Cegah Infeksi dengan Suplementasi Zink

sumber :http://www.kalbe.co.id/health-news/20414/cegah-infeksi-dengan-suplementasi-zink.html

Kalbe.co.id – Zink atau zat seng belakangan ini cukup mendapat perhatian. Selain terbukti penting untuk daya tahan tubuh, banyak anak-anak yang ternyata kekurangan mineral ini. Bahkan WHO menyatakan Indonesia berisiko tinggi kekurangan asupan zink karena umumnya hanya mengonsumsi 50% dari angka kecukupan gizi.

Zink adalah mineral penting yang ikut membentuk lebih dari 300 enzim dan protein. Zink terlibat dalam pembelahan sel, metabolisme asam nukleat, dan pembuatan protein. Zink juga membantu kerja beberapa hormon termasuk hormon kesuburan, juga hormon yang diproduksi oleh kelenjar di otak, tiroid, adrenal, dan timus. Contohnya, hormon timulin di kelenjar timus untuk membuat sel limfosit T hanya akan aktif bila sudah berikatan dengan zink. Padahal sel-T ini merupakan pasukan sel darah putih yang menunjang daya tahan tubuh. Hormon prolaktin juga membutuhkan zink untuk menstimulasi ASI dan pertumbuhan kelenjar payudara.

Sebagai antioksidan kuat, zink mampu mencegah kerusakan sel dan menstabilkan struktur dinding sel. Zink berperan dalam proses penyembuhan luka dengan cara merangsang pembentukan dan pemindahan sel kulit ke daerah luka.

Kekurangan zink ringan dapat menimbulkan kurangnya nafsu makan disertai dengan penurunan berat badan, rabun senja, dan mudah terinfeksi. Pengecapan dan penciuman juga bisa terganggu karena sel-sel perasa rusak akibat berkurangnya enzim carbonic anhydrase. Enzim itu hanya bisa terbentuk kalau ada zink.

Kekurangan zink sedang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan, kekurangan hormon kesuburan (hipogonadisme), dan melambatnya penyembuhan luka. Yang lebih berat, timbul gejala kerdil, anak sering sakit karena kurangnya sel darah putih, kelenjar timusnya mengecil, botak, kelainan kulit dan pencernaan, diare, dan juga gangguan emosi. Laporan terakhir menunjukkan bahwa kekurangan zink bisa menyebabkan Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD). Saat ini, zink juga dihubungkan dengan pengobatan AIDS, kanker mulut rahim dan prostat serta terjadinya atherosklerosis.

Di samping fungsinya, zink juga dapat menimbulkan keracunan. Dengan dosis 150-450 mg/ hari, terlihat adanya penurunan status mineral lain seperti tembaga (Cu), perubahan fungsi zat besi, merendahnya fungsi daya tahan tubuh, dan rendahnya kadar kolesterol baik (HDL).

Iklan

Pedoman WHO yang Baru Mengenai Preventing Mother-to-Child Transmission

sumber :http://www.kalbe.co.id/health-news/20412/pedoman-who-yang-baru-mengenai-preventing-mother-to-child-transmission.html

Kalbe.co.id – Pedoman baru dari WHO mengenai pencegahan penularan dari ibu-ke-bayi (preventing mother-to-child transmission/PMTCT) berpotensi meningkatkan ketahanan hidup anak dan kesehatan ibu, mengurangi risiko (mother-to-child transmission/MTCT) hingga 5% atau lebih rendah serta secara jelas memberantas infeksi HIV pediatrik.

