Bagaimana Parenting Style Anda?


SUMBER :http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cyberwoman/detail.aspx?x=MotherAndBaby&y=cyberwoman|0|0|8|1190

Disiplin merupakan hal yang mutlak dan diperlukan dalam mengasuh serta mendidik anak. Tidak hanya bagi sang anak, tetapi juga bagi orangtuanya.

Memahami parenting style atau gaya pengasuhan yang Anda lakukan akan memberikan masukan tentang bagaimana perilaku orangtua dan mengukur hasilnya pada anak. Ukuran atau kategorisasi perilaku orangtua dapat dilihat berdasarkan respon yang diberikan anak.

Otoriter

Komentar orangtua: “Bukankah seorang anak harus mematuhi orangtuanya. Saya menginginkan yang terbaik, dan disiplin adalah salah satu untuk menjaga anak tetap pada tempatnya. Sebagai orangtua, saya ingin melihat anak berhasil dan sukses dalam hidup. Adanya kontrol akan membentuknya untuk tidak melanggar atau membantah. Anak tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan atas dirinya. Dengan peraturan saya membentuknya untuk menjadi individu yang baik.”

Kometar anak: “Ayah dan Ibu akan marah kalau perintahnya tidak diikuti. Saya tidak bisa membicarakan apa yang saya mau. Apa yang mereka bilang, harus dikerjakan tidak boleh ada kata tidak. Rasanya jadi tidak betah di rumah.”

Tipe otoriter merupakan istilah dari gaya pengasuhan dominating atau sering disebut authoritarian. Penekanan terhadap kontrol dan kepatuhan merupakan ciri utama dari gaya pengasuhan ini.

(-) Rendah diri, kadar kecemasan dan depresi yang tinggi, rendahnya kompetensi social, rasa hormat dan tanggung jawab yang moderat, performa akademik yang berada pada rata-rata, perilaku yang agak bermasalah, kecuali menerima dan mematuhi perintah.

Menurut S.R. Retno Pudjiati Azhar, psikolog perkembangan dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, orangtua yang memiliki gaya pengasuhan dengan kontrol sebagai kunci dalam membesarkan anak akan mengakibatkan anak menjadi depresi, menarik diri dari pergaulan, dan cenderung tidak hangat dengan orang lain, tidak hanya dengan orangtuanya anak pun menjadi tidak mampu bersikap hangat dengan siapapun.

Liberal

Komentar orangtua: “Anak perlu learning by doing. Ia akan belajar banyak dari hal itu. Bila saya memberikan banyak peraturan kemungkinan juga akan dilanggarnya. Selain itu saya khawatir dengan adanya disiplin ketat anak menjadi tidak mencintai orangtuanya. Anak-anak saya izinkan untuk mengikuti berekspersi sesuai kemauan mereka.”

Komentar anak: “Saya selalu diizinkan untuk melakukan apapun. Semua yang saya minta sudah disediakan. Saya yakin mereka sangat sayang pada saya karena tidak pernah mengatur. Tetapi orang lain sering berkata bahwa saya berlaku tidak baik.”

Tipe liberal menggambarkan sikap orangtua yang permissive, kontrol berada di anak. Orangtua membiarkan anak untuk berekspesi serta mengatur dirinya sendiri. Meski kehangatan, rasa kasih sayang ditunjukkan, anak mendapatkan izin penuh untuk berlaku sesuai keinginannya.
(+) : Rasa percaya diri yang tinggi, rendahnya kadar kecemasan dan depresi, kompetensi sosial yang tinggi.
(-) : Rasa hormat dan tanggung jawab yang rendah, pencapaian akademik yang kurang, banyaknya perilaku bermasalah.

Menurut Pudjiati, melalui gaya pengasuhan ini, anak-anak menjadi immature atau tidak matang. Karena orangtua tidak memiliki kontrol maka semua keinginan akan diperbolehkan. Anak menjadi tidak mau berbagi dan menang sendiri. Selain itu anak akan tubuh menjadi individu yang tidak mampu mengeksplorasi lingkungan dan bersikap pasif karena semuanya disuapi.

Pudjiati menambahkan, pada gaya pengasuhan liberal dengan alasan bahwa orangtua ingin menghindari konflik dengan anak melalui peraturan dan disiplin, maka perlu dipahami bahwa membesarkan anak adalah suatu proses. Orangtua tidak bisa menuntut anak untuk memahami keinginannya tetapi orangtua juga harus belajar bahwa bahwa orang lain juga memiliki kebutuhan, sehingga ia tidak dapat berlaku sesuai keinginannya setiap saat.

Egaliter

Komentar orangtua: “Saya menerapkan peraturan-peraturan yang perlu dijalankan oleh anak. Namun, menurut saya terkadang anak memilki pandangan tersendiri yang sering tidak dipahami oleh kita sebagai orangtua. Menurut saya tidak ada salahnya mendengarkan keinginannya dan mencari solusi yang dapat disepakati bersama.”

