Belajar Melalui Drama


sumber :http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cyberwoman/detail.aspx?x=MotherAndBaby&y=cyberwoman|0|0|8|1184

Anak-anak zaman sekarang memiliki segudang kegiatan mulai dari sekolah, kursus bahasa, les piano, taekwondo, balet, dan lainnya. Bagaimana pun, selain kegiatan belajar yang serius dan terstruktur, anak juga memerlukan waktu untuk bermain. Penelitian menunjukkan walaupun semua kegiatan ini berguna bagi anak, jika terlalu banyak, justru akan membatasi ruang gerak lain yang lebih penting, yaitu pretend play (permainan khayalan/drama).

Doris Bergen, penulis artikel Role of Pretend Play in Children’s Cognitive Development menjabarkan, permainan drama memerlukan kemampuan untuk memindahkan suatu objek atau gerakan secara simbolis. Anak diminta mampu melakukan komunikasi social interaktif dan negosiasi, memainkan peran, pengetahuan naskah dan improvisasi. “Banyak strategi kognitif yang dipamerkan selama ‘kepura-puraan’ ini berlangsung dengan perkembangan secara fisik, sosial dan emosional yang mendominasi,” papar Bergen.

Di usia 12 bulan anak mulai melihat dunianya secara simbolis dan mulai mengerti fungsi dari suatu benda. Perkembangan ‘berpura-pura’, mudah menerima sesuatu yang baru dapat mengekspresikan kata-kata dan kemampuan untuk mengungkapkan pikiran. Ini adalah masa batita mulai meniru tingkah laku orang dewasa, seperti ketika berbicara di telepon, minum dari botol atau cangkir, atau memakai topi.

Seiring dengan bertambahnya usia anak, pretend play mereka semakin berkembang Pengungkapan dan pemikiran simbolis menjadi lebih jelas pada masa ini. Anak juga mulai mengerti bahwa beberapa mainan dapat menggantikan peranan benda yang lain. Menjelang usia 2 tahun mereka mungkin akan menggunakan boneka atau bermacam jenis binatang untuk memainkan peranan yang mereka inginkan seperti berpura-pura memberi makan, dan lainnya.

Ini berarti mereka dapat mengingat dan mengerjakan sesuatu dengan mengungkapkan pikirannya dengan menggunakan benda-benda, gambar, surat dan angka-angka yang telah mereka kenal pada kegiatan sebelumnya. Peran menjadi lebih luas dalam permainan khayalan ini di usia 2 tahun saat mereka mulai memerankan peranan seperti ibu, bapak atau anak.

Pada usia 3 tahun pretend play mulai meningkat seperti keadaan yang sebenarnya, seperti berbicara sendiri di telepon mainan, anak-anak juga mulai menggunakan mainan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Contohnya pada saat bermain boneka, boneka tersebut disiapkan untuk menghadiri pesta ulang tahun dengan teman-teman (boneka) yang lain, mereka juga akan menyetir mobil yang terbuat dari karton, makan makanan yang terbuat dari lilin dan bermain atau berdansa.

Usia 4-5 tahun adalah usia optimal dalam pretend play karena anak telah mengembangkannya lebih kompleks dengan skenario permainan yang lebih dramatis. Mereka dapat membuat tema permainan di antara mereka, menciptakan dan mengkoordinasikan beragam peranan dalam satu kesatuan skenario dan pemahaman cerita yang lebih baik. Walaupun tak jarang juga diantara anak-anak ini ada yang masih kesulitan untuk mengerti perbedaan antara khayalan dan kenyataan. Contohnya, anak-anak pada usia ini mungkin percaya bahwa monster itu ada. Mereka mungkin senang memainkan peranan yang memiliki unsur kekuasaan seperti menjadi orangtua, dokter, polisi, atau pahlawan. Lewat permainan peran-peran ini anak akan mengerti lebih baik tentang peranan mereka mainkan, membuat mereka menjadi tidak terlalu takut, dan terpenuhinya keinginan mengungkapkan emosi lebih luas

Pretend play bagi anak usia 6 sampai 8 tahun mulai berbeda, mereka lebih menyukai permainan tugas yang logik dan berkelompok. Mereka lebih fokus pada permainan yang lebih kompleks dengan membuat aturan-aturan. Permainan yang dilakukan lebih banyak aktivitas di luar rumah, seperti petak umpet, bermain kejar-kejaran, dan semua jenis olahraga. Karakter terkenal dari tema aksi kepahlawanan atau tema persahabatan sangatlah digemari pada masa usia ini.

Mulai usia 9 sampai 12 tahun anak mulai terikat pada kegiatan-kegiatan yang memerlukan kekuatan fisik dan pikiran. Mereka lebih memilih menciptakan permainan mereka, membuat naskah sendiri, dan menampilkan permainan yang mereka ciptakan.

Manfaat permainan peran
Kapasitas anak-anak dan keinginan untuk terlihat dalam pretend play yang semakin kompleks adalah tanda-tanda sangat penting akan kesehatan fisik, sosial, emosional dan perkembangan kognitif anak. Permainan peran memupuk setiap aspek perkembangan anak dan sangatlah penting untuk kesuksesan anak di sekolah dan dalam kehidupan nyata. Kalliala, penulis buku Play Culture in a Changing World, menekankan bermain adalah membuka jalan untuk belajar. Melalui pretend play anak juga dapat mengembangkan potensinya.

