Menumbuhkan Rasa Peduli Pada Anak

sumber : tabloidnakita.com

”Adik bosan ya, diam aja di kereta dorong?” “Hwa…hwa…hwa…,” si adik kecil menjawab dengan tangis. “Kakak dorongin ya, keretanya. Satu…dua…tiga…asyiiiik!” hibur si kakak yang baru duduk di TK.
Adegan yang manis, bukan? Masih kecil tapi kepeduliannya pada saudara begitu besar. Tidak hanya adik, “Aku juga sayang kakak, sayang bunda, sayang ayah, dan sayang mbak,” ujarnya. Kadang-kadang ia juga menyebut nama satu-dua teman akrabnya kalau ditanya sayang siapa saja.

Rasa sayang mulai tumbuh ketika usianya masih batita. Lantas, berkembanglah rasa sayang itu menjadi rasa peduli meski belum mantap benar. Sifat baik ini terbangun bersamaan dengan pendidikan emosi, moral, etika, tata krama, serta aturan-aturan dari orangtuanya.

Sederhana saja apa yang dilakukan mereka, yaitu memberi contoh yang baik bagaimana merespons lingkungan secara tepat. Ayahnya selalu bahu-membahu dengan sang ibu dalam merawat dirinya. Kalau si Mbak sakit, ayah dan ibu memberinya hari cuti sambil memberi tahu, bahwa orang sakit perlu istirahat. Ayah dan ibunya juga berbesar hati, tidak ikut marah, jika adik membuatnya sebal. Contoh demi contoh yang direkamnya ini, membuat anak tahu cara berinteraksi dan menempatkan diri. Ia tumbuh dengan kecerdasan intra/interpersonal yang baik. Sungguh luar biasa, bukan? He ain’t heavy, he’s my brother, begitu senandung lagu lama yang mengisahkan tulusnya sebuah persaudaraan.

Sikap peduli pada orang lain awalnya tumbuh dari sikap peduli pada diri sendiri. Selanjutnya kepedulian ini meluas kepada orang lain di sekitarnya. Ingin anak-anak Anda punya kepedulian yang tinggi? Inilah cara membentuknya.

* PEDULI PADA DIRI SENDIRI

Peduli pada diri sendiri bukan berarti bersikap egois, melainkan anak diajarkan pe-duli pada kebutuhan dirinya sendiri. Contoh, anak diajarkan menjaga kebersihan tubuhnya dengan cara mandi, menyikat gigi, berpakaian, makan tiga kali sehari, dan seterusnya. Ini adalah wujud kepedulian orangtua terhadap anak sehingga ia merasa dipedulikan dan akhirnya ikut peduli pada dirinya sendiri dan orang lain.

Sewaktu-waktu, mungkin saja si anak mengingatkan adik atau kakaknya untuk tak lupa menjaga kebersihan. ”Kok, mau tidur enggak sikat gigi? Nanti giginya cepat rusak, lo.” Kepedulian anak akan terlihat dalam interaksinya dengan orang lain. Dengan peduli pada diri sendiri, anak jadi belajar bertanggung jawab pada diri sendiri. Termasuk mengetahui mana sentuhan yang baik dan tidak baik agar anak tidak mengalami pelecehan seksual.

* PEDULI PADA KAKAK/ADIK

Untuk menanamkan rasa peduli anak pada kakak atau adik, ada beberapa hal yang harus orangtua ajarkan, yaitu:

* Mengekspresikan rasa kasih sayang.
Mintalah anak untuk mencium adik dalam gendongan, mencium ayah dan ibu sebelum berangkat sekolah atausebelum tidur, dan memeluk kakak yang hendak berangkat sekolah. Libatkan si prasekolah dalam kegiatan mengurus adik, memintanya menemani sang adik bermain, memberi tahu ayah atau ibu jika adik menangis, tidak merepotkan ayah dan ibu jika kakak atau adik sedang sakit, dan sebagainya.

* Selalu berbagi.
Ingatkan pula pada si prasekolah untuk selalu berbagi. Kalau punya makanan dan adik atau kakaknya minta sedikit, minta si prasekolah untuk membaginya. Mainan pun begitu, minta dia bergiliran memainkannya dengan sang adik atau kakak.

* Biasakan berkata dan bersikap yang baik.
Gunakan selalu kata-kata “sakti”, maaf, tolong, dan terima kasih. Sebelum si kecil dapat menggunakannya dengan tepat, orangtualah yang harus lebih dulu mencotohkan dalam keseharian. Kata-kata tersebut merupakan salah satu bentuk ekspresi saling menghargai dan menghormati. Kepedulian anak pada adik maupun kakak, membuatnya belajar bagaimana bersikap menyayangi, menghargai, dan menghormati orang lain. Tentu saja, anak pun belajar membangun rasa empati. Pasti kebahagiaan akan meliputi dirinya, sebab sikap baik terhadap adik/kakak membuahkan respons yang menyenangkan dari mereka. Demikian pula sebaliknya.

* PEDULI PADA ORANGTUA
Sikap anak pada orangtua boleh jadi merupakan pantulan sikap orang tua terhadap anak. Semakin peduli sikap kita, maka anak pun tumbuh dengan kepedulian yang dicurahkan kembali kepada ayah-ibunya. Mulailah dengan ekspresi sayang berupa pelukan, elusan, perkataan yang lemah lembut, perhatian yang tulus, dan kesediaan untuk selalu membantu anak menjadi mandiri. Ada yang bilang, peluklah anakmu 8 kali sehari. Nasihat ini mungkin terdengar lucu, tapi maknanya sangatlah dalam. Siapa yang tidak terharu kalau si kecil tahu-tahu bertanya, ”Bunda, sakit ya? Kok diam aja?” Atau pakaian santai sang ayah di hari kerja dikomentari, ”Ayah enggak kerja ya hari ini?” Anak yang peduli pada orangtua akan menunjukkan sikap menghargai, menghormati dan menyayangi ayah-ibu, serta memiliki pribadi yang hangat karena ia merasa selalu diterima dalam keluarga. Selain itu, anak pun akan membangun kedekatan dan komunikasi yang lebih baik dengan orangtuanya di masa depan.

