anak didorong temannya, jadikan itu sebagai teaching moment, tentang pentingnya budaya antre, larangan mendorong/memukul/melakukan kekerasan pada siapa pun. Coba diskusikan dengan gurunya supaya kejadian yang tidak mengenakkan itu tidak terulang lagi.
Marfuah Panji Astuti.

Agar Kakak SAYANG Adik

sumber : tabloidnakita.com

Rasa sayang kepada adik tak muncul dengan sendirinya, tetapi perlu ditumbuhkan dan dilatih.
Ketika sang adik lahir, ada satu harapan bahwa si kakak akan menyayangi adiknya dengan sepenuh hati. Si kakak juga harus mengerti bahwa adiknya perlu diperlakukan secara “istimewa”. Tak heran, kita sering memaksa si kakak untuk mengalah, merelakan kita lebih fokus kepada adiknya, dan merelakan waktu kita dengannya berkurang.
Nyatanya, harapan itu sering tak terwujud. Si kakak bukannya menunjukkan sikap kasih sayang dan perhatian, eh malah memusuhi adiknya. Ia tak peduli kala adiknya menangis, butuh ditemani, bahkan si kakak sering menjahili adiknya dan ulah negatif lainnya. Mengapa demikian? Mari kita simak bersama penjelasan Dra. Retno Pudjiati Azhar dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, berikut ini.
BUKAN SALAH SI KAKAK
Tidak munculnya sikap kasih sayang dari si kakak kepada adiknya, bukanlah semata-mata kesalahan si kakak melainkan kitalah yang menjadi sumbernya. Mungkin kita terlalu menuntut tanggung jawab kepada si kakak secara berlebihan padahal usianya masih balita, menuntut anak untuk memahami bahwa kita sedang sibuk dengan adiknya, dan sebagainya.
Tentu saja hal ini tak bisa diterima anak karena pola pikirnya masih sangat terbatas dan masih melihat sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Dia masih ingin bebas tanpa harus terbebani dengan segala sesuatu, termasuk kehadiran adik barunya.
Mungkin juga sikap permusuhannya itu muncul karena cemburu. Dia beranggapan kalau kita lebih memihak adik dibanding dirinya. Apa-apa adik yang didahulukan, dipentingkan, lebih disayang, dan sebagainya. Karena kesal, dia pun tak peduli dengan adiknya sehingga terkesan tidak menyayangi si adik.
BERI PENGARAHAN
Untuk itu, kita perlu melakukan beberapa tindakan supaya si kakak lebih menyayangi adiknya. Kita perlu mempersiapkan mentalnya, melatihnya, juga memberi contoh baik kepada-nya. Bila hal ini bisa kita lakukan dengan baik, anak pun akan memahami kenapa dia harus menyayangi adiknya.
Seyogyanya, bila kita sudah melakukan persiapan, melatih, dan mengajari anak untuk sayang kepada adik, maka si kakak akan memiliki rasa sayang yang cukup baik. Namun demikian, tak mustahil bila kemudian si kakak tetap berperilaku yang kurang baik dan seakan dia tidak menyayangi adiknya, semisal berlaku kasar.
Bila memang kerap muncul perilaku negatif si kakak terhadap adik, bukan berarti pengarahan yang kita lakukan gagal. Tetapi kita harus memahami bahwa di usia ini egonya masih tinggi. Jadi, tak usah heran kalau terkadang si kakak menjambak rambut adiknya, tak mau menemaninya bermain, merebut mainan yang dipegang adik, dan sebagainya. Umumnya, dengan sedikit menanamkan kembali rasa kasih sayang, maka si kakak akan kembali menyayangi adiknya.
AYAH HARUS TERLIBAT
Lain hal bila si kakak terlalu sering menyakiti si adik, mungkin pengarahan yang kita berikan dahulu memang tak dapat diserap dengan baik oleh anak. Mungkin penyebabnya ketidaktepatan saat kita memberikan arahan atau mungkin si anak yang memiliki daya tangkap kurang baik seperti pada anak yang mengalami gangguan autis atau bisa juga karena anak memiliki sifat hiperaktif yang sulit untuk dikendalikan.
