Si 2 Tahun Mencakar, Mencubit, Menggigit

sumber : http://infoayahbunda.blogspot.com/2008/07/si-2-tahun-mencakar-mencubit-menggigit.html

Mengapa si 2 tahun tiba-tiba suka mencakar, mencubit, menggigit dan bahkan tak jarang menjambak orang lain di sekitarnya? Ia bergurau atau sungguh-sungguh?

Si 2 tahun punya kebiasaan yang kadangkala sudah dijalaninya di masa bayi, yaitu mencakar, mencubit, menggigit dan perilaku menyerang lainnya. Tidak sedikit orang tua yang kemudian bingung menghadapi si penyerang cilik ini.

Empat penyebab

Menurut psikolog perkembangan dari Munich , Jerman, Ulrich Diekmeyer , ada empat situasi tipikal yang berkaitan dengan hobi baru si 2 tahun. “Ketika si kecil memperoleh kesan bahwa perilaku mencubit, mencakar, atau memukul orang lain menyenangkan maka orang tua akan sulit meyakinkan anak untuk menghentikannya,” jelas Diekmeyer.

Diekmeyer lantas menyarankan agar sejak awal, ketika anak-anak memperlihatkan rasa senang saat melakukan perilaku kasar apalagi agresif, orang tua harus menegaskan bagaimana mereka harus melihat situasi ini. “Mencubit, menggigit, atau menjambak menyakitkan orang lain, dan itu tidak dibenarkan,” tutur Diekmeyer.

Empat situasi tipikal yang dimaksud Diekmeyer adalah anak-anak yang melakukannya atas dasar kesenangan, anak-anak yang terlalu bertenaga (secara fisik), anak-anak yang merasa frustrasi, dan anak-anak yang bosan. Ketika Anda menemukan anak berperilaku seperti ini, bukalah mata dan telinga Anda, situasi tipikal mana yang tengah menimpa si 2 tahun Anda?

Pahami kondisi anak

Si 2 tahun Anda yang suka bercanda dengan cara-cara yang sedikit kasar, biasanya adalah anak yang manis dan baik. Biasanya ia menyerang korbannya dengan mimik wajah penuh suka cita, tersenyum senang dan tanpa rasa bersalah. Agresivitas yang dilakukannya lebih dikarenakan ia punya pengalaman yang disimpulkan secara keliru, bahwa memukul orang lain membuatnya tertawa.

Si kecil yang selalu bertenaga, lain lagi ceritanya. Ia kerap kali tak sengaja menepuk sang mama terlalu keras, sehingga akhirnya tampak sebagai perilaku memukul. Terkadang ia mengelus rambut temannya dengan tenaga penuh hingga akhirnya temannya merasa dijambak.

Berbeda lagi dengan buah hati Anda yang berusia 2,5 tahun yang menggigit pengasuhnya setiap kali keinginannya tak dituruti. Mungkin bukan karena keinginannya yang berlebihan, tetapi terkadang itu terjadi hanya karena orang lain tak memahami apa yang diinginkannya. Ia melakukan agresi sebagai kompensasi rasa frustrasi.

Si pembosan juga berbeda. Dengan mencakar atau memukul, ia berharap bisa merebut perhatian orang lain. Terkadang ia membuat ulah hanya karena tak tahu lagi kegiatan apa yang dapat dilakukannya.

Untuk keempat sebab agresivitas anak di atas, Diekmeyer menyarankan orang tua untuk mengatasinya sesuai penyebab dan kebutuhan anak. “Apabila si pembosan cilik menyerang temannya, cobalah atasi penyebab utamanya, yaitu kebosanannya. Berikan si kecil berbagai ide permainan menarik,” ungkap Diekmeyer.

Tetap konsekuen

Sejak dini biasakanlah selalu mendiskusikan dengan anak apa yang sebaiknya dilakukan ketika terjadi pelanggaran. Misalnya saja, Anda telah membuat batasan tentang hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Cobalah Anda diskusikan dengan anak, apa yang sebaiknya Anda lakukan jika ia melanggar.

Jika kesepakatan telah Anda buat bersama anak, bersikaplah konsekuen, meskipun sekilas tampaknya sikap seperti ini terlalu keras untuk anak seusia ini. Tapi percayalah, justru dari peristiwa atau pengalamannya di masa kecil, kepribadiannya terbentuk.

Cara termudah menghindarkan si kecil berperilaku agresif, menurut Diekmeyer, adalah dengan menumbuhkan keyakinan diri anak yang sehat. “Ini dapat diraih dengan mudah apabila orang tua memperlihatkan anak berbagai hal yang mahir dilakukan si kecil. Beri penghargaan bahwa ia mampu melakukan sesuatu dengan baik,” Diekmeyer menekankan.

Meskipun konsekuen dan konsisten dalam menghadapi situasi ini, Diekmeyer juga mengingatkan agar orang tua tak lantas kalang kabut. Bersikaplah tenang, tak perlu panik. Seandainya semua cara sudah Anda coba tapi si kecil masih juga suka menyerang, saatnya Anda membutuhkan seorang ahli untuk membantu mengatasi hal ini.

Penulis : Andi Maerzyda A. D. Th.

Iklan

Terapi Gangguan Bicara pada Anak

Sumber : http://psikolinguistik-q.blogspot.com/2008/12/terapi-gangguan-bicara-pada-anak.html