Secara Fisik
Memberi kesempatan pada anak mengembangkan koordinasi mata-tangan, kemampuan motorik kasar seperti berlari,melompat, dan mengasah motorik halus yang penting untuk menulis dan aktivitas lainnya.

Secara Kognitif
Anak belajar beragam konsep dan menggunakan simbol-simbol, mengungkapkan pikiran, berimajinasi, membuat pemikiran logik, perencanaan, penyelesaikan masalah, menambah pengetahuan dan melakukan improvisasi adalah suatu proses pemikiran yang tinggi yang dikenalkan melalui aktivitas permainan peran.

Secara Sosial
Anak bereksperimen terhadap peran orang-orang yang mereka amati. Anak belajar mengerti dan memahami dunia. Melalui permainan peran, anak belajar untuk menunggu giliran, berbagi tanggung jawab, dan menyelesaikan masalah secara kreatif. Pengembangan kapasitas diri yang baik dalam menghayati peran orang lain akan dapat menjadikan seseorang sukses di masa mendatang. Dengan berpura-pura menjadi ibu, bapak, guru, polisi, dokter dan juga karakter pahlawan, anak-anak dapat melihat dunia dari beragam perspektif dan bagaimana mereka dapat mengembangkannya sebagai seorang individu.

Secara Emosional
Permainan peran merupakan tempat pelampiasan perasaan, pemikiran, harapan dan bahkan ketakutan mereka. Permainan ini dapat meningkatkan kemandirian, tenggang rasa, percaya diri, merasa puas dan sebuah kesempatan yang baik untuk belajar dari kesalahan.

Ketika anak bermain pretend play, mereka terlibat dalam beragam proses belajar yang nantinya akan terpola pada fisik, sosial, emosional dan perkembangan kognitif. Pekerjaan akademik tergambar melalui pemikiran yang logik, kemampuan untuk mengungkapkan pikiran dan pengalaman serta menguji penggunaan hipotesa atau skenario “ bagaimana jika”. Semua ini didukung oleh kegiatan permainan peranan.

Tanpa melupakan kemampuan membaca dan menulis yang tergantung pada kemahiran bahasa, imajinasi, kesadaran sosial dan mengekspresikan kata-kata, dan hal ini merupakan keahlian yang diasah melalui permainan peranan. Dengan manfaat yang beragam dari permainan ini terhadap perkembangan anak, maka sangatlah penting jika orangtua memegang peranan utama dan menjamin bahwa anak telah diberi kesempatan untuk bermain permainan peran di rumah.

Yang dapat dilakukan orangtua untuk mendukung kegiatan drama anak di rumah:
a.Dukung dan ikut bermain permainan peranan. Ini akan membangun hubungan yang kuat antara orangtua dan anak, dan juga akan membantu mengembangkan kreativitas. Orangtua dapat melakukannya dengan bermacam cara. Contohnya, tanyakan apa yang akan terjadi nanti di akhir cerita yang sedang ia perankan. Jika ia sedang berperan memasak, orangtua bisa berkata, “Sedang masak apa? Baunya harum, bolehkah Ibu mencobanya?”

b.Siapkan panggung. Sediakan peralatan dan benda-benda yang bisa digunakan untuk bermain, seperti pot, kotak, topi, kardus atau pakaian yang sudah tak terpakai.

c.Pilihlah mainan dan kegiatan dengan bijaksana. Pilih mainan yang dapat memberi ruang imajinasi dan dapat dipakai berulang kali. Mainan dan peralatan lain yang berada di sekitar Anak akan membuat mereka dapat mengidentifikasi karakter-karakter yang berbeda dan mencoba memerankan beragam peranan. Carilah mainan yang merangsang imajinasi. Jamie Hebert, penulis Imagination in Kids is Important Why Children Need Imagination to Help Them Get Ahead Socially and Mentally in Today’s Technology Based World, mengatakan manfaat yang luar biasa dari imajinasi adalah:

* Membantu anak usia sekolah menyelesaikan masalah dengan membantu mereka berpikir melalui hasil yang berbeda terhadap situasi yang beragam dan memainkan peran adalah jalan untuk mengatasi kesulitan.

* Memberi latihan pada anak untuk menghadapi kehidupan di dunia nyata. Permainan khayalan membantu mereka berlatih dan menerapkan pengetahuan baru dan mengerti lebih baik akan bagaimana keahlian itu dapat digunakan dalam dunia nyata.

* Merangsang jumlah perbendaharaan kata. Dengan bercerita dan mendengarkan cerita nyata ataupun dongeng, membantu anak menambah kosakata baru.

* Membantu anak tumbuh menjadi dewasa yang berpikir kreatif. Orang dewasa yang masa kanak-kanaknya sering berimajinasi seringkali menjadi pemecah masalah, pembuat terobosan dan pemikir kreatif.

Oleh Lana Kristine Flores-Jelenjev
Staff Development Specialist, Tutor Time International Preschool and Kindergarten

Sumber: Majalah Inspire Kids

One thought on “Belajar Melalui Drama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s