Asma Ganggu Kehamilan


sumber :http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cyberwoman/detail.aspx?x=MotherAndBaby&y=cyberwoman|0|0|8|1196

Wanita penderita asma khawatir jika ia hamil. Sebab ini erat kaitan dengan persalinan kelak. Obat-obatan yang selalu dikonsumsi penderita asma pun, dikhawatirkan akan berpengaruh pada janin.

Berbeda dengan orang yang tidak menderita asma, pada penderita asma terjadi peradangan kronik yang menyebabkan pipa saluran napas menjadi sensitif. Asma merupakan penyakit kronik yang dapat dikendalikan. Untuk mengendalikan serangan asma, maka faktor pencetusnya harus dihindari. Faktor pencetus asma antara lain alergi (biasanya debu rumah), kelelahan dan influenza.
Sedangkan ketegangan jiwa dapat memperberat serangan asma.

Serangan asma dapat muncul sewaktu-waktu jika dipicu oleh faktor pencetusnya. Ketika sedang hamil pun serangan asma bisa saja muncul. Tapi tidak perlu dikhawatirkan. Karena timbulnya serangan asma tidak sama tiap penderita. Bahkan pada seorang penderita asma pun serangannya tidak sama pada kehamilan pertama dan berikutnya.

Kurang dari sepertiga penderita asma akan membaik pada saat hamil, lebih dari sepertiga akan menetap, serta kurang dari sepertiga lagi akan memburuk atau serangannya bertambah ketika hamil. Biasanya serangan akan timbul pada usia kehamilan 24 minggu sampai 36 minggu. Justru pada akhir kehamilan, serangan asma jarang terjadi.

Namun bagaimana pun juga wanita penderita asma berisiko saat ia hamil. Karena si ibu akan kekurangan oksigen. Maka jika tidak segera diatasi janin pun dapat kekurangan oksigen yang dapat berakibat keguguran, persalinan prematur, berat janin tidak sesuai dengan kehamilan atau pertumbuhan janin terhambat.

Perjalanan asma pada ibu hamil dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron yang terus meningkat. Padahal berbagai teori justru menunjukkan kedua hormon tersebut mestinya dapat memperbaiki kondisi asma. Sebab memiliki efek melemaskan otot polos dan merilekskan bronkus. Selain itu meningkatnya kadar hormon protasiklin (PG12) ditambah prostaglandin (PGE) juga dapat memperbaiki asma. Namun di sisi lain bertambahnya hormon lain seperti PGF2 saat kehamilan, bisa memperburuk asma.

Ada yang kondisinya semakin buruk setelah hamil, ada pula yang tidak mempengaruhi kehamilannya. Ini semua tergantung dari status imunologi dan reaksi imunologi pada tubuh si ibu. Namun, ibu penderita asma dapat melahirkan normal, jika saat persalinan tidak terjadi serangan asma. Tetapi bila terjadi serangan asma, persalinan dapat dibantu dengan vakum atau forsep. Bahkan jika perlu saat melahirkan ibu didampingi dokter spesialis paru.

Pengaruh Obat

Asma yang tidak dikendalikan dengan baik pada keadaan hamil dapat berpengaruh buruk pada ibu maupun janin. Pada kehamilan muda memang seharusnya obat-obatan ini perlu dihindari. Namun jika diperlukan penggunaanya juga mesti hati-hati. Sebab berbagai obat dapat menimbulkan efek samping pada janin atau pun ibu. Misalnya, abortus, kematian janin, kelainan kongenital terutama pada trimester pertama, efek terhadap pertumbuhan janin dan gangguan fungsi organ seperti sistem saraf serta otot polos uterus.

Banyak wanita penderita asma saat awal kehamilannya menghentikan penggunaan obat asma, mereka mengkhawatirkan efek samping bagi ibu dan janinnya, dilaporkan dalam berita edisi Juli dari American Journal of Obstetrics and Gynecology. Meski sebenarnya standar terapi yang ditetapkan adalah tetap melanjutkan penggunaan obat-obatan tersebut, karena obat tersebut dapat mempertahankan kehidupan dari penderitanya.

Banyak wanita berasumsi bahwa mengkonsumsi obat asma saat hamil tidak baik, karena obat tersebut akan masuk dan mempengaruhi perkembangan dari janin yang dikandungnya, Dr.Tina V. Hartert dari Vanderbilt University School of Medicine, Nashville, Tennessee menjelaskan kepada Reuters Health.

Hartert dan timnya menggunakan data yang diambil lebih dari 8.000 wanita hamil yang menderita asma, mereka diteliti apakah tetap menggunakan obat asma selama mereka hamil.

Pada minggu ke-13 kehamilan penggunaan obat inhalasi anti inflamasi menurun hingga 22,9 persen. Penggunaan obat beta agonis short acting seperti albuterol yang bermanfaat meredakan gejala mengalami penurunan hingga 13,2 persen dan penggunaan kortikosteroid mengalami penurunan hingga 54,3 persen, mereka melaporkan.

Penggunaan semua kelompok obat asma mengalami peningkatan kembali dari Minggu ke 6-13, dan dari Minggu ke 13-26 usia kehamilan, catatan para ahli, namun hanya penggunaan beta agonis short acting yang menunjukkan perbaikan secara bermakna pada minggu ke 26 usia kehamilan.

Hasil studi ini menyimpulkan bahwa wanita penderita asma mengalami penurunan dan/atau berhenti menggunakan obat asma selama awal masa kehamilan, meskipun rekomendasi yang ditetapkan adalah tetap menggunakan obat tersebut, mereka menyebutkan.

Diperlukan suatu perhatian khusus yang diberikan kepada ibu hamil terutama yang menderita asma. Seharusnya para ibu tersebut mendapatkan pengetahuan tentang penyakitnya, serta secara rutin melakukan kontrol terhadap kondisi asmanya dan tentunya menjamin mereka tetap menggunakan obat selama kehamilan, Hartert menjelaskan.

“Wanita hamil selalu menyebutkan bahwa mereka makan untuk dua orang, gunakan juga istilah tersebut untuk menyebutkan bahwa mereka bernapas untuk dua orang pula”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s