Pedoman itu memberikan perubahan yang bermakna pada beberapa tindakan di berbagai bidang. Anjuran kunci adalah:

* ART untuk semua ibu hamil yang HIV-positif dengan jumlah CD4 di bawah 350 atau penyakit WHO stadium 3 atau penyakit HIV stadium 4, tidak menunda mulai pengobatan dengan tulang punggung AZT dan 3TC atau tenofovir dan dengan 3TC atau FTC.
* Penyediaan antiretroviral profilaksis yang lebih lama untuk ibu hamil yang HIV-positif yang membutuhkan ART untuk kesehatan ibu.
* Apabila ibu menerima ART untuk kesehatan ibu, bayi harus menerima profilaksis nevirapine selama enam minggu setelah lahir apabila ibunya menyusui, dan profilaksis dengan nevirapine atau AZT selama enam minggu apabila ibu tidak menyusui.
* Untuk pertama kalinya ada cukup bukti bagi WHO untuk mendukung pemberian ART kepada ibu atau bayi selama masa menyusui, dengan anjuran bahwa menyusui dan profilaksis harus dilanjutkan hingga bayi berusia 12 bulan apabila status bayi adalah HIV-negatif atau tidak diketahui.
* Apabila ibu dan bayi adalah HIV-positif, menyusui harus didorong untuk paling sedikit dua tahun hidup, sesuai dengan anjuran bagi populasi umum.

“Dalam pedoman yang baru kami menyampaikan pesan yang jelas bahwa menyusui adalah pilihan yang baik untuk setiap bayi, bahkan bayi yang ibunya HIV-positif, apabila mereka memiliki akses pada antiretroviral (ARV),” kata Daisy Mafubelu, Asisten Direktur WHO bidang Family and Community Health.

Pedoman baru menawarkan petunjuk bagi negara mengenai bagaimana mengurangi MTCT melalui rejimen pengobatan dan pencegahan HIV yang lebih efektif.

Pedoman yang pertama kali diterbitkan pada 2000, dan diperbarui pada 2004 dan 2006, pedoman ART untuk PMTCT menyarankan pemberian rejimen yang sederhana, baku dan efektif dalam skala besar di seluruh rangkaian.

Pedoman 2006 menyoroti pentingnya ART seumur hidup bagi ibu hamil yang HIV-positif untuk kesehatan ibu dan anak. Selain kombinasi ARV profilaksis menggantikan nevirapine takaran tunggal. Pedoman itu menjadi tulang punggung teknik peningkatan PMTCT secara cepat, khususnya di Afrika sub-Sahara tempat lebih dari 90% ibu HIV-positif yang hamil.

Kurang lebih 21% ibu hamil dites HIV pada 2008 dan 45% menerima ARV untuk mencegah MTCT, kurang lebih sepertiganya menerima nevirapine takaran tunggal, pengobatan pencegahan yang paling tidak efektif. Hanya sepertiga ibu yang dites positif dinilai terhadap kriteria memakai ART untuk kesehatannya sendiri.

Dengan kurang lebih 1,4 juta ibu hamil yang hidup dengan HIV di negara berpenghasilan rendah dan menengah pada 2008, jauh lebih banyak yang harus dilakukan untuk meningkatkan tes dan konseling HIV serta PMTCT termasuk memadukan layanan tersebut untuk memperkuat program kesehatan ibu dan anak.

Vaksinasi Hepatitis B Mengurangi Tingkat Kanker Hati pada Anak dan Remaja di Taiwan

sumber :http://www.kalbe.co.id/health-news/20422/vaksinasi-hepatitis-b-mengurangi-tingkat-kanker-hati-pada-anak-dan-remaja-di-taiwan.html

Kalbe.co.id – Pelaksanaan program vaksin virus hepatitis B (HBV) secara universal pada bayi pada pertengahan 1980-an telah menghasilkan penurunan besar pada kejadian karsinoma hepatoseluler (HCC) di antara anak dan remaja di Taiwan. Hal itu berdasarkan sebuah laporan yang diterbitkan dalam Journal of National Cancer Institute edisi 16 September 2009, versi internet.

Hepatitis B adalah penyebab utama karsinoma hepatoselular – sejenis kanker hati primer – terutama di daerah endemi infeksi HBV kronis, sebagaimana banyak terjadi di wilayah Asia.

Mei-Hwei Chang dan rekan dari Taiwan Hepatoma Study Group ingin menyelidiki apakah pencegahan HCC setelah peluncuran program vaksin HBV secara universal pada bayi yang baru lahir di Taiwan pada Juli 1984 telah melewati masa kanak-kanak, serta untuk menentukan prediktor HCC pada kohort bayi yang divaksinasi ketika baru lahir.