Written on Oktober 31, 2008 by Ratih Putri Pratiwi

Banyak orang tua yang khawatir jika anaknya belum lancar bicara padahal dilihat dari segi usia sepertinya sudah lewat dan jika dibandingkan dengan anak-anak tetangganya, teman-temannya, saudara-saudaranya kok ketinggalan jauh. Kenyataan tersebut pada akhirnya sering mengundang pertanyaan dalam diri orang tua. Untuk itulah kami akan mengulas persoalan keterlambatan bicara pada balita.
Penyebab keterlambatan bicara sangat banyak dan bervariasi. Gangguan tersebut ada yang ringan sampai yang berat. Ada yang bisa membaik setelah usia tertentu ada juga yang sulit untuk membaik, seperti kasus penyakit autis. Penyebab keterlambatan bicara bisa terjadi karena adanya gangguan mulai dari proses pendengaran, penerus impuls ke otak, otak, otot atau organ pembuat suara. Terdapat 3 penyebab utama keterlambatan bicara diantaranya adalah retardasi mental, gangguan pendengaran dan keterlambatan maturasi. Keterlambatan maturasi sering juga disebut keterlambatan bicara fungsional, termasuk gangguan yang paling ringan dan saat usia tertentu akan membaik. Penyebab lain yang relatif jarang adalah kelainan organ bicara, kelainan genetik atau kromosom, autis, mutism selektif, afasia reseptif dan deprivasi lingkungan. Deprivasi lingkungan bisa disebabkan karena lingkungan sepi, dua bahasa, status ekonomi sosial, tehnik pengajaran salah, sikap orangtua.
Semakin dini mendeteksi keterlambatan bicara, maka semakin baik kemungkinan pemulihan gangguan tersebut Bila keterlambatan bicara tersebut nonfungsional maka harus cepat dilakukan stimulasi dan intervensi dapat dilakukan pada anak tersebut. Deteksi dini keterlambatan bicara harus dilakukan oleh semua individu yang terlibat dalam penanganan anak ini. Kegiatan deteksi dini ini melibatkan orang tua, keluarga, dokter kandungan yang merawat sejak kehamilan dan dokter anak yang merawat anak tersebut. Sehingga dalam deteksi dini tersebut harus bisa mengenali apakah keterlambatan bicara anak kita merupakan sesuatu yang fungsional atau yang nonfungsional.
PROSES FISIOLOGIS BICARA
Menurut beberapa ahli komunikasi, bicara adalah kemampuan anak untuk berkomunikasi dengan bahasa oral (mulut) yang membutuhkan kombinasi yang serasi dari sistem neuromuskular untuk mengeluarkan fonasi dan artikulasi suara. Proses bicara melibatkan beberapa sistem dan fungsi tubuh, melibatkan sistem pernapasan, pusat khusus pengatur bicara di otak dalam korteks serebri, pusat respirasi di dalam batang otak dan struktur artikulasi, resonansi dari mulut serta rongga hidung.
Terdapat 2 hal proses terjadinya bicara, yaitu proses sensoris dan motoris. Aspek sensoris meliputi pendengaran, penglihatan, dan rasa raba berfungsi untuk memahami apa yang didengar, dilihat dan dirasa. Aspek motorik yaitu mengatur laring, alat-alat untuk artikulasi, tindakan artikulasi dan laring yang bertanggung jawab untuk pengeluaran suara.
Di dalam otak terdapat 3 pusat yang mengatur mekanisme berbahasa, dua pusat bersifat reseptif yang mengurus penangkapan bahasa lisan dan tulisan serta satu pusat lainnya bersifat ekspresif yang mengurus pelaksanaan bahsa lisan dan tulisan. Ketiganya berada di hemisfer dominan dari otak atau sistem susunan saraf pusat.
Kedua pusat bahasa reseptif tersebut adalah area 41 dan 42 disebut area wernick, merupakan pusat persepsi auditoro-leksik yaitu mengurus pengenalan dan pengertian segala sesuatu yang berkaitan dengan bahasa lisan (verbal). Area 39 broadman adalah pusat persepsi visuo-leksik yang mengurus pengenalan dan pengertian segala sesuatu yang bersangkutan dengan bahasa tulis. Sedangkan area Broca adalah pusat bahasa ekspresif. Ketiga pusat tersebut berhubungan satu sama lain melalui serabut asosiasi.
Saat mendengar pembicaraan maka getaran udara yang ditimbulkan akan masuk melalui lubang telinga luar kemudian menimbulkan getaran pada membrane timpani. Dari sini rangsangan diteruskan oleh ketiga tulang kecil dalam telinga tengah ke telinga bagian dalam. Di telinga bagian dalam terdapat reseptor sensoris untuk pendengaran yang disebut Coclea. Saat gelombang suara mencapai coclea maka impuls ini diteruskan oleh saraf VII ke area pendengaran primer di otak diteruskan ke area wernick. Kemudian jawaban diformulasikan dan disalurkan dalam bentuk artikulasi, diteruskan ke area motorik di otak yang mengontrol gerakan bicara. Selanjutnya proses bicara dihasilkan oleh getaran vibrasi dari pita suara yang dibantu oleh aliran udara dari paru-paru, sedangkan bunyi dibentuk oleh gerakan bibir, lidah dan palatum (langit-langit). Jadi untuk proses bicara diperlukan koordinasi sistem saraf motoris dan sensoris dimana organ pendengaran sangat penting.
Tahapan Perkembangan Kemampuan Bicara dan Berbahasa
Berikut ini akan disajikan informasi seputar tahapan perkembangan bahasa dan bicara seorang anak. Namun perlu diperhatikan, bahwa batasan-batasan yang tertera juga bukan merupakan batasan yang kaku mengingat keunikan setiap anak berbeda satu dengan yang lain. Menurut Dr. Miriam Stoppard (1995) tahapan perkembangan kemampuan bicara dan berbahasa dapat dibagi sebagai berikut:
0 – 8 Minggu
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Pada masa awal, seorang bayi akan mendengarkan dan mencoba mengikuti suara yang didengarnya. Sebenarnya tidak hanya itu, sejak lahir ia sudah belajar mengamati dan mengikuti gerak tubuh serta ekspresi wajah orang yang dilihatnya dari jarak tertentu. Meskipun masih bayi, seorang anak akan mampu memahami dan merasakan adanya komunikasi dua arah dengan memberikan respon lewat gerak tubuh dan suara. Sejak dua minggu pertama, ia sudah mulai terlibat dengan percakapan, dan pada minggu ke-6 ia akan mengenali suara sang ibu, dan pada usia 8 minggu, ia mulai mampu memberikan respon terhadap suara yang dikenalinya.
8 – 24 Minggu
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Tidak lama setelah seorang bayi tersenyum, ia mulai belajar mengekspresikan dirinya melalui suara-suara yang sangat lucu dan sederhana, seperti “eh”, “ah”, “uh”, “oh” dan tidak lama kemudian ia akan mulai mengucapkan konsonan seperti “m”, “p”, “b”, “j” dan “k”. Pada usia 12 minggu, seorang bayi sudah mulai terlibat pada percakapan “tunggal” dengan menyuarakan “gaga”, “ah goo”, dan pada usia 16 minggu, ia makin mampu mengeluarkan suara seperti tertawa atau teriakan riang, dan bublling. Pada usia 24 minggu, seorang bayi akan mulai bisa menyuarakan “ma”, “ka”, “da” dan sejenisnya. Sebenarnya banyak tanda-tanda yang menunjukkan bahwa seorang anak sudah mulai memahami apa yang orang tuanya atau orang lain katakan. Lucunya, anak-anak itu akan bermain dengan suaranya sendiri dan terus mengulang apa yang didengar dari suaranya sendiri.
28 Minggu – 1 Tahun