Komentar anak: “Papa dan mama mengatakan bahwa terdapat peraturan-peraturan harus saya laksanakan. Di rumah saya bisa mengeluarkan keluh kesah, pendapat, dan keinginan kepada mereka. Dan biasanya mereka akan mengajak diskusi, peraturan tetap harus dipatuhi.”

Tipe egaliter merupakan istilah yang menggambar gaya pengasuhan positive atau sering disebut juga authoritative. Pada tipe pengasuhan ini mengkombinasikan atau mencampur apa yang diinginkan oleh anak dan apa yang diinginkan oleh orangtuanya. Secara umum gaya egaliter dapat dikatakan lebih ideal.

+ : Harga diri anak yang tinggi dan percaya diri, rasa cemas dan depresi yang rendah, kompetensi sosial yang tinggi (empati, komunikatif, kontrol emosi yang baik, dan manajemen diri), rasa hormat dan tanggung jawab yang baik, performa akademik yang baik, rendahnya perilaku bermasalah.

“Melalui gaya pengasuhan yang seimbang ini anak akan memiliki kontrol diri yang baik, Ia mampu bersikap asertif kepada orang lain karena dirinya sendiri pun diberikan kesempatan untuk menunjukkan apa yang ada dipikirannya. Tidak hanya itu anak pun akan mau mengeksplorasi lingkungannya dengan baik,” ujar Pudjiati.

Tidak Terlibat

Selain ketiga pokok gaya pengasuhan di atas, Pudjiati juga menambahkan bahwa terdapat pula pola pengasuhan unengaged atau neglect, yaitu parenting style yang dianut oleh para orangtua yang tidak memilki waktu untuk membesarkan serta mendidik buah hatinya. Pada umumnya orangtua memiliki konsentrasi pada hal lain yang merupakan kepentingan diri sendiri. Contohnya, orangtua yang terfokus pada pemenuhan ekonomi. Meski tidak harus selalu mengandung arti kekurangan. Orangtua yang senantiasa terus bekerja dan tidak dapat membagi waktunya untuk memberikan pengasuhan dan mungkin membiarkan orang lain atau pengaruh lingkungan yang membesarkan anak. Nilai dan pandangan yang akan dianut anak pun akan berkembang sesuai lingkungan yang mengasuhnya.

– : Harga diri dan kepercayaan yang rendah, tingginya rasa cemas dan depresi, kompetensi sosial yang sangat rendah, rasa hormat dan tanggung jawab yang rendah, buruknya prestasi akademik, berperilaku buruk.

Gaya Pengasuhan Ideal

Mengungkapkan kelebihan dan kekurangan masing-masing gaya pengasuhan serta membanding- bandingkannya merupakan sikap yang kurang bijak karena bisa menyebabkan orangtua terjebak dalam menentukan satu gaya yang pasti atau paling ideal. Orangtua adalah seseorang yang bisa menemukan cara yang paling pas untuk mengasuh putra putrinya dan menerapkannya pada keluarga.

Dr. Ratih Andjayani Ibrahim, psikolog perkembangan dari Personal Growth menggambarkan kelebihan dan kekurangan suatu gaya pengasuhan dengan sebuah analogi. Anggap anak sebagai sebatang pohon. Semua orang terlebih orangtua menginginkan agar pohon tumbuh baik, sehat, subur, dan tumbuh seoptimal mungkin yaitu berumur panjang dan berbuah banyak. Sehat dan subur melambangkan keadaan anak yang sehat, bahagia, dan sejahtera. Sedangkan berbuah banyak dan bagus mengartikan prestasi, dan setiap orang mencita-citakan hal tersebut pada buah hatinya.

Untuk itu tanaman tersebut harus dirawat, dipupuk, disirami, disiangi, diberi cukup sinar matahari agar tumbuh baik. Bukan hanya itu saja, ia juga ditempatkan dalam wadah-wadah untuk memudahkan perawatannya. Yang terpenting adalah ketekunan, konsistensi, perhatian serta ketulusan dalam merawat pohon tersebut. Wadah, pupuk, perawatan yang diberikan kepada anak itu menggambarkan pola pengasuhan dalam keluarga. Untuk dapat memberikan yang tepat, orangtua harus tahu terlebih dulu, jenis pohon yang ditanam, bagaimana karakteristik pohon tersebut. Biarpun sama-sama memiliki pokok kayu, pohon beringin berbeda dengan pohon cabai, sehingga wadah dan perawatannya pasti berbeda. Ada pohon yang diberi wadah sempit, ada yang harus diberi wadah luas. Ada yang ketika diberi wadah terlalu besar, banyak air dan pupuk justru mengakibatkan pertumbuhannya menjadi buruk. Dan ada pula yang tidak boleh kena sinar matahari langsung.

