Latihan untuk Merangsang Kreatifitas Anak


sumber : http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman|0|0|8|429

Mother And Baby Thu, 27 Feb 2003 10:22:00 WIB

Cerdas secara intelektual itu penting tetapi konon CQ juga penting karena mendukung IQ lebih baik, benarkah? Apa yang terjadi jika anak hanya didorong untuk berkembang IQ-nya saja? Kenyataannya demikian kan? Kalau begitu pola asuh berpengaruh? Pola asuh seperti apa?
Bagaimana kelak anak yang punya kecerdasan kreativitas?

Dra Rosemini Aprianto,Mpsi mengatakan bahwa cara-cara untuk menumbuhkan kreativitas anak sejak dini adalah dengan menanamkan dan mengajarkan kepada anak apa yang kita lakukan beri contoh yang benar maka anak akan mengikuti dan melakukannya dengan benar,kebiasaan yang sudah diajarkan oleh orang tuanya biasanya akan selalu diingat dan akan diikuti oleh sang anak hingga dewasa.

Sedang mengenai permainan dan mainan tertentu dapat menumbuhkan kreativitas anak adalah jenis permainan yang dapat merangsang pertumbuhan otak anak juga mengembangkan kreativitasnya seperti contohnya mainan yang membutuhkan konsentrasi anak yang akan mengajarkan mereka untuk berfikir dan fokus terhadap sesuatu seperti puzzle, scrable dll sedang yang bentuknya permainan adalah hal-hal yang diajarkan secara langsung seperti selalu mengajarkan kepada anak untuk membersihkan rumah, kamarnya, juga mengajarkan memasak-memasak bagi anak perempuan meskipun kadang juga dapat diajarkan kepada anak laki-laki. Menurut ibu Romi jika anak sudah sering diajak dan diajarkan untuk melakukan permainan seperti itu maka manfaatnya akan terasa hingga mereka besar hal ini karena mereka sudah merasakannya dari mereka kecil selain itu membentuk disiplin mereka serta tanggung jawab mereka terhadap diri mereka sendiri.

Mengenai kreativitas umum yang harus ditumbuhkan dari kecil kepada anak menurut ibu Romi sangatlah benar karena hal itu akan dapat dijadikan bekal bagi anak tersebut dalam menghadapi hidup,ini wajib diajarkan kepada semua anak sedang mengenai yang disebut dengan kreativitas khusus memang kadang dimiliki oleh sebagian anak,tetapi sebenarnya semua anak memiliki bakat,bakat-bakat tertentu itu bisa ditemukan oleh orang tuanya sejak mereka kecil tentunya sang orang tua harus dengan jeli dan teliti untuk melihat bakat yang mungkin saja masih terpendam dan perlu digali dari sang anak.

Tony Buzan menyarankan orang dewasa melakukan beberapa latihan untuk menumbuhkan kreativitas. Dengan beberapa penyesuaian bisa Anda terapkan pada si kecil:

1. Punya tokoh idola (mastermind).
Anak-anak masih masanya meniru. Rajin-rajin ceritakan tentang tokoh-tokoh sukses seperti BJ. Habibie, Bill Gates, Stephen Hawking (siapa saja yang Anda kagumi) akan menular pada anak. Jika anak-di atas balita–menghadapi masalah coba katakan, “kira-kira apa ya yang akan dilakukan Bill Gates jika ia menghadapi masalah serupa?

2. Mengaktifkan otak kanan.
Budaya kita cenderung menggunakan korteks kiri-harus pintar ilmu matematika, menghafal, dsb-mulailah mengaktifkan otak kanan anak dengan memberi kesempatan mendengarkan musik, ikut kegiatan bernyanyi dan menari, melukis, membuat puisi, dsb.

3. Tambahlah perbendaharaan kata-katanya.
Setiap hari tambahlah satu perbendahaan kata anak. Jadi setiap tahun ada 365 kata baru yang siap menangkap (berhubungan) setiap gagasan baru.

4. Menggunakan kedua sisi tubuh.
Tangan kanan menjadi tangan yang dominan dalam kegiatan sehari-hari. Latihlah anak menggunakan kedua sisi tubuhnya, misal melempar tangkap benda dari masing-masing tangan, menggunakan tangan kiri untuk kegiatan sehari-hari seperti menyisir, menyikat gigi, memutar telpon mainan, mengaduk panci, menggambar, dsb. Syaraf bagian kiri berhubungan dengan otak kanan sehingga dapat mengaktifkan gerakan bagian tersebut.