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Usia 28 minggu seorang anak mulai bisa mengucapkan “ba”, “da”, “ka” secara jelas sekali. Bahkan waktu menangis pun vokal suaranya sangat lantang dan dengan penuh intonasi. Pada usia 32 minggu, ia akan mampu mengulang beberapa suku kata yang sebelumnya sudah mampu diucapkannya. Pada usia 48 minggu, seorang anak mulai mampu sedikit demi sedikit mengucapkan sepatah kata yang sarat dengan arti. Selain itu, ia mulai mengerti kata “tidak” dan mengikuti instruksi sederhana seperti “bye-bye” atau main “ciluk-baa”. Ia juga mulai bisa meniru bunyi binatang seperti “guk”, “kuk”, “ck”
1 Tahun – 18 Bulan
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Pada usia setahun, seorang anak akan mampu mengucapkan dua atau tiga patah kata yang punya makna. Sebenarnya, ia juga sudah mampu memahami sebuah obyek sederhana yang diperlihatkan padanya. Pada usia 15 bulan, anak mulai bisa mengucapkan dan meniru kata yang sederhana dan sering didengarnya untuk kemudian mengekspresikannya pada porsi / situasi yang tepat. Usia 18 bulan, ia sudah mampu menunjuk obyek-obyek yang dilihatnya di buku dan dijumpainya setiap hari. Selain itu ia juga mampu menghasilkan kurang lebih 10 kata yang bermakna.
18 Bulan – 2 Tahun
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Pada rentang usia ini, kemampuan bicara anak semakin tinggi dan kompleks. Perbendaharaan katanya pun bisa mencapai 30 kata dan mulai sering mengutarakan pertanyaan sederhana, seperti “mana ?”, “dimana?” dan memberikan jawaban singkat, seperti “tidak”, “disana”, “disitu”, “mau”. Pada usia ini mereka juga mulai menggunakan kata-kata yang menunjukkan kepemilikan, seperti “punya ani”, “punyaku”. Bagaimana pun juga, sebuah percakapan melibatkan komunikasi dua belah pihak, sehingga anak juga akan belajar merespon setelah mendapatkan stimulus. Semakin hari ia semakin luwes dalam menggunakan kata-kata dan bahasa sesuai dengan situasi yang sedang dihadapinya dan mengutarakan kebutuhannya. Namun perlu diingat, oleh karena perkembangan koordinasi motoriknya juga belum terlalu sempurna, maka kata-kata yang diucapkannya masih sering kabur, misalnya “balon” jadi “aon”, “roti” jadi “oti”
2 Tahun – 3 Tahun
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Seorang anak mulai menguasai 200 – 300 kata dan senang bicara sendiri (monolog). Sekali waktu ia akan memperhatikan kata-kata yang baru didengarnya untuk dipelajari secara diam-diam. Mereka mulai mendengarkan pesan-pesan yang penuh makna, yang memerlukan perhatian dengan penuh minat dan perhatian. Perhatian mereka juga semakin luas dan semakin bervariasi. Mereka juga semakin lancar dalam bercakap-cakap, meski pengucapannya juga belum sempurna. Anak seusia ini juga semakin tertarik mendengarkan cerita yang lebih panjang dan kompleks. Jika diajak bercakap-cakap, mudah bagi mereka untuk loncat dari satu topik pembicaraan ke yang lainnya. Selain itu, mereka sudah mampu menggunakan kata sambung “sama”, misalnya “ani pergi ke pasar sama ibu”, untuk menggambarkan dan menyambung dua situasi yang berbeda. Pada usia ini mereka juga bisa menggunakan kata “aku”, “saya” “kamu” dengan baik dan benar. Dengan banyaknya kata-kata yang mereka pahami, mereka semakin mengerti perbedaan antara yang terjadi di masa lalu, masa kini dan masa sekarang.
3 – 4 Tahun
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Anak mulai mampu menggunakan kata-kata yang bersifat perintah; hal ini juga menunjukkan adanya rasa percaya diri yang kuat dalam menggunakan kata-kata dan menguasai keadaan. Mereka senang sekali mengenali kata-kata baru dan terus berlatih untuk menguasainya. Mereka menyadari, bahwa dengan kata-kata mereka bisa mengendalikan situasi seperti yang diinginkannya, bisa mempengaruhi orang lain, bisa mengajak teman-temannya atau ibunya. Mereka juga mulai mengenali konsep-konsep tentang kemungkinan, kesempatan, dengan “andaikan”, “mungkin”, “misalnya”, “kalau”. Perbendaharaan katanya makin banyak dan bervariasi seiring dengan peningkatan penggunaan kalimat yang utuh. Anak-anak itu juga makin sering bertanya sebagai ungkapan rasa keingintahuan mereka, seperti “kenapa dia Ma ?”, “sedang apa dia Ma?”, “mau ke mana ?”
FAKTOR PENYEBAB KETERLAMBATAN BICARA
1. Hambatan pendengaran
Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah karena adanya infeksi telinga.
2. Hambatan perkembangan pada otak yang menguasai kemampuan oral-motor
Ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu.
3. Masalah keturunan
Masalah keturunan sejauh ini belum banyak diteliti korelasinya dengan etiologi dari hambatan pendengaran. Namun, sejumlah fakta menunjukkan pula bahwa pada beberapa kasus di mana seorang anak anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Dengan demikian kesimpulan sementara hanya menunjukkan adanya kemungkinan masalah keturunan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi.
4. Masalah pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua
Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun. Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban sangat singkat. Selain itu, anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan “memasukkan” segala instruksi, pandangan mereka sendiri atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik, juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan berbahasa.
5. Faktor Televisi
Sejauh ini, kebanyakan nonton televisi pada anak-anak usia batita merupakan faktor yang membuat anak lebih menjadi pendengar pasif. Pada saat nonton televisi, anak akan lebih sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual, atau pun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang). Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya.
6. Keterbatasan kemampuan kognitif.
Yaitu kemampuan merepresentasikan objek yang dilihat dalam bentuk image. Bila kemampuan kognitif terganggu, maka image tersebut tidak akan terbentuk. Kondisi ini biasanya bisa dideteksi sendiri oleh orang tua dengan melihat kemampuan motorik anak. Misalnya, anak yang mengalami gangguan bicara biasanya juga kurang mampu melakukan aktivitas lain yang sederhana sekalipun seperti memakai sepatu atau mengancingkan baju.
7. Gangguan pervasif.
Biasanya terjadi pada anak yang mengalami ADD (attention defisit disorder). Anak yang mengalami keterbatasan atensi ini mengalami masalah di pusat sarafnya. Gangguan ini biasanya tidak berdiri tunggal, tapi dibarengi ciri-ciri lain, semisal pekerjaannya tidak pernah tuntas, sulit/tidak bisa konsentrasi dan sebagainya. Namun untuk memastikannya, tak ada cara lain kecuali mendatangi ahli.
GAGAP DAN RAGAM GANGGUAN BICARA
