Balita Melihat, Balita Meniru


SUMBER : http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman|0|0|8|438

Mother And Baby Tue, 11 Mar 2003 08:31:00 WIB

Balita itu seperti kamera film yang melihat dan merekam semua perilaku orangtuanya. Bagaimana supaya kita tidak menularkan perilaku yang jelek?

Tika hendak pulang dari berbelanja bersama semata wayangnya, Rio (4 tahun). Tika menyetir sedan, sementara Rio asyik main tetris di sampingnya. Waktu hendak keluar dari tempat parkir, mobil di depan mereka terlihat agak lelet berjalan, meski di depannya tidak ada mobil. Tika pun kesal dan membunyikan klakson. “Cepet dong. Stupid!”

Sesampai di lampu merah, mobil lain yang ada di depan mereka juga masih saja tak bergerak padahal lampu sudah hijau. Belum sempat Tika membunyikan klakson, Rio yang masih asyik main tetris tiba-tiba mendongakkan kepalanya ke depan dan nyeletuk, “Cepet dong. Stupid!”

Tika terperanjat. Ternyata si kecil dengan cepat meniru tingkah laku jeleknya!

***

Memberi hukuman atau penghargaan kepada anak itu bagus. Menetapkan disiplin juga penting. Namun yang lebih penting lagi adalah, apapun tindakan orangtua, itulah yang akan ditiru anak.

Anak mengamati semua hal yang dilakukan orangtua, kadang meski mereka kelihatannya tengah asyik nonton tv atau main games. Dan itulah yang kemudian mereka tiru dan ikut membentuk perilaku mereka. “Anak-anak seperti kamera film,” kata Karen Sharf, family therapist di New York, AS. “Mereka melihat segalanya dan mencatatnya di kepala mereka, apakah itu di tingkat sadar mereka atau tidak.”

Hidup anak kita secara keseluruhan kini lebih kompleks. Di usia yang masih begitu muda, ia sudah berinteraksi dengan lebih banyak orang di luar keluarga. Dari guru, pelatih, teman, sampai orangtua temannya. Akibatnya, anak menerima stimulasi yang berlebih. Sehingga peran orangtua sebagai ‘model yang patut dicontoh’ kian menjadi penting.

Meski kita tak dapat mengontrol perilaku setiap orang yang si kecil temui, yang mesti lebih diingat, pendekatan kita sendiri terhadap hal-hal yang kelihatannya sepele pun, seperti pergi ke supermarket atau antri di ATM, dapat memberi contoh yang baik atau buruk kepada anak.

“Orangtua yang efektif adalah yang selalu hati-hati dengan apa yang ia lakukan di depan anak,” kata Charles A. Smith, Ph.D., profesor perkembangan anak di Kansas State University, AS. Ini bukan berarti orangtua harus selalu memikirkan apa yang mesti dilakukan jika di depan anak. “Anda tidak perlu harus sempurna,” kata Smith. “Namun jika anda merasa cara anda bertindak dalam situasi tertentu memberikan contoh buruk, bicarakan dengan anak mengenai hal itu sesudahnya.”

Sebagai contoh, jika orangtua terpaksa berbohong, misalnya, “Oh, kita bisa lakukan itu. Ibu punya rencana” (padahal sang ibu tak bisa melakukannya), jelaskan bahwa kita memang belum bisa membereskannya, dan bicarakan cara lain apa yang akan kita kerjakan.

Berikut ini 5 hal sederhana lain yang jika bisa kita lakukan, akan memberi dampak positif yang besar terhadap perilaku anak:

1. Jadilah pasangan yang penuh kasih

“Bagaimana anda memperlakukan pasangan anda -dan juga orangtua anda- memberi pelajaran penting kepada anak tentang menghargai, bekerja sama, mau bernegosiasi, atau merubah pikiran anda,” kata Sharon L. Ramey, Ph.D, profesor ilmu anak dan keluarga di Georgetown University di Washington. “Ingatlah untuk mengatakan ‘silakan’ serta ‘terima kasih’ kepada orang yang anda cintai sesering mungkin.”

