Air Susu Ibu, 20 Kali Lebih Hebat

sumber : http://kesehatan.kompas.com/read/2009/12/14/17203189/Air.Susu.Ibu..20.Kali.Lebih.Hebat

KOMPAS.com –  Pemberian ASI secara eksklusif dan optimal akan membuat bayi tumbuh sehat, kuat, dan cerdas. Bagaimana tidak? ASI mengandung 200 zat gizi dan memberikan kekebalan buat bayi 20 kali lipat.

Menurut Dr. Utami Rusli, Sp.A. MBA IBCLC, spesialis anak di RS St. Carolus Jakarta, di dalam ASI terkandung lebih dari 200 unsur zat yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan bayi. Zat-zat itu antara lain putih telur, lemak, protein, karbohidrat, vitamin, mineral, hormon pertumbuhan, berbagai enzim, zat kekebalan, dan lain-lain.

Sayang sekali masih banyak orang yang tidak paham betul bahwa ASI memiliki nilai yang tiada tandingannya dibandingkan dengan susu formula atau makanan tambahan lain. Kenyataan ini mesti disosialisasikan secara lebih gencar dan terus-menerus.

Kelebihan ASI pertama-tama terletak pada kekhususannya. Susu kuda sangat cocok untuk bayi kuda, susu jerapah bagi bayi jerapah. Bayi manusia juga akan jauh lebih baik jika diberi susu yang paling cocok, yakni ASI, bukan susu hewan.

Karena itu, ASI sering kita kenal dengan sebutan ASI eksklusif (exclusive breast feeding). Selain khusus karena berasal dari spesies yang sama, yakni manusia, kandungan ASI bisa menyesuaikan kebutuhan bayi dengan perkembangan usianya.

ASI yang keluar saat kelahiran sampai hari ke-4 atau ke-7 disebut kolostrum. ASI yang keluar di hari ke-7 sampai ke-10 atau ke-14 setelah kelahiran disebut ASI transisi. ASI yang keluar sesudah hari ke-14 kelahiran disebut ASI matang. Komposisi gizi ketiga jenis ASI tersebut masing-masing berbeda.

“Bahkan terdapat perbedaan komposisi ASI dari menit ke menit,” tutur Ketua Pemasyarakatan Pemberian ASI Eksklusif RS St. Carolus Jakarta ini. Misalnya saja kandungan lemak pada ASI saat bayi berumur 3-5 hari adalah 1,85 g/dl. Pada saat usia bayi 15-18 hari, kandungan lemak itu menjadi 3,06 g/dl.

30 Menit Setelah Lahir
Pada hari pertama setelah melahirkan, kandungan gizi ASI sangat tinggi. Dr. Utami pun selalu menganjurkan agar selambatnya 30 menit atau setengah jam setelah lahir, bayi harus segera disusui ibunya. Pada saat itu susu ibu menghasilkan kolostrum, susu jolong, atau susu awal yang warnanya kekuningan dan encer.

Kolostrum ini kaya zat gizi dan antibodi yang berfungsi untuk melindungi bayi dari infeksi. Kolostrum akan muncul lagi 30 jam kemudian. Itu artinya kalau bayi tidak segera mendapat kolostrum pertama, dia kehilangan zat bergizi tinggi dari ibunya.

Walaupun bayi masih punya kesempatan untuk mendapatkannya, produksi kolostrum selanjutnya hanya 30 mililiter sehari. Itu artinya, kolostrum diproduksi hanya satu mililiter dalam satu jam.

Tentu saja ini sangat kurang. Padahal, kolostrum mengandung protein, mineral, serta vitamin A, E, dan B12. Bahkan kolostrum mengandung lebih sedikit lemak dan gula dibandingkan dengan ASI yang diproduksi pada hari-hari berikutnya.

Secara fungsional, kolostrum berperan membersihkan air empedu dan mucus (meconium) pada saluran pencernaan bayi. Ini sangat penting karena pada masa sesudah kelahiran, bayi sangat rentan terhadap infeksi dan lingkungan yang sangat baru baginya. Kolostrum juga akan menghilangkan rasa lapar pada bayi baru lahir tanpa harus disertai asupan gula atau susu formula.

Menurut Dr. Utami, ASI yang keluar pada lima menit pertama dinamakan foremilk. Komposisinya berbeda dengan ASI yang keluar kemudian atau hindmilk. Foremilk lebih encer, mengandung protein tinggi dan karbohidrat rendah.

Sementara hindmilk mengandung karbohidrat tinggi, protein rendah, dan kandungan lemaknya 4-5 kali lebih banyak dibandingkan dengan foremilk. Hindmilk inilah yang mengenyangkan bayi.

Warisan Zat Kebal
Selain mengenyangkan, kolostrum mengandung zat immunoglobulin atau kekebalan. Jenis protein yang bertugas memerangi infeksi dalam tubuh itu tidak dimiliki oleh susu hewan. Kandungan zat ini dalam kolostrum sekitar 10 hingga17 kali lebih banyak daripada di dalam ASI matang. Itu sebabkan bayi yang mendapat ASI secara optimal memiliki kekebalan tubuh 15 sampai 20 kali lebih baik.

Sebenarnya tubuh bayi sudah mulai membuat antibodi sendiri segera setelah dilahirkan. Namun, antibodi itu baru akan mencapai puncak kekuatannya pada usia bayi sembilan sampai 12 bulan.

Karena itu, ASI merupakan antibodi bantuan yang paling kuat bagi pertumbuhan awal si bayi. Terlebih lagi karena ASI ternyata mengandung berjuta-juta sel darah putih yang bermanfaat untuk membunuh kuman jahat dalam usus bayi.

Kandungan zat kekebalan ini benar-benar menakjubkan. Kekebalan tubuh ibu-ibu terhadap berbagai penyakit akan diturunkan pada bayinya lewat ASI. Seandainya ada seorang ibu mempunyai zat kekebalan terhadap lima penyakit, bayinya juga akan memperoleh warisan yang sama.

