AKU MASIH KECIL, Eh Sudah BESAR!


sumber : http://www.tabloid-nakita.com/

“Kakak, biar Mama yang angkat pancinya, kamu kan masih kecil nanti airnya tumpah!”
Sadar atau tidak, sebagai orangtua kita sering memakai standar ganda dalam menentukan besar atau kecilnya usia anak. Kalau hendak melarang, dipakailah penekanan, “Kamu, kan, masih kecil.” Tapi kalau anak sedang manja, sering kita menolaknya dengan alasan, “Kakak, kan, sudah besar.” Nah, mana tahu standar ganda ini akan dimanfaatkan oleh si prasekolah yang mulai coba-coba bermain dengan logika. Kalau minta gendong, maunya dia dianggap masih kecil. Namun, saat mencoba sesuatu, ia ingin dibilang sudah besar.
Ah, ada-ada saja ulah si prasekolah. Kira-kira seperti apa yang dipikirkan si kecil (ngomong-ngomong, setuju kan kalau menyebutnya si kecil?). Cari tahu deh supaya kita tidak dimanfaatkan olehnya.
Semau-Maunya
Ada beberapa faktor yang membuat anak menganggap dirinya besar atau kecil sesuai kebutuhan. Faktor-faktor ini merupakan beberapa kemampuan yang memang sudah berkembang di usia prasekolah, yaitu:
Melegitimasi
Kemampuan membenarkan pendapat diri sendiri mulai dilakukan di usia prasekolah. Umpama, anak punya kemauan namun kita melarangnya padahal dia ingin sekali melakukannya. Nah, salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan melegitimasi diri supaya mendapat persetujuan dari kita. Dia akan mengungkapkan kalau dirinya sudah besar dan mampu melakukan pekerjaan orang dewasa. Atau sebaliknya, mengungkapkan dirinya masih kecil sehingga pantas diperlakukan seperti anak yang lebih kecil.
Memanipulasi Lingkungan
Selain melegitimasi, anak pun berusaha memanipulasi lingkungannya. Dia membujuk kita untuk percaya dan yakin kalau dirinya mampu melakukan pekerjaan orang dewasa atau pantas diperlakukan sebagai anak yang lebih kecil. Terkadang, tanpa sadar orangtua terbawa dengan manipulasi mereka. Terutama ibu yang merasa bersalah pada anaknya karena seharian bekerja. Dia akan mengabulkan permintaan anak untuk digendong karena sang ibu pun ingin memuaskan emosinya lantaran seharian tidak bersama anak.
Dua kemampuan ini, melegitimasi dan memanipulasi, akan berlangsung semakin baik dengan dukungan kemampuannya yang lain, yakni kemampuan dalam menyetarakan diri dan otonomi diri.
Menyetarakan
Anak kan masih berpikir secara konkret dari apa yang dilihatnya. Ketika dia melihat anak kecil digendong, di saat tertentu dia akan menyetarakan dirinya ke anak kecil tersebut, “Aku juga kan masih kecil jadi aku boleh digendong.” Atau sebaliknya, ketika dia melihat pekerjaan tertentu yang sering dilakukan oleh orang dewasa, dia akan menyetarakan dirinya dengan orang dewasa/besar.
Otonomi Diri
Di usia ini anak juga sudah masuk pada fase otonomi dan inisiatif diri. Dia merasa berhak untuk melakukan sesuatu sesuai keinginannya sendiri. Tak ada orang lain yang boleh mengaturnya, orangtua sekalipun. Nah, ketika dia ingin berbuat atau melakukan sesuatu sesuai keinginannya, dia pun akan melakukannya, “Aku bisa mengangkat panci, jadi aku boleh dong melakukannya.”
Jangan TERJEBAK
Ketika anak ingin melegitimasi dan memanipulasi supaya keinginannya dipenuhi, sebaiknya kita tidak terjebak. Kita perlu melakukan antisipasi supaya anak mendapatkan pemahaman yang benar akan konsep besar-kecil. Berikut caranya:
Tidak Ikut Melegitimasi
Ketika anak berusaha melegitimasi kebesaran atau kekecilannya, sebaiknya kita tidak ikut melegitimasi. Contoh, ketika anak bilang dirinya sudah besar sehingga boleh mengangkat panci yang berisi air panas, kita harus melarangnya. Aktivitas ini cukup membahayakan sementara kemampuan anak belum prima.
