Ibu dan Anak Sehat berkat Vitamin A


sumber : Gizi.net

Jumat, 17 September, 2004 oleh: Siswono
Gizi.net – Selama krisis ekonomi melanda Indonesia, insiden kurang
vitamin A (KVA) pada ibu dan balita di daerah miskin perkotaan
meningkat. Beberapa data menunjukkan hampir 10 juta balita menderita
KVA sub klinis, 60.000 di antaranya disertai dengan bercak bitot yang
terancam buta. Selain itu, di beberapa provinsi di Indonesia,
ditemukan kasus-kasus baru KVA yang terjadi pada balita bergizi buruk.

Di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), misalnya, pada tahun 2000
ditemukan beberapa kasus kekurangan vitamin A tingkat berat (X3).
Kondisi ini berbeda dengan Survei Nasional Xeroftalmia tahun 1978-
1980 yang tidak banyak menemukan kasus tersebut. Terlebih lagi pada
1994 Pemerintah Indonesia memperoleh piagam Helen Keller Award karena
dinilai berhasil menurunkan angka xeroftalmia dari 1,34 persen atau
sekitar tiga kali lebih tinggi dari ambang batas yang ditetapkan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1978 menjadi 0,33 persen
pada tahun 1992.

Sebagai kilas balik, dalam kurun waktu 1964-1965 dan pada tahun 1970-
an, Indonesia pernah dijuluki sebagai “home of xerophthalmia” karena
insiden xeroftalmia pada balita yang cukup tinggi. Menurut ahli gizi
Prof Dr Muhilal, saat itu dari 1.574 anak laki-laki berusia kurang
dari 8 tahun yang mengunjungi Rumah Sakit Undaan Surabaya, 497 anak
diantaranya (31,6 persen) menderita xeroftalmia. Di samping itu,
penelitian di lima desa di Kabupaten Semarang oleh Oey menemukan
insiden xeroftalmia berkisar 1,4 sampai 7,3 persen.

Xeroftalmia adalah suatu keadaan selaput ikat mata yang kering karena
kekurangan vitamin A, terkadang sampai jaringan selaput bening pada
mata rusak. Penyakit ini oleh Oey disebutkan sebagai penyebab utama
kebutaan pada anak-anak terutama pada anak prasekolah. Xeroftalmia
hanya salah satu dari wujud KVA. Ada konsekuensi lain yang terjadi
pada orang yang KVA, seperti buta senja (hemarofia), sel epitel
conjuctiva yang abnormal, tingginya kesakitan terutama diare dan
ISPA, tingginya kematian pada balita, rendahnya respons imun tubuh
dan pertumbuhan terganggu.

Hubungan antara vitamin A dan mortalitas anak balita sudah diteliti
di Aceh oleh Sommer dan kawan-kawan, yang dipublikasi “Lancet” pada
1986. Di situ diungkapkan bahwa pemberian vitamin A dosis tinggi
200.000 International unit (IU) setiap 6 bulan dapat menurunkan angka
kematian anak balita sekitar 36 persen. Penelitian tentang pemberian
vitamin A yang difortifikasi pada monosodium glutamat (MSG), kata
Muhilal, menunjukkan penurunan angka kematian balita sebesar 45
persen.

“Dua penelitian itu mengungkapkan bahwa penurunan angka kematian
balita karena intervensi vitamin A dapat dilakukan melalui dosis
tinggi setiap enam bulan maupun dosis rendah yang diberikan setiap
hari,” kata Muhilal.

Lalu, ada pula penelitian tentang pengaruh vitamin A terhadap sistem
imunitas tubuh yang dilakukan oleh Pulitbang Gizi, Rumah Sakit Mata
Cicendo Bandung, dan John Hopkins University. Pada penelitian ini
penderita xeroftalmia dan yang bukan penderita dibagi dalam dua
kelompok dan satu kelompok diberi vitamin A dosis tinggi, sedangkan
kelompok yang lain diberi placebo. Hasilnya, pemberian vitamin A
dosis 100.000 IU pada bayi berusia 6 bulan dapat mengurangi respons
imun terhadap campak bila bayi masih mempunyai imunitas maternal
(kekebalan yang diperoleh dari ibu). Karena itu dianjurkan memberi
vitamin A dosis 100.000 IU pada usia 8-9 bulan di mana imunitas
maternal terhadap campak sudah sangat kecil.