Sekitar 4 persen anak dan 1 persen orang dewasa memiliki kelaianan bicara yang parah. Kelainan bicara pada usia remaja dapat merongrong kepercayaan diri anak. Anak dapat mogok bicara jika terus mendapat ejekan kala gagap-gugup menyerang. Semakin tidak nyaman semakin parah kondisinya. Walau demikian, kelemahan bicara tidak berhubungan langsung dengan keberhasilan hidup. Banyak pemimpin, pengusaha, kalangan professional yang memiliki gangguan bicara. Mereka tetap dapat berkomunikasi dan hidup normal.
Gagap
Menginjak dewasa tidak semua orang telah memperoleh kemampuan bahasa dengan baik. “Mmmmmm … maksudnya,” begitulah setiap kali Aries sang ketua di sebuah organisasi kala membuka argumentasi. Bagi yang mendengar, kesulitan bahasa seperti yang di alami Aries membuat gregetan. Tapi bagi Aries sendiri merasakan bagaimana frustasinya mengendalikan pita suara, lidah, bibir sehingga mulutnya dapat mengeluarkan rentetan kata, kalimat yang runut dan mulus. Kesulitan yang ia alami sering disebut gagap (stuttering). Ibarat mobil, untuk menghidupkan mesinnya ia harus menyalakan starter lebih lama. Asal bicara saja sepertinya mudah, tetapi menghasilkan vocal yang keluar dengan kecepatan, tekanan dan ejaan yang tepat kiranya tidak mudah. Ketika kita bicara, kita harus mengkoordinir banyak otot dari berbagai bagian tubuh termasuk pita suara, gigi, mulut dan system pernapasan. Normalnya semua kerja organ tersebut dapat berfungsi simultan serta otomatis. Gagap adalah masalah gangguan bicara yang mempengaruhi kefasihan bicara. Mereka yang mengalami kesulitan ini ditandai pengulangan bagian pertama dari kata yang hendak diucapkannya (seperti mmmmakan), atau menahan bunyi tunggal di tengah kata (misal begggggini). Sebagian orang yang gagap malah lebih parah, tidak ada satu suara pun yang keluar, tertahan semua di kerongkongan. Gagap atau orang Inggris menyebutnya stammering merupakan kelainan yang kompleks dan dapat berdampak pada kemampuan bicara dengan cara yang beragam.
Cadel
Gagap hanyalah salah satu jenis kelainan bicara. Sebagian orang mungkin mengalami gangguan hanya pada bunyi-bunyian tertentu seperti sulit mengucapkan huruf “l” atau “r”. Ada juga yang mengalami kekusutan (cluttering) bicara atau disebut aphasia. Aphasia adalah gangguan bicara dimana orang mengalami kesulitan memahami apa yang diucapkannya. Mereka yang menderita aphasia mengucapkan dengan cepat atau berhenti bukan pada tempatnya. Pokoknya, kalimat yang ia ucapkan membuat orang bertanya ulang “apaan?”. Aphasia adalah gangguan bahasa yang disebabkan oleh kerusakan bagian otak yang mengendalikan kemampuan bicara. Hal ini terjadi mungkin akibat kecelakaan, tumor atau stroke. Sebagian penderita malah tidak memiliki kemampuan bicara sama sekali. Sebagian lainnya sulit menemukan kata yang tepat ketika bicara. Kelainan lainnya disebut dislalia. Pernah menyimak balita mulai bicara. Ia akan mengucapkan kata “tati” yang dimaksud kaki. Sebagian orang menamakan kejadian ini “cadel.” Seperti anak gagap yang makin gagap jika tegang, anak dislalia juga bisa menjadi gagap bila mendapat “serangan”. Perkembangan anak bisa terganggu bila persoalan yang kelihatan sepele tersebut tidak segera diatasi. “Khususnya pada anak-anak yang mempunyai kepribadian kurang kuat,” saran Ki Pranindyo HA, kepala klinik Bina Wicara Vacana Mandira, Jakarta. Dislalia menurut hematnya termasuk gangguan komunikasi verbal yang sangat mudah diselesaikan. Bahkan tanpa terapi khusus, gangguan ini bisa ditanggulangi asal saja perilaku yang keliru-seperti ngedot, mengisap jari, atau menjulur-julurkan lidah-dihentikan. Bahkan pada banyak anak, gangguan artikulasi itu akan hilang dengan sendirinya, sesuai dengan perkembangan usia. “Jadi buat banyak anak-anak dislalia, kalau anak itu kuat, psikis maupun sikap sosialnya bagus, semuanya akan teratasi dengan sendirinya.” Dislasia juga disinyalir terkait dengan kecepatan mengucapkan vocal. Anak-anak dislalia kecepatan irama bicaranya di bawah hitungan normal. Kalau ukuran normal yang digunakan adalah 140 kata (terdiri dari dua suku) per menit, maka anak dislalia bila dites, kecepatannya kurang dari itu. “Tentu ada toleransi dari ukuran normal, 130 pun masih normal. Anak dislalia biasanya bahkan kurang dari 100 kata per menit,” kata Pranindyo. Tes umum yang biasa diterapkan di tempat praktiknya adalah dengan meminta anak untuk mengucapkan “pa-ta-ka”. Biasanya selama lima detik anak itu bisa mendapatkan 15-17 kata “pa-ta-ka”, tetapi pada anak dislalia pasti kurang dari itu. Ada juga orang-orang yang mempunyai ritme jauh melebihi angka normal. Bicara orang macam ini cenderung sangat cepat, kadang tidak bisa diikuti oleh lawan bicaranya. Kalau dihitung ritmenya mungkin 160 kata per menit. “Bahkan pernah ada yang cepat sekali sampai 175 kata per menit,” ucap Pranindyo.
Gangguan pervasif
Adalah gangguan bicara dimana ucapan seorang anak berlangsung melompat-lompat dan tidak konsisten. Bisa jadi anak seperti ini sebetulnya mengalami gangguan ADD (attention defisit disorder). Anak yang mengalami keterbatasan atensi ini mengalami masalah di pusat
sarafnya. Gangguan ini biasanya tidak berdiri tunggal, tapi dibarengi ciri-ciri lain, semisal pekerjaannya tidak pernah tuntas, sulit/tidak bisa konsentrasi dan sebagainya. Yang juga termasuk dalam gangguan ini adalah para penderita autis. Namun untuk memastikannya, tak ada cara lain kecuali mendatangi ahli.
Tunawicara
Gangguan bicara yang paling berat adalah tunawicara. Usia ini merupakan saat yang paling tepat untuk mengetahui apakah anak mempunyai kelainan tersebut atau tidak karena pada usia ini kemampuan bicara anak umumnya sudah bagus. Jika ia hanya mengeluarkan bunyi-bunyi khas tanpa makna, semisal “uuh..uuh”, “eeh…ehh”, untuk menjawab/menunjuk semua benda, hal ini bisa dijadikan indikator kalau dia belum bisa bicara sama sekali.
Bila sudah ada gejala seperti itu, sebaiknya anak segera dibawa ke dokter. Untuk langkah pertama bisa dibawa ke dokter anak sebelum mendapatkan penanganan yang lebih intens.
Keterlambatan Bicara Fungsional
Keterlambatan bicara fungsional merupakan penyebab yang cukup sering dialami oleh sebagian anak. Keterlambatan bicara fungsional sering juga diistilahkan keterlambatan maturasi atau keterlambatan perkembangan bahasa. Keterlambatan bicara golongan ini disebabkan karena keterlambatan maturitas (kematangan) dari proses saraf pusat yang dibutuhkan untuk memproduksi kemampuan bicara pada anak. Gangguan ini sering dialami oleh laki-laki dan sering terdapat riwayat keterlambatan bicara pada keluarga. Biasanya hal ini merupakan keterlambatan bicara yang ringan dan prognosisnya baik. Pada umumnya kemampuan bicara akan tampak membaik setelah memasuki usia 2 tahun. Terdapat penelitian yang melaporkan penderita keterlambatan ini kemampuan bicara saat masuk usia sekolah normal seperti anak lainnya.