Efektivitas pemanfaatan ASI akan terasa sekali bila yang menyusui bayi itu adalah ibunya sendiri. Bila dua orang ibu melahirkan dan bayinya tertukar, ASI yang diberikan oleh keduanya tidak akan cocok walaupun tak memiliki efek samping pada bayi.

Enam Bulan Pertama
Mengingat ASI adalah makanan yang paling cocok bagi bayi, WHO menganjurkan agar selama usia 0 sampai enam bulan bayi hanya diberi ASI sebagai menu utama dan satu-satunya. Anjuran ini sangat beralasan karena selain setipe dan memiliki zat kekebalan, kandungan ASI juga bisa mencerdaskan bayi.

Di dalam ASI terdapat taurine yang sangat penting dalam proses pembentukan sel-sel otak, sel-sel saraf, dan retina. Taurine adalah asam amino yang digunakan untuk membantu penyerapan lemak dan vitamin yang larut dalam lemak. Taurine juga membantu mengatur detakan jantung, menstabilkan membran sel, dan memelihara kelangsungan sel-sel otak.

Selain itu, taurine juga mengandung lemak rantai panjang. Lemak inilah cikal bakal pembentuk Arachidonic Acid (ARA) atau asam linoleat (omega-6) dan Docosa Hexaenoic Acid (DHA) atau asam alfa-linolenat (omega-3). Kedua bahan ini diketahui amat berguna dalam perkembangan sistem saraf otak dan indra penglihatan. Dr. Utami menegaskan bahwa DHA dan ARA ini tidak terdapat dalam susu sapi atau susu hewan lain.

Walaupun dalam susu formula (susu sapi yang dibuat dengan tambahan bahan lain) dikatakan dilengkapi DHA dan ARA, penyerapan pencernaan bayi tidak akan optimal, hanya sekitar 20 persen. Padahal, DHA dan ARA yang terdapat dalam ASI bisa diserap oleh pencernaan bayi sebanyak 100 persen dengan bantuan enzim lipase.

Optimalnya penyerapan DHA dan ARA itu membuat perkembangan otak bayi semakin maksimal. Kecerdasannya akan terus meningkat, apalagi bila sampai usia 12 bulan ia masih diberi ASI, selain makanan tambahan lain yang bemanfaat.

Sehat Jiwa Raga
Manfaat ASI tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Efek pada kesehatan jiwa juga ada. Dr. Utami menyatakan bahwa pemberian ASI eksklusif merupakan bagian dari pendidikan anak. ASI tidak hanya mencerdaskan anak dari segi otak, tetapi juga hati dan spiritualitas.
Walaupun masih perlu penelitian lanjut terhadap kesimpulan itu, uraian sementara ini bisa membantu menjelaskan konsep tersebut. Saat berada dalam kandungan, bayi seolah berada dalam surga yang sungguh menyejukkan dan menenteramkan.

Air ketuban yang silih berganti karena selalu mengalami siklus bagaikan usapan lembut, rahim tempat bayi tidur melindunginya dari bahaya, detak jantung ibu bagaikan senandung merdu yang meninabobokan dia, dan napas ibu seolah ayunan yang menimangnya. Suasana ini benar-benar nyaman dan tiada duanya bagi bayi.

Sewaktu lahir, bayi benar-benar merasa terkejut dengan dunia yang lain sama sekali dengan yang ia rasakan sebelumnya. Banyak hal asing harus dihadapinya. Satu-satunya yang bisa dipercaya adalah sang ibu. Karena itu, menyusui menjadi terapi yang sangat tepat untuk mengembalikan suasana yang dirasakan bayi selama ada dalam kandungan.

Dekapan dan elusan lembut sang ibu saat menyusui membuat bayi merasa aman dan tenteram. Ketenteraman itu ikut mendukung pertumbuhan sang bayi dengan lebih baik.

“Apalagi bila sang ibu membacakan kata-kata bijak seperti dari kitab suci. Bayi akan semakin bertumbuh sesuai harapan sang ibu, menjadi anak baik dan saleh,” tutur Dr. Utami. @ Abd

Iklan

Balita Terlalu Banyak Minum Susu

sumber : sehatgroup.web.id / milissehat.web.id
04/10/2004
Q : Anak saya 21 bl,saya bingung dengan anak saya yang susah sekali makan, untuk 4 sendok makan itu sudah bagus untuk anak saya, dan dia lebih suka susu kedelai, dalam satu hari bisa 10 botol, saya sudah coba kurangi susunya, tapi sama saja porsi makannya tidak berubah bahkan susah sekali, yang paling dia suka hanya chips kentang, apakah anak saya akan ketergantungan susu sampai dia besar?Saya sangat butuh jawabanya bu….Sebelumnya saya ucapkan terimakasih.
Iin

A : Dear IInThanks buat emailnyaUsia se anakmu memang sedang “susah-susah”nya. Mereka mau menunjukkan independensinya dalam berbagai bentuk termasuk perihal pola makanDi lain pihak, di atas usia 1 tahun, susu bukan lagi makanan inti. Susu hanya merupakan asupan kalsium padahal kamu bisa dapat kalisum dari makanan sehari-hari.
Kalau terlalu banyak susu, otomatis anak tak mau makan; anaknya gemuk tetapi biasanya kadar Hbnya agak rendah alias anemis karena bagaimanapun susu tersebut tak lagi mencukupi kebutuhannya. Kalau boleh saya sarankan, tidak ada cara lain selain mengurangi susunya menjadi 500 – 750 ml saja sehari.
Kedua, tentunya dia akan merasa lapar tetapi memaksa minta susu. Katakan dengan tegas tanpa marah, bahwa kamu tidak bisa memberikan susu. Saya selalu tekankan kepada para orang tua, bahwa, anak-anak merupakan individu yang sangat cerdas. Di satu sisi, dia akan bertahan dengan keinginannya sampai suatu saat kalau ia melihat ibunya konsisten dan tegas, ia pun akan menyerah. Kedua, anak sangat cerdas sehingga, tubuh dan otaknya tidak akan membiarkan ia diserang kelaparan hebat, pasti dia akan mengkonsumsi makanannya. Nah oleh karena itu, sambil dibatasi susunya, kamu sediakan snacks sehat di piring-piring kecil yang sewaktu-waktu akan dia ambil ketika rasa laparnya tidak tertahankan. Ok selamat mencoba

