Jika Si Kecil Mencuri

sumber : tabloidnakita.com

Memalukan deh, tiap kali pulang dari rumah tetangga, si kecil selalu bawa oleh-oleh mainan. Pasti dia mengambilnya begitu saja tanpa izin.
Coba deh periksa boks mainan batita Anda. Pasti akan Anda temukan sejumlah mainan “asing” yang bukan miliknya. Bukan cuma itu, Anda juga bakal menemukan benda-benda lainnya, entah lipstik atau bolpoin yang hilang beberapa waktu lampau, dan sebagainya.
Ini memang perilaku khas anak batita. Kemunculannya disebabkan dorongan rasa ingin tahu (curiosity) pada sesuatu yang dia lihat atau orang lain pakai. Saat anak lain memainkan robot-robotan, misal, si batita penasaran dan ingin memainkannya juga, meski di rumah sebenarnya dia memiliki mainan tak kalah bagus.
Selain itu, anak mulai senang mengenali dan menggali hal¬hal di lingkungannya. Inilah yang memunculkan sikap ingin mencoba hal-hal baru atau benda yang sama sekali belum dikenalnya. Tak heran, telepon genggam, lipstik, gunting, dan aneka benda lain dalam sekejap sudah ada dalam genggamannya.
Karenanya, psikolog Sani B. Hermawan tak setuju bila orangtua memarahi si batita, apalagi sampai mengatakan dia telah mencuri barang milik orang lain. “Anak batita belum tahu mengenai hak milik. Dia menyangka semua benda yang ada adalah miliknya dan untuknya,” ujar Direktur Lembaga Psikologi Daya Insaniini.
Namun, bukan berarti kita boleh membiarkannya begitu saja. Justru ini bisa menjadi gerbang bagi orangtua untuk mengajari anak norma-norma sosial yang berlaku, sekaligus aturan boleh-tidak. “Anak harus diberi tahu tentang hak milik. Ada barang milik dia, milik ibu, ayah, bahkan teman-temannya. Hak itu harus dihargai. Berikan contoh dengan logika terbalik, ‘Kamu mau tidak barangmu diambil temanmu tanpa bilang?’ Jelaskan juga, ada etika meminjam, seperti meminta izin terlebih dahulu.”
Jadi, ajarkan etika meminjam. Pada tahap awal, tentu anak perlu diawasi dan diberi pemahaman tentang apa yang boleh dan tak boleh dilakukan terhadap barang tersebut. Durasinya pun singkat, artinya barang itu harus cepat dikembalikan. Barulah setelah anak dapat bertanggung jawab, dia perlu diberi kepercayaan dan durasinya boleh agak lama, tentunya atas seizin si empunya.
Selain itu, ingatkan anak agar memelihara barang milik orang lain dan tidak merusaknya. Hal ini untuk membentuk sikap menghargai. Selanjutnya terang-kan, barang itu adalah barang orang lain yang harus dikembalikan. Jangan lupa untuk menga-jarkan terima kasih pada saat mengembalikan.
Jika anak ngambek tak mau mengembalikan, orangtua perlu menjelaskan hak dan kewajiban dengan sederhana, bahwa barang itu bukan barang miliknya (hak), dan kewajibannyalah untuk mengembalikan secara baik-baik. Tanyakan, apa yang membuatnya sangat tertarik pada benda tersebut. Di rumah, ajak dia mencari benda miliknya yang mirip dengan barang/mainan kepunyaan temannya itu. Dengan demikian, anak tak terlalu merasa kehilangan jika mainan temannya dikembalikan. Walaupun bereaksi sedih, anak harus dituntun untuk mengembalikan benda pada orang yang meminjamkan.
Di sisi lain, anak pun harus diajarkan menghargai barang miliknya. Kalau tidak, mungkin saja ia menyenangi barang orang lain tetapi tidak menghargai barang miliknya. Sikap ini cenderung mendorongnya untuk selalu merebut milik orang lain. Atasi dengan mengembalikan rasa bangga pada diri anak terhadap benda-benda miliknya. Caranya, kenalkan hal-hal positif dan kelebihan dari mainannya. Entah itu robotnya yang bisa bergerak, bersuara, atau bonekanya yang lucu.
Jika ada barang yang tak boleh dimainkan, berikan penjelasan dengan baik. “Adek tidak boleh memainkan barang ini karena kalau jatuh dan pecah, Ibu tidak dapat memakainya lagi.” Dengan demikian anak bisa memahami dan sekaligus mendapat informasi yang memuaskan. Jika anak tidak patuh pada aturan, membandel, dan tak mau dinasihati, jelaskan secara perlahan dan berulang sampai ia paham.
AJARKAN BERBAGI
Tahap selanjutnya, anak bisa diajarkan berbagi. Jika dia biasa meminjam mainan temannya, maka mainan miliknya juga boleh dipinjam orang lain. Agar pesan kita mudah ditangkap, cobalah cari contoh lain yang akrab dengan anak. Bisa berupa makanan, buku bergambar, bacaan, dan lain-lain. Mulailah dari anggota keluarga terlebih dahulu. Saat anak hendak mengambil pulpen milik ayah, jelaskan dia harus meminta izin terlebih dahulu, plus mengucapkan terima kasih saat mengembalikan.
Selain itu, jadilah teladan buat anak. Ajarkan bagaimana menghargai hak milik orang lain. Contoh, saat melihat kue lezat si kecil terhidang di meja, jangan sekali-kali mengambilnya tanpa izin. Ingat, kue itu milik anak yang harus dihargai. Mintalah izin dan jangan memaksa mengambil jika anak tak mengizinkan. Hal lain yang perlu diingat, jangan sekali-kali menyerahkan mainan atau benda milik anak kepada anak lain tanpa seizinnya. Itu tidak hanya melukai anak, tapi juga mengajarinya untuk tidak menghargai hak milik orang lain. Jangan lupa, anak belajar dari apa yang dilihat dari orang terdekatnya. Jika Anda sering melanggar hak orang lain, jangan harap anak bisa menghargai kepunyaan orang lain.
Saeful Imam. Foto: Iman/NAKITA
“Mama JAHAT!”
Ini merupakan ekspresi sehat dan wajar. Orangtua hanya perlu mengendalikan.
“Mama jahat!” ungkapan yang singkat tapi dalam. Ibu mana yang tidak terperangah mendengarnya. Ada yang langsung marah, tapi ada pula yang kemudian cuek. Anda termasuk yang mana? Mungkin yang lalu terpikir adalah, kok bisa-bisanya si cilik mengucapkan kata-kata itu dengan entengnya.
Itulah komunikasi provokatif; demikian beberapa pakar psikologi perkembangan menyebutnya. Komunikasi itu tidak hanya menjengkelkan, tapi juga memalukan. Bayangkan saja jika kata-kata ajaib itu meluncur di depan orang banyak. Singkat kata, komunikasi provokatif
merupakan bentuk komunikasi verbal maupun nonverbal yang memancing emosi, tidak sopan, tidak pantas, tidak senonoh, dan bahkan menyakitkan. Bentuk komunikasi ini sebenarnya sudah ada sejak bayi lahir. Bagaimana bayi menangis sambil menjerit demi menuntut keinginannya dipenuhi, itulah komunikasi provokatif.
Di usia batita, kata “tidak” atau “enggak” adalah kata provokatif pertamanya. Anak senang bereksperimen dengan kosakata yang baru dikuasainya. Apa pun yang dikatakan orang-tua, anak senang mengatakan “tidak”. Terlebih, saat orangtua melarang atau meminta anak melakukan sesuatu. Jika ucapan tidak mempan, anak pun mencari jalan lain yang lebih “keras”, dengan harapan kemauannya dituruti seperti memukul, menggigit, menendang, menarik-narik baju, dan lainnya.