Para peneliti memakai dua daftar HCC nasional untuk mengumpulkan data dari 1.958 pasien berusia enam hingga 29 tahun ketika mereka didiagnosis dengan kanker hati antara 1983 dan 2004. Peneliti menganalisis kejadian HCC berdasarkan usia dan jenis kelamin di antara kohort bayi baru lahir yang divaksinasi dan yang tidak divaksinasi dengan memakai model regresi Poisson.

Selain itu, rekam medis dari 64 pasien yang mengembangkan HCC walau telah divaksinasi dan 5.524.435 orang tanpa HCC yang lahir setelah program universal dimulai, dibandingkan terhadap ciri-ciri imunisasi HBV pada bayi dan status antigen permukaan hepatitis B(HbsAg) dan antigen hepatitis B “e” (HBeAg) pada ibu sebelum kelahiran.

Hasil

* Kejadian HCC lebih rendah secara bermakna di antara anak-anak dan remaja berusia 6-19 tahun pada kohort kelahiran yang divaksinasi dibandingkan dengan kohort yang tidak divaksinasi.
* Ada 64 kasus HCC di antara pasien yang divaksinasi (37.709.304 orang-tahun) dibandingkan 444 kasus di antara yang tidak divaksinasi (78.496.406 orang-tahun).
* Risiko relatif terhadap pengembangan HCC yang disesuaikan berdasarkan usia dan jenis kelamin adalah 0,31, atau kurang lebih sepertiga, pada orang yang divaksinasi saat kelahiran (p <0,001).
* Di antara kohort yang divaksinasi, risiko pengembangan HCC dikaitkan secara bermakna dengan faktor-faktor berikut:
o Vaksinasi HBV yang tidak lengkap (menerima kurang dari tiga dosis vaksin): rasio odds [OR] 4,32;
o Status HBsAg ibu sebelum melahirkan: OR 29,50;
o Status HBsAg ibu sebelum melahirkan dengan pemberian imunoglobulin hepatitis B (HBIG) pada saat kelahiran: OR 5,13;
o Status HBeAg ibu sebelum melahirkan tanpa pemberian HBIG pada saat kelahiran: OR 9,43.

Berdasarkan temuan itu, para penulis penelitian menyimpulkan, “Pencegahan karsinoma dengan vaksin HBV berlanjut dari masa kanak-kanak ke masa remaja. Kegagalan mencegah karsinoma hepatoseluler kebanyakan akibat tidak berhasil mengendalikan infeksi HBV pada ibu yang sangat menular,” mereka menambahkan.

Cara Mengatasi Diare Dengan Tepat

sumber : http://www.kalbe.co.id/health-news/20415/cara-mengatasi-diare-dengan-tepat.html

Kalbe.co.id – Biasanya diare pada anak-anak dianggap suatu hal yang enteng ,sehingga ketika datang kedokter sudah terlambat anak kekurangan cairan, lemas, hingga dehidrasi berat. Padahal masalah diare sebetulnya dapat diatasi dirumah.

Diare dapat menyerang semua kalangan baik kaya ataupun miskin. Pada umumnya bayi berumur kurang dari 1 bulan sudah dinyatakan diare jika frekuensi ‘pup”-nya lebih dari empat kali sehari. Kebanyakan penyebab diare adalah rotavirus. Virus tersebut masuk melalui mulut dan penularannya melalui kontaminasi tangan, botol, alat makan. Orang tua harus mulai mewaspadai jika anak mulai ‘pup’-nya tidak normal, karena diare anak mulai lemas kemudian ditandai dengan demam misal suhu lebih 39,55 0C. Ciri-ciri diare rotavirus biasanya bau pup-nya lebih asam, berair, anus kadang ikut memerah, BAB berbusa, kentut lebih banyak, karena gas tinggi.

Stop memberikan antibiotika, kerena virus tidak membutuhkan antibiotika karena justru akan memperburuk keseimbangan bakteri usus.