Dr.wati

10 CARA EFEKTIF BICARA Dengan SI BATITA

SUMBER : tabloid-nakita.com

Kenali karakteristik serta kematangan berpikirnya.
Kalau Anda sudah tahu sifat-sifat si kecil dan bisa mengira-ngira kecepatannya menangkap informasi, Anda akan lebih mudah melakukan pendekatan yang pas untuknya. Ya, tiap anak pasti butuh pendekatan yang berbeda tergantung pada pembawaannya. Namun demikian, ada patokan dasar tentang resep berkomunikasi efektif dengan si kecil. Nah, mari kita simak patokan-patokan tersebut seperti disampaikan Linawaty Mustopoh Psi., dari Experd Consulting, berikut ini:
* Singkat dan sederhana
Akui saja, kita terkadang bingung bila mendengar pembicaraan yang panjang lebar atau ngalor-ngidul, bukan? Nah, apalagi anak-anak. Lantaran itu, gunakan bahasa yang sederhana dan singkat. Saat kita memberikan suatu intruksi, katakan “Yuk, cuci tangan sebelum makan!” Lebih baik lagi bila orangtua mencontohkan bagaimana cara melakukan hal tersebut.
Kemudian, saat berkomunikasi dengan si kecil perhatikan intonasi dan nada suara. Jangan terburu-buru atau dengan nada menghardik. Intonasi tak jelas atau nada terburu-buru, membuat si batita kurang tanggap akan apa yang dibicarakan.
* Jelas
Kemampuan berbahasa, si batita, kan, masih terbatas. Hindari kata-kata yang membingungkan. Misalnya, “Awas, jangan ke sana, nanti jatuh!” Anak, kan, jadi bingung, kenapa dilarang? Terus, maksud kata “ke sana” itu apakah ke ruang tamu, kamar, dapur, teras atau lainnya. Berbeda bila Anda mengatakan, “Sayang, kamarmu baru dipel. Masih licin. Duduk di kursi dulu ya!” Jadi, pesan yang disampaikan harus jelas maknanya. Jangan sampai menimbulkan banyak pemahaman. Maka berbicaralah sesuai bahasa yang dipahami batita.
* Suara lembut
Namanya juga menghadapi anak, jadi harus disikapi dengan nada atau suara lembut dan menenangkan. Dengan begitu, si kecil seolah-olah tidak sedang dimarahi. Ucapan yang terdengar keras, suara tinggi atau penuh kemarahan, membuat anak me-rasa tak aman, nyaman bahkan takut. Apalagi kalau mengucapkannya dibarengi bahasa tubuh yang tidak menyenangkan, seperti bertolak pinggang. Jadi tunjukkan pula raut wajah yang cerah, kata-kata dan suara yang menyenangkan. Tak lupa pula untuk melakukan kontak fisik, misalnya sambil memeluk atau mengelus-ngelusnya.
* Konkret
Anak usia batita masih dalam tahap berpikir praoperasional. Maksudnya, dalam memahami sesuatu anak masih berpikir konkret. Dia belum dapat berpikir secara abstrak. Jadi, gunakan bahasa sekonkret mungkin. Misalnya, “Kamu jangan pelit dong sama teman.” Lebih enak kalau dibilang, “Yuk, mainnya sama-sama, tak perlu rebutan mainan.”
* Empati
Tempatkanlah diri kita pada situasi dan kondisi yang dihadapi anak. Salah satunya adalah mau mendengar dan memahami si kecil. Entah itu keinginan atau keluhannya. Tentunya mendengar dalam arti luas, tidak hanya melibatkan indra pendengaran tapi juga perasaan atau mata hati. Jadi sebaiknya jangan menuntut anak untuk mengerti keinginan kita, tapi berusahalah memahami anak terlebih dahulu. Kelak, bersikap empati ini dapat menumbuhkan keterbukaan dan rasa percaya antara orangtua dan anak.
* Perhatikan Situasi dan Kondisi
Pilihlah waktu yang enak dan tepat saat mengajak si kecil berbicara. Jangan ketika anak sedang asyik bermain atau beraktivitas, tiba-tiba kita ingin mengajaknya ngobrol. Beri jeda waktu pada dia untuk me-nyelesaikan kegiatannya itu. Alih-alih mau berbincang, dia malah bisa merasa terganggu.
* Kembangkan dialog
Sebaiknya hindari kata-kata yang bernada satu arah atau bahkan cenderung memaksa, contoh,”Adek harus tidur siang, ya. Jangan membantah!” Sikap “otoriter” seperti itu hendaknya ditinggalkan. Jadi, kembangkan upaya dialogis. Biarkan anak mengutarakan pendapatnya. Berikan kesempatan pada anak untuk berekspresi atau menyatakan apa yang ingin disampaikannya. Bisa kita pancing misalnya dengan cara, “Menurut Adek, tidur siang itu baik enggak?”
Dengan mengupayakan cara dialogis, komunikasi yang dijalin diharapkan lebih efektif. Contoh, ketika kita meminta tolong si kecil, daripada memberi perintah, “Nak, buang bungkus permen di tong sampah dong!”, lebih baik ajukan pertanyaan yang membuat anak sampai pada keputusan yang harus dilakukan. “Ayo, ke mana bungkus permen ini mesti dibuang?” Nada bertanya lebih efektif karena anak belajar bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Lontaran pertanyaan seperti ini sekaligus mengasah kemampuan berpikir si kecil.
* Konsisten
Saat berbicara dengan anak, tunjukkan kesungguhan atau konsistensi. Umpamanya, ketika memutuskan untuk mengatakan “tidak”, terhadap sesuatu hal, maka kita harus konsisten. Misalnya, tak boleh makan cokelat menjelang tidur. Dengan bersikap konsisten, maka tak memungkinkan anak untuk melakukan “tawar-menawar”. Sebaiknya sikap konsisten ini juga ditunjukkan semua orang di rumah termasuk saudara, kerabat atau kakek-neneknya. Anak akan paham aturan mana yang boleh dan mana yang tidak. Dengan begitu, komunikasi yang dijalin bisa efektif.
* Tegas
Dalam berkomunikasi kita sebaiknya tegas. Tapi bukan berarti dengan marah. Sikap tegas diperlukan bila si kecil “membandel” atau melakukan sesuatu yang sebetulnya sudah kita peringatkan. Misalnya, saat nonton teve, posisi duduknya selalu terlalu dekat. Padahal, kita sudah minta agar duduknya mundur atau menjauh. Bila dia tak juga mau menurut, maka boleh saja kita menarik tubuhnya agar menjauh dari teve. Beri alasan kenapa nonton teve tak boleh dekat-dekat karena bisa merusak mata.
* Beri pujian
Dalam berkomunikasi, unsur pujian mengandung makna positif buat si kecil. Dia akan merasa dihargai atas apa yang dilakukannya. Tiap si kecil berhasil melakukan sesuatu, kita sebagai orangtua jangan lupa untuk mengucapkan, “Terima kasih.” Berikan juga ciuman atau peluk sayang sebagai tanda kita merasa senang. Dengan merasa dihargai, anak pun belajar menghargai orang lain.
Hilman Hilmansyah.

