9 CARA BIJAK AGAR SI BATITA JINAK


sumber : http://www.tabloid-nakita.com/

Dengan cara ini Anda tak harus capek berteriak.
“Sudah berapa kali Mama bilang jangan masuk ke rumah dengan sandal yang kotor? Lihat, lantai dan karpet menjadi kotor. Semua kotor. Kenapa sih kamu enggak pernah dengerin apa kata Mama?” Anda sering marah-marah seperti itu? Anda tidak sendirian. Banyak orangtua, walaupun mereka mencintai anak-anaknya lebih dari apa pun juga, frustrasi gara-gara ulah si batita. Ia seperti tidak mau mendengar apa yang kita katakan dan tidak mau mengikuti apa yang kita minta. Disuruh diam malah rewel, diminta berbagi malah berebut dan paling senang bilang, “Enggak mau!”
Daripada capek marah-marah terus, mulai sekarang siapkan rencana lebih awal untuk menghadapi sikap negativistik si batita. Mari berstrategi menghadapinya, tentu dengan cara yang bijak dan tanpa teriak-teriak. Saran-saran berikut ini sudah terbukti membantu banyak orangtua dalam mengurangi perilaku anak yang sulit dan meningkatkan interaksi positif antara dia dan Anda.
1. Luangkan waktu
Luangkan waktu yang efektif dan positif dengan si batita setiap hari. Bila dia tahu bahwa dia dicintai dan dihormati oleh orangtuanya, dia akan memberikan respons yang baik dengan menunjukkan sikap yang menyenangkan. Cara terbaik agar ia tahu bahwa Anda mencintai dan menghormatinya adalah dengan meluangkan waktu yang efektif dan positif bersama mereka, walaupun hanya 10-15 menit setiap harinya (bagi anak-anak waktu yang sedikit ini akan terasa lama). Tak perlu menunggu weekend untuk dapat meluangkan waktu dengannya, sebaliknya setiap hari cobalah untuk memanfaatkan waktu yang singkat di antara kesibukan di rumah dan kantor. Duduklah sebentar untuk bermain bersamanya, membacakan buku ataupun mendengarkan ceritanya. Beri pujian atau umpan balik yang positif atas sikap manisnya dan dukunglah eksplorasinya selama itu tidak terlalu membahayakan. Semua ini membangun dasar perasaan cinta, percaya, dan menghormati.
2. Berikan perhatian
Sekecil apa pun perhatian yang Anda berikan kepada si kecil, itu tetap lebih baik daripada tidak sama sekali. Perhatian orangtua merupakan hadiah yang luar biasa bagi anak-anak. Mereka akan melakukan apa saja agar mendapatkan perhatian yang lebih meskipun bentuk perhatian itu bersifat negatif seperti berteriak, berargumentasi, ataupun mengomeli mereka. Oleh karena itu pastikan Anda tidak memberikan perhatian terhadap perilaku negatif si batita lebih dari perhatian yang Anda berikan terhadap perilaku positifnya. Maksudnya supaya si kecil tahu bahwa Anda akan memberikan perhatian positif yang lebih banyak terhadap perilaku yang juga positif.
Namun ingat, berikan pujian secara spesifik agar ia tahu mana perbuatan yang benar dan terdorong untuk mengulanginya lagi. Misalnya, katakan, “Wah hebat, Adek sudah bisa makan sendiri,” atau ” Terima kasih, Sayang sudah merapikan tempat tidur sendiri.” Jangan lupa pujian yang tulus merupakan dorongan yang kuat bagi anak untuk melakukan hal-hal yang baik dan benar. Cara ini jauh lebih efektif daripada mengomel, berteriak, ataupun memberikan hukuman.
3. Terapkan aturan dan rutinitas
Adanya aturan kapan makan pagi, siang, sore, mandi, tidur yang merupakan rutinitas akan membantu segala sesuatunya berjalan mulus. Buatlah aturan kegiatan yang jelas dan apa saja perilaku yang diizinkan. Misalnya, makan harus duduk, tidak boleh diemut, gosok gigi dan cuci kaki-tangan sebelum tidur. Jika anak mengerti apa yang Anda inginkan dari mereka, Anda tidak perlu berteriak ataupun mengomeli mereka.
