9 CARA STOP ANAK MENGUMPAT


sumber :http://www.tabloid-nakita.com/

Selalu saja umpatan anak bikin kaget ayah dan ibu, padahal sering kali penyebabnya adalah meniru gaya ekspresi orangtua.
Kalau Anda pernah menonton film Meet the Foker, Anda tentu masih ingat adegan kala si kecil mengucapkan kata, “Asshole,” sebagai kata pertamanya. Sang ayah yang diperankan Robert de Niro, tentu saja kaget. Siapa yang mengajarkan, pikirnya. Ia tidak sadar kalau hampir di setiap kesempatan ia mengucapkan umpatan itu untuk melampiaskan kekesalannya. Buat penonton, adegan itu terasa menggelikan. Tapi kalau Anda mengalaminya sendiri, tentu akan mengelus dada, “Siapa yang ngajarin anakku mengumpat?”
Anak batita tentu saja tidak mengerti maksud umpatan itu, apalagi kosakata yang dikuasainya masih sangat terbatas. Apa yang ia katakan itu sekadar menirukan orang dewasa yang mengucapkannya. Kata-kata seperti, “sial”, “diamput”, hingga umpatan dengan menyebut nama-nama binatang, tidak dengan sengaja dimaksudkan untuk mengumpat. Hal ini dapat dijelaskan, bahwa secara teori psikologi, anak usia ini sedang berada pada fase imitasi atau peniruan. Apa saja yang dilihat, didengar dan dilakukan orang dewasa di sekitarnya akan ia tiru mentah-mentah. Peniruan yang dilakukan pun kadang tak sekadar ucapan, tapi juga tingkah laku orangtua yang sedang marah/kesal kemudian mengumpat.
Sadar tidak sadar semua hal bisa menjadi sumber materi belajar anak. Tak banyak yang dipertimbangkannya dalam peniruan itu karena kemampuan kognitifnya masih terbatas. Sekali ia mendengar orangtua mengatakan, “Sialan,” ia akan menirukannya. Sering kali momennya tidak tepat, misalnya sambil menyodorkan biskuit yang baru diemutnya pada mama/papa, ia berseru, “Cialan….” Wah!
Meski ada banyak kata umpatan yang pernah ia dengar, tapi hanya satu-dua saja yang ditirunya. Bisa jadi karena bunyi kata itu terdengar menarik di telinga anak, atau bisa juga reaksi berlebihan yang diperlihatkan orangtua manakala anak mengucapkan kata itu yang ingin dilihatnya lagi. Misalnya saat anak mengucapkan kata, “Anying…” orangtua langsung bereaksi berlebihan, “Aduh kamu ngomong apa sih. Enggak boleh ya, jangan diulang lagi. Siapa sih ini yang ngajarin Vanya mengumpat begitu?!” dengan muka kesal dan gerakan anggota badan berlebihan. Reaksi inilah yang ditunggu-tunggu anak karena dianggapnya lucu.
Kalau itu yang terjadi, segera lakukan 9 langkah pencegahan dan penanganan yang disarankan Fajriati Maesaroh, Psi., berikut ini:
9 LANGKAH PENCEGAHAN
1. Berikan contoh.
Seperti penjelasan di atas, contoh langsung dari orangtua/orang dewasa yang ada di rumah sangat penting. Contohkan bagaimana bertutur kata dengan baik, jangan biasakan meluapkan emosi dengan caci-maki. Jangan biasakan bicara kasar/jorok/mengumpat di depan anak supaya tidak ditiru.
2. Batasi tayangan untuk anak.
Bisa jadi orangtua tidak pernah mengumpat, tapi anak mendengar/melihatnya dari tayangan teve. Karena itu, sebelum telanjur, batasi tayangan untuk anak. Pilih yang betul-betul sesuai dengan usianya. Bila setiap hari anak menyaksikan orang marah-marah di tayangan sinetron, jangan salahkan dia kalau suatu saat tiba-tiba anak akan marah-marah/mengeluarkan kata kasar ala sinetron di depan Anda.
3. Seleksi teman-temannya.
Sedikit banyak anak tertular sifat oleh teman-temannya. Apalagi di usia ini anak belum bisa memilih mana teman yang sesuai dan mana yang tidak. Tugas orangtualah untuk menyeleksi teman-teman anaknya sebelum telanjur anak suka ngomong kasar/jorok/mengumpat.
4. Beri jalan untuk ekspresikan emosi.
Anak-anak yang terlatih mengekspresikan emosinya dengan tepat tidak akan melampiaskan kekesalan pada hal-hal negatif. Latih anak mengekspresikan emosinya dengan kegiatan positif seperti menggambar, menyanyi, bermain di taman dan sebagainya.
5. Hindari reaksi yang kurang tepat.