Encouragement

sumber : Source : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/338297/

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah
tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu
telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali.
Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya
dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan
itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan
itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai
buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah
pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai
tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu
guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya.
Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap
simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang
anak-anaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit
memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum,
melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun
melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak
sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris,
saya dapat
menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa
Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran
berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran
kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang
bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di
Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman
drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya
pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar
siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya
dan
penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan
jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang
saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan
kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal
sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah
ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan,
penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap
seakan-akan
kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi
yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut
hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement,
melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan
yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan
ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana
guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah
anak-anak di sana mampu
menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel.
Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan
karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke
pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita
mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di
depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor
anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun
rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang
mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah
memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah
telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak
saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di
tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia
pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna),tetapi
saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang
berbeda.

Melahirkan Kehebatan

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan
rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh
sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur,
dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan
seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…;
Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas
kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi
lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan
mengendurkan
semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak
manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya,
dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan
(dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian
kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang
sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau
bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan
ancaman atau
ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau
memberi ancaman yang menakut-nakuti. (*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

Konstipasi

sumber : http://www.sehatgroup.web.id
Apakah Konstipasi Itu?
Konstipasi adalah kondisi di mana feses memiliki konsistensi keras dan sulit dikeluarkan.1 Masalah ini umum ditemui pada anak-anak. Buang air besar mungkin disertai rasa sakit dan menjadi lebih jarang dari biasa. Pada anak normal, konsistensi feses dan frekuensi BAB dapat berbeda-beda.1,2 Bayi yang disusui ASI mungkin mengalami BAB setiap selesai disusui atau hanya sekali dalam 7-10 hari. Bayi yang disusui formula dan anak yang lebih besar mungkin mengalami BAB setiap 2-3 hari.
Dengan demikian frekuensi BAB yang lebih jarang atau konsistensi feses yang sedikit lebih padat dari biasa tidak selalu harus ditangani sebagai konstipasi. Penanganan konstipasi hanya diperlukan jika pola BAB atau konsistensi feses menyebabkan masalah pada anak. Umumnya dengan nutrisi yang baik, perbaikan kebiasaan BAB, dan penggunaan obat yang sesuai jika diperlukan, masalah ini dapat ditangani.
Gejala dan Tanda
Konstipasi dapat menyebabkan gejala berikut:1,2,3

Sakit perut, BAB mungkin disertai rasa sakit
Turun atau hilangnya napsu makan
Rewel
Mual atau muntah
Turunnya berat badan
Noda feses di celana dalam anak yang menandakan banyaknya feses yang tertahan di rektum (bagian usus besar terdekat dengan anus). Jika anak mengalami konstipasi yang cukup berat, ia dapat kehilangan kemampuan merasakan kebutuhan ke toilet untuk BAB sehingga menyebabkan anak BAB di celananya. Hal ini disebut encopresis atau fecal incontinence.
Mengedan untuk mengeluarkan feses yang keras dapat menyebabkan robekan kecil pada lapisan mukosa anus (anal fissure) dan perdarahan
Konstipasi meningkatkan risiko infeksi saluran kemih
Konstipasi dapat disebabkan oleh:1,2,3

Kecenderungan alami gerakan usus yang lebih lambat, misalnya pada anak dengan riwayat feses yang lebih padat dari normal pada minggu-minggu awal setelah lahir.
Nutrisi yang buruk, misalnya yang tinggi lemak hewani dan gula (pencuci mulut, makanan-makanan manis), serta rendah serat (sayuran, buah-buahan, whole grains).
Beberapa obat dapat menyebabkan konstipasi, misalnya antasid, fenobarbital (obat kejang), obat pereda nyeri, dan obat batuk yang mengandung kodein.
Kebiasaan BAB yang tidak baik, misalnya tidak tersedianya cukup waktu untuk BAB dengan tuntas.
Kurangnya asupan cairan.
Kurangnya aktivitas fisik.
Adanya kondisi anus yang menyebabkan nyeri, misalnya robekan pada lapisan mukosa anus (anal fissure). Hal ini seperti lingkaran setan karena mengedan untuk mengeluarkan feses yang keras dapat menyebabkan terjadinya fissure, dan nyeri yang disebabkan fissure menyebabkan anak menahan kebutuhan BAB yang memperparah konstipasi.
Toilet training yang dipaksakan. Toilet training pada anak yang belum siap secara emosional dapat mengakibatkan anak memberontak dengan menahan keinginan BAB. Jika anak belum siap untuk menjalani toilet training, tunggu beberapa bulan sebelum memulainya kembali.
Kadang konstipasi dapat terjadi karena penganiayaan seksual (sexual abuse).
Konstipasi dapat merupakan akibat dari beberapa penyakit seperti tidak adanya saraf normal di sebagian usus (Hirschprung disease), kelainan saraf tulang belakang, kurangnya hormon tiroid, keterbelakangan mental, atau beberapa kelainan metabolik. Namun sebab-sebab ini relatif jarang dan umumnya disertai gejala lain.
Penanganan
Pada bayi di bawah usia satu tahun, kemungkinan masalah organik yang mungkin menyebabkan konstipasi harus diteliti dengan lebih cermat, terutama apabila konstipasi disertai gejala lain seperti:5