* PEDULI PADA TEMAN
Bentuk kepedulian terhadap saudara sebagian dapat diterapkan untuk mengajarkan kepedulian terhadap teman. Yang terpenting mengingat masih kentalnya sifat egosentris di usia prasekolah adalah kesediaan untuk berbagi, bergantian, dan menunggu giliran. Kepedulian juga meliputi tata krama dalam meminjam dan mengembalikan barang yang dipinjam. Termasuk pula bagaimana menjaga perasaan teman dengan cara bertutur kata sopan, tidak membentak, tidak mengejek, dan tidak memukul. Pengertian dapat diberikan dengan mencontohkan, bagaimana kalau dirinya yang dikasari. Biar anak yang menilai sendiri. Kepedulian terhadap teman semakin subur jika orangtua juga menunjukkan hal yang sama. Tanyakan apa yang disukai teman baiknya agar anak ikut peduli. Pancinglah si prasekolah untuk bercerita bagaimana tingkah laku temanteman di sekolahnya, hal ini juga menunjukkan kepedulian. Sisipkan nilai-nilai kebaikan dengan meminta pendapatnya. Contoh, “Bagaimana kalau ada temanmu di kelas yang menangis terus, apakah ibu guru capek?” Meski apa yang orangtua jelaskan belum tentu 100% dijalankan oleh anak, manfaatnya akan selalu ada. Anak yang diajarkan peduli terhadap teman akan belajar bagaimana bersikap yang baik dalam berteman, menyayangi teman, serta menghargai adanya hak-hak orang lain.

* PEDULI PADA SESAMA
Sikap peduli yang terbentuk di lingkungan rumah, memudahkan anak untuk menaruh peduli pada lingkungan sosial yang lebih luas. Namun, anak tetap perlu contoh bahwa kedua orangtuanya peduli pada orang lain, bahkan orang yang tidak mereka kenal. Contoh kecilnya, menyisihkan uang ke kotak amal, atau menerima/menolak dengan sopan para peminta sedekah yang mampir ke rumah. Libatkan anak dengan mengajaknya mengumpulkan pakaian bekas guna disumbangkan kepada anak pembantu di rumah, korban bencana, atau panti asuhan. Jelaskan betapa senangnya jika baju-baju bekas itu diterima orang yang membutuhkan. Anak yang punya rasa peduli pada sesama akan menunjukkan pribadi yang hangat, murah hati, mudah berempati, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi pada lingkungan sekitarnya.

Dedeh Kurniasih.

Narasumber:
Dra. Tiwin Herman, M.Psi.,
Direktur Utama Biro Psiko Utama, Jakarta

Iklan

Bila Balita Menggigit

sumber : tabloidnakita.com

Suka menggigit di usia batita sebenarnya wajar saja, tapi tetap harus diatasi agar tak berkelanjutan.
4 PENYEBAB
Ada 4 faktor yang melatarbelakangi perilakunya itu, yakni:
1. Fase Tumbuh Gigi
Di usia batita anak sedang dalam fase tumbuh gigi, sehingga sering kali bagian dari gusinya merasa gatal. Bila digunakan untuk menggigit, sesaat ia merasa nyaman, itu sebabnya anak mengulang-ulang aktivitas tersebut.
2. Belum Mengerti
Tak ada maksud menyakiti ketika anak menggigit teman/saudaranya. Ia hanya belum mengerti. Tapi kalau orangtua menunjukkan respons yang berlebihan, misalnya berteriakteriak panik saat melarangnya, bisa jadi anak akan mengulang lagi karena merasa mendapat perhatian lebih.
3. Ekspresi Emosi
Anak batita belum terlatih untuk mengekspresikan emosinya secara tepat. Saat marah, kesal, gemas, bahkan gembira sekali pun bisa saja diekspresikan dengan menggigit objek di depannya. Tak hanya pada teman, dengan mainan, pakaian atau yang lainnya, kalau anak gemas/kesal, ia akan menggigitnya.
4. Perkembangan Bahasa Terbatas
Perkembangan bahasa yang masih terbatas membuat komunikasinya dengan lingkungan belum lancar. Kadangkala iaberusaha menjelaskan/meminta sesuatu sampai berulang-ulang tapi lingkungan tak kunjung mengerti. Akibatnya anak merasa frustrasi dan seperti penjelasan di atas, emosi itu diekspresikan dengan cara menggigit.
3 DAMPAK
Meski wajar, bukan berarti orangtua boleh membiarkan saja anak dengan kebiasaannya ini. Bila dibiarkan saja, bukan tak mungkin kebiasaan buruk ini akan terus berlanjut sampai usia selanjutnya. Berikut dampak lainnya:
1. Dijauhi teman.
Dampak yang langsung terasa adalah anak dijauhi teman-temannya. Bisa jadi banyak orangtua yang melarang anaknya bermain bersama. Selain itu bukan tak mungkin anak akan mendapat cap nakal sehingga tak perlu ditemani.
2. Ekspresi emosi tidak tepat.
Anak jadi tak terlatih mengekspresikan emosi secara tepat. Anak tidak tahu bagaimana menyalurkan kemarahan/kekesalannya. Bila terus berlanjut sampai dewasa akan merugikan semua pihak.
3. Kemampuan bicara tidak segera berkembang.
Anak terbiasa mengekspresikan emosi dengan tindakan dan bukan dengan bahasa verbal, sehingga kemampuan bicaranya jadi tak berkembang.
5 LANGKAH PENANGANAN
Nah, agar anak tak lagi suka menggigit, lakukan 5 langkah penanganan berikut ini!
1. Observasi tingkah
Saat mendapat laporan/melihat kebiasaan ini segera observasi tingkah laku anak. Pada kondisi apa saja anak jadi suka menggigit teman/objek di dekatnya. Langkah ini penting untuk menentukan penanganan selanjutnya. Contoh, anak jadi menggigit kalau melihat boneka yang lucu, atau menggigit teman yang tidak mau meminjamkan mainannya.
2. Minta informasi.
Gali informasi sebanyakbanyaknya, baik dari anak sendiri maupun orang dewasa yang bersamanya sepanjang hari. Pada anak, tanyakan dengan bahasa sederhana, mengapa ia suka menggigit. Bantu ia mengungkapkan alasannya, “Adek kenapa tadi menggigit Davi? Kesal ya? Oh, Davi tidak mau gantian mainan di taman?” Dengan begitu orangtua bisa mendapatkan motif mengapa anak melakukan kebiasaan itu. Pada pengasuh/guru/orangtua temannya, bisa ditanyakan kronologis kejadian yang menyebabkan anak jadi menggigit teman/objek di dekatnya.
3. Luruskan.
Setelah diketahui dengan jelas latar belakangnya, segera lakukan penanganan. Bila dikarenakan tumbuh gigi, berikan teether/mainan untuk digigit-gigit yang bisa dicuci. Mainan ini akan membantunya merasa nyaman saat gusinya gatal. Bila karena kesal/marah/gemas, berikan contoh apa yang harus dilakukan saat marah/kesal/gemas. “Aku marah karena mainanku rusak,” adalah contoh kata sederhana yang bisa diajarkan kepada anak untuk mengungkapkan kemarahannya. Setelah itu bantu anak menyelesaikan masalah yang membuatnya marah/kesal.
4. Aktivitas lain.
Berikan alternatif aktivitas positif untuk menyalurkan emosi, contohya dengan kegiatan menggambar, menyanyi, berenang dan sebagainya saat anak marah. Aktivitas ini juga bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan, misalnya saat marah minta anak menggambar mulut terbalik L, kemudian minta ia membuat gambar mulut tersenyum J, beri nama karakter itu dan katakan, “Tuh, Paman Senyum sudah keluar! Ayo, ayo, sekarang tertawa semua.”
5. Jangan marah.
Orangtua sebaiknya tidak mengeluarkan ekspresi berlebihan manakala anak terlihat menggigit teman/objek di dekatnya. Sebab, bisa jadi anak merasa senang/mendapat perhatian lebih melihat orangtuanya berteriak panik/marah. Bukan aktivitas menggigit yang disukainya tapi menikmati ekspresi orangtualah yang jadi tujuan akhirnya.
BILA ANAK YANG JADI KORBAN
Meski anak tidak mempunyai kebiasaan menggigit, tapi bukan tak mungkin anak justru jadi “korbannya”. Apa yang harus dilakukan bila anak digigit teman/saudara? Berikut cara mengatasinya:
* Segera pisahkan anak dari teman/sudara yang menggigitnya.
* Jangan langsung memarahi anak yang menggigit, tapi jelaskan bahwa yang dilakukannya itu tidak tepat. Bila ada orangtuanya, tak perlu memperpanjang masalah. Bisa jadi anakanak sudah lupa dengan kejadian barusan, tapi orangtua masih bertengkar.
* Tenangkan bila anak menangis. Momen itu sekaligus bisa jadi masukan untuknya bahwa menggigit teman adalah perbuatan yang kurang terpuji karena menyebabkan temannya merasa sakit seperti yang dialaminya saat itu.
Marfuah Panji Astuti. Foto: Iman/nakita
Narasumber:
Sani B Hermawan, Psi.,
dari Yayasan Bina Ananda

