Menumbuhkan Rasa Peduli Pada Anak


sumber : tabloidnakita.com

”Adik bosan ya, diam aja di kereta dorong?” “Hwa…hwa…hwa…,” si adik kecil menjawab dengan tangis. “Kakak dorongin ya, keretanya. Satu…dua…tiga…asyiiiik!” hibur si kakak yang baru duduk di TK.
Adegan yang manis, bukan? Masih kecil tapi kepeduliannya pada saudara begitu besar. Tidak hanya adik, “Aku juga sayang kakak, sayang bunda, sayang ayah, dan sayang mbak,” ujarnya. Kadang-kadang ia juga menyebut nama satu-dua teman akrabnya kalau ditanya sayang siapa saja.

Rasa sayang mulai tumbuh ketika usianya masih batita. Lantas, berkembanglah rasa sayang itu menjadi rasa peduli meski belum mantap benar. Sifat baik ini terbangun bersamaan dengan pendidikan emosi, moral, etika, tata krama, serta aturan-aturan dari orangtuanya.

Sederhana saja apa yang dilakukan mereka, yaitu memberi contoh yang baik bagaimana merespons lingkungan secara tepat. Ayahnya selalu bahu-membahu dengan sang ibu dalam merawat dirinya. Kalau si Mbak sakit, ayah dan ibu memberinya hari cuti sambil memberi tahu, bahwa orang sakit perlu istirahat. Ayah dan ibunya juga berbesar hati, tidak ikut marah, jika adik membuatnya sebal. Contoh demi contoh yang direkamnya ini, membuat anak tahu cara berinteraksi dan menempatkan diri. Ia tumbuh dengan kecerdasan intra/interpersonal yang baik. Sungguh luar biasa, bukan? He ain’t heavy, he’s my brother, begitu senandung lagu lama yang mengisahkan tulusnya sebuah persaudaraan.

Sikap peduli pada orang lain awalnya tumbuh dari sikap peduli pada diri sendiri. Selanjutnya kepedulian ini meluas kepada orang lain di sekitarnya. Ingin anak-anak Anda punya kepedulian yang tinggi? Inilah cara membentuknya.

* PEDULI PADA DIRI SENDIRI

Peduli pada diri sendiri bukan berarti bersikap egois, melainkan anak diajarkan pe-duli pada kebutuhan dirinya sendiri. Contoh, anak diajarkan menjaga kebersihan tubuhnya dengan cara mandi, menyikat gigi, berpakaian, makan tiga kali sehari, dan seterusnya. Ini adalah wujud kepedulian orangtua terhadap anak sehingga ia merasa dipedulikan dan akhirnya ikut peduli pada dirinya sendiri dan orang lain.

Sewaktu-waktu, mungkin saja si anak mengingatkan adik atau kakaknya untuk tak lupa menjaga kebersihan. ”Kok, mau tidur enggak sikat gigi? Nanti giginya cepat rusak, lo.” Kepedulian anak akan terlihat dalam interaksinya dengan orang lain. Dengan peduli pada diri sendiri, anak jadi belajar bertanggung jawab pada diri sendiri. Termasuk mengetahui mana sentuhan yang baik dan tidak baik agar anak tidak mengalami pelecehan seksual.

* PEDULI PADA KAKAK/ADIK

Untuk menanamkan rasa peduli anak pada kakak atau adik, ada beberapa hal yang harus orangtua ajarkan, yaitu:

* Mengekspresikan rasa kasih sayang.
Mintalah anak untuk mencium adik dalam gendongan, mencium ayah dan ibu sebelum berangkat sekolah atausebelum tidur, dan memeluk kakak yang hendak berangkat sekolah. Libatkan si prasekolah dalam kegiatan mengurus adik, memintanya menemani sang adik bermain, memberi tahu ayah atau ibu jika adik menangis, tidak merepotkan ayah dan ibu jika kakak atau adik sedang sakit, dan sebagainya.

* Selalu berbagi.
Ingatkan pula pada si prasekolah untuk selalu berbagi. Kalau punya makanan dan adik atau kakaknya minta sedikit, minta si prasekolah untuk membaginya. Mainan pun begitu, minta dia bergiliran memainkannya dengan sang adik atau kakak.