Kesehatan Ibu

Sekalipun manfaat pemberian vitamin A sangat besar untuk kesehatan
anak, tidak semua pihak memberi perhatian yang cukup. Misalnya di
Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pengelola Program Gizi Dinas
Kesehatan Kota Kupang I Gusti Agung Ngurah Suarnawa SKM, menuturkan
untuk tahun 2004, belum ada bantuan dari donor internasional semacam
HKI maupun Unicef dalam pengadaan kapsul vitamin A. Pihak Dinas
Kesehatan Kota Kupang sudah mengusulkan 6.000 kapsul vitamin A ke
pemerintah kota tetapi belum disetujui karena pemerintah kota untuk
tahun 2004 tidak mengalokasikan dana untuk hal itu.

Program vitamin A di kota itu mengandalkan bantuan dari Helen Keller
Indonesia (HKI) dan Unicef. Kapsul vitamin A yang diperoleh dari
kedua lembaga itu didistribusikan secara gratis pada bulan Februari
dan Agustus. Kapsul vitamin A yang dibagikan di puskesmas dan
posyandu terdiri dari kapsul vitamin A berwarna biru dengan dosis
100.000 IU dan kapsul berwarna merah dengan dosis 200.000 IU. Pada
bulan itu juga dilakukan penyuluhan makanan bergizi kaya vitamin A
melalui radio dan penyuluhan keliling. Sasaran program, kata Gusti
Agung, adalah balita, bayi, ibu nifas. Kapsul berwarna merah untuk
balita dan ibu nifas, sedangkan kapsul berwarna biru untuk anak
berusia 6-11 bulan.

“Di Kupang belum ditemukan penderita xeroftalmia, karena memang tidak
ada surveilan. Surveilan hanya dilakukan pada penyakit malaria dan
diare. Cakupan kapsul vitamin A di Kota Kupang belum 100 persen
menjangkau balita, pada bulan Februari tahun 2003 saja cakupan
vitamin A 86,2 persen dan bulan Agustus cakupannya 83,6 persen,” ujar
Gusti Agung.

Vitamin A tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan anak saja. Vitamin A
juga berperan penting untuk kesehatan ibu yang baru melahirkan. Pada
ibu hamil dan menyusui vitamin A berperan penting. Karena, hal ini
terkait erat dengan kejadian anemia pada ibu, berat badan kurang,
kurang gizi, meningkatnya risiko infeksi dan penyakit reproduksi.
Serta, menurunkan kelangsungan hidup ibu sampai dua tahun setelah
melahirkan. Angka kecukupan gizi vitamin A di Indonesia untuk ibu
hamil menurut Buletin Kesehatan & Gizi edisi 1 Juni 2004 yang
diterbitkan HKI, adalah 500 retinol equivalent (RE) per hari.

Jumlah ini meningkat menjadi 700 RE per hari pada ibu hamil dan 850
RE pada saat si ibu menyusui. Berdasarkan data terbaru NSS, median
asupan vitamin A untuk ibu di Indonesia hanya 150 RE untuk ibu yang
berada di daerah kumuh perkotaan dan hanya 200 RE untuk ibu yang
tinggal di pedesaan. Dengan menghitung rata-rata masa menyusui 18-20
bulan untuk setiap anak dan tingkat fertilitas saat ini, diperkirakan
seorang ibu akan membutuhkan vitamin A yang tinggi pada 1/3 kurun
waktu masa usia subur. Hal ini terkait dengan air susu ibu (ASI),
yang merupakan sumber vitamin A yang terbaik untuk bayi. Oleh karena
itu, sangatlah penting bagi seorang ibu untuk meningkatkan asupan
makanan yang mengandung vitamin A agar kandungan vitamin itu pada ASI
meningkat.

PEMBARUAN/NANCY NAINGGOLAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s