A-Z MAKANAN BATITA

sumber : tabloidnakita.com

A-Z pertanyaan seputar makanan batita dapat Anda temukan jawabannya di bawah ini.
Marfuah Panji Astuti/ berbagai sumber. Foto: Ferdi Dok. nakita
Apa yang bisa dilakukan supaya batita gampang makan?
Jadikan acara makan sebagai aktivitas yang menyenangkan. Dudukkan anak di kursi makan (high chair), gunakan peralatan makan yang menarik, umpamanya ada gambar kartun kesukaannya. Berikan makanan yang fresh, hangat dan berasa. Pisahkan nasi dengan lauknya atau menggunakan piring berpenyekat dan berikan dalam porsi kecil. Jangan ada pemaksaan, seperti dicekok, dipencet hidungnya, dicubit dan sebagainya karena akan membuatnya lebih sulit makan lagi besok-besok, akibat pengalaman buruk itu.
Bolehkah batita makan makanan pedas?
Pengenalan rasa diawali dengan rasa manis kemudian asin, setelah usianya satu tahun boleh dikenalkan dengan rasa asam. Pengenalan rasa pedas sebaiknya setelah anak berusia 5 tahunan. Cabai atau merica sebagai sumber rasa pedas tidak mengandung gizi dan kalori yang cukup. Rasa pedas sekadar aroma penambah selera/rasa. Rasa pedas justru bisa menyebabkan iritasi saluran cerna pada anak-anak.
Cukupkah asupan gizi anakku?
Berikut tabel angka kebutuhan gizi untuk batita per hari yang disarankan:
1 tahun 2 tahun 3 tahun Porsi
Kalori yang dibutuhkan 1.000 kal 1.200 kal 1.400 kal
Nasi 260 kal 350 kal 437 kal 3/4 gelas
Lemak hewani 142 kal 142 kal 190 kal 1 ptg 1 ptg
Lemak nabati 40 kal 80 kal 120 kal 1 ptg 1 ptg
Sayur 75 g 75 g 100 g 1 gls 1 gls
Buah 40 kal 40 kal 40 kal 1 ptg 1 ptg
Susu bubuk 30 g 30 g 30 g 1 gls 1 gls
Gula pasir 30 g 30 g 30 g 2,5 sdm 2,5 sdm
Biskuit 2 buah 2 buah 3 buah 3 buah 3 buah
Minyak 90 kal 135 kal 135 kal 3 sdm 3 sdm
Dari mana saja sumber gizi yang dibutuhkan batita?
Karbohidrat Nasi, jagung, singkong, roti, mi, kentang, havermout, sagu
Protein hewani Daging sapi, ayam, ikan, keju
Protein nabati Kacang-kacangan, tahu, tempe
Sayur Bayam, buncis, kol, kangkung, oyong dan sebagainya.
Buah Apel, pisang, pepaya
Susu
Gula pasir
Biskuit
Minyak
Etiket makan batita, apa sajakah itu?
Sejak usia batita, di saat anak mulai makan sendiri, etiket makan harus dikenalkan. Berikut di antaranya: makan di meja makan atau high chair untuk batita. Mulai dengan berdoa. Kalau perlu, pasang celemek/serbet makan di dadanya. Gunakan sendok dengan tangan kanan dan garpu dengan tangan kiri. Makan jangan sambil bicara supaya tidak tersedak.
Food jag, apakah itu?
Food jag biasa dialami anak batita. Di usia 1-3 tahun anak hanya menggemari satu jenis makanan saja, umpamanya sejak awal ia dikenalkan pada chicken nugget, karena merasa enak, ia akan meminta makanan itu terus tiap kali makan.
Gizi mikro, apa maksudnya?
Yang dimaksud gizi mikro adalah vitamin dan mineral. Paling sering dialami anak adalah kekurangan zat besi. Akibatnya anak menderita anemia yang ditandai dengan konsentrasi lemah, lesu, dan apatis. Yang juga sering terjadi adalah kekurangan vitamin A, sehingga penglihatan terganggu karena rabun ayam atau rabun senja.
High chair, apa manfaatnya?
High chair adalah kursi makan yang khusus didesain untuk anak-anak. Di usia batita, anak sedang belajar makan sendiri. Namun, makan di meja makan mungkin terlalu sulit untuknya karena posisinya terlalu tinggi. Dengan menggunakan high chair batita bisa duduk dengan dada sejajar meja makan, sehingga lebih nyaman.
Inginnya hanya makan dengan lauk “seadanya”, sehatkah?
Di usia ini banyak anak hanya mau makan dengan lauk “seadanya”, seperti nasi dengan ceplok telur/nugget/sosis, nasi dengan kecap, nasi dengan kerupuk dan sejenisnya. Tentu saja kebiasaan ini tidak boleh dibiarkan. Dengan hanya mengonsumsi nasi berlauk “seadanya”, kebutuhan gizi batita jelas tidak tercukupi. Untuk menyiasatinya variasikan menu kegemarannya dengan bahan makanan yang mengandung nilai gizi cukup. Contoh, haluskan daging dengan sayuran kemudian buat perkedel. Bila hanya hanya menggemari kecap, olah tempe, kacang panjang, udang, ayam dengan bumbu kecap. Buatlah makanan dalam bentuk semenarik mungkin sehingga membangkitkan selera makan anak.
Junk food bolehkah dikonsumsi setiap hari?
