Sumber : http://infoayahbunda.blogspot.com/2008/07/balita-anda-terlambat-bicara.html

Kalau Anda peka, naluri Anda bisa cepat mendeteksi gangguan perkembangan
bicara si kecil. Apa saja sih gejalanya?

Seringkali, Anda baru buru-buru ke dokter ketika si 18 bulan atau 2 tahun
belum juga bicara. Padahal, sebenarnya ini sudah agak terlambat. Menurut
d r. I.G. Ayu Partiwi Surjadi, Sp.A, MARS , Direktur Klinik Perkembangan
Anak RS Bunda, Jakarta, “Pada tiga tahun pertama kehidupan, otak adalah
organ yang sangat pesat tumbuh kembangnya. Nah, periode ini dapat
dimanfaatkan untuk melakukan stimulasi, seandainya si kecil mengalami
gangguan tumbuh kembang. Makanya, deteksi dini sangatlah penting.”

12 bulan pertama yang penting

Bicara adalah tahap perkembangan yang telah dimulai sejak bayi. Dan, tahap
bicara mesti diperhatikan sedini mungkin, karena ternyata dapat dijadikan
parameter ada tidaknya gangguan perkembangan pada anak. “Tentu saja, tanpa
mengabaikan tahap-tahap perkembangan lain, seperti motor kasar-halus dan
sosialisasi/interaksi, yang punya peran penting juga dalam menentukan
optimal tidaknya perkembangan anak,” kata dr. Partiwi.

Benarkah gangguan bicara banyak ditemukan? Penelitian yang dilakukan di
Klinik Perkembangan Anak, RS Bunda, Jakarta, pada tahun 2003 terhadap
sekitar 60 orang anak (hanya sebagian kecil saja anak yang datang pada usia
kurang dari 1 tahun) menunjukkan, belum bicara merupakan keluhan sebagian
besar orang tua yang pada akhirnya didiagnosis sebagai Gangguan Perkembangan
Multisistem ( Multisystem Developmental Disorder s/MSDD). Nah, gangguan ini
adalah salah satu bentuk kelainan perkembangan yang muncul dalam bentuk
gangguan relasi (berinteraksi) dan komunikasi yang akhir-akhir ini tampaknya
terus meningkat.

Meski begitu janganlah terlalu cemas. Kegagalan dalam relasi dan komunikasi
pada si 0-3 tahun dianggap sebagai kondisi yang masih dapat berubah dan
tumbuh. Hanya saja, sulit memprediksi mana yang bisa normal perkembangannya
dan mana yang akan mengalami gangguan. Jadi, harus bagaimana?

“Anak-anak yang diteliti tahun 2003 itu ternyata sejak bayi terlalu diam
alias tidak mengoceh sesering bayi normal. Makanya, 12 bulan pertama
kehidupan anak merupakan masa yang paling penting untuk mendeteksi tumbuh
kembang bicaranya. Jadi, bila Anda ke dokter, sebaiknya bukan sekadar untuk
imunisasi saja,” katanya lagi.

Jangan abaikan insting

Sebenarnya, bicara atau berkomunikasi sudah dimulai sejak masa bayi.
Normalnya, bayi akan menangis dan bergerak. Nah, Anda biasanya belajar
bereaksi terhadap tangisan dan gerakannya, sehingga terjadilah interaksi.
Melalui pengalaman berinteraksi inilah, bayi akan belajar bahwa sikap Anda
akan terpengaruh oleh tangisannya. Interaksi serupa akan terjadi, jika ia
mengeluarkan suara. Jadi, aktivitas tersebut memang berpengaruh dalam
perkembangan bicara dan bahasa balita.

Dengan mengerti tahap bicara si kecil, diharapkan gangguan bicara dapat
segera ditemukan. Tidak seperti yang umum terjadi saat ini. Para o rang tua
mempertanyakan mengapa anaknya belum juga berbicara. Padahal, sebenarnya
yang dimaksud adalah mengapa si kecil belum berbahasa ekspresif (lihat boks
“Aneka Jenis Bahasa”).

