Anemia Pada Anak


Anemia Pada Anak

sumber : milis balita-anda
http://www.keepkidshealthy.com/welcome/commonproblems/anemia.html
(translated by: Sylvia Radjawane)

Anemia umumnya terdeteksi saat dokter anak Anda melakukan tes darah rutin
kepada anak Anda yang sedang tidak sakit (biasanya saat usia 9 bulanan dan
saat menginjak usia remaja). Jika hasil tes darahnya ‘rendah’, Anda mungkin
diberitahukan bahwa anak Anda punya kadar zat besi yang rendah dalam
tubuhnya. Tetapi hasil tes ini tidaklah benar2 akurat. Yang umum diperiksa
adalah kadar hematokrit anak Anda, yang biasanya terdeteksi dengan
hematokrit level ‘rendah’ bagi penderita anemia.

Lalu mengapa dokter anak Anda mengatakan bahwa kadar zat besi dalam tubuh
anak Anda rendah? Ini karena kadar zat besi yang rendah adalah penyebab
terbesar terjadinya anemia pada anak2. Metode standar untuk menangani
sebagian besar penderita anemia ‘ringan’ anak2 yaitu dengan konsumsi vitamin
penambah kadar zat besi setiap hari selama 1 bulan, dan jika setelah 1
bulan, kadar zat besi ternyata meningkat, berarti diagnosa anemia karena
‘kekurangan zat besi’ adalah tepat. Sebaliknya, jika hasil tes hitung darah
setelah 1 bulan konsumsi vitamin tidak menunjukkan kemajuan, maka dilakukan
tes lebih lanjut, yang mungkin termasuk CBC (tes hitung darah lengkap),
kadar zat besi, TIBC (total kapasitas ikatan zat besi dalam darah), kadar
ferritin, dan hitung reticulosit. Tes penunjang lain dapat berupa tes kadar
timah, usapan darah (di mana sel2 darah diamati di bawah mikroskop lab.
untuk mendeteksi ketidaknormalan), elektroforesis hemoglobin dan/atau tes
feses untuk mengamati kemungkinan adanya darah dalam feses anak Anda.

Dengan metode CBC, selain rendahnya kadar zat besi dapat terdeteksi, metode
ini bisa juga dijadikan petunjuk adanya indikasi MCV (microcytic anemia)
yang rendah, tingginya RDW (medote pengukuran keragaman ukuran dan bentuk
sel darah merah), juga rendahnya RBC (tes hitung sel darah merah). Tetapi
memang keseluruhan jenis tes semacam ini tidak selalu ada di semua klinik
pediatrik, tergantung dari jenis pemeriksaan yang akan dilakukan.

Tes versi baru semestinya sudah segera tersedia, untuk memudahkan melakukan
diagnosa terhadap anemia karena kurang zat besi. Dengan memeriksa kandungan
hemoglobin retikulosit (HR), kekurangan zat besi dapat didiagnosa lebih
awal, karena umumnya level komponen HR ini langsung terindikasi ‘rendah’
dalam tes, bahkan sebelum seorang anak mengalami anemia.

Penyebab lainnya terhadap anemia ‘ringan’ yang umum dialami anak2, khususnya
dengan kadar MCV normal dan tidak ada gejala lainnya, adalah adanya infeksi
yang baru saja dialami sang anak, seperti: infeksi telinga, infeksi sinus,
yang dapat menyebabkan produksi sel darah merah menurun dalam kurun waktu
tidak lama (biasanya sekitar 1 bulan).

Jika anak Anda tidak memiliki faktor resiko kekurangan zat besi, dan
memiliki anemia ‘ringan’ tanpa gejala lain, juga memiliki MCV (microcytic
anemia) normal, maka tes hitung darahnya dapat diulangi sekitar 1 bulan
kemudian tanpa perlu memulai treatment dengan suplemen zat besi, apalagi
jika ia sebelumnya memang baru saja mengalami infeksi.

Kondisi ‘anemia’ lebih serius biasanya terjadi jika seorang anak mengalami
anemia ‘parah’ yang menyebabkan gejala2 lain, seperti detak jantung yang
cepat atau sesak napas, bunyi (desingan) jantung yang tidak normal, tingkat
energi yang menurun (cepat lelah), pusing (sering pingsan), organ hati yang
membesar (hepatomegaly), atau kuning (jaundice). Anak2 dengan anemia yang
disertai gejala2 seperti ini harus segera dievaluasi untuk mengetahui
penyebab anemia-nya dan segera diupayakan treatment yang tepat untuk
menangani kondisinya.
*Iron Deficiency Anemia*

Anemia pada anak2 umumnya disebabkan kurangnya zat besi dalam tubuh mereka.
Rendahnya kadar zat besi dalam tubuh menyebabkan hitung darah jadi rendah
dan dapat menyebabkan anak Anda merasa cepat lelah, memiliki kulit yang
pucat, sering rewel dan merasa lemah. Kondisi seperti ini dapat menjurus
kepada banyak masalah lain, termasuk ketidakmampuan belajar atau problem
peri laku.