Yang paling penting adalah rehidrasi, dengan memberikan cairan secukupnya yaitu oralit atau pedialit. Metode pemberian dengan small frekuensi, misalnya pemberian dua sendok untuk tiap dua menit, air tajin juga ampuh untuk mengatasi diare.

Anak yang diare tetap diberikan asupan makanan, seperti hari biasanya dan jangan lupa susu yang tidak mengandung laktosa ,hanya perlu dihindari makanan berserat dan manis seperti buah melon, pepaya, jeruk dan sayur. Berikan saja buah pisang.Makanan penting karena untuk pembentukan tubuh dan memperbaiki jaringan usus agar bisa pulih.

Pemberian ASI tetap diberikan, karena pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, sangat jarang, bahkan tidak terkena diare.

Yoghurt juga dapat menjadi alternatif mengatasi diare ,yang perlu diperhatikan adalah kualitas yoghurt. Menurut standar internasional harus mengandung maksimum 10 koliform per gram dan 100 kapang atau khamir per gram, selain itu tidak boleh mengandung lebih dari 2% senyawa pembentuk tekstur (penstabil, pembentuk gel, pengental atau pengemulsi), asam sitrat, pewarna makanan, pengawet makanan yang diizinkan. Bakteri baik atau probiotik akan menghasilkan antibiotika alami, yang membantu keutuhan usus, proses metabolisme, dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Studi Lain tidak Menemukan hubungan MMR dengan Autisme

sumber :http://www.kalbe.co.id/health-news/20446/studi-lain-tidak-menemukan-hubungan-mmr-dengan-autisme.html

Kalbe.co.id – Sebuah studi baru memberikan bukti lebih lanjut bahwa vaksin measles-mumps-rubella tidak terkait dengan peningkatan risiko autisme.

Kekhawatiran bahwa suntikan MMR bisa menyebabkan autisme pertama kali diangkat satu dekade yang lalu oleh dokter Inggris Andrew Wakefield, yang berdasarkan penelitian dari 12 anak-anak, mengusulkan bahwa ada kaitan antara vaksin dengan penyakit usus dan autisme.

Penelitian telah dilakukan sejak didiskreditkan secara luas, dan sejumlah studi internasional telah gagal untuk menemukan hubungan antara vaksinasi MMR dan autisme.

Studi terbaru ini termasuk anak Polandia usia 2-15 yang telah didiagnosis dengan autisme. Peneliti membandingkan setiap anak dengan dua anak-anak yang sehat umur dan jenis kelamin yang sama yang telah dirawat oleh dokter yang sama.

Beberapa anak telah menerima vaksin MMR, sementara yang lain tidak diberi vaksin sama sekali atau telah menerima vaksin untuk melawan campak saja.

Polandia telah lebih lambat untuk memperkenalkan MMR dibandingkan negara-negara Eropa lainnya, tapi selama sepuluh tahun terakhir, perlahan-lahan vaksin telah digantikan dengan suntikan campak saja.

Secara keseluruhan, penelitian ini menemukan, anak-anak yang telah menerima vaksin MMR benar-benar memiliki risiko yang lebih rendah terkena autisme daripada yang tidak divaksinasi. Juga tidak ada bukti peningkatan risiko autisme dengan vaksin campak saja.

Menurut pemimpin peneliti, Dr Dorota Mrozek-Budzyn, dari Jagiellonian University di Krakow, orangtua harus yakin tentang keamanan vaksin MMR.

Dia mencatat bahwa penyakit menular yang dapat dicegah oleh vaksin MMR kadang-kadang dapat menjadi komplikasi serius.

Campak, misalnya, dapat mengakibatkan radang paru-paru atau radang otak, dan satu atau dua anak mati keluar dari setiap 1.000 orang yang tertular virus, menurut US Centers for Disease Control and Prevention. Gondok dapat menyebabkan pembengkakan testis menyakitkan, radang otak dan, dalam kasus yang jarang terjadi, gangguan pendengaran.

Sebagian besar anak-anak dalam studi saat ini juga telah menerima vaksin MMR atau vaksin campak, menurut laporan di Pediatric Infectious Disease Journal.