Sebaiknya, kita mengevaluasi, apakah memang kita kurang melakukan persiapan dan pelatihan atau mungkin faktornya dari si anak sendiri. Bila kurang pengarahan tentu kita harus melakukan pengarahan ulang dengan cara melibatkan anak dalam mengasuh adik, memberi penjelasan, mendongengi, melakukan pemantauan, dan sebagainya. Namun bila memang karena adanya gangguan pada diri anak, kita perlu kerja lebih keras dalam mengarahkan. Atau mungkin kita memang tak bisa meng-harap-kan si kakak untuk terlibat dalam mengasuh dan menyayangi adik.
Atau bisa saja hal ini terjadi karena kesalahan kita pada saat itu, misalnya tanpa sadar kita terlalu terfokus pada adik bayi sehingga lupa memerhatikan si kakak. Bila sang ayah pun ikut lupa, tak mustahil si kakak akan lebih berperilaku negatif. Sebaiknya, koreksi apakah sikap kita yang menjadi pemicunya. Bila ya, segera perbaiki kesalahan tersebut. Beri perhatian dengan porsi yang sama terhadap si kakak agar dia tidak berperilaku negatif.
Supaya terhindar dari masalah ini, diperlukan bantuan dan peran ayah. Bisa kan ketika si ibu mengurus bayi, maka ayah mengurus si kakak, mengajak bermain, memandikan, menyuapi makan, dan sebagainya. Umumnya, bila pembagian peran ini berjalan dengan baik, meskipun ibu sibuk dengan adik baru, si kakak tidak akan menampakkan kecemburuannya. Bahkan sikap kasih sayangnya kepada adik akan tumbuh dengan baik. Tetapi masalahnya, yang kerap terjadi justru ayah juga ikut “lupa” sama si kakak. Inilah yang membuat si kakak cemburu dan akan muncul rasa benci kepada adiknya.
5 CARA TUMBUHKAN KASIH SAYANG KAKAK
Agar si kakak sayang adik, inilah beberapa tindakan yang perlu dilakukan orangtua:
1. Siapkan mental anak.
Kita harus melakukannya sejak sang adik masih berada di kandungan. Bisa dimulai ketika usia kehamilan 4-5 bulan, saat perut ibu mulai membesar. “Lihat, ada adik kamu di dalam perut Mama!”, misal. Perkataan seperti ini bisa membuat si kakak lebih bersiap diri menerima kehadiran adiknya. Lalu di akhir kehamilan kita bisa mengajak si kakak melakukan persiapan menyambut kedatangan adik baru dengan mengenalkan baju-baju adik, memasukkannya ke dalam tas, mengelus perut ibu sambil mengajaknya ngobrol, dan sebagainya.
Ketika akan melahirkan, baik sekali bila kita melibatkan anak. Umpama, dengan menerangkan kalau kita akan ke rumah sakit untuk melahirkan adik, kemudian minta si kakak untuk berada di rumah sambil merapikan dan mempersiapkan kamar, membereskan pakaian bersama pengasuh, dan seterusnya. Selama kita berada di rumah sakit, pastikan si kakak tak merasa disingkirkan. Ajak ia menjenguk si adik dan perkenalkan kepadanya, “Ini dia adikmu, cantik ya seperti kakaknya!” Dengan demikian, si kakak akan merasa kalau ia sekarang sudah menjadi kakak, dan ia tidak merasa disingkirkan karena ikut dilibatkan dalam menyiapkan kedatangan adik.
2. Libatkan si kakak.
Banyak orangtua yang terlalu sibuk mengurus si adik sehingga sang kakak terlantar. Padahal sebelum adik lahir, si kakak selalu menjadi pusat perhatian. Hal inilah yang bisa memicu kebencian si kakak terhadap adiknya, “Huh, gara-gara adik, Mama dan Papa tidak sayang lagi sama aku!” Bila kebencian ini terus terpupuk, tak mustahil sampai dewasa dia akan terus membenci adiknya.