Penyebab kurangnya zat besi sebagian besar juga disebabkan menu
makanan/minuman sehari-hari yang tidak cukup kandungan zat besi di dalamnya.
Kondisi seperti ini dapat disebabkan konsumsi susu formula yang rendah zat
besi, tidak ditunjang oleh ASI aau susu formula/sereal yang diperkaya dengan
zat besi, tidak cukup mengonsumsi makanan yang kaya zat besi, dan yang
paling umum terjadi, disebabkan mengonsumsi susu terlalu banyak. Susu sapi
reguler tidak mengandung banyak zat besi di dalamnya, dan ini justru
mencegah anak Anda menyerap zat besi dari nutrisi lain dalam organ ususnya.
Terlalu banyak susu juga dapat menyebabkan anak Anda kehilangan sedikit
darah dalam tinjanya.

Penanganan terhadap kondisi anemia karena kurangnya zat besi meliputi
konsumsi vitamin zat besi dan mengatur ulang pola menu dengan makanan yang
kaya zat besi. Bahan makanan yang ‘kaya’ zat besi, diantaranya: daging,
kacang2an, bayam, juga bahan makanan lain yang diperkaya dengan zat besi.
Baik juga untuk mengonsumsi vitamin zat besi dengan jus jeruk, karena
vitamin C dapat membantu mempercepat penyerapan zat besi. Jangan mengonsumi
vitamin zat besi bersamaan dengan susu sapi.

Penting pula untuk dokter Anda memeriksa ulang tes hitung darah anak Anda
sekitar sebulan setelah anak Anda menjalani treatment menu makanan/suplemen
vitamin zat besi untuk memastikan bahwa treatment ini berjalan baik dan
kondisi anemia sudah tertangani.
*Other causes of Anemia in Children*

Walaupun kekurangan zat besi adalah penyebab umum dari anemia yang diderita
anak2, masih banyak lagi kondisi lainnya yang juga menyebabkan anemia,
termasuk di antaranya:

a. Anemia karena berkurangnya produksi sel darah merah (yang akan menjurus
kepada hasil hitung retikulosit yang rendah), selain dari kurangnya zat
besi, disebabkan di antaranya:

– Keracunan timah (khususnya bagi anak2 yang punya resiko terpapar racun
timah dari lingkungan)
– Thalassemia (kelainan darah genetis yang kadang disalah-tafsirkan
sebagai ‘kurang kadar zat besi’). Hal ini karena Thalassemia juga dapat
menyebabkan rendahnya MCV (microcytic anemia). Jika anak Anda memiliki
microcytic anemia yang juga tidak membaik setelah manjalani treatment dengan
suplemen zat besi, perlu pula mempertimbangkan kemungkinan penyakit
Thalassemia. Walaupun jenis Thalassemia tertentu dapat menyebabkan anemia
yang ‘parah’, tapi dalam sebagian besar kasus, Thalassemia hanya menyebabkan
anemia ‘ringan’ yang tidak menunjukkan gejala apa2 juga tidak membutuhkan
treatment medis khusus. Metode tes untuk diagnosa Thalassemia di antaranya
adalah metode hemoglobin elektroforesis. Penyakit Beta Thalassemia umum
terjadi di kalangan penduduk keturunan Afrika dan Mediterania. Penyakit
Alpha Thalassemia lebih cenderung dialami orang Afro-Amerika dan Asia.
– Penyakit kronis (banyak jenis penyakit kronis dapat menyebabkan
anemia)
– Kekurangan vitamin B12 (kadang dihubungkan dengan kebiasaan makan
vegetarian yang ketat) dan/atau kekurangan asam folat (kebanyakan dialami
anak2 yang mengonsumsi susu kambing). Kondisi2 seperti ini dihubungkan
dengan hasil tes hitung darah yang mengindikasikan meningkatnya kadar MCV
(macrocytic anemia)
– Aplasia sel darah merah, termasuk indikasi penyakit TEC (Transient
Erythroblastopenia) di masa kanak2.
– Anemia aplastik
– Penyakit2 berbahaya, termasuk leukimia (yang umumnya dihubungkan
dengan hasil tes darah yang mengindikasikan rendahnya hitung platelet darah
dan jumlah sel darah putih yang abnormal) dan gejala2 lainnya.

b. Anemia karena meningkatnya kerusakan sel2 darah merah (hasil hitung
retikulosit yang normal), disebabkan di antaranya:

– Sickle sel anemia dan kondisi lainnya yang menyebabkan rusaknya
hemoglobin, termasuk Hemoglobin E, yang lazim dalam populasi masyarakat di
Asia Tenggara
Kerusakan lain pada sel2 darah merah, seperti rusaknya membran
(sphrecytosis atau elliptocytosis yang diperoleh secara genetis), kerusakan
enzim (kekurangan enzim glucose-6-phosphate dehydrogenase / G-6-PD dan
kekurangan enzim pyruvate kinase)

Anemia hemolitik

c. Anemia karena kehilangan darah dapat menjadi kondisi sekunder dari adanya
kejadian trauma atau bleeding terus-menerus, juga dari perdarahan menstruasi
dalam jumlah yang berlebihan atau berlangsung berkepanjangan (yang juga bisa
menyebabkan anemia karena kurangnya zat besi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s