“Sebelumnya, anak sudah melalui tahap bahasa reseptif dan bahasa visual.
Kedua bahasa ini sebenarnya mirip. Apa bedanya? Reseptif adalah bagaimana
Anda memahami perkataan balita, sedangkan bahasa visual atau bahasa tubuh
adalah bagaimana Anda mengerti bahasa si kecil melalui sikap tubuh atau
ekspresi mukanya. Sebagai catatan, bahasa visual dan bahasa reseptif
merupakan salah satu tahap bicara yang dapat dipakai untuk mendeteksi apakah
si kecil terlambat bicara atau tidak, sebelum bahasa ekspresifnya timbul,”
jelas dr. Partiwi.

Dokter anak kelahiran Singaraja, Bali ini kembali mengingatkan, “Yang
penting, sebaiknya Anda tidak mengabaikan naluri Anda. Begitu merasa ada
sesuatu pada si kecil, segeralah bawa ke dokter. Beberapa penelitian telah
membuktikan ketajaman naluri para orang tua, sehingga dokter tidak akan
mengabaikannya begitu saja. Mungkin sekali kecurigaan Anda tidak bisa
dipastikan kebenarannya hanya dalam satu kali pertemuan saja. Dokter mungkin
saja meminta Anda untuk datang 1 atau 3 bulan lagi.”

Second opinion boleh , asal …

Pada prinsipnya, semakin dini keterlambatan bicara anak ditangani, semakin
bagus kemungkinan membaiknya. Ini tergantung pada kelainan apa yang jadi
dasar gangguan perkembangan si kecil. Partiwi memberi contoh anak dengan
kelainan gangguan pendengaran. Begitu diberi alat bantu dengar, maka
gangguan perkembangan bicaranya akan segera teratasi. Sebaliknya, anak
dengan MSDD atau autis, mungkin akan butuh waktu lebih lama penanganannya.

Lalu, kendala apa yang paling sering terjadi? “Kejenuhan Anda, sehingga
upaya penanganan anak berhenti di tengah jalan. Padahal, hasilnya pasti
kurang baik bila upaya tidak dilakukan secara konsiten. Hal ini biasanya
dialami orang tua dari anak dengan kelainan yang butuh waktu lama untuk
menanganinya.”

Ia melanjutkan, ” Selain jenuh, kadang Anda juga bingung menghadapi
banyaknya metode penyembuhan atau terapi yang ada saat ini . Sebenarnya,
boleh-boleh saja Anda mencari second opinion, asal ada yang baik kerja sama
antara dokter pertama dan dokter kedua. Anda tak perlu takut berterus terang
pada dokter pertama nantinya. Dan lagi, second opinion itu bagus dan
merupakan hak Anda sebagai orang tua. Pastikan jalan keluar yang terbaik
bagi si buah hati tercinta.”

Ini Dia Penyebabnya

. Gangguan pendengaran
. Autisme
. Retardasi mental (keterbelakangan mental)
. Bilingual (pemakaian dua bahasa)
. MSDD
. Genetik (faktor keturunan)

Aneka Jenis Bahasa

Bahasa mengandung simbol untuk bertukar informasi. Dan, kemampuan berbahasa
lebih pada kemampuan yang dapat dilihat alias dinilai. Perkembangan bahasa
dan bicara biasanya digambarkan sebagai berikut:

. Bahasa reseptif (masa praverbal) : masa mulai tangisan pertama sampai
keluar kata pertama. Bayi memproduksi bahasa prelinguistik yang biasanya
sesuai dengan pengasuhnya. Bahasa yang semula dikeluarkan adalah cooing atau
suara seperti suara “vokal” tertentu (seperti “au” atau “u”). Tahap
prelinguistik cooing ini biasanya terdengar pada usia 4-6 minggu.

. Bahasa ekspresif (masa verbal): kemampuan anak untuk mengeluarkan
kata-kata yang berarti (biasanya pada usia 12-18 bulan). Misalnya, kata
“mama” atau “papa”.