WAJAR TAPI TAK BOLEH DIBIARKAN
Komunikasi provokatif muncul karena di satu sisi anak memiliki hasrat dan emosi yang kuat, sedangkan di sisi lain anak tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Selain itu, di usia ini juga anak sangat egois dan cenderung memaksakan kehendak. Apalagi, jika orangtua terlalu banyak melarang, sebentar-sebentar “tidak boleh” atau sedikit-sedikit “jangan”. Anak pun kesal sehingga keluarlah jurus komunikasi provokatifnya. Sebab lain munculnya komunikasi ini adalah anak merasa terbuang, semisal tak diajak jalan-jalan ke mal karena sedang sakit, atau merasa malu karena dimarahi orangtua di depan kawan-kawannya.
Sebenarnya, komunikasi ini wajar dilakukan sebagai bagian dari perkembangan emosi anak. Emosi yang tersalurkan lebih sehat ketimbang emosi terpendam. Itulah mengapa, komunikasi provokatif adalah ekspresi sehat. Sayangnya, penyaluran emosi tersebut dilakukan dengan cara yang tidak tepat, yaitu menge-luarkan kata-kata kasar/tak pantas dan kekerasan fisik. Jadi, meski komunikasi provokatif tergolong wajar di usia batita, orangtua tetap harus mengarahkan, bagaimana berekspresi yang sehat yang lebih dapat diterima lingkungan (acceptable behaviour).
Selain itu, anak usia batita belum mengerti apa yang dia katakan, semisal “mama goblok”, “mama jahat”, “anjing lu”, dan sebagainya. Umumnya, mereka mendapatkan kata-kata itu dari lingkungan di sekitarnya, seperti orang dewasa di rumah maupun di luar rumah dan tontonan di televisi. Anak melihat, saat kesal, orang dewasa mengucapkan kata-kata tersebut. Anak pun menirunya, karena dipikirnya kata-kata itulah yang harus dia ucapkan di kala hatinya sedang kesal/marah. Begitu pun dengan perilaku provokatif seperti menjambak, memukul, mencubit, dan sebagainya. Sekali lagi, meski wajar, komunikasi dan perilaku pro-vokatif tak boleh dibiarkan. Anak harus diberi pengarahan untuk mengungkapkan diri dengan cara yang enak.
Ragam Komunikasi PROVOKATIF dan MENGATASINYA
* Komunikasi Provokatif Fisik
Bentuknya bermacam-macam, bisa meludah, memukul, menjambak, menggigit, dan lain-lain. Sedapat mungkin, cegahlah agar tindakan itu jangan sampai dilakukan. Jadi, saat anak hendak meludah karena pandangannya ke teve terhalang, misal, cobalah jelaskan, “Adek sebaiknya mengatakan ‘permisi, Mama, aku tidak bisa lihat’. Nah, Mama kan jadi tahu kalau kepala Mama menghalangi pandangan Adek ke teve.”
Hindarkan sikap reaktif karena bisa membuat anak semakin giat mengulangi perilaku negatifnya. Jelaskan, tempat yang tepat untuk meludah seperti, “Adek boleh meludah sepuasnya di kamar mandi.” Berikan pujian jika anak sudah menghilangkan kebiasaan buruknya itu, “Hari ini Adek hebat. Adek tidak menggigit Reza meskipun dia mengambil mainanmu.” Jangan lupa, jelaskan ekspresi yang tepat selain menggigit, “Lebih baik Adek bilang, ‘jangan ambil, ini mainanku’ kepada temanmu yang akan mengambil mainanmu dengan paksa.”
Hindarkan pula membalas dengan hukuman fisik atau kekerasan fisik yang sama. Mungkin saja anak menghentikannya, tapi itu hanya sementara dan dengan alasan takut. Nantinya, bukan tak mungkin komunikasi provokatif fisik ini muncul kembali.
* Perilaku Mengesalkan
Si kecil menjerit “mau es krim” sambil melempar-lempar mainannya ke hadapan Anda, atau berteriak “pulaaang”, sambil menarik-narik baju Anda, dan sebagainya. Dia berharap, teriakan dan jeritan dapat membuat keinginannya terkabul. Ingat, anak batita selalu menginginkan hasil instan. Jika dia menginginkan sesuatu, maka hal itu harus terkabul sekarang juga, tak bisa ditunda sedetik pun. Ini juga berlaku saat anak butuh perhatian orangtua.
Si batita harus diberikan pengertian, mengapa keinginannya tak bisa dipenuhi segera atau harus ditunda. Contoh, “Adek mau es krim? Oke, setelah makan nasi, Adek boleh makan es krim.” Selain itu, ketahui juga penyebab kekesalan anak. Misal, anak minta pulang saat diajak pergi arisan. Mungkin dia bosan karena kita asyik mengobrol sementara si kecil terabaikan. Nah, kita perlu mencari cara agar anak tidak bosan, entah dengan membawakan mainannya, atau mengenalkan si kecil dengan teman-temannya sebaya.
* Komentar Marah
Anak bisa meluapkan emosinya dengan kata-kata, misalnya saja “Mama jahat”, “Mama bodoh”, atau bahkan dengan kata-kata kasar/tak senonoh. Hal ini bisa dilakukan kepada siapa pun, baik orangtua maupun orang dewasa lain, saudara, bahkan teman-temannya. Namun ingat, anak belum paham sepenuhnya arti kata-kata tersebut. Dia hanya sekadar meniru tanpa menyadari apa yang dikatakannya itu boleh atau tidak. Jadi, tak guna memarahinya. Lebih baik tenangkan anak dan jelaskan mengapa kita tak bisa mengabulkan keinginannya, “Adek, sekarang sudah larut malam. Di luar dingin dan gelap. Jadi kita tidak bisa main di luar, Lagi pula, sekarang sudah waktunya tidur.” Kemudian alihkan perhatiannya dengan mengatakan, “Yuk, kita masuk ke kamar. Mama akan bacakan cerita untukmu. Ceritanya bagus lo.”
Bila komentar marah ini dilontarkan kepada temannya yang mencoba merebut mainannya, “Enggak boleh. Goblok!” misalnya, sebaiknya angkat anak menjauh dari si teman dan tegurlah dengan lembut, “Adek enggak boleh berkata seperti itu. Itu kata-kata kasar.” Cara ini bisa menjaga perasaan anak di depan temannya. Kemudian ajarkan cara yang lebih tepat, “Kalau temanmu akan merebut mainanmu, katakan saja, ‘Enggak boleh, ini punyaku.'”
* Uring-uringan
Sikap dan perilaku anak benar-benar membingungkan. Begini salah begitu salah. Tidak tahu apa maunya. Orangtua jadi jengkel dan tak jarang langsung memarahi anak. Sebenarnya, anak sedang menguji orangtua. Perhatian orangtua yang dicari, bukan kemauannya dipenuhi. Sangat mungkin anak ingin tidur dan mengantuk, tapi dia ngelantur dengan meminta dibuatkan susu. Saat dibuatkan susu, dia rewel dan meminta yang lain.
Orangtua harus peka. Perhatikan, apa sebenarnya yang dimaui anak. Jika dia terlihat lelah dan mengantuk, coba abaikan permintaannya yang macam-macam, tapi usap dan gendonglah. Berikan kenyamanan sehingga dia lelap tertidur.
Saeful Imam.
Konsultan ahli:
Mira D. Amir, Psi.,
dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia

Iklan

Merapi Meletus Lagi

sumber : http://infogres.com/2010/10/30/merapi-meletus-lagi-yogyakarta-diguyur-hujan-abu-pekat/

Gunung Merapi meletus lagi, kawasan Yogyakarta diguyur hujan abu pekat setelah erupsi Gunung Merapi. Hujan abu terpantau di Kecamatan Ngemplak, Ngadlik dan Mlati.