Dalam keadaan ini biasanya fungsi reseptif sangat baik dan kemampuan pemecahan masalah visuo-motor anak dalam keadaan normal. Anak hanya mengalami gangguan perkembangan ringan dalam fungsi ekspresif: Ciri khas lain adalah anak tidak menunjukkan kelainan neurologis, gangguan pendengaran, gangguan kecerdasan dan gangguan psikologis lainnya.
Evaluasi dan Pemeriksaan
Jika orang tua mencurigai anaknya mengalami hambatan bicara, maka hal ini haruslah diteliti dan diperiksa oleh ahli yang memang berkompeten di bidangnya, untuk menghindari terjadinya salah diagnosa dan penanganan. Untuk itu, diperlukan pemeriksaan lengkap dari aspek-aspek :
1. Fisiologis dan Neurologis
Dokter memeriksa secara menyeluruh, untuk mengetahui apakah keterlambatan tersebut disebabkan masalah pada alat pendengaran, sistem pendengarannya, atau pun pada areal otak yang mengatur mekanisme pendengaran-bicara dan otak yang memproduksi kemampuan berbicara. Tidak hanya itu, pemeriksaan lengkap akan menghasilkan diagnosa yang jauh lebih pasti tidak hanya faktor penghambatnya, namun juga metode penanganan yang paling sesuai untuk anak yang bersangkutan.
2. Psikologis
Pemeriksaan secara psikologis juga diperlukan untuk memahami fungsi-fungsi lain yang berhubungan dengan kemampuan berbicara dan berbahasa, seperti tingkat intelegensi serta tingkat perkembangan sosial-emosional anak. Pemeriksaan secara psikologis ini juga dimaksudkan untuk melihat sejauh mana pengaruh dari hambatan yang dialami anak terhadap kemampuan emosional dan intelektualnya. Pemeriksaan ini juga harus ditangani oleh ahli atau psikolog yang berkompeten dan berpengalaman dalam menangani anak dengan problem keterlambatan bicara.
Setelah hasil pemeriksaan keluar, maka orang tua dengan rekomendasi ahlinya dapat mengambil langkah tepat seperti misalnya, melakukan terapi bicara atau jika usia anak sudah harus sekolah, maka dimasukkan pada sekolah yang dapat memberikan perlakuan dan perhatian yang tepat sesuai dengan masalah anak tersebut.
CARA MEMBEDAKAN BERBAGAI KETERLAMBATAN BICARA
Dengan memperhatikan fungsi reseptif, ekspresif, kemampuan pemecahan masalah visuo-motor dan pola keterlambatan perkembangan, dapat diperkirakan penyebab kesulitan berbicara.
Tabel 1. Diagnosis banding beberapa penyebab keterlambatan berbahasa dan bicara
Diagnosis Bahasa reseptif Bahasa ekspresif Kemampuan pemecahan masalah visuo-motor Pola perkembangan
PENCEGAHAN DAN PENANGANAN GANGGUAN BICARA
Menyusui
Selain ASI mengandung komponen–komponen yang baik untuk perkembangan otak, misalnya DHA, proses menyusui ternyata juga memasukkan unsur-unsur interaksi. Tidak mungkin Anda menyusui si kecil dengan melamun saja kan? Biasanya, Anda menikmati apa yang sedang terjadi sambil membelai perlahan si kecil dan melakukan kontak mata. Sebaliknya, si kecil pun asyik memperhatikan wajah ibu tercinta. Itu semua adalah dasar komunikasi. Jadi, sebisa mungkin, susuilah bayi Anda. Karena, dengan segala manfaat menyusui, apa yang Anda lakukan itu benar-benar investasi yang besar bagi si kecil. Termasuk, dalam perkembangan bicaranya.
Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
1. Semakin dini orang tua menstimulasi anaknya dengan cara mengajaknya bercakap-cakap dan menunjukkan sikap yang mendorong munculnya respon dari si anak, maka sang anak akan semakin dini pula tertarik untuk belajar bicara. Tidak hanya itu, kualitas percakapan dan bicaranya juga akan lebih baik. Jadi, teruslah mengajak anak Anda bercakap-cakap sejak hari pertama kelahirannya.
2. Jalinlah komunikasi dengan dihiasi oleh senyum Anda, pelukan, dan perhatian. Dengan demikian anak Anda akan termotivasi untuk berusaha memberikan responnya.
3. Tunjukkanlah selalu kasih sayang melalui peluk-cium, dan kehangatan yang bisa dirasakan melalui intonasi suara Anda. Dengan demikian, Anda menstimulasi terjalinnya ikatan emosional yang erat antara Anda dengan anak Anda sekaligus membesarkan hatinya.
4. Selama menjalin komunikasi dengan anak Anda, jangan lupa untuk melakukan kontak mata secara intensif karena dari pandangan mata tersebutlah anak bisa merasakan perhatian, kasih sayang, cinta, dan pengertian. Jika sedang bicara, tataplah matanya dan jangan malah membelakangi dia.
5. Jika anak Anda menangis, jangan didiamkan saja. Selama ini banyak bereda pandangan keliru, bahwa jika bayi menangis sebaiknya didiamkan saja supaya nantinya tidak manja dan bau tangan. Padahal, satu-satunya cara seorang bayi baru lahir untuk mengkomunikasikan keinginan dan kebutuhannya (haus, lapar, kedinginan, kepanasan, kebutuhan emosional, kelelahan, kebosanan) dia adalah melalui tangisan. Jadi, jika tangisannya tidak Anda pedulikan, lama-lama dia akan frustasi karena kebutuhannya terabaikan. Yang harusnya Anda lakukan adalah memberinya perlakuan seperti yang dibutuhkannya saat ia menangis. Untuk itu, kita sebagai orang tua haruslah belajar memahami dan mengerti bahasa isyaratnya. Tidak ada salahnya, jika Anda seakan-akan bertanya padanya, seperti :”rupanya ada sesuatu yang kamu inginkan,….coba biar Ibu lihat…”
6. Untuk bisa berbicara, seorang anak perlu latihan mekanisme berbicara melalui latihan gerakan mulut, lidah, bibir. Sebenarnya, aktivitas menghisap, menjilat, menyemburkan gelembung dan mengunyah merupakan kemampuan yang diperlukan. Oleh sebab itu, latihlah anak Anda baik dengan permainan maupun dengan makanan.
7. Sering-seringlah menyanyikan lagu untuk anak Anda dengan lagu-lagu anak-anak yang sederhana dan lucu, secara berulang dengan penekanan pada ritme dan pengucapannya. Bernyanyilah dengan diselingi permainan-permainan yang bernada serta menarik. Jadi, luangkan lah waktu Anda untuk terlibat dalam kegiatan menarik seperti itu agar kemampuan bicara dan berbahasa anak Anda lebih berkembang.
8. Salah satu cara seorang anak berkomunikasi di usia ini adalah melalui tertawa. Oleh sebab itu, sering-seringlah bercanda dengannya, tertawa, membuat suara-suara dan ekspresi lucu agar kemampuan komunikasi dan interaksinya meningkat dan mendorong tumbuhnya kemampuan bahasa dan bicara.
9. Setiap bayi yang baru lahir, mereka akan belajar melalui pembiasaan atau pun pengulangan suatu pola, kegiatan, nama atau peristiwa. Melalui mekanisme ini Anda mulai bisa mengenalkan kata-kata yang bermakna pada anak pada saat melakukan aktivitas rutin, seperti : pada waktu mau makan, Anda bisa katakan “nyam-nyam”
10. Jadilah model yang baik untuk anak Anda terutama pada masa ini lah mereka mulai belajar meniru kata-kata yang didengarnya dan mengucapkannya kembali. Ucapkan kata-kata dan kalimat Anda secara perlahan, jelas dengan disertai tindakan (agar anak tahu artinya atau korelasinya antara kata yang Anda ucapkan dengan tindakan kongkritnya), dan jangan lupa, bahasa tubuh dan ekspresi wajah Anda juga harus pas.