4. Persingkat dan perjelaspermintaan Anda
Sering kali, orangtua marah bila si kecil tidak mau mengikuti dan melakukan apa yang disuruh. Lantas keluarlah omelan yang panjang, “Mama, kan, sudah bilang beberapa kali! Kamu, kok, enggak ngerti-ngerti sih!” Supaya si batita paham, berikan perintah dalam kalimat yang pendek, singkat dan jelas, misalnya “Lepas sepatumu kalau masuk rumah, supaya lantai dan karpet tidak kotor.” Dengan demikian Anda tak perlu menghabiskan energi dan si kecil bisa menangkap pesan dengan jelas.
5. Perlihatkan sikap membantu
Barangkali, kata-kata yang paling sering didengar anak dari orangtuanya adalah “tidak”, “jangan” dan “diam”. Masalahnya, kata-kata tadi hanya mengajari anak untuk TIDAK atau JANGAN melakukan ini dan itu tanpa memberinya masukan apa yang seharusnya ia lakukan. Si kecil sebetulnya senang membantu orangtua tetapi dia harus diminta dan diberi tahu dengan persis bagaimana caranya. Misalnya pada saat Anda sedang menyiapkan makan malam di dapur, si batita ikut ke dapur dengan membawa mainannya dan bermain di lantai dapur. Sebetulnya dia ingin berada dekat ayah atau ibunya. Jadi, jangan memarahinya tetapi katakan, “Yuk, kita letakkan mainanmu di meja supaya sambil menyiapkan makanan, Mama bisa melihat kamu main.” Anda harus kreatif menemukan cara yang menyenangkan bagi anak agar mau membantu. Pujilah jika ia “berhasil” menyelesaikan tugasnya.
6. Jangan berteriak dan mengomel
Kala lelah menghadapi rengekan anak, sering kali kita berteriak menghardiknya karena merasa inilah cara yang paling jitu. Cara lainnya, mungkin Anda menyerah mengikuti kemauannya. Hindari kedua cara itu. Bila anak tahu rengekannya membuat Anda menyerah, lain waktu ia akan mengulanginya lagi.
Untuk mengatasinya biarkan ia mengerti bahwa Anda mau mendengarkannya tetapi hanya jika ia bicara dengan jelas dan manis. Tanpa merengek ataupun mengamuk.
7. Bersungguh-sungguh
Sikap orangtua yang sungguh-sungguh akan menimbulkan rasa hormat pada anak. Kalau misalnya Anda mau si kecil menyahut dan mendekat ketika dipanggil, Anda harus mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Jika mereka diam saja ketika dipanggil, datangi mereka dan bawa mereka ke tempat tadi Anda memanggil. Misalnya, di meja makan karena saat itu waktunya makan malam. Katakan kepadanya bahwa Anda mengharapkan kehadirannya di meja makan. Anak akan belajar bahwa ia harus menjawab bila dipanggil dan tidak membiarkan orang lain memanggil-manggil sampai dua atau tiga kali.
8. Belajar dari konsekuensi
Anak-anak lebih mudah memahami sesuatu dengan baik dan benar justru dari konsekuensi bukan dari omelan Anda. Anak-anak bukanlah orang dewasa kecil yang bisa diharapkan langsung mematuhi aturan secara otomatis melalui perintah-perintah orangtuanya. Biarkan mereka belajar dari kesalahan yang mereka lakukan. Misalnya, jika si kecil tidak mau memasukkan mainannya ke dalam kotak, biarkan ia kehilangan mainannya dan menerima konsekuensi itu. Kadang-kadang belajar dari cara yang sulit merupakan cara yang efektif untuk bisa memahami intinya. Jadi biarkan si kecil menerima konsekuensi dan belajar dari kesalahan. Jangan lupa untuk memberikan pujian jika mereka melakukan sesuatu dengan benar.
9. Beri contoh nyata
Anak-anak lebih cepat belajar sesuatu dari contoh nyata bukan dari omelan. Bila Anda memperlakukan orang lain dengan hormat, baik, dan sopan, maka si kecil akan melihatnya dan melakukan hal yang sama bila berhadapan dengan orang lain, termasuk terhadap Anda. Bila Anda rajin mengomel kepada pasangan atau pembantu di rumah, tahu apa yang akan terjadi? Anak pun akan melakukan hal sama. Tentu saja orangtua tidaklah sempurna, jadi bagaimana bila Anda melakukan kesalahan di depan anak? Akuilah bahwa Anda pun dapat melakukan kesalahan dan belajar dari pengalaman itu. Dari pengakuan seperti ini, anak akan belajar banyak. Jika Anda melakukan kesalahan terhadapnya, jangan ragu untuk meminta maaf. Contoh ini akan menjadi cerminan positif bagi si kecil.