Selain kedua jenis bahasa tersebut, dikenal pula bahasa visual . Tahap
bahasa yang berhubungan dengan emosi ini muncul dalam beberapa minggu
setelah kelahiran bayi. Yang termasuk bahasa visual adalah:

. Usia 4-6 minggu: Bayi “memamerkan” senyum sosial.
. Usia 2-3 bulan: Bayi mulai memperhatikan orang dewasa yang sedang bicara.
Begitu ia berhenti bicara, bayi akan mengeluarkan suara. Ini adalah dasar
adanya interaksi pada anak, yang merupakan awal dari tahap bicara.

. Usia 4-5 bulan: Bayi harus terlihat mencari sumber suara.
. Usia 6-7 bulan: Bayi menikmati permainan, seperti ci luk ba.
. Usia 9 bulan: Bayi mulai menggunakan tangannya untuk melakukan kegiatan
sederhana, seperti melambaikan tangan, sebagai ekspresi interaksi sosial.

. Usia 9-12 bulan: Bayi memperlihatkan keinginannya pada suatu obyek dengan
cara meraih atau menangis bila tidak mendapatkannya.
. Usia 12 bulan: Bayi mulai menggunakan jarinya untuk menunjuk benda-benda
yang diinginkan.

Perkembangan Bicara pada Bayi dan Balita

0-1 bulan
Respons bayi saat mendengar suara dengan melebarkan mata atau perubahan
irama pernapasan atau kecepatan menghisap susu.

2-3 bulan
Respons bayi dengan memperhatikan dan mendengar orang yang sedang bicara.

4 bulan
Menoleh atau mencari suara orang yang bicara.

6-9 bulan
Babbling, mengerti bila namanya dipanggil.

9 bulan
Mengerti arti kata “jangan”.

10-12 bulan
Imitasi suara, mengucapkan mama/papa dari tidak berarti sampai berarti,
kadang meniru 2-3 kata. Mengerti perintah sederhana seperti “Ayo, berikan
pada saya”.

13-15 bulan
Perbendaharaan 4-7 kata, 400 kata, termasuk nama, kalimat 2-3 kata, mengerti 2
perintah sederhana sekaligus.

2,5-3 tahun
Menggunakan kata jamak dan waktu lalu, kalimat 3-5 kata, 80-90% bicara dapat
dimengerti orang lain.

3-4 tahun
Kalimat dengan 3-6 kata, bertanya, bercerita, berhubungan dengan pengalaman,
hampir semua dimengerti orang lain.

4-5 tahun
Kalimat dengan 6-8 kata, menyebut 4 warna, menghitung sampai 10.

Waspadalah bila …

. Usia 6 bulan: Bayi tidak melirik atau menoleh pada sumber suara yang datang dari belakang atau samping.
. Usia 10 bulan: Bayi tidak berespons bila dipanggil namanya.
. Usia 15 bulan: Anak tidak mengerti atau berespons terhadap kata (tidak, salam atau botol).
. Usia 18 bulan: Anak tidak dapat mengucapkan 10 kata.
. Usia 21 bulan: Anak tidak berespons terhadap perintah (duduk, kemari atau berdiri).
. Usia 24 bulan: Anak tidak dapat menunjuk dan menyebutkan bagian tubuh (mulut, hidung, mata dan kuping).

Menyusui = Investasi Besar

Selain ASI mengandung komponen-komponen yang oke untuk perkembangan otak,
misalnya DHA, proses menyusui ternyata juga memasukkan unsur-unsur
interaksi. Tidak mungkin Anda menyusui si kecil dengan melamun saja kan?
Biasanya, Anda menikmati apa yang sedang terjadi sambil membelai perlahan si
kecil dan melakukan kontak mata. Sebaliknya, si kecil pun asyik
memperhatikan wajah ibu tercinta. Itu semua adalah dasar komunikasi. Jadi,
sebisa mungkin, susuilah bayi Anda. Karena, dengan segala manfaat menyusui,
apa yang Anda lakukan itu benar-benar investasi yang besar bagi si kecil.
Termasuk, dalam perkembangan bicaranya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s