Meskipun si adik butuh perhatian besar, sebaiknya tak membuat kita lupa memerhatikan si kakak. Sebab, si kakak pun masih butuh perhatian yang besar dari kita. Jadi, jangan kurangi perhatian kepada si kakak, usahakan semuanya berjalan normal. Ketika kita harus memandikannya, menyuapinya makan, memakaikan baju, dan sebagainya, usahakan semuanya berjalan seperti semula.
Selain itu, libatkan pula si kakak dalam pengurusan sang adik. Contoh, mengajaknya mengasuh adik meskipun hanya menemani tidur, ikut menyanyikan lagu “Nina Bobok”, membelai, membantu mengambilkan popok, dan sebagainya. Sangat baik bila sebelumnya kita berbicara kepada si kakak tentang apa yang harus dilakukannya sebagai kakak. “Adik kan masih kecil, dia belum bisa ngapa-ngapain, jadi kita perlu menyayangi adik ya, Kak!”
Melibatkan si kakak dalam pengasuhan adik tak hanya pada saat si adik masih bayi, melainkan juga ketika si adik menginjak usia batita. Mungkin keterlibatan itu lebih ditingkatkan, dengan mengajaknya bermain, ikut melarang adik kalau merangkak terlalu jauh, dan lainnya.
3. Latihlah terus.
Setelah kasih sayang si kakak pada adiknya tumbuh, kita hendaknya tidak berhenti sampai di situ, melainkan terus memupuknya supaya semakin subur sebagaimana layaknya tanaman. Jadi, kita harus terus melatih dan menstimulasinya. Bisa lewat pemberian dongeng sebelum tidur. Pilihlah cerita yang mengajarkan nilai-nilai kasih sayang seorang kakak terhadap adik. Kemudian lakukan interaksi setelah bercerita, “Kasihan ya si adik dijahili terus sama kakaknya, si adik jadi sering menangis deh,” misalnya setelah kita menghabiskan salah satu cerita.
Dalam kegiatan sehari-hari pun kasih sayang harus terus dipupuk. Umpama, ketika adik menangis karena takut pada kucing, kita bisa minta si kakak untuk mengusirnya, “Kakak, kasihan tuh adik ketakutan, tolong usir kucingnya ya!” Atau, bisa juga dengan meminta si kakak untuk tidak bersikap kasar saat bermain, “Lo, kok adiknya dimarahin? Jangan dong. Adik kan harus disayang!”
4. Jalin kedekatan antara si kakak dan adiknya.
Tak kenal maka tak sayang, begitu bunyi pepatah. Meskipun si kakak sebenarnya sudah mengenal adiknya, namun sangat baik bila kita jalinkan kedekatan antara mereka berdua. Tak lain supaya si kakak lebih mengenal adiknya, sehingga rasa sayang muncul lebih kuat. Kedekatan bisa dijalin lewat bermain bersama, mandi bersama, makan bersama, dan seterusnya.
Sebaliknya, bila kita terus-menerus melarang si kakak, malah akan membuatnya bertindak lebih destruktif. Mungkin saja saat itu dia berpikir kalau mamanya lebih memerhatikan si adik sehingga muncul kecemburuan. Bila demikian akan muncul rasa benci dari si kakak sehingga dia akan mencari kesempatan untuk menjahili adiknya sebagai bentuk luapan emosinya.
5. Beri contoh yang benar.
Anak usia ini sering kali belum bisa memahami hal yang abstrak seperti apa itu kasih sayang. Untuk itu kita harus sering-sering memberi contoh yang benar, bagaimana mengungkapkan rasa sayang kepada adik. Misal, mencontohkan bagaimana cara membelai, mencium pipinya, tidak memukul atau mencubitnya, dan sebagainya. Contoh ini perlu sering diberikan mengingat anak balita mudah lupa. Jadi setiap kali kakak berdekatan dengan adiknya, kita ajari dia untuk melakukan tindakan-tindakan kasih sayang. Tentu, hal ini pun tak perlu dilakukan secara berlebihan, sewajarnya saja, supaya anak tidak bosan.
Irfan Hasuki . Foto: Ferdi/nakita
“Waduh, Mulai Bohong YA!
Umumnya karena anak takut mendapat hukuman dari orangtua.