Junk food banyak dijual dalam bentuk makanan siap saji. Biasanya anak menggemari makanan ini karena rasanya yang gurih serta kebiasaan orangtua mengajak anak menyantapnya di resto siap saji. Konsumsi junk food setiap hari jelas tidak sehat karena makanan seperti itu biasanya padat kalori, tinggi lemak dan garam namun kurang seimbang nilai gizinya. Kalau anak memang menggemarinya, orangtua bisa menyiasati dengan mengolahnya sendiri sehingga makanan yang disajikan lebih sehat, tidak mengandung garam tinggi dan penyedap rasa lainnya.
Kebiasaan menyemburkan makanan, bagaimana mengatasinya?
Beberapa hal bisa menjadi penyebab anak suka menyembur-nyemburkan makanan. Di antaranya, makanan terasa asing di lidah anak, bosan dengan menu itu-itu saja, mencari perhatian, sampai sekadar iseng. Bila dibiarkan saja pertumbuhannya tidak akan optimal karena makanan yang dibutuhkan tubuh lebih banyak terbuang. Selain itu anak jadi tidak belajar menghargai makanan dan terbiasa mencari perhatian dengan cara yang tidak tepat. Cara mengatasinya sesuaikan dengan faktor penyebabnya. Contoh, kalau anak bosan, variasikan menu makanannya; kalau makanan terasa asing, kenalkan secara perlahan dan seterusnya.
Lima prinsip pemberian makan anak, apa sajakah itu?
Batita mulai belajar makan sendiri, menggunakan sendok/garpu sendiri. Selain itu batita juga mulai dikenalkan pada aneka rasa makanan rumah. Supaya semuanya berlancar lancar, ada lima prinsip yang harus dikenalkan, yakni: training (latih anak makan pada tempatnya), entertaining (jadikan acara makan sebagai aktivitas yang menyenangkan), variety (biasakan makan dengan variasi menu sehingga anak tidak bosan), healthy (berikan makanan yang sehat, kalau bisa dimasak sendiri sehingga bebas pewarna dan pengawet), dan jadwal (biasakan anak makan teratur 3 kali sehari).
Mengapa anak batita banyak yang tidak suka makan sayur?
Meski begitu banyak zat-zat bermanfaat yang didapat dari sayur, tapi umumnya batita tidak suka sayur. Bisa jadi karena rasa sayur ada pahit-pahitnya. Belum lagi pemaksaan orangtua supaya anak mau makan sayur, akhirnya membuat anak trauma. Untuk sementara, gantilah makan sayur dengan buah-buahan yang rasanya lebih disukai anak. Fungsi buah dan sayur relatif sama sehingga bisa saling menggantikan. Untuk menyiasatinya, “sembunyikan” sayur dalam berbagai olahan, seperti cake kentang, perkedel wortel, omelet bayam dan sebagainya.
Normalkah anak yang tidak lapar-lapar?
Ini kerap terjadi pada batita, meski jam makannya sudah lewat anak masih anteng bermain. Beberapa hal bisa menjadi penyebab, di antaranya, anak merasa “tersiksa” waktu makan karena orangtua selalu memaksanya makan makanan yang tidak disukainya, anak keasyikan bermain sehingga lupa makan, waktu makannya memang tidak teratur, anak suka ngemil atau banyak minum susu sehingga merasa kenyang meski belum makan makanan utama.
Overweight pada batita, apa maksudnya?
Yang dimaksud overweight pada batita adalah kelebihan 110%-120% dari berat badan normal. Berikut tabel berat badan normalnya:
Usia (tahun) BB anak laki-laki BB anak perempuan
< 1 Sekitar 11 kg Sekitar 10 kg
2 Sekitar 12 kg Sekitar 11 kg
2, 5 Sekitar 13 kg Sekitar 13 kg
3 Sekitar 14 kg Sekitar 14 kg
Picky eater, apa maksudnya?
Picky eater adalah kebiasaan memilih-milih makanan. Kebiasaan ini khas di usia batita. Tip berikut bisa digunakan untuk mengatasinya: dip it (buat saus mayonaise, ajak anak untuk mencelupkan sayuran rebus ke dalamnya), spread it (ajari anak mengoles keju atau selai ke atas roti), drink it (buat minuman yang menyehatkan seperti jus buah, milk shake), package it (cetak makanan/sayur dalam bentuk menarik, sehingga makanan bernutrisi tinggi dapat tersamarkan), share it (sesekali makanlah beramai-ramai dengan mengundang teman/saudara, anak biasanya lebih bersemangat kalau makan ramai-ramai.)
Quick serve, apa maksudnya?
Hidangkan segera makanan yang telah selesai diolah. Pada umumnya orang lebih menyukai hidangan yang masih segar dan hangat, apalagi si batita yang sedang memasuki masa sulit makan. Nasi hangat yang masih mengepul tentu rasanya lebih enak ketimbang nasi dingin yang sudah keras, begitu juga sayuran yang baru matang lebih segar daripada yang sudah dihangatkan beberapa kali.
Rakus kalau makan di luar, apa sebabnya?
Meski biasanya terjadi di atas usia 3 tahun, tapi banyak juga batita yang terlihat "rakus" kalau diajak makan di luar. Penyebabnya antara lain, makanan di restoran biasanya diolah dengan bumbu penyedap dalam jumlah banyak sehingga rasanya lebih "nendang" dibanding makanan rumah. Suasana makan di restoran biasanya lebih menyenangkan. Untuk mengatasinya pindahkan suasana makan di luar itu ke rumah. Sediakan piranti makan yang menarik, sajikan makanan dalam bentuk yang menyenangkan, coba berbagai resep baru dan presentasikan layaknya di restoran.