Warga di sekitar lereng Gunung Merapi diminta oleh Tim SAR untuk mengungsi ke arah Kota Yogyakarta. Di Turi dan Pakem, terdengar sirene serta pengumuman agar mengungsi, Sabtu (30/10/2010) dini hari.

Mobil, motor serta orang-orang yang menuju Selatan Yogya pun berwarna putih abu-abu tertutup debu.

Di Kaliurang, Sleman, hujan abu pekat mengguyur hingga sejauh 20 Km dari puncak Merapi. Awalnya hujan abu bercampur pasir turun dengan deras, sempat pula turun bersama air.

Pada pukul 02.00, di beberapa titik, abu bercampur pasir menutupi jalan setinggi setengah cm.

Lalu lintas pengungsi dari arah Lereng Merapi yang melalui Kaliurang mulai berkurang. Sesekali terlihat ambulance menuju arah Merapi untuk melakukan evakuasi warga yang masih tersisa di lereng.

Kronologi Letusan Merapi

sumber : http://infogres.com/2010/10/27/inilah-kronologi-meletusnya-gunung-merapi-secara-langsung/

sumber : detik.com

Gunung Merapi akhirnya meletus sebagai penjelasan bahwa Gunung Merapi merupakan gunung teraktif di dunia dan paling berbahaya di Indonesia telah meletuskan pada Selasa 26 Oktober pukul 17.02 WIB.

Berikut kronologi letusan Merapi versi pemantau langsung sebagaimana siaran pers Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Rabu (27/10/2010):

Ada 4 seismograf untuk mengamati akvitas vulkanik Merapi, yang diletakkan di Klatakan/Babadan/Magelang (sisi barat); Pusunglondon/Selo/Boyolali (utara); Deles/Klaten (timur/tenggara); dan Plawangan/Turgo/Kaliurang (selatan).

*Menjelang Pukul 16.00 WIB*
Aktivitas vulkanik masih cenderung naik, pasca naiknya status menjadi “Awas” sejak sehari sebelumnya. Secara visual melalui kamera yang diletakkan di pos pengamatan lereng Merapi tidak bisa diamati langsung karena tertutup kabut tebal sejak beberapa jam sebelumnya (foto pojok kiri bawah). Bahkan pos-pos yang berada di lereng Merapi pun melaporkan bahwa mereka tidak bisa memantau secara visual. Komunikasi melalui jaringan radio HT.

*Pukul 16.00 – 17.00 WIB*
Ada peningkatan aktivitas cukup signifikan meliputi gempa vulkanik, multiphase (MP), guguran, dsb. Tapi masih dianggap belum ‘cukup’ berbahaya. Tak ada gambaran visual sama sekali. Semua hanya tergantung pada alat-alat. Sempat ada wawancara oleh sejumlah media nasional pada petugas terkait kemungkinan/skenario letusan yang akan terjadi.

*Pukul 17.00 – 17.30 WIB*
Terjadi lonjakan aktivitas vulkanik yang sangat tajam, terutama mulai pukul 17.02 WIB, yang ternyata adalah luncuran awan panas. Empat seismograf tadi semuanya mencatat amplitudo getaran yang sangat lebar (besar), bahkan jarumnya pun terlepas berulang kali. Petugas monitoring mulai sibuk dan panik luar biasa, apalagi karena besarnya amplitudo dan lamanya kejadian. Pos-pos pengamatan di lereng pun juga melaporkan demikian, hanya saja sama sekali tidak diketahui, apa itu awan panas / yg lain. Semua tertutup kabut tebal. Tak ada yang bisa menduga ada apa di balik kabut tebal itu.

*17.30 WIB – 18.30 WIB*
Kabut masih sangat tebal dan mulai gelap. Semakin sulit untuk mengetahui apa yang terjadi di Merapi. Empat seismograf masih saja mencatat getaran yang sangat besar (dan lagi-lagi beberapa kali jarumnya sampai lepas, dan gulungan2 kertasnya diganti cepat sekali – padahal normalnya 12 jam sekali). Petugas menyatakan ada 3 kali letusan & luncuran awan panas dan kemungkinan eksplosif menyebar ke segala arah. Petugas pusat memperintahkan pada semua petugas pos di lereng merapi untuk langsung meninggalkan pos, turun untuk evakuasi. Petugas juga menghubungi aparat-aparat di beberapa tempat, agar dilakukan evakuasi paksa untuk warga. Sirene di berbagai tempat dibunyikan. Jaringan radio HT mulai sangat crowded, begitu pula jaringan telepon di pos. Beberapa petugas terlihat sangat panik (menangis?), sembari terus berdoa dan bertakbir.

*Pukul 18.30 – 19.00 WIB*
Petugas pusat mengeluarkan pernyataan/informasi resmi pada media, tentang terjadinya letusan ini, serta fokus sekarang adalah pada proses evakuasi. Aktivitas vulkanik yang terdeteksi di seismograf mulai menurun, kecuali 1 seismograf di Plawangan/Turgo/Kalikuning. Petugas mengkhawatirkan daerah sekitar Kinahrejo (tempat mbah Maridjan), Kaliadem, dan sekitar lereng selatan Merapi.

*19.00 WIB – …
Petugas di pos-pos pengamatan lereng Merapi naik kembali ke pos mereka (tapi beberapa masih dilarang untuk kembali untuk beberapa saat). Hujan kerikil dan abu mulai dilaporkan oleh pos-pos pemantauan, terutama di daerah barat daya Merapi. Bau belerang juga bisa dicium dari sekitar lereng. Aktivitas Merapi dipantau dari seismograf, terus cenderung turun, bahkan stabil normal tenang, walau beberapa kali kadang terjadi guguran material. Secara visual Merapi masih tertutup kabut, sehingga tidak ada bisa yang bisa melihat ’seberapa besar letusan, kemana arah awan panas, dsb’. Kondisi petugas mulai tenang, bahkan beberapa kali terlihat bercanda. Wartawan dan media masih terus standby di pusat pemantauan, dan beberapa menyusul naik ke Kaliurang.

*Aftermath*
Petugas BPPTK menyatakan Merapi sekarang ini sedang dalam kondisi tidur nyenyak setelah aktivitas tadi. Belum diketahui, apakah akan ada aktivitas vulkanik susulan lagi. Mereka sempat khawatir, jika yang terjadi tadi hanyalah/baru awal saja. Sebagaimana pola-pola erupsi Merapi yang sebelumnya, yang biasanya kecil dulu, lalu sedang, besar, berkurang, kembali ke normal lagi, dst. Titik api / aliran lahar juga belum bisa dikonfirmasi. Apa yang terjadi tadi lebih besar daripada yang terjadi tahun 2006.

