MENEGUR BATITA ORANG LAIN


sumber : http://www.tabloid-nakita.com/

Ada trik tersendiri agar orangtua si batita tak malah marah.
Di area playground yang sarat dengan anak-anak kecil, tidak aneh kalau ayah dan ibu malah merasa sebal. Biasa, kan, kalau di antara anak-anak itu ada yang tidak mengikuti aturan, lantas membuat anak kita menangis atau terganggu keasyikan bermainnya. Mau menegur anak orang lain, takut malah jadi ribut. Gemes deh! Sebetulnya boleh enggak sih kita menegur anak orang lain? Seandainya boleh, bagaimana menghindari hal yang tak mengenakkan agar tak memicu keributan?
Tak bisa dipungkiri, usia batita memang rawan teguran. Menjadi tugas kitalah sebagai orang dewasa yang kebetulan berada di tempat kejadian untuk mengoreksi perilaku yang salah. Mengoreksi anak sendiri tentu tak masalah. Sebaliknya, mengoreksi anak orang lain, yang tidak kita kenal pula, tentu butuh trik khusus.
* JANGAN EMOSIONAL
– Jangan terperangkap pada budaya “rikuh”. Jangan mendiamkan saja, atau malah memberi reward dengan tertawa karena menganggap perilaku salah itu lucu. Bagi anak, hal-hal tersebut ditangkapnya sebagai bentuk penghargaan sehingga ia terpanggil untuk kembali melakukannya.
– Minimalkan perhatian kita kepadanya. Pisahkan anak yang saling mendorong tanpa banyak bicara. Atau alihkan pembicaraan ketika anak orang lain berkata tak pantas kepada anak lain.
– Hindari reaksi spontan bernada geram. “Eh kamu jangan dorong-dorong gitu dong! Kamu nakal banget, anak siapa sih?” Wah kalau kata-kata seperti itu yang terlontar pasti bakalan ribut. Reaksi emosional ini tentu saja ditangkap orangtua si “anak nakal” sebagai tuduhan yang menyudutkan. Ingat, kalaupun si anak melakukan kesalahan belum tentu orangtuanya yang mengajarkan. Sebagai orang yang berani menuduh anak orang, kita juga harus siap dituduh balik tak mengerti soal perkembangan anak. Bukankah “kenakalan” lumrah dilakukan anak usia batita?
* SADARKAN LEWAT CANDA
– Kalau kita menegur anak lain dengan santun, umumnya orangtua si anak bisa menerima kok.
– Menegur dengan cara bercanda biasanya juga lebih mudah diterima tanpa membuat orang lain tersinggung. Misalnya. “Wah, anak-anak kita kok ngomongnya makin canggih ya?” Meski sebenarnya berupa teguran, orangtua si anak tidak akan tersinggung karena nada bicara kita jauh dari kesan menyalahkan dan memojokkannya sebagai orangtua yang tidak bisa “mendidik” anak.
JIKA ANAK KITA YANG DITEGUR
Anak sering diibaratkan sebagai setengah nyawa orangtuanya. Jadi baik dan buruk, pasti dibela. Kalau anak kita ditegur orang lain, pasti ada sedikit celah di hati untuk merasa tersinggung. Apalagi kalau orang tadi menegurnya disertai nada tinggi.
Namun, Anda sebaiknya tetap berkepala dingin dengan tidak langsung bersikap reaktif, apalagi marah-marah. Bila ternyata si buah hati benar melakukan kesalahan, jelaskan apa kesalahannya dan bimbing dia untuk minta maaf pada teman yang “dinakalinya”. Sikap rendah hati lebih arif daripada mempertaruhkan gengsi yang dapat berkembang menjadi pertengkaran terbuka di tempat umum.
Santi Hartono.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s