5. Biasakan melihat secara mendetail.
Sering mengajak anak berjalan-jalan, bukan? Gunakan kesempatan itu untuk membiasakan anak melihat banyak hal serta melihat bagian-bagian kecilnya. Lalu, pada kesempatan berbeda tanyakan hal-hal tersebut pada anak dan ciri-cirinya. Selain itu, ajaklah anak mengingat hal-hal yang dialaminya ketika liburan lalu.

6. Ajak anak melamun.
Melamun dan bermimpi kata Buzan memberi kekuatan bagi otot-otot kreatif. Ajak anak melamun, misal, “bagaimana ya jika Ade mendapat satu truk es krim? Mau diapakan? Kalau dimakan sendiri bisa sakit kita, dsb.” Atau, “Istana khayalan kamu seindah apa ya. Ada apa saja di dalamnya, dsb.”

7. Biasakan membuat catatan/gambar.
Anak balita biasanya menyukai kegiatan menggambar. Nah, gunakanlah krayon atau pinsil warna warni. Catatan dari gambar penuh warna kata Tony Buzan merangsang otak membuat hubungan dan asosiasi yang berbeda-beda. Pada anak yang lebih besar, biasakan mencatat apa saja yang diimpikannya. Usahakan juga menggunakan pinsil warna untuk kata-kata tertentu yang perlu mendapat penekanan.

8. Ajarkan mendengarkan.
Dengan menjadi pendengar yang baik, anak akan menjadi pribadi yang menarik dan penuh minat, sekaligus punya daya ingat dan daya kreatif untuk melihat berbagai sudut pandang.

9. Ajarkan bergurau.
Humor adalah kegiatan yang sangat kreatif. Semakin anak kerap diajak bergurau semakin tinggi daya berfikir kreatifnya.

10. Latih menghubungkan konsep.
Misalnya “kita melayang seperti elang.” “harum ruangannya bak di taman bunga.”

11. Kreatif Sehari-hari.
Ada waktu-waktu libur dan luang di mana Anda sekeluarga di rumah saja. Kegiatan seperti memasak, membuat kue, berkebun, menata rumah, memperbaiki rumah, fotografi, mengelilingi kompleks perumahan , melakukan permainan-permainan tertentu, dsb. Hari-hari libur, perayaan-ultah, hari besar, dsb.-adalah kesempatan baik untuk melatih kecerdasan kreatif anak. Tunjukkan degan membuat hiasan, membuat kartu sendiri, atau mengundang teman-teman Anda dan anaknya.

Jadi jenius Termasyhur karena Kreatif
Untuk menumbuhkan kecerdasan kreatif anak, Tony Buzan, penulis buku-buku best seller Otak dan Pembelajaran, menyarankan kita untuk mulai menggiatkan otak kiri dan otak kanan anak. Penggunaan kedua bagian otak ini akan menumbuhkan kecerdasan kreatif secara keseluruhan.
Otak kiri biasa dihubungankan dengan kemampuan berbahasa, logika, angka, urutan, analisis dan daftar. Sedangkan kemampuan otak kanan dalam hal irama, kesadaran spasial, imajinasi, warna, melamun, dimensi dan kesadaran holistik. Jika dua bagian otak ini benar-benar dipisah penggunaannya, kata Buzan, ilmuwan jenius seperti Isaac Newton dan Albert Einstein tentulah berotak kiri. Dan musisi dan artis hebat seperti Beethoven atau Michelangelo “berotak kanan”. Dengan kata lain, mereka tidak perlu menggunakan seluruh bagian otaknya.

Benarkah asumsi tersebut? Buzan dan kawan-kawannya mengumpulkan data model jenius termasyhur “berotak kiri” seperti Albert Einstein atau Isaac Newton, dan model musisi dunia “berotak kanan” seperti Beethoven atau Michelangelo. Hasilnya?

Albert Einstein misalnya. Pelajar miskin ini hobinya melamun daripada belajar. Ia dikeluarkan dari sekolah karena pengaruhnya dinilai mengganggu. Kemudian ia mulai bermain-main dengan sisi imajinatif matematika, IPA, fisika, dan pemikiran Michelangelo. Kedua hal ini membuatnya menciptakan “Creative Mind games” yang terkenal. Yakni, membayangkan diri melanglang lurus menuju matahari dengan kecepatan cahaya dan kembali lagi ke tempat ia memulai perjalanannya.