Lokasi yang terkena letusan / awan panas petang tadi, kemungkinan besar daerah-daerah sekitar lereng Merapi, dalam radius 4-6 km, terutama lereng selatan.

Abu/debu vulkanik dilaporkan bahkan sampai Gombong – Kebumen. Evakuasi masih terus dilakukan.

Jika Anak SUKA YANG MANIS-MANIS

sumber : tabloidnakita.com

Anda sendiri, apakah juga penggemar makanan dan minuman manis?
Sebetulnya gula yang merupakan sumber karbohidrat adalah makanan yang menguntungkan bagi anak sebagai sumber kalori. Kalori ini diperlukan bagi bocah usia prasekolah yang sedang tumbuh dan memerlukan kecukapan gizi. Tentu saja harus tetap dikonsumsi dalam jumlah yang sesuai kebutuhan. Ini perlu dicermati karena bila sejak kecil hanya menggemari makanan yang manis-manis, kebiasaan kurang baik ini akan terbawa sampai dewasa. Akibatnya, yang bersangkutan akan semakin berpeluang terkena obesitas/kegemukan. Padahal kegemukan di usia relatif muda akan meningkatkan risiko terserang diabetes, darah tinggi, dan jantung.
Untuk itu, perilaku jajan mesti dibatasi. Ironisnya, industri kecil maupun besar seolah berlomba melempar produk mereka berupa penganan manis. Bahkan, sebagian produk makanan anak di pasaran menggunakan pemanis buatan untuk menekan ongkos produksi dan harga jual. Jika tidak diseleksi sejak awal, kebiasaan anak mengonsumsi sembarang jajanan akan berlangsung dalam hitungan tahun selama anak bersekolah di tempat tersebut.
Strategi lain, sediakan dan bekali anak dengan makanan sehat yang dibuat di rumah. Selain lebih bersih, anak-anak juga membutuhkan energi yang berasal dari gula alami. Contohnya, es mambo buatan ibu, selain menggunakan air matang yang bersih, pastilah gula pasir murni dan bukan pemanis atau gula buatan.
BEKAL GURIH
Untuk mencukupi kebutuhan gizi yang lengkap dan diperlukan bagi pertumbuhan tubuhnya, anak usia prasekolah memerlukan aneka makanan sehat. Di usia 4 tahunan, anak mulai mengembangkan kebiasaan makannya sebagai konsumen aktif. Ia mulai bisa memilih sendiri makanan yang ingin dimakannya dan tidak lagi sebagai konsumen pasif yang sepenuhnya bergantung pada orang dewasa di sekitarnya. Di kurun waktu inilah orangtua memiliki peran penting untuk mengarahkan anaknya pada pola makan keluarga yang teratur dan bergizi seimbang. Jangan lupa, orangtua merupakan model utama bagi anak. Bila orangtua memiliki pola makan yang sehat, anak pasti akan mengikutinya.
Guna membantu anak agar mampu menjadi konsumen aktif yang bisa memilih makanan sehat, sediakan selalu menu utama maupun camilan yang memenuhi syarat makanan bergizi. Bergizi di sini tentunya berimbang baik sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineralnya. Sedangkan bervariasi, disamping dikemas sebagai bentuk sajian yang menarik, makanan pun perlu disajikan dalam aneka rasa, seperti gurih, asam, dan manis agar tak membosankan.
Anak usia prasekolah biasanya sudah membawa bekal makanan untuk dibawa ke kelompok bermainnya. Untuk mengurangi “ketergantungan” pada makanan yang manis, sebaiknya jangan bekali anak dengan setangkap roti manis, brownies, atau camilan apa pun yang memiliki kandungan gula cukup tinggi.
Sebagai gantinya, lebih baik bekali anak dengan makanan sehat dan bergizi, siapkan bekal makanan berkalsium seperti selembar keju dalam roti, kue sus isi ragut sayuran, atau nougat dari susu kacang. Jangan lupa selipkan pula satu jenis makanan yang kaya akan zat besi seperti sosis ayam, telur rebus, atau daging sapi gepuk. Bila jam “sekolah”nya cukup panjang, boleh-boleh saja tambahkan pilihan bekalnya dengan jenis serelia seperti spageti. Jangan lupa untuk menyelipkan buah-buahan segar dalam tas bekalnya, terutama jeruk atau pisang.
Semua bekal makanan ini sebaiknya dibuat sendiri di rumah hingga kebersihannya lebih terjamin dibanding bila membelinya di luaran. Kalaupun tidak sempat hingga terpaksa membeli, sebaiknya pilih tempat jualan yang bersih. Untuk jenis penganannya, sebaiknya pilih yang lengkap gizinya.
GOODIE BAG
Selera rasa manis umumnya dipengaruhi oleh lingkungan. Artinya, pengalaman dan pembiasaan memberi kontribusi amat besar dalam hal ini. Saat beranjak dewasa, selera seseorang akan ditentukan oleh apa yang mereka pelajari lewat pengalaman makan dan kebiasaan makan yang mereka lakoni.
Umumnya anak-anak tak pernah bisa menolak karbohidrat sebagai salah satu sumber zat gizi yang memberikan rasa manis. Terutama karbohidrat sederhana, semisal gula, madu, maupun gula dalam buah. Coba saja perhatikan, anak-anak begitu mudah terbangkitkan selera makannya hanya dengan menambahkan 1-2 sendok teh gula pasir ke dalam susunya atau makanan lain. Sebaliknya, anak-anak tak menyukai rasa pahit. Bisa dimaklumi kalau mereka biasanya juga tidak menyukai sayuran karena dalam sayuran terselip rasa pahit.
Selain melalui menu keluarga, pengenalan anak prasekolah secara intensif pada rasa manis umumnya tak bisa dilepaskan dari sosialisasinya. Bukankah mereka kerap mendapat undangan ulang tahun dari teman sebaya yang dimeriahkan pula oleh buah tangan berupa goodie bag (tas bekal) berisi aneka cokelat, penganan manis, dan permen. Penyumbang lain dari tingginya selera anak terhadap makanan manis-manis apalagi kalau bukan aneka jajanan yang dijual di toko.
BAGAIMANA DENGAN MINUMAN MANIS?
Bukan cuma permen dan batang cokelat sebagai sumber gula yang harus dibatasi. Makanan dan minuman lain yang mengandung rasa manis pun sebaiknya tidak dikonsumsi secara berlebihan. Misalnya kue-kue dan biskuit yang mengandung tepung dan gula, madu, butir cokelat, cokelat oles, sari buah, susu kental manis dan sebagainya. Begitu juga minuman yang termasuk jenis sirup dan softdrink.
Meski anak tergila-gila pada jenis-jenis makanan tadi, tidak pada tempatnya bila orangtua memanjakan mereka dengan memberikan makanan yang justru berefek buruk tersebut. Kalaupun tak kuasa menolak, cukup sesekali saja. Soalnya, kendati sebagai sumber kalori, gula dan karbohidrat yang dikonsumsi berlebihan hanya akan menyebabkan gangguan kesehatan di kemudian hari.
Santi Hartono.
Narasumber:
dr. Luciana B. Sutanto, MS.SpGK,
dokter spesialis Gizi Klinik dari RS Mitra Kemayoran, Jakarta

