Agar Sarapan tak Jadi Masalah


sumber :http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1210566672,4606,

Agar Sarapan tak Jadi Masalah
Gizi.net – Sarapan kerap menjadi ‘tugas’ di pagi hari yang amat berat. Tak hanya anak-anak Indonesia. Di Amerika Serikat pun, menurut American Dietetic Association, lebih dari 40 persen anak perempuan dan 32 persen laki-laki melewatkan sarapan setiap harinya.

Meski menyuruh anak-anaknya sarapan, banyak juga orangtua yang bertanya-tanya: mengapa sih tidak sarapan jadi masalah? ”Kan waktu istirahat sekolah bisa makan camilan?” komentar seorang ibu.

Para ahli gizi memberi jawaban sederhana. Anak yang tak sarapan tidak mengonsumsi nutrien yang diperlukan tubuhnya untuk memproduksi energi yang diperlukan. Padahal, di sekolah anak membutuhkan energi untuk konsentrasi dan menyelesaikan tanggung jawab belajarnya.

Negara bagian Minnesota, AS, pernah mengadakan penelitian tentang korelasi antara makan pagi dan performa anak di sekolah. Hasilnya, ”anak-anak yang sarapan sebelum berangkat sekolah memiliki performa lebih baik dalam matematika dan membaca, meningkatkan rentang perhatian mereka, dan meningkatkan perilaku mereka secara keseluruhan.’

Ikut ayah dan ibu
Bagaimana cara sarapan bisa memengaruhi performa anak di sekolah? Para dokter anak di Boys Town Pediatrics melihat dengan sarapan maka energi yang cukup untuk memulai hari pun tersedia. Sarapan, kata mereka, akan menghilangkan gejala kelaparan seperti sakit kepala, letih, mengantuk, gelisah; membantu anak berpikir lebih cepat saat mengerjakan tugas sekolah dan merespons lebih jelas atas pertanyaan guru.

Sarapan, kata para dokter anak itu, juga memengaruhi performa mental anak, membuat mereka tak gampang kesal, membantu membuat mereka lebih tenang dan tak mudah cemas.

Secara fisik, anak yang rajin sarapan pun lebih fit. Menurut Boys Town Pediatrics, anak-anak itu cenderung makan nutrien penting untuk tumbuh sehat, termasuk zat besi, kalsium, serat, fosfor dan magnesium, juga vitamin-vitamin seperti riboflavin, vitamin A, C, dan B12. Mereka lebih bisa mengendalikan berat badan; memiliki tingkat kolesterol darah yang lebih rendah, jarang sakit perut di sekolah, dan jarang kena flu.

Orangtua bisa mendorong sang buah hati untuk membiasakan diri sarapan dengan memberikan contoh yang baik. Contoh terbaik adalah, selalu sarapan. Lihatlah keluarga presenter kondang, Erwin Parengkuan.

Sudah sejak lama Erwin, istrinya, Jana, dan anak mereka, Julio membiasakan hidup dengan selalu melakukan sarapan pagi. Dengan sarapan, Erwin bisa lebih fokus dalam melaksanakan semua aktivitasnya. Mereka terbiasa melakukan sarapan pada pukul 05.00 WIB.

”Memang itu waktu yang sangat tepat untuk melakukan sarapan. Karena aktivitas saya selalu dimulai pada pagi hari. Jadi, saya harus mencari waktu sepagi mungkin untuk melakukan sarapan,” ujar Erwin.

Biasanya saat sarapan, Erwin, Jana serta anaknya berkumpul di meja makan. Sembari sarapan, pagi itu biasanya didiskusikan juga rencana-rencana yang akan dilaksanakan pada hari itu.

Duduk bersama keluarga untuk sarapan setiap pagi adalah teladan yang baik bagi anak. Agar sarapan menjadi kegiatan tak terlewatkan, para dokter anak menyarankan orangtua untuk meletakkan makanan mudah dijangkau setiap pagi. Dalam keadaan tergesa-gesa sekalipun anak-anak tetap bisa menyambar makanannya.

Dan, agar kebiasaan sarapan lebih ‘meresap’ lagi para ayah bunda bisa melibatkan anak lebih jauh. Misalnya, meminta bantuan anak untuk merencanakan menu sarapan setiap pekan.

Cepat dan sehat
Sebagai seorang istri dan ibu, Jana terbilang sangat cekatan. Biasanya, untuk mengantisipasi keluarganya malas sarapan, ia membuat menu makanan yang bervariasi. ”Bisa dari keju, roti, telur atau mi,”ucap Jana. Menurut pakar gizi dan kuliner, Toeti Soenardi, cara yang dilakukan Jana tersebut sangat tepat. Karena biasanya, anggota keluarga akan malas melakukan sarapan karena berbagai alasan. ”Di antaranya karena waktu yang terbatas dan menu yang monoton,”ungkap Toeti.