11. Anak Anda akan belajar bicara dengan bahasa yang tidak jelas bagi Anda. Jadi, ini lah waktunya untuk Anda berdua (Anda dengan anak) saling belajar untuk bisa saling memahami keinginan dan maksud berdua. Jadikanlah kegiatan ini sebagai salah satu bentuk permainan yang menyenangkan agar anak Anda tidak patah semangat untuk terus mencoba mengucapkan secara pas dan jelas. Namun, jika Anda malas memperhatikan “suaranya”, apa yang dimaksudnya, dan tidak mengulangi suaranya, atau bahkan ekspresi wajah Anda membuat dirinya jadi enggan mencoba, maka anak Anda akan merasa bahwa “tidak memungkinkan baginya untuk mencoba mengekspresikan keinginan karena orang dewasa tidak akan ada yang mengerti dan mau mendengarkan”
12. Kadang-kadang, ikutilah gumamannya, namun, Anda juga perlu mengucapkan kata secara benar. Jika suatu saat ia berhasil mengucapkan suatu suku kata atau kata dengan benar, berilah pujian yang disertai dengan pelukan, ciuman, tepuk tangan..dan sampaikan padanya, “betapa pandainya dia”.
13. Jika mengucapkan sebuah kata, sertailah dengan penjelasan artinya. Lakukan hal ini terus menerus meski tidak semua dimengertinya. Penjelasan bisa dilakukan misal dengan menunjukkan gambar, gerakan, sikap tubuh, atau pun ekspresi.
14. Semakin mengenalkan anak Anda dengan berbagai macam suara, bunyi, seperti misalnya suara mobil, motor, kucing, anjing, dsb. Kenalkan pula pada suara-suara yang sering didengarnya sehari-hari, seperti pintu terbuka-tertutup, suara air, suara angin berdesir di pepohonan, kertas dirobek, benda jatuh, dsb.
15. Sering-seringlah membacakan buku-buku yang sangat sederhana namun sarat dengan cerita yang menarik untuk anak dan gambar serta warna yang “eye catching”. Tunjukkan obyek-obyek yang terlihat di buku, sebutkan namanya, jelaskan apa yang sedang dilakukannya, bagaimana jalan ceritanya. Minta lah padanya untuk mengulang nama yang Anda sebutkan, dan jangan lupa, berilah pujian jika ia berhasil mengingat dan mengulang nama yang Anda sebutkan.
16. Jika sedang bersamanya, sebutkan nama-nama benda, warna dan bentuk pada setiap obyek yang dilihatnya
17. Anda mulai bisa mengenalkan dengan angka dengan kegiatan seperti menghitung benda-benda sederhana yang sedang dibuat permainan. Lakukan itu dalam suasana yang santai dan nyaman agar anak tidak merasa ada tekanan keharusan untuk menguasai kemampuan itu
18. Mulailah mengenalkan anak Anda pada perbendaharaan kata yang menerangkan sifat atau kualitas. Seperti “baik, indah, cantik, dingin, banyak, sedikit, asin, manis, nakal, jelek, dsb. Caranya, pada saat Anda mengucapkan suatu kata tertentu, sertailah dengan kualitas tersebut, misalnya “anak baik, anak manis, anak pintar, baju bagus, boneka cantik, anak nakal, roti manis”, dsb
19. Mulailah mengenalkan padanya kata-kata yang menerangkan keadaan atau peristiwa yang terjadi : sekarang, besok, di sini, di sana, kemarin, nanti, segera, dsb
20. Anda juga bisa mengenalkannya kata-kata yang menunjukkan tempat : di atas, di bawah, di samping, di tengah, di kiri, di kanan, di belakang, di pinggir; Anda bisa melakukannya dengan menggunakan contoh gerakan. Banyak model permainan yang dapat Anda gunakan untuk menerangkan kata-kata tersebut, bahkan dengan permainan, akan jauh lebih menyenangkan baginya dna bagi Anda.
21. Yang perlu Anda ingat, janganlah menyetarakan perkembangan anak Anda dengan anak-anak lainnya karena tiap anak mempunyai dan mengalami hambatan yang berbeda-beda. Jadi, jika anak Anda kurang lancar dan fasih berbicara, janganlah kemudian menekannya untuk lekas-lekas mengoptimalkan kemampuannya. Keadaan ini hanya akan membuatnya stress
22. Pada usia ini, anak Anda akan lebih senang bercakap-cakap dengan anak-anak seusianya dari pada dengan orang dewasa. Oleh sebab itu, akan baik jika ia banyak dikenalkan dengan anak-anak seusianya dan dilibatkan pada lingkungan sosial yang bisa memfasilitasi kemampuan sosial dan berkomunikasinya. Salah satu tujuan para orang tua memasukkan anaknya dalam nursery school adalah karena alasan tersebut, agar anaknya bisa mengembangkan kemampuan komunikasi sekaligus sosialisasi. Meskipun demikian, bahasa dan kata-kata yang diucapkan masih bersifat egosentris, namun lama kelamaan akan lebih bersifat sosial seiring dengan perkembangan usia dan keluasan jaringan sosialnya.
23. Sering-seringlah menceritakan cerita menarik pada anak Anda, karena sebenarnya cerita juga merupakan media atau sarana untuk mengekspresikan emosi, menamakan emosi yang disimpannya dalam hati, dan belajar berempati. Dari kegiatan ini pula lah anak Anda tidak hanya belajar berani mengekspresikan diri secara verbal tapi juga belajar perilaku sosial.
1. Ceritakan padanya cerita yang lebih kompleks dan kenalkan beberapa kata-kata baru sambil menerangkan artinya. Lakukan ini secara terus menerus agar ia dapat mengingatnya dan mengenalinya dengan mudah ketika Anda mengulang cerita itu kembali di lain waktu
2. Hindari sikap mengkoreksi kesalahan pengucapan kata anak secara langsung, karena itu akan membuatnya malu dan malah bisa mematahkan semangatnya untuk belajar dan berusaha. Anda bisa mengulangi kata-kata tersebut secara jelas seolah Anda mengkonfirmasi apa yang dimaksudkannya. Dengan demikian, ia akan memahami kesalahannya tanpa merasa harus malu.
3. Pada usia ini, seorang anak sudah mulai bisa mengerti penjelasan sederhana. Oleh sebab itu, Anda bisa mulai mencoba untuk mengajaknya mendiskusikan soal-soal yang sangat sederhana; dan tanyakan apa pendapatnya tentang persoalan itu. Dengan cara itu, Anda melatih cara dan proses penyelesaian masalah pada anak Anda setahap demi setahap. Hasil dari tukar pendapat itu sebenarnya juga mempertinggi self-esteem anak karena ia merasa pendapatnya didengarkan oleh orang dewasa.
4. Mulailah mengeluarkan kalimat yang panjang dan kompleks, agar ia mulai belajar meningkatkan kemampuannya dalam memahami kalimat. Untuk mengetahui apakah ia memahami atau tidak, Anda bisa melihat respon dan reaksinya; jika ia melakukan apa yang Anda inginkan, dapat diartikan ia cukup mengerti kalimat Anda.
5. Anak-anak sangat menyukai kegiatan berbisik karena hal itu permainan mengasikkan buat mereka sebagai salah satu cara mengekspresikan perasaan, dan keingintahuan.
6. Pakailah cerita-cerita dongeng dan fabel yang sebenarnya mencerminkan dunia anak kita dan memakainya sebagai suatu cara untuk mengajarkan banyak hal tanpa menyinggung perasaannya. Dengan mendongeng, Anda mengenalkan padanya konsep-konsep tentang moralitas, nilai-nilai, sikap yang baik dan jahat, keadilan, kebajikan dan pesan-pesan moral lainnya. Jadikanlah saat-saat bersama anak Anda sebagai masa yang menyenangkan, ceria, santai dan segar. Buatlah ini menjadi kebiasaan di waktu-waktu tertentu, seperti sebelum tidur atau di waktu sore hari.