Jika Anak MAU Tinggal DI RUMAH Nenek

sumber : tabloidnakita.com

Boleh jadi bukan semata karena fasilitas yang berlebih, tapi dia butuh kenyamanan.
Seorang teman bercerita kalau anaknya yang berumur 4 tahun tak mau diajak pulang saat diajak mudik Lebaran kemarin ke rumah neneknya. Jadi terpaksa ia dan istri pulang duluan ke Jakarta sementara si kecil tinggal dengan neneknya di Bandung. “Udah pake segala macam cara ngebujuk tapi dia enggak mau pulang juga. Memang sih di sana dia mendapat segala fasilitas yang lebih oke daripada di rumah. Jadi apa yang harus saya lakukan ya?”
Pernah mengalami kejadian yang sama seperti teman tadi? Atau setidaknya mirip, seperti saat diajak ke rumah budenya, si prasekolah susah diajak pulang karena di sana ada fasilitas kolam renang dan PS 3, umpamanya. Nah, menurut Indah Kiranawati Machsus, Psi., pada dasarnya manusia (termasuk anak-anak) cenderung mencari hal-hal yang dianggap lebih enak atau menyenangkan. Dalam konteks ini, anak lebih betah tinggal di rumah kerabatentah itu nenek/kakek, tante/omlantaran mendapatkan pemuasan kesenangan dalam bentuk beragam fasilitas yang tersedia di rumah tersebut.
ENGGAK MAU PULANG
Yang jelas, saran Indah sebaiknya hal ini tak dibiarkan berlarut-larut, hingga si anak jadi emoh pulang dan memilih menetap di rumah tersebut. Kalau sudah begini, tentu orangtua yang jadi kelabakan. Lalu apa saja yang perlu dilakukan orangtua?
* Ajak bicara dan bujuk
Langkah yang pertama dan utama adalah jalin komunikasi yang baik dengan si prasekolah. Ketahui kenapa anak merasa asyik atau senang tinggal di rumah nenek, lantas enggak mau pulang-pulang. Mungkin lantaran adanya sajian fasilitas bermain/permainan yang notabene tak ada di rumah. Kalaupun fasilitas tersebut ada, tapi sudah jelek, rusak, kurang canggih dan sebagainya.
Kemungkinan lain karena adanya fasilitas ruang atau halaman yang begitu lapang. Berbeda dengan di rumah yang serbaterbatas lahannya. Kalau kondisinya berbeda seperti itu, ajak bicara sang buah hati, agar tak keterusan minta tinggal di rumah tersebut. Contoh “Kakak senang main di rumah, Nenek? Tapi, kan, kita mesti pulang. Kakak besok, kan, sekolah? Nanti kalau libur, kita main ke rumah Nenek lagi ya.” Pokoknya bujuk sedemikian rupa sehingga anak tak malah tinggal selamanya bersama nenek.
* Ketahui akar masalahnya
Cari terus lebih dalam, apa alasan anak pengin tinggal di rumah kerabat itu. Boleh kiranya kita meminta ia menceritakan seperti apa sih suasana di sana. Mungkin saja bukan sekadar fasilitas yang komplet, baru dan canggih, akan tetapi ditambah suasana yang begitu nyaman, sikap yang hangat dan ramah dari para penghuni rumah itu sehingga menyebabkan ia lebih betah di sana. Toh, mungkin ada juga orangtua yang menyediakan segambreng fasilitas dan kemudahan, tapi anaknya tetap enggak betah. Malah dia senang main di rumah temannya yang kondisinya biasa-biasa saja. Ada juga, kan, anak yang lebih memilih tetap tinggal di rumah sederhananya, ketimbang berkunjung ke rumah kerabat yang besar, megah dan serbawah. Dia lebih merasa nyaman di rumah mungil orangtuanya.
Jadi, telusuri akar masalahnya. Selain karena faktor fasilitas yang lebih komplet, kemungkinan juga anak sebenarnya merasa bosan. Bukan semata-mata anak jadi “matre”, inginnya sesuatu yang wah atau bagus. Apalagi kalau kita menyimak tumbuh-kembang anak usia prasekolah yang umumnya masih dalam tahap eksplorasi dimana bila ia sudah tak menemukan hal menarik untuk dieksplorasi, jangan heran dia jadi merasa bosan. Selanjutnya, si anak mulai kerasan dan betah di rumah orang lain yang mungkin memiliki sesuatu yang lebih menarik untuk dieksplorasi.
SOLUSI YANG TEPAT
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan bila kita mulai melihat “gelagat” si prasekolah senang tinggal di rumah kerabat/saudara dan bahkan menolak untuk pulang. Berikut di antaranya:
* Buat kesepakatan
Meskipun masih tergolong dini, akan tetapi dia bisa, kok, diajak untuk membuat kesepakatan bersama. Tinggal bagaimana cara kita menyampaikan dengan bahasa yang dimengertinya. Misal, atur jadwal kapan anak boleh ke rumah nenek atau saudara lain yang fasilitasnya berlebih itu. Apakah tiap hari Minggu atau saat hari libur. Tentukan pula apakah sekadar berkunjung/bermain atau sekalian menginap. Kalau menginap kira-kira berapa lama, dan sebagainya. Jadi meskipun di rumah kerabat sendiri, akan tetapi anak sejak dini belajar untuk mengenal “etika” ke rumah orang lain; ada saatnya juga untuk pulang ke rumah, bukan berarti menginap maksud-nya tinggal di sana untuk selamanya.
Dalam hal ini, ajak anak untuk mengambil keputusan atas pilihannya. Jelaskan pada anak bahwa aturan yang sudah disetujui itu mesti dilakukan dengan baik. Jelaskan dengan bahasanya bahwa aturan atau kesepakatan yang dibuat itu untuk kebaikannya juga bukan berarti untuk mengekangnya.
* Ciptakan suasana nyaman
Meskipun ketersediaan fasilitas yang ada di rumah kurang lengkap, canggih atau sudah “jadul”, kita bisa kok membuat anak betah dengan fasilitas yang ada. Kuncinya adalah menciptakan suasana yang nyaman, hangat, ramah buat anak. Coba bayangkan bagaimana reaksi anak, misalnya kalau kita sebagai orangtua ternyata sering marah-marah, padahal fasilitas di rumah begitu komplet.
Selanjutnya Anda perlu melibatkan diri dengan aktivitas bermain anak. Mungkin selama ini dia enggak betah di rumah, dan doyan di rumah kerabat karena kegiatan bermainnya sungguh menarik. Boleh dicoba dengan melakukan berbagai permainan interaktif bersama anak. Jangan takut kegiatan yang “konvensional” membuat anak lebih betah di rumah orang lain, misalnya, bermain game di komputer. Paling tidak, kalau kita tak bisa memberikan fasilitas yang berlebih, cukup berikan fasilitas yang menunjang hobi si anak tentunya. Misalnya, kalau anak senang bermain game, enggak harus PS, bukan? Bisa melalui game komputer tinggal dipilihkan jenis game-nya mau seperti apa. Kalau perlu, ajak teman-temannya untuk bermain di rumah. Siapa tahu, dengan banyak melakukan aktivitas bersama, anak jadi lebih betah tinggal di rumah. Yang diharapkan, dia tak lagi pengin tinggal di rumah kerabat.
Hilman Hilmansyah.