* Biasakan berkata dan bersikap yang baik.
Gunakan selalu kata-kata “sakti”, maaf, tolong, dan terima kasih. Sebelum si kecil dapat menggunakannya dengan tepat, orangtualah yang harus lebih dulu mencotohkan dalam keseharian. Kata-kata tersebut merupakan salah satu bentuk ekspresi saling menghargai dan menghormati. Kepedulian anak pada adik maupun kakak, membuatnya belajar bagaimana bersikap menyayangi, menghargai, dan menghormati orang lain. Tentu saja, anak pun belajar membangun rasa empati. Pasti kebahagiaan akan meliputi dirinya, sebab sikap baik terhadap adik/kakak membuahkan respons yang menyenangkan dari mereka. Demikian pula sebaliknya.

* PEDULI PADA ORANGTUA
Sikap anak pada orangtua boleh jadi merupakan pantulan sikap orang tua terhadap anak. Semakin peduli sikap kita, maka anak pun tumbuh dengan kepedulian yang dicurahkan kembali kepada ayah-ibunya. Mulailah dengan ekspresi sayang berupa pelukan, elusan, perkataan yang lemah lembut, perhatian yang tulus, dan kesediaan untuk selalu membantu anak menjadi mandiri. Ada yang bilang, peluklah anakmu 8 kali sehari. Nasihat ini mungkin terdengar lucu, tapi maknanya sangatlah dalam. Siapa yang tidak terharu kalau si kecil tahu-tahu bertanya, ”Bunda, sakit ya? Kok diam aja?” Atau pakaian santai sang ayah di hari kerja dikomentari, ”Ayah enggak kerja ya hari ini?” Anak yang peduli pada orangtua akan menunjukkan sikap menghargai, menghormati dan menyayangi ayah-ibu, serta memiliki pribadi yang hangat karena ia merasa selalu diterima dalam keluarga. Selain itu, anak pun akan membangun kedekatan dan komunikasi yang lebih baik dengan orangtuanya di masa depan.

* PEDULI PADA TEMAN
Bentuk kepedulian terhadap saudara sebagian dapat diterapkan untuk mengajarkan kepedulian terhadap teman. Yang terpenting mengingat masih kentalnya sifat egosentris di usia prasekolah adalah kesediaan untuk berbagi, bergantian, dan menunggu giliran. Kepedulian juga meliputi tata krama dalam meminjam dan mengembalikan barang yang dipinjam. Termasuk pula bagaimana menjaga perasaan teman dengan cara bertutur kata sopan, tidak membentak, tidak mengejek, dan tidak memukul. Pengertian dapat diberikan dengan mencontohkan, bagaimana kalau dirinya yang dikasari. Biar anak yang menilai sendiri. Kepedulian terhadap teman semakin subur jika orangtua juga menunjukkan hal yang sama. Tanyakan apa yang disukai teman baiknya agar anak ikut peduli. Pancinglah si prasekolah untuk bercerita bagaimana tingkah laku temanteman di sekolahnya, hal ini juga menunjukkan kepedulian. Sisipkan nilai-nilai kebaikan dengan meminta pendapatnya. Contoh, “Bagaimana kalau ada temanmu di kelas yang menangis terus, apakah ibu guru capek?” Meski apa yang orangtua jelaskan belum tentu 100% dijalankan oleh anak, manfaatnya akan selalu ada. Anak yang diajarkan peduli terhadap teman akan belajar bagaimana bersikap yang baik dalam berteman, menyayangi teman, serta menghargai adanya hak-hak orang lain.

* PEDULI PADA SESAMA
Sikap peduli yang terbentuk di lingkungan rumah, memudahkan anak untuk menaruh peduli pada lingkungan sosial yang lebih luas. Namun, anak tetap perlu contoh bahwa kedua orangtuanya peduli pada orang lain, bahkan orang yang tidak mereka kenal. Contoh kecilnya, menyisihkan uang ke kotak amal, atau menerima/menolak dengan sopan para peminta sedekah yang mampir ke rumah. Libatkan anak dengan mengajaknya mengumpulkan pakaian bekas guna disumbangkan kepada anak pembantu di rumah, korban bencana, atau panti asuhan. Jelaskan betapa senangnya jika baju-baju bekas itu diterima orang yang membutuhkan. Anak yang punya rasa peduli pada sesama akan menunjukkan pribadi yang hangat, murah hati, mudah berempati, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi pada lingkungan sekitarnya.

Dedeh Kurniasih.

Narasumber:
Dra. Tiwin Herman, M.Psi.,
Direktur Utama Biro Psiko Utama, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s