Sumber : http://infoayahbunda.blogspot.com/2008/07/balita-anda-terlambat-bicara.html

Kalau Anda peka, naluri Anda bisa cepat mendeteksi gangguan perkembangan
bicara si kecil. Apa saja sih gejalanya?

Seringkali, Anda baru buru-buru ke dokter ketika si 18 bulan atau 2 tahun
belum juga bicara. Padahal, sebenarnya ini sudah agak terlambat. Menurut
d r. I.G. Ayu Partiwi Surjadi, Sp.A, MARS , Direktur Klinik Perkembangan
Anak RS Bunda, Jakarta, “Pada tiga tahun pertama kehidupan, otak adalah
organ yang sangat pesat tumbuh kembangnya. Nah, periode ini dapat
dimanfaatkan untuk melakukan stimulasi, seandainya si kecil mengalami
gangguan tumbuh kembang. Makanya, deteksi dini sangatlah penting.”

12 bulan pertama yang penting

Bicara adalah tahap perkembangan yang telah dimulai sejak bayi. Dan, tahap
bicara mesti diperhatikan sedini mungkin, karena ternyata dapat dijadikan
parameter ada tidaknya gangguan perkembangan pada anak. “Tentu saja, tanpa
mengabaikan tahap-tahap perkembangan lain, seperti motor kasar-halus dan
sosialisasi/interaksi, yang punya peran penting juga dalam menentukan
optimal tidaknya perkembangan anak,” kata dr. Partiwi.

Benarkah gangguan bicara banyak ditemukan? Penelitian yang dilakukan di
Klinik Perkembangan Anak, RS Bunda, Jakarta, pada tahun 2003 terhadap
sekitar 60 orang anak (hanya sebagian kecil saja anak yang datang pada usia
kurang dari 1 tahun) menunjukkan, belum bicara merupakan keluhan sebagian
besar orang tua yang pada akhirnya didiagnosis sebagai Gangguan Perkembangan
Multisistem ( Multisystem Developmental Disorder s/MSDD). Nah, gangguan ini
adalah salah satu bentuk kelainan perkembangan yang muncul dalam bentuk
gangguan relasi (berinteraksi) dan komunikasi yang akhir-akhir ini tampaknya
terus meningkat.

Meski begitu janganlah terlalu cemas. Kegagalan dalam relasi dan komunikasi
pada si 0-3 tahun dianggap sebagai kondisi yang masih dapat berubah dan
tumbuh. Hanya saja, sulit memprediksi mana yang bisa normal perkembangannya
dan mana yang akan mengalami gangguan. Jadi, harus bagaimana?

“Anak-anak yang diteliti tahun 2003 itu ternyata sejak bayi terlalu diam
alias tidak mengoceh sesering bayi normal. Makanya, 12 bulan pertama
kehidupan anak merupakan masa yang paling penting untuk mendeteksi tumbuh
kembang bicaranya. Jadi, bila Anda ke dokter, sebaiknya bukan sekadar untuk
imunisasi saja,” katanya lagi.

Jangan abaikan insting

Sebenarnya, bicara atau berkomunikasi sudah dimulai sejak masa bayi.
Normalnya, bayi akan menangis dan bergerak. Nah, Anda biasanya belajar
bereaksi terhadap tangisan dan gerakannya, sehingga terjadilah interaksi.
Melalui pengalaman berinteraksi inilah, bayi akan belajar bahwa sikap Anda
akan terpengaruh oleh tangisannya. Interaksi serupa akan terjadi, jika ia
mengeluarkan suara. Jadi, aktivitas tersebut memang berpengaruh dalam
perkembangan bicara dan bahasa balita.

Dengan mengerti tahap bicara si kecil, diharapkan gangguan bicara dapat
segera ditemukan. Tidak seperti yang umum terjadi saat ini. Para o rang tua
mempertanyakan mengapa anaknya belum juga berbicara. Padahal, sebenarnya
yang dimaksud adalah mengapa si kecil belum berbahasa ekspresif (lihat boks
“Aneka Jenis Bahasa”).

“Sebelumnya, anak sudah melalui tahap bahasa reseptif dan bahasa visual.
Kedua bahasa ini sebenarnya mirip. Apa bedanya? Reseptif adalah bagaimana
Anda memahami perkataan balita, sedangkan bahasa visual atau bahasa tubuh
adalah bagaimana Anda mengerti bahasa si kecil melalui sikap tubuh atau
ekspresi mukanya. Sebagai catatan, bahasa visual dan bahasa reseptif
merupakan salah satu tahap bicara yang dapat dipakai untuk mendeteksi apakah
si kecil terlambat bicara atau tidak, sebelum bahasa ekspresifnya timbul,”
jelas dr. Partiwi.