Aline (dari berbagai sumber)
MENEGUR BATITA ORANG LAIN
Ada trik tersendiri agar orangtua si batita tak malah marah.
Di area playground yang sarat dengan anak-anak kecil, tidak aneh kalau ayah dan ibu malah merasa sebal. Biasa, kan, kalau di antara anak-anak itu ada yang tidak mengikuti aturan, lantas membuat anak kita menangis atau terganggu keasyikan bermainnya. Mau menegur anak orang lain, takut malah jadi ribut. Gemes deh! Sebetulnya boleh enggak sih kita menegur anak orang lain? Seandainya boleh, bagaimana menghindari hal yang tak mengenakkan agar tak memicu keributan?
Tak bisa dipungkiri, usia batita memang rawan teguran. Menjadi tugas kitalah sebagai orang dewasa yang kebetulan berada di tempat kejadian untuk mengoreksi perilaku yang salah. Mengoreksi anak sendiri tentu tak masalah. Sebaliknya, mengoreksi anak orang lain, yang tidak kita kenal pula, tentu butuh trik khusus.
* JANGAN EMOSIONAL
– Jangan terperangkap pada budaya “rikuh”. Jangan mendiamkan saja, atau malah memberi reward dengan tertawa karena menganggap perilaku salah itu lucu. Bagi anak, hal-hal tersebut ditangkapnya sebagai bentuk penghargaan sehingga ia terpanggil untuk kembali melakukannya.
– Minimalkan perhatian kita kepadanya. Pisahkan anak yang saling mendorong tanpa banyak bicara. Atau alihkan pembicaraan ketika anak orang lain berkata tak pantas kepada anak lain.
– Hindari reaksi spontan bernada geram. “Eh kamu jangan dorong-dorong gitu dong! Kamu nakal banget, anak siapa sih?” Wah kalau kata-kata seperti itu yang terlontar pasti bakalan ribut. Reaksi emosional ini tentu saja ditangkap orangtua si “anak nakal” sebagai tuduhan yang menyudutkan. Ingat, kalaupun si anak melakukan kesalahan belum tentu orangtuanya yang mengajarkan. Sebagai orang yang berani menuduh anak orang, kita juga harus siap dituduh balik tak mengerti soal perkembangan anak. Bukankah “kenakalan” lumrah dilakukan anak usia batita?
* SADARKAN LEWAT CANDA
– Kalau kita menegur anak lain dengan santun, umumnya orangtua si anak bisa menerima kok.
– Menegur dengan cara bercanda biasanya juga lebih mudah diterima tanpa membuat orang lain tersinggung. Misalnya. “Wah, anak-anak kita kok ngomongnya makin canggih ya?” Meski sebenarnya berupa teguran, orangtua si anak tidak akan tersinggung karena nada bicara kita jauh dari kesan menyalahkan dan memojokkannya sebagai orangtua yang tidak bisa “mendidik” anak.
JIKA ANAK KITA YANG DITEGUR
Anak sering diibaratkan sebagai setengah nyawa orangtuanya. Jadi baik dan buruk, pasti dibela. Kalau anak kita ditegur orang lain, pasti ada sedikit celah di hati untuk merasa tersinggung. Apalagi kalau orang tadi menegurnya disertai nada tinggi.
Namun, Anda sebaiknya tetap berkepala dingin dengan tidak langsung bersikap reaktif, apalagi marah-marah. Bila ternyata si buah hati benar melakukan kesalahan, jelaskan apa kesalahannya dan bimbing dia untuk minta maaf pada teman yang “dinakalinya”. Sikap rendah hati lebih arif daripada mempertaruhkan gengsi yang dapat berkembang menjadi pertengkaran terbuka di tempat umum.
Santi Hartono. Ilustrator: Pugoeh
Konsultan ahli:
Anna Surti Ariani, Psi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s