Ih gemes deh kalau tahu si kecil mulai pintar mengarang alasan. Itu, kan, sama saja berbohong. Kalau keterusan bagaimana? Memang sih, bohongnya anak balita berbeda dari bohongnya anak yang lebih besar. Sampai usia 7 tahun, anak belum bisa merancang kebohongan dalam arti sesungguhnya. Di atas 7 tahun, kebohongan yang dilakukan memang dengan tujuan mengambil keuntungan.
Meski begitu, bukan berarti kebohongan di usia prasekolah boleh dibiarkan. Bagaimanapun, sejak dini perlu ditanamkan pemahaman tentang mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan, mana yang benar dan salah. Termasuk bahwa berbohong itu tidak benar.
PERTAHANAN DIRI
Umumnya, anak berbohong sebagai salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri. Anak takut mendapat hukuman dari orang dewasa (orangtua), sehingga dicarilah alasan untuk menutupi keadaan yang sebenarnya. Misal, anak tak mau minum susu. Saat ditanya, ia bilang sudah minum susu. Padahal susu itu tidak diminumnya, melainkan dibuang ke tempat cuci piring. Nah, si anak berbohong karena takut dimarahi orangtuanya.
Biasanya hal ini terjadi pada anak yang orangtuanya banyak memberlakukan larangan/aturan. Kemampuan anak kecil untuk mengingat perintah dan larangan sangat terbatas. Akibatnya, banyak pula aturan/larangan yang dilanggarnya.
Tentu saja, pelanggaran sebaiknya jangan dibiarkan tanpa teguran serta penjelasan yang semestinya. Bisa jadi, si anak akan mengulangi perbuatan itu lagi. Ia mulai belajar, bahwa berbohong dapat menyelamatkan dirinya dari amarah ibu. Kalau dibiarkan bisa timbul anggapan bahwa berbohong adalah perbuatan wajar. Inilah yang patut mendapat perhatian orangtua.
BOHONG FANTASI
Selain itu, di usia prasekolah juga kerap terjadi bohong fantasi. Anak menceritakan sesuatu yang tidak sesuai dengan fakta atau kondisi sebenarnya, dan kerap dilebih-lebihkan serta berbumbu cerita khayal. Sumber cerita khayalnya dapat berasal dari buku cerita, dongeng, tontonan yang disukai atau tokoh-tokoh kartun yang menjadi favorit si prasekolah. Meski tak jarang pula berasal dari alam khayalnya sendiri.
Tip & Trik MENGATASI KEBOHONGAN ANAK
* Tanamkan pengertian pada anak untuk bercerita apa adanya.
Umpama, si kecil bercerita kepada teman-temannya bahwa kemarin ia pergi menyelam dan melihat ikan nemo, padahal kita mengajaknya pergi berenang di kolam renang. Nah, katakan kepada si kecil, “Kalau Kakak cerita pergi menyelam, itu tidak benar. Kemarin kita hanya berenang di kolam renang. Tapi berenang juga mengasyikkan, lo.” Dengan begitu si anak menyadari bahwa berenang juga tak kalah menyenangkan dengan menyelam.
* Arahkan mana yang fakta/realitas dan khayalan.
Caranya, masuklah ke alam khayal anak. Dari situ barulah kita mampu menarik si kecil ke dunia realita. Misal, saat menonton film kartun di teve, kita bisa bilang, “Hantunya cuma buatan, kok. Adanya juga cuma di film.” Atau ajak si kecil berdialog, “Menurut Kakak, hantu itu ada enggak, ya?” Dengan begitu, kita sekaligus mengasah kemampuan berpikir si prasekolah.
* Hindari memberikan banyak aturan.
Banyaknya larangan/aturan hanya membuat anak merasa terkekang. Tambahan lagi kemampuan mengingatnya masih terbatas. Akibatnya, anak jadi lebih banyak melanggar aturan. Sebaiknya aturan dibuat berdasarkan kesepakatan antara orangtua dan anak.
* Jadilah model yang baik.