Jika anda dan pasangan berargumentasi, berbicaralah secara rasional saat di depan anak. Dengan cara ini si kecil dapat belajar bagaimana orang dewasa berkompromi, bernegosiasi, dan memahami kebutuhan orang lain.

2. Bersikap menyenangkan di setiap aktivitas

Apakah kita di supermarket atau sedang menonton tv, kita sering melihat contoh negatif di sekeliling kita. Tanggung jawab orangtualah untuk mengajarkan kepada si kecil bahwa sopan santun dan etiket itu mudah dan cepat dipelajari, dan seharusnya menjadi bagian dari setiap hubungan antar manusia.

Sikap yang bersahabat dan etiket yang baik misalnya mengajari anak untuk mau menunggu giliran, peduli, dan mendengarkan orang lain. Dengan cara ini, ketika anak melihat betapa hangatnya tanggapan orang lain terhadap perilaku sopan kita, ia akan segera menyadari bahwa ia akan lebih cocok bergaul dengan orang yang ‘manis’ dibanding dengan orang yang ‘masam’.

3. Tangani gangguan dengan kesabaran

Ini hal yang sulit, karena tiap orang yang pernah terjebak macet di jalan, atau mengalami pembatalan penerbangan, pasti sukar untuk tidak kesal. Tetapi, kalau mau sabar, itu akan jadi salah satu perilaku yang paling cepat dipelajari anak. Jika anak melihat orangtuanya membunyikan klakson mobil keras-keras ketika jengkel, anak akan merasa takut dan bertanya-tanya, “Mengapa ayah melakukan itu kalau sedang kesal?”

Jika anda memang sedikit jengkel dan hilang kesabaran, segeralah minta maaf kepada anak dan bilang, “Ayah sebenarnya tak ingin berbuat seperti itu. Ayah berharap bisa bersikap lebih baik.” Anda juga perlu menekankan kepada anak bahwa kita tidak menyalahkannya anak saat kita marah. Sebagai hasilnya, anak akan belajar bahwa meminta maaf itu sesuatu yang baik. Ia juga akan mencatat bahwa anda tengah belajar untuk mengontrol emosi.

4. Hargai ketika anak berbuat baik

Pujian atau penghargaan itu laksana musik bagi telinga setiap orang, tak terkecuali anak. Ketika anak bersikap tenang saat menunggu hidangan disajikan di restoran, kita bisa memujinya. “Ayah lihat kamu begitu sabar menunggu pesanan makan kita. Ayah bangga sama kamu.” Contoh lain, saat kita membacakan buku cerita atau menonton film, kita bisa meminta komentar anak ketika ‘tokoh baik’ dalam buku atau film itu menolong orang. Tanyakan juga bagaimana si ‘tokoh jahat’ seharusnya bertingkah laku.

Kita juga bisa memberinya kesempatan untuk mempraktekkan perilaku yang baik saat bersosialisasi. Misal, perlihatkan kepada anak ketika kita membukakan pintu untuk manula, atau memberi salam ketika bertemu orang.

5. Hargai kebutuhan anak akan perhatian

Banyak anak merasa tak diperhatikan orangtua mereka berada di keramaian, meski anak telah berusaha berkali-kali untuk memperoleh tanggapan orangtua. Ini bukan berarti kita mesti berhenti melakukan aktivitas lain dan terus memonitor anak.
Kita bisa mengajari anak untuk bersabar dengan memintanya menunggu sampai kita siap memberinya perhatian.

Contohnya, “Ibu benar-benar ingin melihat hasil pekerjaanmu. Nanti Ibu pasti lihat deh, setelah ibu selesai ngobrol dengan tamu Ibu.” Anak akan lebih mudah menunggu jika kita cepat menghargainya dan memenuhi janji kita. Penghargaan ini merupakan konsep penting yang bisa anak pelajari dan gunakan dalam interaksi dengan orang lain.

Akhirnya, ingatlah bahwa orangtua merupakan orang dengan kemampuan untuk membuat dampak paling besar terhadap perilaku anak, bahkan jika kita tidak menyadarinya. “Kabar baiknya,” kata Dr. Smith, “Anda akan menjadi orang nomor satu di mata anak, tak peduli berapa banyaknya orang lain yang nanti masuk dalam kehidupannya.” TG

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s