Dari 96 anak-anak dengan autisme, 8 mereka belum pernah diberi vaksin untuk melawan campak, sementara sekitar 41 persen telah menerima suntikan MMR dan setengah telah menerima hanya vaksin campak.

Di antara anak-anak yang sehat, 55 persen telah mendapat suntikan MMR, sementara 45 persen telah menerima vaksin campak, hanya satu anak tetap tidak divaksinasi.

Ketika para peneliti hanya melihat anak-anak yang telah divaksinasi sebelum diagnosis autisme mereka, mereka menemukan bahwa anak-anak yang telah menerima vaksin MMR mempunyai risiko 83 persen lebih rendah dari anak-anak autis daripada tidak divaksinasi. Vaksin campak juga dikaitkan dengan resiko lebih rendah 56 persen.

Ketika para peneliti melihat pada anak-anak yang telah divaksinasi sebelum menunjukkan gejala autisme, vaksinasi MMR kembali dikaitkan dengan resiko yang lebih rendah dari gangguan. Vaksin Campak tunggal menunjukkan tidak berpengaruh pada risiko autisme.

Studi tidak menjawab pertanyaan mengapa anak-anak yang divaksinasi autisme memiliki resiko yang lebih rendah. Tapi satu kemungkinan, menurut Mrozek-Budzyn, adalah bahwa beberapa potensi anak-anak mulai menunjukkan tanda-tanda autisme, atau mungkin masalah-masalah kesehatan lainnya, sebelum menerima vaksin MMR atau vaksin campak. Dokter atau orang tua kemudian dapat menghindari vaksinasi.

Autisme Bisa Dibantu dengan Hormon Oksitosin

sumber :http://www.kalbe.co.id/index.php?mn=news&tipe=detail&detail=20488

Kalbe.co.id – Oksitosin atau yang dikenal juga dengan hormon cinta, bisa membantu mengembangkan keterampilan dan perilaku sosial penderita autisme pada level high-functioning. High-functioning autism merupakan istilah informal yang merujuk pada orang-orang autis yang dianggap memiliki fungsi yang lebih tinggi di bidang tertentu dibandingkan penderita autisme pada umumnya.

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa orang-orang dengan gangguan high-functioning autism, seperti Asperger’s syndrome, yang ditangani dengan oxytocin merespon lebih kuat terhadap orang lain dan menunjukkan lebih banyak perilaku sosial yang tepat.

Meskipun mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi, orang-orang dengan high-functioning autism kurang keahlian sosial untuk bergaul secara tepat dengan orang lain di dalam masyarakat.

Oxytocin dinamakan hormon cinta karena dikenal menguatkan hubungan antara ibu dan bayi. Hormon ini juga diyakini terlibat dalam pengaturan emosi dan perilaku sosial lainnya. Penelitian lain telah menemukan bahwa anak-anak autis memiliki kadar oxytocin yang lebih rendah dibandingkan anak-anak tanpa autisme.

Dalam studi yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences ini, peneliti memeriksa efek menghirup oxytocin terhadap perilaku sosial pada 13 orang dewasa muda dengan high-functioning autism dalam dua percobaan terpisah. Selain itu, peneliti juga melibatkan 13 partisipan tanpa autisme sebagai kelompok pembanding.

Pada percobaan pertama, peneliti mengamati perilaku sosial partisipan dalam ball-tossing game di komputer. Dalam game ini, pemain diminta memilih mengirim bola kepada karakter yang baik, buruk atau netral.

Pada umumnya, orang-orang dengan autisme tidak akan terlalu memperhatikan ketiga pilihan tersebut. Tapi dalam percobaan ini, mereka yang menghirup oxytocin lebih banyak terlibat dengan karakter baik dan mengirim lebih banyak bola kepada karakter yang baik dibandingkan yang jahat.

Partisipan dengan autisme yang diberikan placebo tidak menunjukkan perbedaan respon terhadap ketiga karakter. Sedang kelompok pembanding tanpa autisme mengirim lebih banyak bola kepada karakter yang baik.