Susu, seberapa penting di usia batita?
Setelah anak mengonsumsi makanan padat, susu sekadar pelengkap, bukan yang utama lagi. Di usia batita kebutuhan anak tidak cukup kalau hanya dari susu saja, anak juga butuh gizi seimbang dari karbohidrat, protein, lemak, air, vitamin dan mineral. Di atas usia satu tahun, susu hanya dianjurkan dikonsumsi 2-4 gelas sehari. Kalau konsumsi makanan kurang, pilih susu berkalori tinggi.
Tak suka nasi, apa harus dilakukan?
Jika batita tak suka nasi, ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebabnya. Di antaranya, anak tidak melewati fase pemberian makanan secara baik di usia sebelumnya, atau bisa juga anak tidak suka nasi tanpa bisa dijelaskan alasannya. Orangtua tak perlu cemas kalau si batita tak suka nasi, selama ia masih mau makan sumber karbohidrat lainnya seperti roti, mi, kentang, makaroni dan sebagainya.
Ubah kebiasaan si batita makan sambil jalan, bagaimana caranya?
Bagi batita yang sedang dalam fase eksplorasi, makan sambil jalan-jalan tentulah sangat menyenangkan. Tapi dampaknya anak jadi tidak belajar proses makan dengan benar. Kebiasaan ini dimulai dari usia sebelumnya. Untuk mengubahnya orangtua harus melakukan secara bertahap. Contoh, makan pagi dan siang di rumah, makan sore di taman. Ubah-ubah terus jadwal itu sampai anak merasa sama nyamannya makan di meja makan dan sambil jalan-jalan. Seiring dengan itu biasakan anak ikut makan bersama keluarga di meja makan. Kalau sesekali ia masih jalan-jalan di ruang makan, perbolehkan. Tapi kalau mengajak jalan keluar rumah, jangan dituruti. Bila pola ini dilakukan secara konsisten, anak akan belajar bahwa makan memang seharusnya di meja makan.
Variasi makanan seperti apa yang disarankan untuk batita?
Supaya makanannya cukup bervariasi dan mudah pengaturannya, buatlah siklus menu, contohnya untuk 5 hari. Makanan yang disajikan di hari pertama akan terulang lagi di hari ke-6.
Hari ke Contoh menu
1 Aneka sup (sup daging, sup ayam, sup ikan, sup sosis)
2 Aneka cah (cah kangkung, cah brokoli, cah jamur)
3 Aneka gorengan (ikan/ayam goreng, nugget tahu telur)
4 Aneka tumis (tumis udang taoge, tumis tahu/tempe)
5 Aneka panggang (panggang sayuran, ikan panggang)
Wajarkah bila anak batita suka ngemil?
Pada dasarnya camilan dibuat sebagai makanan selingan. Kalau batita terlalu suka ngemil, dikhawatirkan ia sudah merasa kenyang meski belum makan makanan utama. Akibatnya, kebutuhan gizi dan nutrisinya tidak terpenuhi. Camilan berkadar gula tinggi seperti kue-kue manis akan membuat anak terus merasa kenyang. Snack dalam kemasan berasa gurih bisanya mengandung kadar garam yang tinggi sehingga tidak baik bagi kesehatan anak.
Xeroptalmia, apakah itu?
Penyakit mata yang disebabkan kurangnya vitamin A. Kebiasaan mengonsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin, termasuk vitamin A harus dimulai sejak batita. Vitamin A banyak terkandung dalam buah dan sayur berwarna kuning kemerahan seperti jeruk, pepaya, wortel. Masukkan buah dan sayur dalam menu anak setiap hari.
Yang harus diperhatikan saat menyusun menu untuk batita apa saja?
Ada beberapa hal yang harus jadi perhatian orangtua, di antaranya:
– Kenalkan hanya satu jenis makanan baru dalam satu waktu makan.
– Sajikan makanan dalam porsi kecil. Kalau masih kurang, nanti boleh tambah setelah porsi pertamanya habis.
– Tunjukkan gambar/foto menu makanan yang menarik dari buku resep, biarkan ia memilih salah satu di antaranya.
– Hindari makanan yang keras seperti kacang kedelai goreng atau daging yang alot karena bisa mengurangi selera makannya.
Zat pewarna, penyedap, pemanis, pengawet, bolehkah dikonsumsi anak batita?
Penggunaan zat pewarna, penyedap, pemanis dan pengawet sebaiknya dihindari. Untuk makanan rumah gunakan bahan-bahan alami, misalnya pewarna dengan menggunakan daun suji, penyedap dengan menggunakan bumbu alami berkualitas sehingga cita rasa masakan terasa sedap meski tanpa bumbu penyedap. Penambahan zat pewarna/pemanis/penyedap/pengawet dalam jangka panjang bisa menyebabkan masalah. Contoh, penyedap MSG menyebabkan gangguan yang dikenal sebagai chinese restaurant syndrome, pemanis menyebabkan batuk, pewarna yang tidak aman bersifat karsinogenik, dan seterusnya.

