3 Alasan Anak Prasekolah Senang Mengolok


sumber : http://www.tabloid-nakita.com/

Maksudnya bukan menghina karena ia memang belum paham. Lalu kenapa?
LEBIH Karena LINGKUNGAN
Ada beberapa penyebab kenapa anak prasekolah suka mengolok-olok teman, di antaranya:
Meniru Lingkungan
Lingkungan berperan penting dalam membentuk perilaku anak. Banyak perilaku anak yang muncul karena proses peniruan anak terhadap lingkungannya. Sebab di usia ini anak berada pada tahap belajar mengamati lingkungan dan kemudian meniru apa yang dilihatnya. Bisa saja dia melihat orangtuanya pernah mengolok-olok orang lain, “Hei si gendut, tubuhmu seperti gajah!” Maka anak pun akan meniru dengan mengatakan hal yang seperti didengarnya. Atau kalau kita merasa tak pernah melakukannya, bisa saja anak menirunya dari orang di luar rumah maupun televisi.
Bila anak berada di lingkungan yang terbiasa ceplas-ceplos, terbuka, dan menganggap mengolok merupakan hal biasa atau bentuk candaan yang lumrah, proses peniruan anak akan lebih besar. Selama hal tersebut diterapkan di lingkungannya sendiri mungkin tak masalah, namun bila sudah dibawa keluar dimana normanya berbeda, anak mendapatkan cap negatif. Mungkin saja anak dianggap kurang ajar, tidak sopan, dan sebagainya.
Sifat Egois
Proses peniruan akan diperkuat oleh sifat keegoisan anak yang saat itu sedang tinggi-tingginya. Dia beranggapan apa yang ada di dalam dirinya adalah yang terbaik, sedangkan orang lain lebih jelek sehingga mendorongnya untuk mengolok anak lain. Contoh, meskipun rambutnya sama keriting dengan teman, dia tetap mengolok karena sifat egoisnya itu, “Bagusan keriting rambutku!”
Tak hanya keegoisan terhadap dirinya, terhadap apa yang dimilikinya pun anak tak mau kalah. Mudah sekali baginya untuk mengolok kalau apa yang dimiliki temannya lebih jelek dibandingkan miliknya, “Mobil-mobilanku lebih bagus dong. Mobil kamu jelek!”
Terjadi Konflik
Konflik yang terjadi antaranak pun bisa memunculkan olok-mengolok. Mungkin saat bermain, anak berebut mainan. Ketika salah satu gagal mendapatkan mainan tersebut, dia mengolok lawannya dengan kata-kata, “Kamu pelit, aku tidak mau main sama kamu. Dasar pelit!” Atau malah sebaliknya, yang berhasil meraih mainan malah mengolok. Konflik antaranak prasekolah sering terjadi mengingat perilaku egoisme mereka sangat tinggi.
Bagaimana Menyembuhkannya
Jangan Beri Contoh
Mengingat contoh sangat efektif ditiru anak, maka hindari pemberian contoh negatif, seperti mengolok-olok. Mungkin tanpa sadar kita pernah mengolok anak dengan kata-kata “gendut,” “cengeng,” atau “hidung pesek.” Meskipun maksudnya bercanda namun anak tetap akan meniru karena tak terlalu paham apakah kita bercanda atau tidak. Contoh negatif ini pun harus kita hindarkan dari anak usia di bawah 3 tahun karena ia mulai menyerap informasi yang masuk dan akan dikeluarkannya saat usia prasekolah.
Contoh mungkin bukan berasal dari kita melainkan orang lain seperti anak tetangga atau dari teve. Untuk itu sedapat mungkin hindari anak dari contoh yang datang dari luar. Bekerja samalah dengan tetangga, guru di sekolah, orangtua teman anak untuk berkata sopan di depan anak. Bila contoh datang dari teve, kita perlu menyeleksi acara-acara teve yang layak disaksikan anak. Hindari anak dari tontonan-tontonan yang mengeluarkan olokan-olokan kasar.
Segera Arahkan
Ketika anak mengolok temannya, segera arahkan. Arahan yang segera ini lebih efektif karena anak baru saja melakukannya sehingga tahu dengan jelas apa kesalahannya, “Adek, mengolok-olok itu bukanlah tindakan yang baik.” Terangkan, meskipun ada kekurangan di tubuh orang lain bukan berarti kita boleh mengoloknya, “Itu kan sudah ciptaan Tuhan, kita harus mensyukuri apa yang sudah diberikan olehNya.”
Hindari penjelasan dengan tenggang waktu yang cukup lama dari kejadian mengolok. Misal, kita baru mengarahkan 3-4 jam setelah anak mengolok temannya. Pengarahan ini kurang efektif karena mungkin saja anak sudah lupa. Namun bila hanya ingin menguatkan dari apa yang tadi sudah kita arahkan, ya boleh saja. Umpama, anak sudah kita arahkan saat di sekolah dia mengolok temannya. Nah, sesampainya di rumah kita bisa mengingatkan anak lagi.
Reward and Punishment
Kita juga perlu memperkuat perilaku positif anak dengan memberikan reward dan punishment. Contoh, ketika anak berhasil tidak mengolok temannya meskipun saat itu dia terlihat emosional, kita beri pujian, “Wah, anak mama pintar!” sambil membelai atau memeluknya. Sebaliknya, bila dia mudah sekali mengolok, kita harus memberinya punishment yang bersifat mendidik seperti, tidak mengizinkan anak mendapatkan dongeng saat akan tidur. Dengan begitu anak akan berpikir bahwa ada akibat yang akan diterimanya sehingga dia mulai berpikir untuk tidak mengolok-olok.
Tanamkan Norma Kesopanan
Perlu menanamkan norma kesopanan pada anak sejak dini. Caranya bisa lewat buku cerita, cerita di VCD, arahan-arahan di rumah, dan sebagainya. Saat ini banyak buku cerita atau VCD yang berisi cerita tentang norma kesopanan. Nah, kita bisa menanamkannya lewat kandungan yang ada di dalamnya. Memang terkadang cara ini tidak menjamin 100% akan berhasil. Bila anak mendapat contoh negatif bisa saja dia tetap akan mengolok-olok. Namun bila kita terus mengarahkan dan konsisten melakukannya, ditambah dengan arahan yaitu menegur atau menghentikan perbuatannya setiap kali kita pergoki anak mengolok, maka perilaku yang muncul akan lebih sering bernorma positif
Jadi, anak harus diberi tahu bahwa mengolok-olok bukanlah tindakan terpuji. Bila tak ada usaha dari orangtua untuk meluruskannya, maka perilaku ini bisa saja menetap. Hingga besar, dia terbiasa mengolok bila ada yang menggelitik hatinya. Parahnya, bila anak sudah beranggapan kalau dengan mengolok orang lain dia bisa membangun kebanggaan dirinya, bisa bersenang di atas penderitaan orang lain, bisa menjatuhkan reputasi orang lain, dan sebagainya. Apalagi bila kelak dia menganggap bahwa dirinyalah yang paling sempurna. Tentu hal ini tak baik untuk kepribadian anak, dia bisa bercitra negatif dan akan dijauhi teman-temannya.
Irfan Hasuki. Ilustrator Pugoeh
Narasumber:
Nurhayati Rahman, S. Psi
dari UIN Jakarta

One thought on “3 Alasan Anak Prasekolah Senang Mengolok

  1. WADUH, kadang saya yg suka bilang:”eh, kakang koq pelit?”
    atau:”kakang jangan pelit!”
    atau:”kakang pelit mereket jahe, sebel!”
    WADUUUH…,
    :{

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s