Baginya orangtua adalah sosok yang hebat. Jadi, segala hal yang dilakukan oleh orangtuanya dapat ditiru, baik ucapan maupun perilaku. Terkadang, tanpa disadari orangtua berbohong. Contoh, anak mendengar ibunya menambah-nambahi cerita. Apalagi jika orang lain yang diajak bicara ternyata memberikan respons positif. Akibatnya, si prasekolah berpikiran, kalau ingin menarik perhatian orang lain harus dengan membuat cerita yang dilebih-lebihkan. Jadilah ia membual.
* Tutup kemungkinan untuk berbohong atau ingkar.
Contoh, anak tidak mengakui telah menjatuhkan gelas. Bisa jadi ia memang tidak merasa menjatuhkan atau memang sengaja mengingkari. Tugas orangtua adalah menyampaikan/memberitahukan fakta, bahwa gelas tersebut jatuh karena tersenggol tangannya saat ia berlari, misal.
Bicarakan dari hati ke hati mengenai perbuatannya itu beserta konsekuensi dan alasannya. Bila anak berkata jujur, jangan lupa untuk memberikan pujian sehingga anak tidak merasa bersalah.
* Beri sanksi.
Bila kita sudah berupaya memberikan pemahaman kepada anak tentang perilaku yang dapat diterima, namun si kecil kembali berbohong maka dapat saja diberikan sanksi. Pemberian sanksi harus segera setelah kejadian sehingga akan memudahkan daya ingat si anak. Namun sanksinya harus yang realistis dan mendidik, semisal tidak mengizinkannya menonton acara teve kegemarannya. Dengan adanya sanksi, diharapkan anak tak akan mengulangi perbuatannya itu lagi.
* Berikan ruang kepada anak untuk berkata jujur.
Beri kesempatan pada anak untuk mengatakan sejujurnya pendapatnya atau perasaan yang dirasakan. Cobalah untuk mendengarkan dengan baik, berikan komentar yang semestinya dan tidak memojokkan. Dengan cara ini, anak akan merasa didengar dan tidak takut untuk bicara jujur.
* Berikan pujian kala berlaku baik.
Saat anak menunjukkan kelakuan yang baik, berikan pujian atau penghargaan sehingga anak akan terdorong untuk melakukan perbuatan baik lagi.
* Evaluasi kualitas hubungan saat ini.
Bisa jadi anak berbohong demi mendapatkan perhatian dari orangtuanya. Sebab sering kali fantasi yang diungkapkan anak tak sekadar hasil olahannya, tapi juga bisa karena anak mencari perhatian. Nah, dengan mendengarkan aktif obrolan si prasekolah, orang tua jadi bisa tahu apa sebenarnya yang tersembunyi di balik khayalan si kecil.
Selain itu, evaluasi pula sanksi yang diterapkan kepada anak. Bisa jadi anak berbohong karena menghindari dari hukuman yang dirasa menakutkan atau berat dari orangtuanya.
AKAL-AKALAN (TRICKY)
Anak usia 3-5 tahun memang tidak langsung bisa melakukan tindakan manipulatif. Umumnya, awalnya anak tidak menyadari itu. Artinya, ia tidak sengaja melakukan hal itu. Namun, anak lama kelamaan belajar dari kejadian tersebut, bahwa apa yang dilakukan ternyata dapat mengubah suatu keadaan menjadi keadaan yang diinginkan. Sejak anak menyadari bahwa dirinya dapat mengubah keadaan seperti yang dia inginkan, saat itulah awalnya anak menyadari untuk melakukan tindakan manipulatif tersebut.
Cara mengatasinya, hendaknya orangtua mampu bersikap konsisten saat telah menetapkan aturan tertentu. Contoh, orangtua telah menetapkan aturan bahwa waktu membeli mainan adalah hari Sabtu. Nah, saat anak merengek minta dibelikan mainan pada hari Rabu, hendaknya tidak dipenuhi. Bila aturan ini dilanggar oleh orangtua, maka anak akan mencoba untuk melakukan lagi. Selanjutnya menjadikan salah satu cara untuk melakukan tindakan manipulatif.
Utami Sri Rahayu.
Konsultan Ahli:
Indah Kiranawati Machsus, Psi.,
dari TK Mutiara Indonesia