Disiplin merupakan hal yang mutlak dan diperlukan dalam mengasuh serta mendidik anak. Tidak hanya bagi sang anak, tetapi juga bagi orangtuanya. Semakin ketat pengasuhan yang diberikan, semakin kaku disiplin yang diterapkan, semakin otoriter orangtua sama dengan semakin kecil wadah yang diberikan kepada si pohon untuk tumbuh. Semakin banyak kritik, hujatan, omelan, berarti semakin banyak ranting dan dahan pohon yang dipangkas. Dan jika wadahnya terlalu kecil, terlalu banyak pemangkasan, pohon tidak akan bisa tumbuh dengan baik dan justru akan tumbuh cacat atau bahkan mati sama sekali. Begitu juga sebaliknya, jika pohon tidak dirawat dan dibiarkan liar, atau jika ternyata pupuk yang digunakan tidak cocok untuk pohon itu, tidak sesuai dengan aturan pakainya, dan lain sebagainya.

Istilah yang digunakan untuk mengelompokkan style atau gaya pengasuhan oleh orangtua kepada anak tidak ada yang bersifat baku atau mutlak. Pengelompokkan ke dalam 3 model, otoriter, egaliter, dan liberal ini adalah salah satu upaya mengidentifikasi 3 kelompok besar gaya pengasuhan yang dilakukan dalam keluarga. Selalu ada variasi-variasi pada pola pengasuhan, yaitu penggabungan dari pola-pola pokok yang ada. Apakah ada pola pengasuhan yang paling jitu? Jawabannya adalah tidak. Ratih menambahkan, orangtua harus menemukan gaya pengasuhan yang ideal bersama-sama dengan anak. Perlakuan kepada setiap anak tidak dapat disamakan, karena setiap anak adalah unik. Orangtua selayaknya peka mengenali buah hatinya, bagaimana karakter, keunggulan dan kelemahan anak secara individual.

Selain itu karakter orangtua mempunyai pengaruh besar terhadap gaya pengasuhan yang dijalankannya. Contohnya, orangtua yang fun, kreatif, imajinatif, dan hangat akan memiliki gaya pengasuhan yang berbeda dengan orangtua yang memiliki karakteristik sebaliknya. Keluarga yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus akan memiliki gaya pengasuhann yang berbeda. Begitupula dengan anak yang tinggal bersama keluarga besar, anak dengan saudara yang banyak, anak dengan orangtua tunggal, dan lainnya. Latar belakang sosial, status, pendidikan, budaya, agama akan sangat mempengaruhi pola pengasuhan anak dan warna yang melingkupinya. “Harapan orangtua, ekspektasinya terhadap masa depan anak akan memberikan variasi dalam pola pengasuhan di setiap keluarga dan pemberian label untuk setiap pola pengasuhan akan justru akan merumitkan para orangtua,” kata Ratih.

Pudjiati pun menambahkan bahwa ada kalanya orangtua perlu bersikap otoriter pada anak, yaitu pada hal yang dapat membahayakan anak. “Anak memang perlu learning by doing namun tidak pada setiap dan semua hal anak harus belajar setelah merasakan akibatnya,” katanya. Contoh, soal obat-obatan terlarang, orangtua perlu memerlukan kontrol keras terhadap hal ini. Sedangkan orangtua pun ada saatnya untuk bersikap liberal, yaitu pada hal-hal yang tidak berbahaya dan dalam pengembangan diri. Beri kesempatan pada anak untuk mencoba.

Dr. Ratih Andjayani Ibrahim membagi tips menemukan dan menerapkan pola pengasuhan yang tepat dengan konsep 5 K:

Kasih : Dasari semuanya dengan kasih, sehingga orangtua tidak bertindak serampangan, dan semena-mena. Dengan dasar kasih orangtua juga akan mampu berempati kepada anak, dan juga pada pasangan.

Konsekuen: Bersungguh-sungguh menepati hal-hal yang sudah disepakati bersama anak.

Konsisten : Konsisten melaksanakannya sehingga anak paham, apa yang harus adalah harus, apa yang tidak adalah tidak, dan bukan lantaran mood orangtua.

Kompak : Semua yang terlibat dalam pengasuhan anak haruslah kompak. Agar tidak membingungkan anak, menyebabkan anak merasa diadudomba.

Kompromi : Bersikap bijak terhadap anak. Bijak berarti adil, sehingga biarpun harus konsukuen dan konsisten, orangtua tetap harus bisa bersikap fleksibel jika perlu.

Sumber: Majalah Inspire Kids

One thought on “Bagaimana Parenting Style Anda?

  1. parenting style menurut saya sangat menentukan masa depan anak dan tingkat kemandirian anak kita….kita sebagai orang tua harus selalu dapat menjadi pengontrol anak kita……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s