Jangan menganggap umpatan sebagai sesuatu yang lucu. Mungkin anak pernah melihat orangtua menertawakan anak lain yang berbicara kasar/mengumpat. Jadilah tertanam dalam pikirannya bahwa bicara kasar/mengumpat itu membuat orangtua terhibur.
6. Tidak terpancing memberi komentar.
Bisa jadi orangtua pernah terpancing memberikan komentar/menanggapi saat anak lain berkata kasar/mengumpat. Kondisi ini membuat anak menirukannya, sebab cara berpikir batita masih sangat sederhana; kalau orang lain boleh, berarti ia pun boleh berkata sama.
7. Perketat nilai-nilai keluarga.
Bila sebelumnya nilai-nilai yang tertanam dalam keluarga termasuk longgar, setelah hadirnya anak, mau tidak mau semua harus mengerem. Kalau tidak ingin anak berkata kasar/mengumpat, sebaiknya jangan bersikap urakan di rumah.
8. Alihkan perhatian anak.
Saat si kecil menyaksikan anak lain berkata kasar/mengumpat, segera alihkan perhatiannya. Kalau perlu ajak anak meninggalkan lokasi tersebut.
9. Berikan pujian.
Tak ada salahnya memuji anak lain untuk memberikan motivasi kepada si kecil. Ketika menyaksikan anak lain bisa berbicara manis/sopan, segera berikan pujian di depan si kecil, “Aduh Mbak Lala pinter ya, bicaranya sopan.”
9 LANGKAH PENANGANAN
1. Segera hentikan kebiasaan mengumpat di depan anak. Semakin jarang kata-kata itu didengarnya, semakin kecil kemungkinan anak menirunya. Ingat, jadilah contoh yang baik bagi anak.
2. Hentikan jatahnya nonton teve. Lakukan diet media, dengan hanya mengizinkan anak nonton VCD/DVD anak-anak yang sudah diseleksi. Ingatkan juga orang dewasa/pengasuhnya di rumah untuk tidak nonton teve ketika ada anak.
3. Selidiki mana teman yang menularkan kebiasaan ngomong kasar/jorok/mengumpat. Kalau sudah ketahuan, cegah anak untuk berteman dengannya, namun usahakan anak tidak menyadarinya.
4. Segera berikan kegiatan penyaluran emosi saat anak terlihat mulai marah/kesal. Sodorkan buku mewarnai atau mainan barunya.
5. Beri pengertian dengan bahasa yang mudah dipahami anak usia ini. Pilih suasana atau saat mood anak sedang baik. Katakan padanya, mulai sekarang dan seterusnya kata-kata umpatan itu jangan diucapkan lagi. Beri penjelasan bahwa orang lain tidak senang mendengar kata-kata seperti itu. Lebih mudah lagi kalau ada contoh langsung dari orangtua. “Mama-Papa tidak pernah ngomong sialan, Vanya kan anak Mama, jadi juga tidak perlu ngomong sialan.”
6. Jangan terlalu ditanggapi. Adakalanya anak hanya menikmati ekspresi berlebihan yang ditampilkan orangtua saat ia mengumpat. Jadi jangan terlalu ditanggapi saat anak melakukannya. Cukup katakan dengan ekspresi datar namun tegas, “Vanya… tidak boleh ngomong itu karena tidak bagus. Kemarin Mama sudah bilang, kan?” Tak perlu marah, heboh apalagi sampai memelototkan mata.
7. Alihkan perhatian. Kalau anak mulai mengeluarkan kata kasar/kotor/mengumpat dengan ekspresi yang tidak tepat, umpamanya sambil berlarian ke sana-kemari dan tertawa-tawa, anak berteriak menyebut nama binatang, segera alihkan perhatiannya, “Eh, sambil berlari, yuk kita berteriak mengejar binatang…” Contohkan bagaimana melakukannya, atau kalau perlu lakukan berdua sampai ia bisa menirukannya.
8. Berikan penghargaan pada anak ketika ia tak lagi mengucapkan kata-kata kasar/jorok/umpatan. Tak perlu berwujud benda, cukup dengan pelukan dan kata-kata pujian. Dengan begitu anak tahu apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang diharapkan orangtua dan akan diulanginya lagi besok-besok.
9. Kalau 8 langkah di atas sudah ditempuh tapi anak tak kunjung menghentikan kebiasaan buruknya, tak ada cara lain yang bisa dilakukan kecuali dengan mengurangi kesenangannya. Buat kesepakatan bersama, kalau ia masih juga berkata kasar/jorok/mengumpat, kesenangan apa yang akan dikurangi. Contohnya tidak boleh bermain sepeda di taman, tidak boleh menikmati film kartun atau tidak diajak jalan-jalan di akhir pekan.
Marfuah Panji Astuti.

2 thoughts on “9 CARA STOP ANAK MENGUMPAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s