Keluarnya feses pertama lebih dari 48 jam setelah lahir, kaliber feses yang kecil, gagal tumbuh, demam, diare yang diserai darah, muntah kehijauan, atau terabanya benjolan di perut
Perut yang kembung
Lemahnya otot atau refleks kaki, adanya lesung atau rambut di punggung bagian bawah
Selalu tampak lelah, tidak tahan cuaca dingin, denyut nadi yang lambat
Banyak BAK, banyak minum
Diare, pneumonia berulang
Anus yang tidak tampak normal baik bentuk maupun posisinya
Lebih dari 95% konstipasi pada anak di atas satu tahun adalah konstipasi fungsional (tidak ada kelainan organik yang mendasarinya).5 Umumnya masalah ini dapat ditangani dengan cara sebagai berikut:2
Kebiasaan BAB yang baik

Anak yang mengalami konstipasi harus dilatih untuk membangun kebiasaan BAB yang baik.2 Salah satu caranya adalah dengan membiasakan duduk di toilet secara teratur sekitar lima menit setelah sarapan, bahkan jika anak tidak merasa ingin BAB. Anak harus duduk selama lima menit, bahkan jika anak telah menyelesaikan BAB sebelum lima menit tersebut habis.
Anak juga harus belajar untuk tidak menahan keinginan BAB. Kadang anak mengalami kekhawatiran jika harus menggunakan toilet di sekolah. Jika orang tua mencurigai adanya masalah tersebut, orang tua hendaknya membicarakan masalah tersebut dengan anak maupun pihak sekolah.
Makanan tinggi serat

Serat membuat BAB lebih lunak karena menahan lebih banyak air dan lebih mudah untuk dikeluarkan. Memperbanyak jumlah serat dalam makanan anak dapat mencegah konstipasi. Beberapa cara untuk memenuhi kebutuhan serat anak adalah:1,2,3
Berikan minimal 2 sajian buah setiap hari. Buah yang dimakan beserta kulitnya, misalnya plum, aprikot, dan peach, memiliki banyak kandungan serat.
Berikan minimal 3 sajian sayuran setiap hari.
Berikan sereal yang tinggi serat sepert bran, wheat, whole grain, dan oatmeal. Hindari sereal seperti corn flakes.
Berikan roti gandum (wheat) sebagai ganti roti putih.
Banyak minum dapat mencegah konstipasi. Biasakan anak untuk minum setiap kali makan, sekali di antara waktu makan, dan sebelum tidur. Namun perlu diperhatikan bahwa terlalu banyak susu sapi atau produk susu lainnya (keju, yogurt) justru dapat mengakibatkan konstipasi pada sebagian anak.
Laksatif

Laksatif mungkin dibutuhkan untuk menangani konstipasi. Jika laksatif tidak bekerja atau harus diberikan berulang kali, anak harus dievaluasi oleh dokter. Beberapa laksatif yang dapat diberikan adalah:1,2
Jus prune: Jus prune adalah laksatif ringan yang efektif pada sebagian anak. Jus ini mungkin akan terasa lebih enak jika dicampur dengan jus buah lain.
Psyllium husk (salah satu merknya adalah metamucil). Laksatif ini bekerja dengan melunakkan feses sehingga lebih mudah dikeluarkan.
Senokot (senna). Laksatif ini bekerja dengan menstimulasi usus untuk mengosongkan isinya. Laksatif ini berbentuk butiran yang dapat dicampur dengan makanan seperti es krim.
Durolax (bisacodyl). Bentuk laksatif ini adalah tablet dan bekerja dengan cara yang sama seperti senokot.
Coloxyl (docusate). Laksatif ini berupa tablet atau tetes, bekerja dengan melunakkan feses.
Agarol (parafin cair dan fenoftalein). Laksatif ini berbentuk cairan, bekerja dengan melunakkan dan melicinkan feses, serta menstimulasi usus untuk mengosongkan isinya.
Parachoc (parafin cair dengan rasa coklat-vanila). Laksatif ini berbentuk cairan dan bekerja dengan cara yang sama seperti agarol.
Laksatif lain yang digunakan misalnya lactulose, sorbitol, barley malt extract, magnesium hydroxyde, atau magnesium citrate.4 Namun bayi di bawah usia satu tahun memiliki risiko lebih besar untuk mengalami keracunan magnesium.
Perlu diingat bahwa penggunaan laksatif jangka panjang dapat berbahaya bagi anak. Karena itu, laksatif hanya boleh digunakan dengan pengawasan dokter dan sesuai dosis yang diberikan.3
Supositoria
Jika setelah 2-3 hari penggunaan laksatif konstipasi anak tidak membaik, supositoria seperti glycerin atau durolax suppositories dapat digunakan.1,2 Supositoria harus dilapisi dengan pelicin yang larut dalam air seperti KY jelly sebelum dimasukkan ke rektum (bagian usus besar terdekat dengan anus). Jangan gunakan vaselin karena vaselin tidak larut dalam air. BAB biasanya akan terjadi 30 menit setelah pemberian supositoria.
Enema
Enema tidak boleh diberikan pada anak kecuali jika dokter memerintahkannya.2
Irigasi usus
Hal ini hanya diperlukan pada sebagian kecil anak yang mengalami konstipasi yang sangat berat.2 Hal ini dilakukan di RS dengan memberikan cairan bernama Golytely baik dengan cara diminum atau melalui selang lambung.
Berikut ini adalah algoritma penanganan konstipasi pada dua kelompok usia: di bawah satu tahun dan di atas satu tahun yang diambil dari http://www.aafp.org/afp/20060201/469.html [1]
Sumber :