Katakan pada anak, “Kak, yang mengangkat panci biar Mama saja, Kakak angkat sendok pancinya saja!” Terangkan kenapa ia tak boleh mengangkat air di panci tersebut. Demikian pula ketika anak minta digendong padahal tubuhnya sudah cukup berat, kita bisa menolak untuk melegitimasi keinginannya, “Badan kamu berat lo, kok minta digendong? Yang digendong itu adik bayi yang belum bisa jalan!” dan seterusnya.
Dengan tidak melegitimasi keinginan anak, kita memberikan pelajaran kepadanya bahwa untuk memenuhi keinginan harus melalui pertimbangan, seperti faktor risiko, kemampuan dan kekuatan diri sendiri, serta situasi. Kita perlu menjelaskan faktor-faktor ini supaya anak memahami dampak yang terjadi bila dia memaksakan keinginannya.
Bila kita ikut melegitimasi, anak akan beranggapan bahwa pendapatnya memang benar, “Tuh kan aku memang masih kecil, buktinya aku boleh digendong.” Jadi, anak beranggapan bahwa dirinya masih kecil seperti adik bayinya karena sama-sama digendong, hanya badannya doang yang berbeda. Selain itu, bila yang dilakukan anak dapat membahayakannya, terkena air panas misal, tentu sangat merugikan anak.
Beri Pengalaman Baru
Banyak anak yang sulit diberi tahu. Bila demikian, kita boleh saja mengarahkannya dengan cara memberikan pengalaman baru kepada anak. Umpama, membuka tutup panci lalu memperlihatkan air yang mengepulkan uap, “Lihat Kak, airnya panas sekali sampai mengepulkan uap. Nanti kalau terkena badanmu bagaimana?”
Syukur bila anak tak jadi melakukannya. Tetapi bila ia tidak juga mengurungkan niatnya, alihkan dengan memberinya pengalaman baru yang tidak menyenangkan, seperti mencipratkan setitik air panas tersebut ke tangannya biar dia merasakan panasnya. Ketidaknyamanan akan membuatnya mengurungkan niat. Dari situ, anak akan tahu kenapa kita melarangnya melakukan suatu hal.
Harus Konsisten
Ketika kita bilang bahwa anak sudah besar dan tidak akan digendong, kita harus konsisten dengan pendapat itu. Bila tidak, anak akan berpersepsi lebih kuat kalau dirinya memang masih kecil, “Betul kan aku masih kecil, buktinya Mama mau menggendong aku!”
Bila kita bersikap konsisten, tentu akan lebih baik karena kita sudah memberikan arahan yang sesuai dengan kemampuan usianya. Anak bisa berjalan sendiri tanpa harus digendong dan ternyata mampu melakukannya. Ini adalah sebuah pembelajaran yang sangat berharga untuknya.
Tetapi bila anak begitu ngotot, kita bisa mengarahkannya dengan cara menunjukkan bahwa tubuhnya sudah sangat berat. “Lihat, Mama keberatan menggendong kamu,” sambil kita mengeluarkan napas yang ngos-ngosan. Dengan begitu anak akan melihat kalau tubuhnya memang sudah lebih besar dari sebelumnya.
Belajar BESAR KECIL Dari KESEHARIAN
Anak usia prasekolah dapat membedakan konsep besar dan kecil. Dia tahu kalau tubuhnya lebih besar dari adiknya atau lebih kecil dari kakaknya. Hal ini didapat anak dari pembelajaran yang kita berikan sehari-hari. Misal, tanpa sadar kita sering membandingkan si kakak dengan adiknya, si kakak dengan saudara sepupunya, dan sebagainya. Atau ketika adik bayi lahir, kita kan sering mengajaknya berdialog, “Lihat, adik kecil lucu ya. Nah kamu kakaknya kan lebih besar, harus melindunginya!” Dengan pengalaman seperti ini, memberi sinyal ke anak kalau dirinya lebih besar dari adik bayinya. Tanpa sadar pun kita sering menanamkan konsep besar kecil ini di banyak kegiatan, “Kamu kan lebih besar, jadi harus mengalah dengan adik dong!”
Irfan Hasuki. Foto: Ferdi/NAKITA
Narasumber:
Juriana, S.Psi., Psi.,
psikolog dan dosen dari Universitas Negeri Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s