Cara Mengenalkan Alfabet ke Batita

sumber : tabloidnakita.com

Siapa bilang belajar membaca itu sulit? Tapi ingat, jangan pernah memaksa.
Pengenalan alfabet / huruf buat batita harus jauh dari kesan formal. Cukup dengan sering-sering membacakannya buku cerita. Selanjutnya, menginjak usia 2 tahunan, si kecil boleh diperkenalkan pada alfabet yang lebih kompleks. Ajak dia untuk menyebutkan nama-nama huruf yang ada di hadapannya atau yang kita tunjuk. Latihan ini kemudian kita tingkatkan dengan mengajaknya “membaca” kata demi kata.
Nah, agar acara pengenalan alfabet dan belajar “membaca” ini bisa diikuti si kecil, orangtua harus tahu cara penyampaiannya yang tepat bagi masing-masing anak. Asal tahu saja, tidak ada cara pengenalan alfabet dan belajar “membaca” yang paling baik karena semuanya baik dan benar. Tinggal cara yang mana yang disenanginya. Apa saja tekniknya? Silakan pilih yang paling pas, dan ingat lakukan sambil bermain. Jangan memaksa kalau si kecil terlihat kurang berminat.
HURUF DEMI HURUF
Sambil bernyanyi tunjuk setiap huruf dalam abjad yang sudah kita tuliskan pada kertas atau white board. Ingat, ucapkan pelafalannya secara benar. Selain itu antara apa yang kita ucapkan dan apa yang kita tunjuk harus sesuai. Contohnya, saat mengucapkan “a”, tangan kita harus menunjuk pada huruf “a”. Usahakan perhatian si kecil sepenuhnya tertuju pada bagaimana cara kita mengucapkan huruf demi huruf tadi.
Yang namanya pengenalan tentu saja jangan banyak-banyak dulu. Di hari pertama, contohnya, cukup dari huruf “a” sampai “g”. Keesokan harinya mintalah anak untuk menyebut huruf-huruf yang telah dikenalkan. Kemudian teruskan dengan huruf “h” hingga huruf “m”. Begitu seterusnya. Bila semua huruf telah dikenalkan, nyanyikan lagu ABC. Sekiranya huruf-huruf dari “a” sampai “z” sudah familiar di telinganya, secara spontan anak pasti ingin ikut menyanyikannya.
Pada kesempatan lain, pengenalan bisa dilanjutkan dengan menggabungkan huruf mati/konsonan dengan huruf hidup/vokal menjadi suku kata. Di tahap awal batasi penggabungan dua huruf saja dan pilihkan huruf-huruf yang relatif mudah diucapkan batita. Bukankah huruf “b” jauh lebih mudah dilafalkan ketimbang huruf “z”, misalnya. Jadi, kenalkan anak pada pengulangan rangkaian bunyi sederhana seperti “bi-bi”, “ba-ba”, “bo-bo”, “ta-ta” dan sejenisnya. Sah-sah saja bila sesekali diselingi kata-kata utuh, seperti “papa”, “mama”, rumah”, “tidur”, “makan” dan sebagainya. Pastikan semua huruf-huruf tadi tertulis besar-besar sehingga mudah dikenali anak.
KENALKAN MELALUI BENDA
Supaya lebih mengena, ada baiknya kenalkan langsung ke bendanya. Yang pasti, cermati dulu hal-hal apa yang paling disukai anak. Contohnya, selagi anak asyik memainkan boneka, alihkan sebentar perhatiannya ke white board atau kertas besar sambil menuliskan kata “boneka” dalam ukuran besar. Bisa juga “ini boneka,” atau “boneka tidur” sambil kita tuliskan dan tunjukkan kata “tidur”. Dengan demikian anak akan mengenal langsung huruf-huruf dan kata lewat benda-benda yang akrab dengan kesehariannya.
MONTESSORI SCHOOL
Cara ini berangkat dari pengenalan terhadap bunyi setiap huruf lebih dulu. Misalnya, “a” dibaca “a” sambil peragakan bagaimana kita membuka mulut sedemikian rupa sampai mengeluarkan bunyi “a”. Lanjutkan pengenalan ini dengan memasukkan huruf yang dimaksud dalam sebuah kata, misalnya “a” untuk apel, “b” untuk becak, dan seterusnya. Kemudiakan pandai-pandailah mengkreasikannya menjadi sebuah lagu yang riang gembira.
FINGER PAINTING
Cara lain, gunakan kertas amplas yang agak halus untuk membuat huruf. Lalu mintalah anak untuk meraba huruf tersebut dengan jarinya pada bagian yang agak kasar tadi. Setelah beberapa kali melakukan perabaan ini mintalah anak untuk menuliskan huruf tersebut di kertas berukuran besar. Cara yang sama bisa juga dilakukan dengan finger painting menggunakan cat air. Jadi huruf demi huruf akan ditulis di kertas menggunakan jari-jari mungilnya. Yang pasti, cara ini tidak mengikat orangtua untuk memulai pengenalannya terhadap huruf. Mau huruf vokal lebih dulu atau sebaliknya konsonan terlebih dulu, boleh-boleh saja kok.
GAMES FOR LEARNING
Anak diperkenalkan huruf-huruf lewat permainan. Gampangnya, modifikasikan permainan catur. Setiap kotak di papan catur dituliskan huruf-huruf. Mintalah anak melakukan apa yang kita perintahkan, misalnya, “Ayo Dek taruh kudanya di huruf ‘m’.” Setelah cukup mengenal huruf-huruf dalam abjad, tuliskan masing-masing huruf dalam ukuran besar-besar di selembar kertas. Kemudian mintalah si batita menempelkan kertas berisi huruf tadi pada benda yang ada di rumah. Contohnya, “Tempelkan huruf ‘p’ ini ke pintu.” Kegiatan ini pasti amat menyenangkan hingga anak tidak terasa sedang belajar tentang huruf.