Clinical Practice Guideline. Constipation Guideline. Available from http://www.rch.org.au/clinicalguide/cpg.cfm?doc_id=5180 [2]
Kids Health Info for Parents. Constipation. Available from http://www.rch.org.au/kidsinfo/factsheets.cfm?doc_id=3718 [3]
Children and Constipation: Ways to Cope and When to Worry. Available from http://www.mayoclinic.com/health/constipation/HQ00416 [4]
Baker SS, et al. Constipation in Infants and Children: Evaluation and Treatment. Available from J Pediatr Gastroenterol Nutr.Volume 29(5).November 1999.612-626
Biggs WS, Dery WH. Evaluation and Treatment of Constipation in Infants and Children. Available from http://www.aafp.org/afp/20060201/469.html [1]
Oleh : dr. Nurul Itqiyah H

Article printed from Sehat Group: http://www.sehatgroup.web.id
URL to article: http://www.sehatgroup.web.id/?p=184
URLs in this post:
[1] http://www.aafp.org/afp/20060201/469.html: http://www.aafp.org/afp/20060201/469.html
[2] http://www.rch.org.au/clinicalguide/cpg.cfm?doc_id=5180: http://www.rch.org.au/clinicalguide/cpg.cfm?doc_id=5180
[3] http://www.rch.org.au/kidsinfo/factsheets.cfm?doc_id=3718: http://www.rch.org.au/kidsinfo/factsheets.cfm?doc_id=3718
[4] http://www.mayoclinic.com/health/constipation/HQ00416: http://www.mayoclinic.com/health/constipation/HQ00416
[5] Image: http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.sehatgroup.web.id/?p=184

Serba-serbi penyebab anak susah makan & tips praktis mengatasinya

sumber : milis sehat
(Ditulis bebas & dirangkum dari berbagai sumber oleh Luluk Lely Soraya I)

Problema sulit makan ini dialami anak di usia balita. Umumnya mulai
ditemui pada usia anak 1-4 th. Banyak hal yang menyebabkan anak susah
makan. Karena bagi anak, saat makan itu bukan hanya pemenuhan gizi tetapi
juga saat penuh tantangan, rasa ingin tahu, berlatih, belajar, dsb.

Berikut sekilas bahasan penyebab anak susah makan & tips singkat
mengatasinya :

1. Bosan dengan menu makan ataupun penyajian makanan.

Menu makan saat bayi (> 6 bl) yg itu-itu saja akan membuat anak bosan dan
malas makan. Belum lagi cara penyajian makanan yg campur aduk antara lauk
pauk spt makanan diblender jadi satu. Sama spt orang dewasa, kalau kita
makan dg menu yg sama tiap hari dan disajikan dg campur aduk, pasti akan
malas makan.
Begitu juga dg pengenalan makanan kasar.

Tips : Tentu saja variasikan menu makan anak. Jika perlu buat
menu makan anak min. selama 1 minggu utk mempermudah ibu mengatur variasi
makanan. Jadi tergantung pinter-pinter-nya ibu memberikan makanan
bervariasi. Spt kalau anak gak mau nasi, kan bisa diganti dg roti, makaroni,
pasta, bakmi, dsb.
Penyajian makanan yg menarik juga penting sekali. Jangan campur adukkan
makanan. Pisahkan nasi dg lauk pauknya. Hias dg aneka warna & bentuk. Jika
perlu cetak makanan dg cetakan kue yg lucu.

2. Memakan cemilan padat kalori menjelang jam makan, sehingga
anak tidak merasa lapar. Seperti permen, minuman ringan, coklat, hingga
snack ber-MSG, dsb. Akibatnya ketika jam makan tiba anak sudah
kekenyangan.

Tips : Atur makanan selingan atau cemilan jauh sebelum waktu
makan tiba. Beri juga cemilan yang sehat spt potongan buah, sayur kukus,
keju, yoghurt, es krim, cake buatan ibu, dsb.

3. Minum susu terlalu banyak

Susu di banyak keluarga dianggap sebagai makanan ¡¨dewa¡¨ yang bisa
menggantikan makanan utama spt nasi, sayur & lauk pauknya
Orangtua cenderung kurang sabar memberikan makanan kasar.
Atau orang tua sering takut anaknya kelaparan, sehingga makanan diganti
dengan susu..Akhirnya, daripada perut si anak tidak kemasukan makanan,
diberikan saja susu berlebihan. Padahal setelah anak berusia 1th, kehadiran
susu dalam menu sehari-hari bukanlah hal wajib. Secara gizi, susu hanya
untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan fosfor saja. Kan kalsium dan fosfor ini
dengan mudah kita dapatkan dalam ikan-ikanan, sayur & buah.

Tips : Kurangi susu ! Di atas usia 1 tahun kebutuhan susu hanya 2
gelas sehari. Mulailah melatih anak dg berbagai jenis makanan. Ubah pola
pikir orangtua.

4. Terpengaruh kebiasaan orang tuanya.

Anak suka meniru apa yang dilakukan oleh anggota keluarga lainnya,
terutama orang tuanya. Banyak perilaku yg dilakukan ortunya yg mempengaruhi
perilaku makan anak. Mis. anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang
malas makan (ex. diet), akan mengembangkan perilaku malas makan juga.

Perilaku lainnya, sering kita jumpai orang tua masih menyuapi anak yang
sudah kelas V SD. Akibatnya anak gak terlatih untuk bisa makan sendiri.

Perilaku makan yang kurang pas juga spt kebiasaan ortu ketika menenangkan
anak yg sedang rewel dengan cara membelikan jajanan yang padat kalori
(permen, minuman ringan, coklat, dsb.).
Akibatnya anak kekenyangan & malas makan.

Tips :
Perhatikan & ubah kebiasaan & perilaku orang tua kapanpun, termasuk
perilaku makan. Ingat, anak merekam, belajar & menerapkan semua hal yg ia
dapat dari lingk sekitarnya, terutama ortunya. Biarkan anak mencoba memakan
makanan sendiri sejak dini, tanpa disuapi. Gak perlu takut berantakan.
Feeding is about learning.