Aturan “MENYEKOLAHKAN” Si Batita

sumber : tabloidnakita.com

Sesuaikan jam sekolah dengan waktu bangun si kecil.
Selain sudah mampu berjalan dan terampil menggunakan kedua tangannya, kemampuan berpikir anak usia batita umumnya makin berkembang baik. Ia sudah dapat mengatasi masalah-masalah yang sederhana dan perkembangan berbahasanya mulai kompleks. Ketika ia mulai mengeksplorasi seisi rumah, biasanya terpikirlah untuk “menyekolahkannya”.
Sekolah memang belum diperlukan mutlak di usia ini. Namun, sekolah bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan sosial anak jika di lingkungan rumah ia tidak memiliki teman sebaya. Dengan “bersekolah”, anak berada dalam situasi dimana dia bisa bersosialisasi, belajar, dan mengembangkan kognitifnya. Selain jadi lebih mudah bergaul, diharapkan anak lebih percaya diri dan diasah kemampuannya untuk menyelesaikan masalah.
Intinya, Kelompok Bermain (KB) memiliki fungsi untuk merangsang, memfasilitasi serta mengembangkan kemampuan anak, baik fisik, intelektual, sosial emosional, sesuai kebutuhan anak pada masa perkembangannya. Memang, beberapa pakar berpendapat, usia yang tepat untuk masuk kelompok bermain adalah 3 tahun. Pasalnya, di usia ini anak mulai bisa melepaskan diri dari ketergantungannya terhadap orangtua. Anak usia ini pun mulai kenal dengan orang-orang di luar lingkungannya. Meski begitu, tak selalu anak usia 3 tahun sudah siap sekolah. Bahkan, ada pula anak usia di bawah 3 tahun yang sudah siap sekolah. Maka yang paling penting diketahui adalah bagaimana kesiapan anak untuk memasuki sekolah.
BERMINAT ATAU TIDAK
Jadi, keputusan untuk memasukkan si kecil ke kelompok bermain, tak perlu tergesa-gesa. Bisa jadi, keinginan anak untuk sekolah lantaran melihat kakak-nya yang bersekolah. Alhasil, dia “ikut-ikutan” ingin sekolah. Tak ada salahnya kita terlebih dahulu melihat apakah si kecil sekadar meniru kakaknya atau memang benar-benar ingin bersekolah. Misalnya, bila keinginannya bersekolah diungkapkan hanya sesekali saja, terutama ketika melihat kakaknya berseragam sekolah, mungkin dia tak serius ingin sekolah. Akan tetapi kalau keinginannya itu berulangkali diungkapkan, mungkin anak memang benar-benar sudah ingin bersekolah.
Nah, untuk memastikannya, sesekali ajaklah si batita bermain ke sekolah. Biarkan dia merasakan bersekolah itu seperti apa. Ajak dia ikut kakaknya ke sekolah atau ketika ada perayaan sekolah. Kunjungan “percobaan” ini bisa dilakukan paling tidak 1-2 minggu. Atau ikutkan dia dalam kelas percobaan jika pihak sekolah memiliki program demikian untuk mengetahui apakah anak memang benar-benar berminat sekolah atau tidak. Biar dia bisa mengenal pula lebih dekat mengenai sekolah, tentang permainan yang ada di sana dan sebagainya sehingga ia terbiasa dengan lingkungan sekolah. Jangan lupa, beri gambaran pada anak siapa saja yang akan ditemuinya di sekolah, entah itu guru atau teman-teman bermainnya. Yang jelas, bukan karena paksaan orangtua, ya. Tetap harus ada minat dari si batita sendiri untuk sekolah.
BEBERAPA ATURAN
Nah, ketika anak benar-benar siap untuk sekolah, tentu orangtua perlu menerapkan bermacam “aturan” agar proses bersekolah bisa berjalan baik, di antaranya:
* Kebutuhan gizi
Agar si batita benar-benar siap sekolah, berikan makanan dengan gizi yang baik agar taraf kemampuan perkembangan fisiknya optimal. Gizi yang tidak baik hanya akan membuat fisik anak lemah dan menghambat aktivitasnya.
* Kebutuhan basic trust
Anak batita masih mengembangkan basic trust (kepercayaan dasar) sebagai bekal untuk mengeksplorasi lingkungannya yang makin luas. Tugas orangtualah untuk mengembangkan basic trust agar dia yakin bahwa lingkungannya bisa ia percaya, sehingga ia pun berani bereksplorasi di lingkungannya yang baru. Biasanya masalah muncul saat pengalaman pertamanya di sekolah yaitu anak masih ingin ditemani orangtua. Kalau memungkinkan, minta izin pada pihak sekolah supaya bisa menemani anak dalam beberapa waktu sekadar untuk proses adaptasi. Selanjutnya, berikan kesempatan kepada anak untuk menyesuaikan diri. Umumnya, kalau dia sudah menemukan keasyikan tersendiri, anak tak lagi cemas berpisah dengan orangtuanya. Lepaskan anak secara bertahap sambil menenangkannya. Ucapkan kata-kata yang membuatnya nyaman. “Bu Gurunya baik sekali, kamu tidak perlu takut, ya!” misalnya. Jika anak sudah merasa nyaman, sudah waktunya meninggalkan anak bersama teman-temannya. Di hari-hari berikutnya, anak sudah tak perlu lagi ditemani orangtua.
* Sesuaikan ritme
Ada sekolah yang memberlakukan jam belajar pagi hari, tapi tak sedikit pula yang menjelang siang. Sebaiknya, sesuaikan jam belajar dengan ritme anak sehari-hari. Ada anak yang terbiasa bangun pagi tapi ada pula yang tidak. Boleh jadi lo, karena terbiasa bangun siang, dia jadi ogah-ogahan masuk “sekolah”.
Perhatikan juga karena ada jam-jam tertentu dimana stamina anak turun atau justru meningkat. Waktu beraktivitas yang tepat membuat si kecil siap menerima semua stimulasi dan aktivitas yang diberikan. Pemilihan jam sekolah yang kurang tepat dengan ritme anak hanya akan membuat proses belajar tak maksimal. Contoh, saat teman-temannya asyik bermain, ia mengantuk karena kelelahan. Bahkan, mungkin juga anak jadi mudah rewel dan gampang marah. Terlebih di usia ini, anak masih sulit mengendalikan emosinya. Alhasil, si batita malah minta pulang.
* Jangan dipaksa
Sekolah tetap berbeda dengan rumah. Jadi walau namanya taman bermain, tetap saja merupakan sebuah lembaga kecil yang menerapkan peraturan. Meski begitu, kalau anak enggan sekolahkarena capek, kesiangan dan sebagainyatak perlu dipaksakan bersekolah. Kalau dipaksa, bisa-bisa ia malah stres. Ingat, perkembangan emosinya masih berubah-ubah, begitu juga keinginannya. Kalaupun di hari itu ia “bolos”, lakukan kegiatan-kegiatan yang tetap mengasah kemampuannya di rumah.
Perlu diketahui, lingkup sosial batita masih terbatas pada keluarga. Memang ia mulai bisa bergaul dengan teman sebaya, tapi masih belum bisa bermain bersama dalam waktu lama dan bekerja sama. Anak usia ini juga rentan terhadap perubahan. Bila dipaksakan, dia bisa mogok mengikuti sekolah. Dia juga belum siap untuk berada dalam suatu situasi baru. Terlebih lagi situasi baru tersebut memiliki aturan-aturan lebih kaku daripada di rumah, yang bagi anak-anak tertentu belum waktunya untuk mengikuti aturan-aturan tersebut.
MEMILIH SEKOLAH
Institusi sekolah makin menjamur, karenanya kita perlu menyeleksi sekolah yang pas untuk si batita:
* Program atau materi
Ketahui program atau materi yang diajarkan di sekolah, apakah sesuai dengan perkembangan anak batita atau tidak. Lakukan observasi untuk menilai program sekolah itu. Misal, sekolah tersebut tidak mengajak anak untuk menghafal secara textbook, tidak harus bisa membaca, dan sebagainya. Jangan sampai program-programnya malah membuat anak “memusuhi” sekolah. Program yang terlalu formal di playgroup contoh, jam pelajaran yang ketat atau ada PRberpeluang membuat si batita kehilangan masa-masa bermainnya.
Yang pasti, kelompok bermain menerapkan konsep bermain sambil belajar. Jadi lebih kepada menstimulasi kelima indra batita, yaitu penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan pengecapan. Perhatikan juga lamanya waktu belajar, yaitu kurang lebih 1,5-2 jam. Jika terlalu lama akan membuat anak bosan dan lelah.
* Tim pengajar
Ketahui mutu tenaga pembimbing serta pengajar di kelompok bermain tersebut. Gurunya harus benar-benar mengerti tumbuh-kembang batita. Ketahui apakah gurunya interaktif, ramah, mampu memberikan stimulasi dan dapat memberikan pendidikan emosi dan sosialisasi dengan baik. Guru juga harus kreatif dan kompeten melakukan aktivitas seperti mendongeng, menyanyi, beraktivitas fisik dan memvariasikannya agar anak tidak bosan. Guru juga harus bersahabat dengan anak. Intinya, guru harus memiliki sifat dan karakter yang menunjang kesuksesan proses belajar dan bermain.
Ketahui juga proporsi jumlah guru dan murid. Semakin sedikit perbandingan jumlah murid dan guru, semakin baik. Guru, kan, jadi bisa lebih mudah mengawasi dan mendidik muridnya. Jumlah 5-6 anak dalam kelas dengan satu guru sangatlah ideal. Anak batita membutuhkan perhatian besar. Pola belajar dan bermain pun bisa dengan mudah dilakukan. Anak yang pemalu, misalnya, membutuhkan pendekatan berbeda dari anak agresif yang pemberani. Begitu juga saat mengajak mereka bermain.
* Fasilitas
Fasilitas bermain merupakan hal vital. Perhatikan apakah sekolah itu memiliki fasilitas umpamanya taman bermain yang nyaman, ruang belajar yang kondusif, peralatan belajar yang lengkap serta berbagai fasilitas lain yang dapat mendukung perkembangan anak. Begitu juga fasilitas pendukung semisal toilet yang bersih dan sebagainya.
* Lokasi
Perhatikan pula lokasinya, jangan terlalu jauh dari rumah karena akan membuat anak capek ketika sampai di sekolah. Belum lagi ia harus bangun lebih pagi, menempuh perjalanan melalui kemacetan, misalnya. Itu bisa membuat anak tertekan dan menurunkan gairah bermainnya di sekolah. Maka lebih baik pilih yang dekat rumah. Jangan lupa, pilih lokasi yang aman, nyaman, dan jauh dari kebisingan, misalnya pasar, stasiun kereta api, terminal bus, atau jalan raya.