METODE KINDERLAND
Metode ini mengharuskan anak mengenal alfabet lebih dulu sekaligus kata-kata yang terdiri dari 3 huruf, seperti bad, cat, dog dan sebagainya. Sayangnya, metode ini agak sulit diterapkan kala ingin memperkenalkan anak pada kata-kata dalam bahasa Indonesia. Sebab jarang sekali sebuah kata dalam bahasa Indonesia yang terdiri dari 3 huruf. Belum lagi pelafalannya yang amat berbeda dengan pelafalan dalam bahasa Indonesia. Setelah fasih di kata dengan 3 huruf, naikkan tingkat kesulitan pada kata yang terdiri dari huruf lebih banyak hingga akhirnya anak bisa “membaca” kata demi kata.
METODE FLASH CARD
Selain bisa membeli kartu-kartu yang sudah jadi, kita pun bisa membuatnya dari potongan-potongan karton bertuliskan kata bermakna tertentu sementara di baliknya terdapat gambar benda yang sesuai. Tunjukkan secara teratur setiap hari kata-kata tersebut. Tak perlu banyak-banyak, tapi cukup 1-3 flash card setiap hari. Hari demi hari tambahkan jumlah flash card yang diperlihatkan.
KARPET ALFABET
Kini banyak dijual alas lantai/karpet yang bertuliskan huruf-huruf alfabet. Pasanglah karpet berbentuk kepingan-kepingan tersebut di ruang bermain atau di kamar tidur anak. Menjelang tidur, ajaklah anak sejenak melakukan games. “Mana huruf ‘m’?” sambil minta anak untuk menunjukannya. Bisa juga meminta anak memasangkan kembali kepingan-kepingan karpet tadi hingga membentuk sebuah kata bermakna. Setelah selesai melakukan tugasnya, ajak anak untuk membacanya. Misalnya, “s e p e d a”.
BELAJAR MENGETIK
Menekan tuts-tuts huruf pada keyboard komputer mendatangkan kesenangan tersendiri bagi anak usia ini. Apalagi ketika ia mengetik tuts tertentu akan muncul huruf tertentu pula di layar monitor. Pilihkan font size yang cukup besar. Setiap kali ada kesempatan bimbing batita untuk mengetik nama-nama atau kata-kata bermakna di komputer. Misalnya, namanya sendiri, nama ayah, ibu, kakak, nenek ataupun sosok lain yang akrab dengannya. Atau kata-kata bermakna seperti “motor”, “cangkir”, “mata” dan sebagainya. Ajaklah anak untuk melafalkan setiap kata begitu ia selesai menuliskannya. Pilihan program yang hendak digunakan terserah orangtua, apakah Word atau Power point. Bisa juga dengan membuat variasi pengenalan tadi menjadi games yang pasti menarik bagi anak usia ini.
KATA DEMI KATA
Mengenalkan alfabet pada batita tidak harus huruf satu per satu atau pun dieja seperti “ba”, “bi”, “bu”, melainkan langsung kata demi kata. Penerapannya bisa dilakukan dengan menuliskan sebuah kata di atas karton berukuran sedang. Contohnya “tas”. Akan lebih baik jika sertakan pula gambar tas pada lembar karton yang sama. Setiap hari, setidaknya 3x sehari, pagi, siang dan sore, bacakan dan perlihatkan sekitar 5 kata. Bisa juga dengan memanfaatkan VCD lagu anak-anak yang menampilkan lirik lagu. Sambil bernyanyi mengikuti lirik lagu yang tampil di layar teve, tunjuk satu demi satu kata yang tengah dinyanyikan. Sesekali tanyakan pada si batita kata apa yang sedang kita tunjuk.
STORY TELLING
Setiap hari, khususnya menjelang tidur, bacakan cerita-cerita menarik untuk si batita. Usahakan cerita-cerita tersebut berasal dari buku cerita bergambar yang tulisannya besar-besar. Jangan lupa, sambil membacakan tunjuk pula kata yang ada pada buku.
MELENGKAPI KATA
Seperti halnya membuat flash card, namun kata yang dimaksud sengaja ditulis tidak lengkap. Contohnya, “mobil” cukup ditulis “mo….”. Nah, saat menunjukkan kartu tersebut mintalah si batita untuk meneruskan penggalan kata yang tidak tertulis di situ. Jangan lupa sambil menunjukkan gambar yang sesuai dengan kata yang tertulis sebagai kunci jawaban bagi anak.
POSTER HURUF SEBAGAI HIASAN
Pasang poster alfaber di dinding kamar anak. Dengan demikian setiap kali masuk kamarnya, perhatian anak bisa langsung tertuju pada huruf-huruf yang ada di lembar poster tersebut. Ada baiknya bila orangtua ikut mengingatkan anak pada huruf-huruf tersebut dengan menyanyikan lagu ABC setiap kali masuk kamar. Jika ia sudah familiar tingkatkan pengenalannya dengan mengganti poster hiasan tersebut dengan poster serupa berisi kata-kata bermakna yang dilengkapi dengan gambarnya.
Gazali Solahuddin (dari berbagai sumber)