5. Munculnya sikap negativistik „» fase normal yg dilewati tiap anak.

Pada usia >2 th, anak sering ¡¨membangkang¡¨/ tidak mau patuh. Saat makan
tiba, anak terkadang bilang ¡¨gak mau¡¨, makanannya suka dilepeh atau
dilempar, dsb. Ini disebut sikap negativistik.
Sikap negativistik merupakan fase normal yg dilalui tiap anak usia balita.

Sikap ini juga suatu bagian dari tahapan perkembangannya untuk menunjukkan
keinginan untuk “independent”. Jadi batita umumnya ditandai dengan “AKU”,
artinya segala sesuatunya harus berasal dari AKU bukan dari orang lain;
intinya “power”.

Nah banyak ortu yg gak memahami hal ini, sehingga lantaran khawatir
kecukupan gizi anak tidak terpenuhi, orang tua biasanya makin keras
memaksa anaknya makan. Ada ortu yg mengancam anaknya bahkan memukul. Cara2
tsb harus dihindari.

Justru semakin anak pd usia ini dipaksa, justru akan makin melawan
(sebagai wujud negativistiknya). Realisasinya apalagi kalau bukan
penolakan terhadap makanan. Bisa dimaklumi kalau ada orang yang sampai
dewasa emoh makan nasi atau sama sekali tak menyentuh daging. Bisa jadi
sewaktu masih kecil yang bersangkutan sempat mengalami trauma akibat
perlakuan orang tuanya yang selalu memberinya makan secara paksa.

Tips : Pahami kondisi anak dg baik. Jadilah ortu yg otoritatif. Artinya
bersikap tidak memaksa, tetapi juga tidak membiarkan begitu saja. Bina
komunikasi yg baik dg anak. Bersabarlah menghadapi anak. Kan rumah adalah
¡¨madrasah¡¨ pertama & utama bagi anak.

5. Anak sedang sakit / sedih
Anak tidak mau makan dapat juga disebabkan krn anak sedang sakit atau
sedang sedih. Kalau semula anak terlihat aktif, riang dan “cerewet”, maka di
kala sakit ia lebih suka diam dan terlihat malas-malasan.

Tips : Kembali pada konsep bina komunikasi yg baik. Jangan paksakan anak
kalau gak mau makan. Beri makanan ringan yg padat kalori, spt makaroni
skutel, dsb.

Yg jelas dan perlu diingat baik2 oleh tiap ortu adalah
Seberapapun anak gak mau / susah makan, ia tidak akan membiarkan dirinya
kelaparan ! Selama mentalnya sehat.
Artinya, begitu ia kelaparan, maka ia akan makan.

Tetap kreatif mengolah & menyajikan makanan, bina komunikasi yg baik,
terus belajar menjadi ortu & memahami kondisi anak, dan bersabar.

Agar Sarapan tak Jadi Masalah

sumber :http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1210566672,4606,

Agar Sarapan tak Jadi Masalah
Gizi.net – Sarapan kerap menjadi ‘tugas’ di pagi hari yang amat berat. Tak hanya anak-anak Indonesia. Di Amerika Serikat pun, menurut American Dietetic Association, lebih dari 40 persen anak perempuan dan 32 persen laki-laki melewatkan sarapan setiap harinya.

Meski menyuruh anak-anaknya sarapan, banyak juga orangtua yang bertanya-tanya: mengapa sih tidak sarapan jadi masalah? ”Kan waktu istirahat sekolah bisa makan camilan?” komentar seorang ibu.

Para ahli gizi memberi jawaban sederhana. Anak yang tak sarapan tidak mengonsumsi nutrien yang diperlukan tubuhnya untuk memproduksi energi yang diperlukan. Padahal, di sekolah anak membutuhkan energi untuk konsentrasi dan menyelesaikan tanggung jawab belajarnya.

Negara bagian Minnesota, AS, pernah mengadakan penelitian tentang korelasi antara makan pagi dan performa anak di sekolah. Hasilnya, ”anak-anak yang sarapan sebelum berangkat sekolah memiliki performa lebih baik dalam matematika dan membaca, meningkatkan rentang perhatian mereka, dan meningkatkan perilaku mereka secara keseluruhan.’

Ikut ayah dan ibu
Bagaimana cara sarapan bisa memengaruhi performa anak di sekolah? Para dokter anak di Boys Town Pediatrics melihat dengan sarapan maka energi yang cukup untuk memulai hari pun tersedia. Sarapan, kata mereka, akan menghilangkan gejala kelaparan seperti sakit kepala, letih, mengantuk, gelisah; membantu anak berpikir lebih cepat saat mengerjakan tugas sekolah dan merespons lebih jelas atas pertanyaan guru.

Sarapan, kata para dokter anak itu, juga memengaruhi performa mental anak, membuat mereka tak gampang kesal, membantu membuat mereka lebih tenang dan tak mudah cemas.

Secara fisik, anak yang rajin sarapan pun lebih fit. Menurut Boys Town Pediatrics, anak-anak itu cenderung makan nutrien penting untuk tumbuh sehat, termasuk zat besi, kalsium, serat, fosfor dan magnesium, juga vitamin-vitamin seperti riboflavin, vitamin A, C, dan B12. Mereka lebih bisa mengendalikan berat badan; memiliki tingkat kolesterol darah yang lebih rendah, jarang sakit perut di sekolah, dan jarang kena flu.

Orangtua bisa mendorong sang buah hati untuk membiasakan diri sarapan dengan memberikan contoh yang baik. Contoh terbaik adalah, selalu sarapan. Lihatlah keluarga presenter kondang, Erwin Parengkuan.

Sudah sejak lama Erwin, istrinya, Jana, dan anak mereka, Julio membiasakan hidup dengan selalu melakukan sarapan pagi. Dengan sarapan, Erwin bisa lebih fokus dalam melaksanakan semua aktivitasnya. Mereka terbiasa melakukan sarapan pada pukul 05.00 WIB.