Dokter anak kelahiran Singaraja, Bali ini kembali mengingatkan, “Yang
penting, sebaiknya Anda tidak mengabaikan naluri Anda. Begitu merasa ada
sesuatu pada si kecil, segeralah bawa ke dokter. Beberapa penelitian telah
membuktikan ketajaman naluri para orang tua, sehingga dokter tidak akan
mengabaikannya begitu saja. Mungkin sekali kecurigaan Anda tidak bisa
dipastikan kebenarannya hanya dalam satu kali pertemuan saja. Dokter mungkin
saja meminta Anda untuk datang 1 atau 3 bulan lagi.”

Second opinion boleh , asal …

Pada prinsipnya, semakin dini keterlambatan bicara anak ditangani, semakin
bagus kemungkinan membaiknya. Ini tergantung pada kelainan apa yang jadi
dasar gangguan perkembangan si kecil. Partiwi memberi contoh anak dengan
kelainan gangguan pendengaran. Begitu diberi alat bantu dengar, maka
gangguan perkembangan bicaranya akan segera teratasi. Sebaliknya, anak
dengan MSDD atau autis, mungkin akan butuh waktu lebih lama penanganannya.

Lalu, kendala apa yang paling sering terjadi? “Kejenuhan Anda, sehingga
upaya penanganan anak berhenti di tengah jalan. Padahal, hasilnya pasti
kurang baik bila upaya tidak dilakukan secara konsiten. Hal ini biasanya
dialami orang tua dari anak dengan kelainan yang butuh waktu lama untuk
menanganinya.”

Ia melanjutkan, ” Selain jenuh, kadang Anda juga bingung menghadapi
banyaknya metode penyembuhan atau terapi yang ada saat ini . Sebenarnya,
boleh-boleh saja Anda mencari second opinion, asal ada yang baik kerja sama
antara dokter pertama dan dokter kedua. Anda tak perlu takut berterus terang
pada dokter pertama nantinya. Dan lagi, second opinion itu bagus dan
merupakan hak Anda sebagai orang tua. Pastikan jalan keluar yang terbaik
bagi si buah hati tercinta.”

Ini Dia Penyebabnya

. Gangguan pendengaran
. Autisme
. Retardasi mental (keterbelakangan mental)
. Bilingual (pemakaian dua bahasa)
. MSDD
. Genetik (faktor keturunan)

Aneka Jenis Bahasa

Bahasa mengandung simbol untuk bertukar informasi. Dan, kemampuan berbahasa
lebih pada kemampuan yang dapat dilihat alias dinilai. Perkembangan bahasa
dan bicara biasanya digambarkan sebagai berikut:

. Bahasa reseptif (masa praverbal) : masa mulai tangisan pertama sampai
keluar kata pertama. Bayi memproduksi bahasa prelinguistik yang biasanya
sesuai dengan pengasuhnya. Bahasa yang semula dikeluarkan adalah cooing atau
suara seperti suara “vokal” tertentu (seperti “au” atau “u”). Tahap
prelinguistik cooing ini biasanya terdengar pada usia 4-6 minggu.

. Bahasa ekspresif (masa verbal): kemampuan anak untuk mengeluarkan
kata-kata yang berarti (biasanya pada usia 12-18 bulan). Misalnya, kata
“mama” atau “papa”.

Selain kedua jenis bahasa tersebut, dikenal pula bahasa visual . Tahap
bahasa yang berhubungan dengan emosi ini muncul dalam beberapa minggu
setelah kelahiran bayi. Yang termasuk bahasa visual adalah:

. Usia 4-6 minggu: Bayi “memamerkan” senyum sosial.
. Usia 2-3 bulan: Bayi mulai memperhatikan orang dewasa yang sedang bicara.
Begitu ia berhenti bicara, bayi akan mengeluarkan suara. Ini adalah dasar
adanya interaksi pada anak, yang merupakan awal dari tahap bicara.

. Usia 4-5 bulan: Bayi harus terlihat mencari sumber suara.
. Usia 6-7 bulan: Bayi menikmati permainan, seperti ci luk ba.
. Usia 9 bulan: Bayi mulai menggunakan tangannya untuk melakukan kegiatan
sederhana, seperti melambaikan tangan, sebagai ekspresi interaksi sosial.

. Usia 9-12 bulan: Bayi memperlihatkan keinginannya pada suatu obyek dengan
cara meraih atau menangis bila tidak mendapatkannya.
. Usia 12 bulan: Bayi mulai menggunakan jarinya untuk menunjuk benda-benda
yang diinginkan.

Perkembangan Bicara pada Bayi dan Balita

0-1 bulan
Respons bayi saat mendengar suara dengan melebarkan mata atau perubahan
irama pernapasan atau kecepatan menghisap susu.

2-3 bulan
Respons bayi dengan memperhatikan dan mendengar orang yang sedang bicara.

4 bulan
Menoleh atau mencari suara orang yang bicara.

6-9 bulan
Babbling, mengerti bila namanya dipanggil.

9 bulan
Mengerti arti kata “jangan”.

10-12 bulan
Imitasi suara, mengucapkan mama/papa dari tidak berarti sampai berarti,
kadang meniru 2-3 kata. Mengerti perintah sederhana seperti “Ayo, berikan
pada saya”.

13-15 bulan
Perbendaharaan 4-7 kata, 400 kata, termasuk nama, kalimat 2-3 kata, mengerti 2
perintah sederhana sekaligus.

2,5-3 tahun
Menggunakan kata jamak dan waktu lalu, kalimat 3-5 kata, 80-90% bicara dapat
dimengerti orang lain.

3-4 tahun
Kalimat dengan 3-6 kata, bertanya, bercerita, berhubungan dengan pengalaman,
hampir semua dimengerti orang lain.

4-5 tahun
Kalimat dengan 6-8 kata, menyebut 4 warna, menghitung sampai 10.

Waspadalah bila …

. Usia 6 bulan: Bayi tidak melirik atau menoleh pada sumber suara yang datang dari belakang atau samping.
. Usia 10 bulan: Bayi tidak berespons bila dipanggil namanya.
. Usia 15 bulan: Anak tidak mengerti atau berespons terhadap kata (tidak, salam atau botol).
. Usia 18 bulan: Anak tidak dapat mengucapkan 10 kata.
. Usia 21 bulan: Anak tidak berespons terhadap perintah (duduk, kemari atau berdiri).
. Usia 24 bulan: Anak tidak dapat menunjuk dan menyebutkan bagian tubuh (mulut, hidung, mata dan kuping).

Menyusui = Investasi Besar

Selain ASI mengandung komponen-komponen yang oke untuk perkembangan otak,
misalnya DHA, proses menyusui ternyata juga memasukkan unsur-unsur
interaksi. Tidak mungkin Anda menyusui si kecil dengan melamun saja kan?
Biasanya, Anda menikmati apa yang sedang terjadi sambil membelai perlahan si
kecil dan melakukan kontak mata. Sebaliknya, si kecil pun asyik
memperhatikan wajah ibu tercinta. Itu semua adalah dasar komunikasi. Jadi,
sebisa mungkin, susuilah bayi Anda. Karena, dengan segala manfaat menyusui,
apa yang Anda lakukan itu benar-benar investasi yang besar bagi si kecil.
Termasuk, dalam perkembangan bicaranya.