Dalam percobaan kedua, peneliti mengukur tingkat perhatian dan respon partisipan terhadap gambar wajah manusia. Mereka yang ditangani dengan oxytocin lebih memperhatikan tanda-tanda visual di gambar dan melihat lebih lama pada area wajah yang berkaitan dengan informasi sosial, seperti mata.

“Di bawah pengaruh oxytocin, pasien merespon lebih kuat terhadap orang lain dan menunjukkan perilaku sosial yang lebih tepat. Hal ini menunjukkan potensi terapis oxytocin dalam menangani autisme,” terang peneliti Elissar Andari dari Centre Nátional de la Recherche Scientifique di Bron, Prancis, seperti dikutip situs webmd.com.

Peneliti menyatakan bahwa hasil studi ini mengindikasikan perlunya studi lanjutan untuk memeriksa efek oxytocin terhadap keterampilan dan perilaku sosial pada orang-orang dengan high-functioning autism.

Hormon Cinta Bantu Penderita Autisme

sumber :http://kesehatan.kompas.com/read/2010/02/16/11255585/Hormon.Cinta.Bantu.Penderita.Autisme

Kesadaran orangtua untuk menyembuhkan anaknya yang menderita autis kian meningkat. Mereka berharap anaknya dapat hidup normal. Kegiatan terapi di Kiddy Autism Centre, Sungai Kambang, Jambi, pada hari Kamis (8/5).
TERKAIT:

* Bayi Prematur Lebih Berisiko Mengidap Autis
* Kenapa Anak Autis Tak Mau Dipeluk?
* Dokter Pemicu Kontroversi Vaksin MMR Dijatuhi Sanksi
* Diet Khusus Belum Terbukti Efektif untuk Anak Autis
* Jumlah Anak Autis Meningkat
* GramediaShop: Cerdas Dan Bugar Dengan Senam Lantai
* GramediaShop: Seri Biologi Organ Tubuh Manusia – Ginjal Dan Kandung Kemih

BRON, KOMPAS.com – Hormon cinta atau oksitosin terbukti bermanfaat memperbaiki fungsi sosial para penderita autisme, demikian dilaporkan sebuah riset terbaru di Prancis.

Angela Sirigu dan timnya dari laboratorium CNRS di Bron, Prancis menemukan pemberian oksitosin dalam bentuk inhalasi kepada partisipan pengidap spektrum autisme menunjukkan hasil yang baik. Mereka cenderung lebih fokus dalam memberikan perhatian terhadap mata dan wajah manusia — yang merupakan penanda penting dari interaksi sosial.

Riset ini dilakukan dengan cara membandingkan efek oksitosin pada 13 individu berusia 17-39 tahun – 10 di antaranya dengan gejala spektrum autis dan tiga lainnya mengidap high functioning autisme (autisme dengan tingkat IQ tinggi) – dengan 13 kelompok populasi kontrol. Kedua kelompok ini diperintahkan bermain video game sepakbola di mana kelompok autisme mendapatkan inhaler oksitosin.

Riset yang dipublikasi secara online dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, itu menemukan bahwa inhalasi oksitosin pada dewasa yang pengidap Sindrom Asperger atau autisme IQ tinggi membuat mereka cenderung senang bermain dengan partner mereka yang lebih responsif secara sosial dalam video gim sepakbola.

“(Riset) Kami menunjukan bahwa oksitosin dapat merangsang pendekatan sosial dan pemahaman sosial para pasien pengidap autisme,” ungkap Sirigu.

“Studi lebih lanjut dibutuhkan untuk mengetahui apakah asupan oksitosin untuk jangka panjang dapat memperbaiki pada kehidupan soal para pasien ini dalam kesehariannya,” tambahnya.

Hormon oksitosin adalah hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus dan disimpan dalam kelenjar pituitari belakang. Hormon ini biasanya banyak diproduksi oleh wanita hamil menjelang melahirkan dan juga dilepaskan pria dan wanita saat berhubungan intim. Hormon ini juga terbukti berkaitan dengan ikatan emosional dan hubungan interpersonal.