Haruskah Berhenti Kerja Saat Hamil?


SUMBER : http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cyberwoman/detail.aspx?x=MotherAndBaby&y=cyberwoman|0|0|8|1193

Saat sedang sibuk berkarier, tiba-tiba Anda hamil. Haruskah berhenti dan fokus pada kehamilan? Sebelum memutuskan pilihan, beberapa hal berikut mungkin bisa menjadi masukan bagi Anda.

Anda hamil, berada di tempat kerja dan mencoba untuk tetap fokus melakukan tugas-tugas, tapi sulit berkonsentrasi. Berbagai pertanyaan pun muncul, apakah pekerjaan saya ini bisa membahayakan bayi saya? Haruskah saya berhenti bekerja saja? Inilah dua hal yang bisa menjadi bahai pertimbangan sebelum memutuskan.

Anak-anak yang ibunya tidak bekerja belum tentu lebih baik daripada anak-anak yang ibunya bekerja.

Penelitian sudah membuktikan hal tersebut. “Anak-anak yang ibunya bekerja di kantor memiliki ikatan yang erat dengan ibu mereka, mudah menyesuaikan diri secara sosial maupun emosional. Bahkan, mereka juga lebih mandiri,” papar Ellen Galinsky, dalam bukunya, Ask the Children: What America’s Children Really Think About Working Parents. Selain itu, mereka juga memiliki perkembangan fisik dan intelektual yang tidak kalah dengan anak-anak yang ibunya di rumah. Terlepas dari bekerja atau tidaknya si ibu, yang paling penting adalah seberapa hangat, sensitif, dan bertanggung jawabnya para ibu kepada anak mereka, serta seberapa puas si ibu menghadapi peran dan situasinya sebagai orangtua.

Bila berhenti bekerja, belum tentu Anda bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk bekerja kembali nantinya.

Seringkali, karier seorang wanita mengalami penurunan jika mereka berhenti bekerja atau bekerja paruh waktu sesudah melahirkan. Jadi, pikirkanlah dulu secara masak-masak sebelum mengambil keputusan untuk berhenti bekerja.

Apakah pekerjaan si ibu bisa membahayakan janin?

“Beberapa jenis pekerjaan mungkin bisa memicu terjadi keguguran, berat lahir bayi yang rendah, kelahiran prematur, ataupun bayi lahir cacat,” jelas Elizabeth Whelan, Ph.D.,ahli epidemiologi dari The National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). Tapi, itu bisa dicegah dengan meminimalisir hal-hal berikut:

• Zat-zat kimia seperti zat timbal.
• Radiasi sinar X, yang biasanya bisa dialami oleh pekerja kesehatan, peneliti di laboratorium.
• Cytomegalovirus, hepatitis B, HIV, rubella, dan cacar air yang bisa memengaruhi si janin maupun ibu. Pekerjaan yang berisiko tinggi terkena misalnya guru atau perawat anak. Perawat hewan atau dokter hewan juga harus mewaspadai virus toksoplasmosis.
• Berdiri terlalu lama, mengangkat barang-barang berat, dan tugas-tugas sejenis.
• Cairan dry cleaning.
• Bekerja malam dan kerja lembur.

Tapi, apa pun pilihan Anda: berhenti atau tidak berhenti bekerja, tidak ada pilihan yang salah. Yang penting adalah Anda benar-benar menyadari konsekuensinya dan bisa menikmati pilihan yang sudah Anda putuskan.

Nah, bila Anda memilih untuk tetap bekerja, buatlah perencanaan sejak awal, terutama untuk dua hal berikut.

Perencanaan cuti melahirkan

Pastikan Anda mengetahui aturan yang berlaku di tempat kerja untuk urusan cuti melahirkan. Namun, umumnya perusahaan memberlakukan aturan cuti 1 bulan sebelum dan sesudah melahirkan. Para wanita pekerja sendiri ada juga yang memilih untuk tetap bekerja hingga menjelang persalinan, dan cuti selama hampir tiga bulan sesudah melahirkan. Nah, bila memang memungkinkan, tidak ada salahnya itu menjadi pilihan. Yang penting, informasikanlah itu semua kepada atasan Anda jauh-jauh hari. Bahkan, dia berhak tahu bahwa Anda hamil pada bulan ketiga atau keempat kehamilan (lebih awal lebih baik bila morning sickness membuat Anda harus sesekali tidak masuk kerja).

Buat perencanaan pekerjaan yang jelas

Sebelum berbicara kepada atasan untuk meminta cuti, buatlah perencanaan yang jelas: kapan Anda akan mulai cuti, tugas-tugas apa saja yang harus didelegasikan kepada rekan kerja yang lain, dan siapa yang bisa melakukannya. Intinya, permudahlah segalanya bagi Anda maupun tempat kerja Anda. Tapi, tak perlu berkompromi untuk hal-hal yang paling penting bagi Anda.

Sumber: Majalah Lisa

One thought on “Haruskah Berhenti Kerja Saat Hamil?

  1. mau tanya …
    kalo saya bekerja tapi sangat ringan cuma depan komputer aza…tapi saya punya hipertensi ????
    apakah berisiko pada kehamilan saya ????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s