Konsultan ahli:
Fitriani F. Syahrul, Psi., M.Si.,
dari Lentera Insan, Depok

Jika Anak Mau Sama Ayahnya saja

sumber : tabloidnakita.com

Mengapa anak terlihat pilih kasih pada orangtua? Berikut penjelasan Roslina Verauli, M.Psi., dari Lembaga Psikologi Empati Development Centre, Jakarta, sebagaimana yang dipaparkannya kepada Irfan Hasuki, reporter nakita.
Ada KESAMAAN MINAT
Tentunya bukan tanpa sebab bila si kecil lebih dekat dengan ayah saja atau ibu saja. Salah satunya adalah faktor minat yang sama. Anak perempuan umumnya akan berminat dengan kegiatan keperempuanan. Misal, dia sangat tertarik dengan ibu yang sering merias wajahnya di depan cermin, memasak, membuat kue, dan sebagainya. Persamaan minat ini membuat anak ingin mengidentifikasi perilaku ibunya sehingga apa yang dilakukan sang ibu akan ditiru anak. Hal ini membuat anak perempuan umumnya lebih dekat dengan ibu.
Hal yang sama pun bisa terjadi pada anak laki-laki terhadap ayahnya. Dia senang dengan aktivitas kelelakian seperti membengkel, olahraga, bermain mobil-mobilan, dan lainnya. Nah, adanya kesamaan minat ini membuat anak merasa lebih dekat pada ayah. Apalagi banyak masyarakat yang masih mengotak-kotakkan minat berdasarkan jenis kelamin, bahwa laki-laki harus meniru ayah dan perempuan meniru ibu.
Tentu, bisa saja terjadi kalau anak laki-laki lebih berminat dengan kegiatan ibu sedangkan anak perempuan lebih berminat pada kegiatan ayahnya. Hal ini sah-sah saja. Yang jelas, selain adanya kesamaan minat, kedekatan anak dengan salah satu orangtuanya juga bisa disebabkan perhatian dan perlakuan si ayah/ibu kepada si anak.
Contoh, ibu begitu perhatian; apa yang anak butuhkan, ibu selalu bisa memenuhinya. Menemaninya tidur, memandikan, menyuapi makan, memakaikan baju, dan sebagainya. Kepenuhperhatian inilah yang membuat anak lebih dekat ibunya dibandingkan ayahnya yang mungkin hanya sesekali memberikan perhatian. Apalagi bila sang ayah sering bersikap kasar, tidak peduli dengan kebutuhan anak, bersikap dingin, dan sebagainya, maka anak dengan ibu akan semakin lekat. Umumnya anak akan menjauh dari ayahnya. Bila ayah berada di rumah, anak merasa tak nyaman karena takut kena marah: Hal sebaliknya juga bisa saja terjadi, anak akan lebih dekat pada ayah yang penuh perhatian dibandingkan ibu.
WAKTU BERSAMA
Banyaknya waktu yang dihabiskan orangtua bersama anak juga bisa membuat anak lebih dekat pada salah satu orangtua. Jika ayah sibuk di kantor sehingga waktu bersama anak menjadi sangat jarang, sedangkan ibu selalu menemani anak di rumah, maka anak akan lebih dekat dengan ibu. Hal ini akan semakin menguat bila sang ayah tak berusaha untuk dekat dengan anaknya, tidak mengajak bermain, menyerahkan semua urusan anak ke istri, dan sebagainya. Begitu pula sebaliknya, bila ibu yang sibuk bekerja dan ayah yang lebih banyak di rumah bersama anak, bisa saja anak akan lebih dekat pada ayah. Bukankah saat bersama, banyak hal yang dilakukan ayah? Seperti, mengantar-jemput ke sekolah, bermain bersama, mengajarkan pelajaran TK, dan sebagainya.
Hal yang sama juga akan terjadi bila anak hanya tinggal berdua saja dengan salah satu orangtua, sementara orangtua yang satunya tinggal di kota lain atau sering tugas di luar kota/negeri. Kedekatan ini wajar terjadi karena sehari-hari anak selalu menghabiskan waktunya hanya dengan ibu atau ayahnya saja. Dengan tinggal berdua seperti ini, tak ada orang lain yang menjadi figur terdekat kecuali si ibu atau si ayah. Ketika ia butuh pertolongan, semisal sakit, terjatuh, atau takut terhadap binatang yang menjijikkan hanya ada ibu/ayah seorang yang ada di dekatnya. Tak heran bila kedekatan pun semakin erat terjadi.
FIGUR IDOLA
Ada anak yang sangat mengidolakan ayah atau ibunya. Anak merasakan kalau ayah adalah figur yang sangat mengagumkan dalam hidupnya. Dia sering mengamati ayahnya yang rajin pergi bekerja setiap pagi, pandai bermain gitar, pintar bermain komputer, terampil menyetir mobil, selalu ada untuk melindunginya, dan sebagainya. Muncullah imej dalam diri anak mengenai ayahnya yang pintar, gagah perkasa, pelindung, penolong, dan sebagainya. Sedangkan sang ibu selalu cerewet, melarang ia melakukan sesuatu, memarahinya, dan sebagainya. Pengidolaan ini akan semakin kuat sehingga dia pun merasa lebih dekat pada ayah.
Hal sebaliknya juga bisa terjadi. Dia melihat sang ibu bersikap lemah lembut, selalu cantik berpakaian, pandai menyajikan masakan lezat kesukaannya, sehingga anak sangat mengidolakannya. Tak mustahil bila, anak ingin dekat ibunya.
KERUGIAN BILA JAUH dengan SALAH SATU ORANGTUA