”Memang itu waktu yang sangat tepat untuk melakukan sarapan. Karena aktivitas saya selalu dimulai pada pagi hari. Jadi, saya harus mencari waktu sepagi mungkin untuk melakukan sarapan,” ujar Erwin.

Biasanya saat sarapan, Erwin, Jana serta anaknya berkumpul di meja makan. Sembari sarapan, pagi itu biasanya didiskusikan juga rencana-rencana yang akan dilaksanakan pada hari itu.

Duduk bersama keluarga untuk sarapan setiap pagi adalah teladan yang baik bagi anak. Agar sarapan menjadi kegiatan tak terlewatkan, para dokter anak menyarankan orangtua untuk meletakkan makanan mudah dijangkau setiap pagi. Dalam keadaan tergesa-gesa sekalipun anak-anak tetap bisa menyambar makanannya.

Dan, agar kebiasaan sarapan lebih ‘meresap’ lagi para ayah bunda bisa melibatkan anak lebih jauh. Misalnya, meminta bantuan anak untuk merencanakan menu sarapan setiap pekan.

Cepat dan sehat
Sebagai seorang istri dan ibu, Jana terbilang sangat cekatan. Biasanya, untuk mengantisipasi keluarganya malas sarapan, ia membuat menu makanan yang bervariasi. ”Bisa dari keju, roti, telur atau mi,”ucap Jana. Menurut pakar gizi dan kuliner, Toeti Soenardi, cara yang dilakukan Jana tersebut sangat tepat. Karena biasanya, anggota keluarga akan malas melakukan sarapan karena berbagai alasan. ”Di antaranya karena waktu yang terbatas dan menu yang monoton,”ungkap Toeti.

Orang bilang, makan empat sehat lima sempurna sudah cukup dalam memenuhi kriteria gizi yang banyak. Namun, kata Toeti, metode itu saja tidak akan cukup ampuh untuk membawa anak pada kebiasaan hidup sehat. ”Biasakanlah anak dan keluarga untuk melakukan sarapan di pagi hari. Biasakan pula untuk membuat menu yang enak, cepat namun tetap sehat,” ungkap Toeti. Beberapa menu kombinasi yang bisa digunakan untuk meracik sarapan, adalah keju dan roti.

Dua makanan tersebut, menurut Toeti, sangat bagus karena di dalamnya sudah terkandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Beberapa contoh makanan olahan yang bisa dimakan saat waktu sarapan sangat terbatas di antaranya roti meises keju, sandwich keju, mi rebus, dan roti pisang keju.

Keempat jenis makanan itu, kata Toeti, adalah makanan yang paling sering dikonsumsi oleh anak-anak dan remaja pada saat sarapan. Terutama, mereka yang tinggal di kota besar atau menengah. ”Makanan itu pula yang paling mudah diterima perut manusia saat pagi hari,”tutur dia.

Suplai lengkap
Jika memang menu roti dan keju masih dianggap asing dan cukup susah mencarinya, Toeti memberikan solusi lain. Menurut dia, sarapan dengan nasi putih goreng atau mi rebus pun, masih sama bagusnya. Asalkan, disertai dengan lauk pauk yang bisa memenuhi standar gizi.

Meski jarang dikonsumsi, menurut Toeti, sarapan dengan mi rebus pun cukup memberikan asupan gizi yang banyak. Dalam seporsi mi rebus komplet, sedikitnya terkandung 314 kalori dan 259 mg kalsium.

Gambaran lain tentang kandungan gizi bisa dilihat dari menu roti meises keju. Menurut Toeti, dalam menu tersebut sedikitnya terkandung 310 kalori dan 210 mg kalsium. ”Kandungan gizi seperti itu sudah cukup untuk menopang tingginya aktivitas anak kecil,”jelas dia.

Anda yang memiliki keluarga dan anak, sebaiknya memang harus membiasakan untuk memasok kebutuhan gizi keluarga melalui sarapan pagi. Untuk diketahui, sarapan yang baik dan memenuhi kriteria gizi adalah dengan menyuplai karbohidrat (55-65 %), protein (12-15 %), lemak (24-30 %), vitamin, dan mineral yang bisa diperoleh dari sayur atau buah.

Bagaimana menerapkan kandungan gizi itu? Menurut Toeti, itu dibutuhkan pemahaman yang cukup. Yang mungkin agak mudah diikuti adalah dengan memberikan suplai sayuran dan buah saat sarapan pagi.

”Untuk kandungan protein, karbohidrat, lemak dan vitamin, itu bisa didapat dari telur, nasi, daging, ikan, dan susu.” Karenanya, tinggal diramu saja kira-kira berapa kebutuhan sarapan pagi yang harus mengandung gizi di atas.

Satu hal yang biasanya selalu dilakukan oleh anak-anak dan orangtua pada saat sarapan pagi, yakni tidak menghabiskan makanan. Menurut Toeti, sarapan sangat penting untuk mengisi energi tubuh yang sudah terkuras habis pada saat tidur semalaman.”Biasakan untuk menghabiskan jatah sarapan pagi. Karena itu untuk menopang kebutuhan energi tubuh sepanjang hari,” tegas dia.

Melewatkan Sarapan? No, Way!
Ini alasan yang sering terlontar dari mulut anak saat melewatkan sarapannya: * ”Aku ketiduran” –Pasang alarm 15 menit lebih awal.
* ”Aku nggak lapar kalau pagi” — Minumlah susu, bisa juga dicampur buah, sebagai pengganti makan.
* ”Terburu-buru sih, nggak ada waktu makan” –Siapkan semua keperluan sekolah –seragam, buku-buku– pada malam hari.
* ”Aku nggak suka sarapan” –Makanlah sesuatu yang tidak biasa jadi menu sarapan di rumah, misalnya, pizza lebihan semalam dengan tambahan topping, sandwich, ayam goreng.
* ”Aku ingin langsing” –Melewati sarapan tak membuat tubuh kita jadi langsing. Kenyataannya, anak yang tidak sarapan cenderung makan lebih banyak kalori di siang hari karena itu akan menambah berat badannya.

(mus)
Republika Online – Minggu, 11 Mei 2008