Orang bilang, makan empat sehat lima sempurna sudah cukup dalam memenuhi kriteria gizi yang banyak. Namun, kata Toeti, metode itu saja tidak akan cukup ampuh untuk membawa anak pada kebiasaan hidup sehat. ”Biasakanlah anak dan keluarga untuk melakukan sarapan di pagi hari. Biasakan pula untuk membuat menu yang enak, cepat namun tetap sehat,” ungkap Toeti. Beberapa menu kombinasi yang bisa digunakan untuk meracik sarapan, adalah keju dan roti.

Dua makanan tersebut, menurut Toeti, sangat bagus karena di dalamnya sudah terkandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Beberapa contoh makanan olahan yang bisa dimakan saat waktu sarapan sangat terbatas di antaranya roti meises keju, sandwich keju, mi rebus, dan roti pisang keju.

Keempat jenis makanan itu, kata Toeti, adalah makanan yang paling sering dikonsumsi oleh anak-anak dan remaja pada saat sarapan. Terutama, mereka yang tinggal di kota besar atau menengah. ”Makanan itu pula yang paling mudah diterima perut manusia saat pagi hari,”tutur dia.

Suplai lengkap
Jika memang menu roti dan keju masih dianggap asing dan cukup susah mencarinya, Toeti memberikan solusi lain. Menurut dia, sarapan dengan nasi putih goreng atau mi rebus pun, masih sama bagusnya. Asalkan, disertai dengan lauk pauk yang bisa memenuhi standar gizi.

Meski jarang dikonsumsi, menurut Toeti, sarapan dengan mi rebus pun cukup memberikan asupan gizi yang banyak. Dalam seporsi mi rebus komplet, sedikitnya terkandung 314 kalori dan 259 mg kalsium.

Gambaran lain tentang kandungan gizi bisa dilihat dari menu roti meises keju. Menurut Toeti, dalam menu tersebut sedikitnya terkandung 310 kalori dan 210 mg kalsium. ”Kandungan gizi seperti itu sudah cukup untuk menopang tingginya aktivitas anak kecil,”jelas dia.

Anda yang memiliki keluarga dan anak, sebaiknya memang harus membiasakan untuk memasok kebutuhan gizi keluarga melalui sarapan pagi. Untuk diketahui, sarapan yang baik dan memenuhi kriteria gizi adalah dengan menyuplai karbohidrat (55-65 %), protein (12-15 %), lemak (24-30 %), vitamin, dan mineral yang bisa diperoleh dari sayur atau buah.

Bagaimana menerapkan kandungan gizi itu? Menurut Toeti, itu dibutuhkan pemahaman yang cukup. Yang mungkin agak mudah diikuti adalah dengan memberikan suplai sayuran dan buah saat sarapan pagi.

”Untuk kandungan protein, karbohidrat, lemak dan vitamin, itu bisa didapat dari telur, nasi, daging, ikan, dan susu.” Karenanya, tinggal diramu saja kira-kira berapa kebutuhan sarapan pagi yang harus mengandung gizi di atas.

Satu hal yang biasanya selalu dilakukan oleh anak-anak dan orangtua pada saat sarapan pagi, yakni tidak menghabiskan makanan. Menurut Toeti, sarapan sangat penting untuk mengisi energi tubuh yang sudah terkuras habis pada saat tidur semalaman.”Biasakan untuk menghabiskan jatah sarapan pagi. Karena itu untuk menopang kebutuhan energi tubuh sepanjang hari,” tegas dia.

Melewatkan Sarapan? No, Way!
Ini alasan yang sering terlontar dari mulut anak saat melewatkan sarapannya: * ”Aku ketiduran” –Pasang alarm 15 menit lebih awal.
* ”Aku nggak lapar kalau pagi” — Minumlah susu, bisa juga dicampur buah, sebagai pengganti makan.
* ”Terburu-buru sih, nggak ada waktu makan” –Siapkan semua keperluan sekolah –seragam, buku-buku– pada malam hari.
* ”Aku nggak suka sarapan” –Makanlah sesuatu yang tidak biasa jadi menu sarapan di rumah, misalnya, pizza lebihan semalam dengan tambahan topping, sandwich, ayam goreng.
* ”Aku ingin langsing” –Melewati sarapan tak membuat tubuh kita jadi langsing. Kenyataannya, anak yang tidak sarapan cenderung makan lebih banyak kalori di siang hari karena itu akan menambah berat badannya.

(mus)
Republika Online – Minggu, 11 Mei 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s