Kedekatan anak dengan ibu sebenarnya tak terlalu masalah bila tidak sampai mengganggu hubungannya dengan sang ayah. Begitu juga sebaliknya. Sebab, meskipun lebih dekat ke salah satu orangtua, anak masih bisa berhubungan baik dengan kedua orangtuanya. Menjadi tidak wajar bila hubungan oragtua-anak. Biasanya, terputusnya hubungan ini disebabkan oleh sikap kedua orangtua yang sangat kontradiktif. Ibu begitu perhatian, sementara ayah sangat cuek dan pemarah. Atau sebaliknya. Bila hubungan itu terus rusak, maka anak akan mengalami banyak kerugian, antara lain:
Kehilangan Figur Penting
Setiap orangtua, ayah maupun ibu, memiliki karakter berbeda. Umumnya, ayah bersifat kebapakan, gagah, tegas, sementara ibu bersifat keibuan, lembut, tutur katanya halus, penuh perhatian, dan sebagainya. Bila anak sampai jauh dari salah satu orangtuanya, maka dia akan kehilangan figur dari karakter yang ditunjukkan salah satu orangtuanya. Bila jauh dari ayah, maka anak tak bisa belajar dari sosok ayah yang gagah, tegas, dan sebagainya. Kehilangan figur tersebut, bisa membuatnya kehilangan arah bagaimana seharusnya ia bersikap.
Benci Gender
Hanya dekat dengan salah satu orangtuanya sementara dengan orangtua yang lain jauh, bisa saja memunculkan rasa benci. Terutama bila orangtua yang jauh dengannya punya sikap yang tidak terpuji, sering marah-marah, melakukan kekerasan fisik, pelit, dan sebagainya. Bila yang melakukan hal tersebut adalah sang ayah, bisa saja menyamaratakan kalau laki-laki suka berbuat kasar sehingga dia pun akan membenci sosok laki-laki. Begitu pula sebaliknya. Padahal, tidak semua orang sama tetapi anak tidak tahu akan hal itu.
Kehilangan Keharmonisan
Selayaknya anak hidup di lingkungan keluarga yang harmonis. Dia punya hubungan yang dekat dengan kedua orangtuanya sehingga pertumbuhannya jadi optimal di lingkungan yang kondusif. Bila dia hanya dekat ke ibu sementara jauh dari ayah atau sebaliknya, maka anak akan kehilangan keharmonisan di dalam keluarga. Hal ini tentu sangat tidak baik untuk pertumbuhan mentalnya karena dia tak bisa bermanja, bermain, berkumpul bersama ayah/ibunya. Secara mental, anak yang tumbuh di keluarga yang tak harmonis biasanya akan menjadi anak yang kurang percaya diri, kurang berinisiatif, atau bahkan menjadi anak yang sulit dikontrol. Intinya, kemampuan mentalnya bisa lebih rendah dibandingkan anak yang tumbuh di keluarga harmonis.
Sering Tak Nyaman
Saat berdua saja dengan ibu yang dekat dengannya, anak akan merasa sangat nyaman. Tetapi bila ayah yang bertemperamen keras sudah pulang dari kantor, muncullah perasaan tak nyaman pada anak. Anak takut kalau ia akan dimarahi, dikasari, disuruh yang aneh-aneh, dan sebagainya. Ketidaknyamanan ini akan berpengaruh terhadap perkembangan psikisnya, dia akan sering merasa ketakutan meskipun berada di rumahnya sendiri. Imbasnya, bisa saja kelak anak tumbuh menjadi orang yang selalu was-was dan tak percaya diri.
Agar ANAK DEKAT Dengan KEDUA ORANGTUA
Nah, agar anak tidak hanya dekat dengan ayah/ibunya saja, inilah beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan:
Luangkan Waktu Sebentar
Bila kita sudah bekerja seharian, secapek apa pun, kita harus meluangkan sedikit waktu untuk berinteraksi dengan anak. Entah bermain, makan bersama, atau melakukan aktivitas lainnya.
Ngobrol Ringan
Jangan hanya diam saja saat bersama anak tetapi kita harus menciptakan obrolan ringan, dengan menanyakan apa kesenangannya dan yang sudah dia lakukan seharian. Pertanyaan kita membuat anak merasa diperhatikan sehingga dia akan menuturkan apa yang dialaminya sepanjang hari tadi. Dengarkan apa yang dituturkan dan tanyakan hal-hal yang menarik. Dengan begitu kedekatan kita dan anak akan terjaga dengan baik.
Waktu Libur
Banyak orangtua yang libur bekerja saat weekend. Saat ber-weekend banyak hal menarik yang bisa kita lakukan, bermain pasir bersama di pantai, menikmati perjalanan bersama, berfoto bersama, dan sebagainya. Hal-hal inilah yang akan mendekatkan kita dengan anak setelah 5 hari sibuk di kantor.
Hadiah Spesial
Boleh saja sesekali kita memberikan hadiah kepada anak. Misal, membelikan cokelat kesukaannya, menghadiahinya pasel, memberinya poster, dan sebagainya. Kita bisa melakukannya seminggu sekali atau sebulan sekali. Pilihlah hadiah-hadiah yang memang diinginkannya/disukainya sehingga anak antusias menerimanya terutama saat ia merayakan ulang tahun. Dengan pemberian hadiah ini, anak akan merasa bahwa kita begitu perhatian padanya. Tentu, jangan sampai pemberian hadiah ini membuat anak manja; selalu menagih setiap kita pulang kantor. Untuk itu, sangat baik bila kita memberikan penjelasan saat memberikannya.