10 CARA EFEKTIF BICARA Dengan SI BATITA

sumber : tabloidnakita.com

Kenali karakteristik serta kematangan berpikirnya.

Kalau Anda sudah tahu sifat-sifat si kecil dan bisa mengira-ngira kecepatannya menangkap informasi, Anda akan lebih mudah melakukan pendekatan yang pas untuknya. Ya, tiap anak pasti butuh pendekatan yang berbeda tergantung pada pembawaannya. Namun demikian, ada patokan dasar tentang resep berkomunikasi efektif dengan si kecil. Nah, mari kita simak patokan-patokan tersebut seperti disampaikan Linawaty Mustopoh Psi., dari Experd Consulting, berikut ini:
* Singkat dan sederhana
Akui saja, kita terkadang bingung bila mendengar pembicaraan yang panjang lebar atau ngalor-ngidul, bukan? Nah, apalagi anak-anak. Lantaran itu, gunakan bahasa yang sederhana dan singkat. Saat kita memberikan suatu intruksi, katakan “Yuk, cuci tangan sebelum makan!” Lebih baik lagi bila orangtua mencontohkan bagaimana cara melakukan hal tersebut.
Kemudian, saat berkomunikasi dengan si kecil perhatikan intonasi dan nada suara. Jangan terburu-buru atau dengan nada menghardik. Intonasi tak jelas atau nada terburu-buru, membuat si batita kurang tanggap akan apa yang dibicarakan.
* Jelas
Kemampuan berbahasa, si batita, kan, masih terbatas. Hindari kata-kata yang membingungkan. Misalnya, “Awas, jangan ke sana, nanti jatuh!” Anak, kan, jadi bingung, kenapa dilarang? Terus, maksud kata “ke sana” itu apakah ke ruang tamu, kamar, dapur, teras atau lainnya. Berbeda bila Anda mengatakan, “Sayang, kamarmu baru dipel. Masih licin. Duduk di kursi dulu ya!” Jadi, pesan yang disampaikan harus jelas maknanya. Jangan sampai menimbulkan banyak pemahaman. Maka berbicaralah sesuai bahasa yang dipahami batita.
* Suara lembut
Namanya juga menghadapi anak, jadi harus disikapi dengan nada atau suara lembut dan menenangkan. Dengan begitu, si kecil seolah-olah tidak sedang dimarahi. Ucapan yang terdengar keras, suara tinggi atau penuh kemarahan, membuat anak me-rasa tak aman, nyaman bahkan takut. Apalagi kalau mengucapkannya dibarengi bahasa tubuh yang tidak menyenangkan, seperti bertolak pinggang. Jadi tunjukkan pula raut wajah yang cerah, kata-kata dan suara yang menyenangkan. Tak lupa pula untuk melakukan kontak fisik, misalnya sambil memeluk atau mengelus-ngelusnya.
* Konkret
Anak usia batita masih dalam tahap berpikir praoperasional. Maksudnya, dalam memahami sesuatu anak masih berpikir konkret. Dia belum dapat berpikir secara abstrak. Jadi, gunakan bahasa sekonkret mungkin. Misalnya, “Kamu jangan pelit dong sama teman.” Lebih enak kalau dibilang, “Yuk, mainnya sama-sama, tak perlu rebutan mainan.”
* Empati
Tempatkanlah diri kita pada situasi dan kondisi yang dihadapi anak. Salah satunya adalah mau mendengar dan memahami si kecil. Entah itu keinginan atau keluhannya. Tentunya mendengar dalam arti luas, tidak hanya melibatkan indra pendengaran tapi juga perasaan atau mata hati. Jadi sebaiknya jangan menuntut anak untuk mengerti keinginan kita, tapi berusahalah memahami anak terlebih dahulu. Kelak, bersikap empati ini dapat menumbuhkan keterbukaan dan rasa percaya antara orangtua dan anak.
* Perhatikan Situasi dan Kondisi
Pilihlah waktu yang enak dan tepat saat mengajak si kecil berbicara. Jangan ketika anak sedang asyik bermain atau beraktivitas, tiba-tiba kita ingin mengajaknya ngobrol. Beri jeda waktu pada dia untuk me-nyelesaikan kegiatannya itu. Alih-alih mau berbincang, dia malah bisa merasa terganggu.
* Kembangkan dialog
Sebaiknya hindari kata-kata yang bernada satu arah atau bahkan cenderung memaksa, contoh,”Adek harus tidur siang, ya. Jangan membantah!” Sikap “otoriter” seperti itu hendaknya ditinggalkan. Jadi, kembangkan upaya dialogis. Biarkan anak mengutarakan pendapatnya. Berikan kesempatan pada anak untuk berekspresi atau menyatakan apa yang ingin disampaikannya. Bisa kita pancing misalnya dengan cara, “Menurut Adek, tidur siang itu baik enggak?”
Dengan mengupayakan cara dialogis, komunikasi yang dijalin diharapkan lebih efektif. Contoh, ketika kita meminta tolong si kecil, daripada memberi perintah, “Nak, buang bungkus permen di tong sampah dong!”, lebih baik ajukan pertanyaan yang membuat anak sampai pada keputusan yang harus dilakukan. “Ayo, ke mana bungkus permen ini mesti dibuang?” Nada bertanya lebih efektif karena anak belajar bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Lontaran pertanyaan seperti ini sekaligus mengasah kemampuan berpikir si kecil.
* Konsisten
Saat berbicara dengan anak, tunjukkan kesungguhan atau konsistensi. Umpamanya, ketika memutuskan untuk mengatakan “tidak”, terhadap sesuatu hal, maka kita harus konsisten. Misalnya, tak boleh makan cokelat menjelang tidur. Dengan bersikap konsisten, maka tak memungkinkan anak untuk melakukan “tawar-menawar”. Sebaiknya sikap konsisten ini juga ditunjukkan semua orang di rumah termasuk saudara, kerabat atau kakek-neneknya. Anak akan paham aturan mana yang boleh dan mana yang tidak. Dengan begitu, komunikasi yang dijalin bisa efektif.
* Tegas
Dalam berkomunikasi kita sebaiknya tegas. Tapi bukan berarti dengan marah. Sikap tegas diperlukan bila si kecil “membandel” atau melakukan sesuatu yang sebetulnya sudah kita peringatkan. Misalnya, saat nonton teve, posisi duduknya selalu terlalu dekat. Padahal, kita sudah minta agar duduknya mundur atau menjauh. Bila dia tak juga mau menurut, maka boleh saja kita menarik tubuhnya agar menjauh dari teve. Beri alasan kenapa nonton teve tak boleh dekat-dekat karena bisa merusak mata.
* Beri pujian
Dalam berkomunikasi, unsur pujian mengandung makna positif buat si kecil. Dia akan merasa dihargai atas apa yang dilakukannya. Tiap si kecil berhasil melakukan sesuatu, kita sebagai orangtua jangan lupa untuk mengucapkan, “Terima kasih.” Berikan juga ciuman atau peluk sayang sebagai tanda kita merasa senang. Dengan merasa dihargai, anak pun belajar menghargai orang lain.