Dan ia terkejut, secara logis tak mungkin kita berjalan selama-lamanya pada garis lurus dan berakhir ke tempat memulai. Setelah beberapa kali melakukan creative mind games, Einstein menemukan pemahaman terbesarnya bahwa, dunia ini lengkung dan berbatas. Dengan kata lain, Einstein tidak menemukan realisasi kreatifnya hanya dengan otak kiri saja, tetapi menggabungkan angka, urutan, logika, dan analisis.

Ludwig Van Bethoven, musisi jenius ‘berotak kanan’ juga demikian. Ia terkenal dengan semangatnya yang menyala-nyala, rasa ingin tahunya tinggi, dan berjuang bagi kebebasan ekspresi seni melawan tirani sensor. Tetapi ia juga berotak kiri. Mengapa?

Perhatikan ciri-ciri musik: ditulis dalam baris-baris, urutan, mengikuti logika sendiri dan berlandaskan angka-angka. Musik dianggap bentuk paling murni dari matematika. Dan ahli matematika pada umumnya punya hobi bermusik, begitu juga sebaliknya. Nah, Beethoven, dengan kecermatan dan ketelitiannya menggunakan metronom (alat penghitung nada) musik. Dan sejak itu setiap musisi dan konduktor mampu memainkan musiknya dengan irama yang benar, tekanan nada yang tepat, dan tempo matematikal yang tepat.

‘Matinya’ Calon Jenius Kreatif
Pola asuh dapat membunuh kreatifitas anak:

* Anak-anak berkejar-kejaran, saling menjerit, muncullah teriakan di antara jeritan. “Jangan ribut terus, berisik, jangan mengganggu orang lain, dsb!” Anak belajar bahwa mengekspresikan diri dengan suara dan menjelajahi kekuasaannya adalah buruk dan anti sosial.

* “Gambarmu jelak”. “Suaranya nggak pas.” “Melakukan begini saja tidak bisa. ” Dsb. Ketika sekali waktu Anda memintanya melakukan lagi, otak anak berteriak “tidaaak!”. Otak menolak melakukannya karena ia sudah membuktikan ia tak bisa.

* “Belajar yang tenang, tidak sambil nyanyi-nyanyi atau setel musik.” Sejak kecil otak anak merekam, bahwa musik terpisah dari seni, pembelajaran maupun produktivitas.

Kuis: Kreatifkah Anda dan si Kecil?
Beberapa pertanyaan ini dibuat Tony Buzan, penulis buku-buku Otak dan Pembelajaran dalam bukunya “the Power of Creative Intellegence”, untuk mengasah kreatifitas orang dewasa. Dengan beberapa penyesuaian bisa juga untuk melihat potensi kreatif anak-anak.

1. Apakah Anda membiarkan jika si kecil melamun? Ya/Tidak

2. Apakah si kecil kerap minta menu tertentu? Ya/Tidak

3. Apakah Anda kerap mengajak si kecil bermain bersama? Ya/Tidak

4. Jika membeli pakaian, apakah Anda mendorong anak memilih sendiri dan memadukan warnanya dengan assesoris lain (sepatu, tas, bando / bandana, jepit rambut, dsb.)? Ya/Tidak

5. Apakah si kecil menyukai musik, dan ia menyukainya? Ya/Tidak

6. Apakah Anda dan si kecil senang mengingat hal-hal yang berkesan / spektakuler misalnya yang terjadi saat liburannya 3 atau 6 bulan lalu? Ya/Tidak

7. Apakah ia dan Anda mendorongnya banyak bertanya? Ya/Tidak

8. Apakah si kecil melakukan hal-hal tertentu tanpa Anda minta? Ya/Tidak

9. Pernahkah ia mengajak Anda melakukan sesuatu untuk mengisi hari liburnya, misal berkebun, membuat kue, jalan-jalan mencari bunga, dsb.? Ya/Tidak

10. Pernahkah si kecil mengagumi atau memuji sesuatu dan berharap ia dapat melakukan atau mengalaminya? Ya/Tidak

11. Apakah Anda menyediakan bacaan-buku, majalah, dsb.-untuk dibaca anak meskipun ia belum juga membacanya? Ya/tidak.

12. Apakah si kecil senang jika diajak melakukan hal-hal baru? Ya /Tidak

Jika Anda menjawab “Ya” untuk lebih dari separuh jawaban, menurut Tony Buzan, berarti si kecil termasuk anak yang kreatif.

Sumber: Tabloid Ibu Anak

One thought on “Latihan untuk Merangsang Kreatifitas Anak

  1. Ping-balik: Cara Latihan Untuk Merangsang Kreatifitas Anak « Maaf,blog ini masih dalam tahap pengembangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s