Pansus Ungkap Skenario Dana Talangan Century


sumber : http://jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=115618

Penyelamatan Bank Century Mempertimbangkan Adanya Dana Milik Yayasan BI
dan BUMN
*Pansus Ungkap Skenario Dana Talangan Century*

*JAKARTA -* Rekaman rapat Bank Indonesia (BI) menguak sebagian motif
/bailout/ Bank Century. Salah satunya, penyelamatan Bank Century
dilakukan dengan mempertimbangkan adanya dana milik yayasan BI dan BUMN.

Anggota Pansus Hak Angket Bank Century dari FPKS Andi Rahmat mengatakan,
keberadaan dana yayasan BI dan BUMN disebut sangat jelas dalam rapat
pejabat BI pada 13 November 2008. ”Ini sudah motifnya,” ujarnya di
sela rapat pansus kemarin (4/2).

Dalam rapat itu, pansus memutar dua rekaman audio, yakni Rapat Dewan
Gubernur (RDG) Mingguan BI pada 5 dan 13 November 2008. Selain itu,
transkrip rekaman rapat RDG BI pada 20 November 2008 juga sudah dibuka
oleh pansus.

Menurut Andi, sejak awal hasil audit investigasi Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) yang menyebut adanya dana Yayasan Kesejahteraan Karyawan
Bank Indonesia (YKKBI) dan BUMN di Bank Century, memicu dugaan motif
tertentu dalam upaya penyelamatan Bank Century. ”Sebab, jika Bank
Century ditutup, dana YKKBI dan BUMN itu bakal hilang karena batas
penjaminan LPS hanya Rp 2 miliar,” katanya.

Dugaan tersebut, lanjut Andi, akhirnya terkonfirmasi karena dalam
rekaman rapat RDG BI pada 20 November 2008 jelas disebut-sebut adanya
dana YKKBI dan BUMN. Dengan demikian, keberadaan dana itulah yang diduga
ikut menjadi salah satu pertimbangan BI menyelamatkan Bank Century.

Berdasar transkrip tertulis RDG mingguan BI pada 20 November 2008, atau
sehari sebelum keputusan /bailout/ Bank Century, Deputi Gubernur Bank
Indonesia S. Budi Rochadi mengatakan, dana simpanan YKKBI akan hilang
jika bank tersebut dinyatakan gagal.

”Meskipun ini bukan menyangkut kebijakan umum mengenai sistem keuangan
ataupun kondisi moneter, di sini kita menyadari ada simpanan YKKBI di
bank ini,” ujarnya.

Budi juga menyatakan, dana YKKBI tersebut bisa saja tidak tertagih bila
Bank Century dinyatakan gagal. Dalam audit BPK disebutkan, dana YKKBI
yang tersimpan di Bank Century mencapai Rp 80 miliar. ”Saya kira ini
penting untuk dijadikan dasar,” katanya.

Selain dana YKKBI, dana simpanan di Bank Century yang disebut-sebut
dalam RDG adalah milik BUMN. Deputi Gubernur Ardhayadi Mitroatmodjo
mengatakan, RDG BI perlu mengekspos angka-angka kuantitatif sehingga
dapat menambah /lack of confidence/ atau kurangnya kepercayaan terhadap
perbankan.

”Di situ /kan /ada eksposure tidak hanya dana nasabah yang Rp 2 miliar,
tetapi juga ada Telkom. Kemudian, juga ada dana antarbank,” ujarnya.
”Ada investor kelembagaan Telkomsel, Jamsostek, dan sebagainya,” imbuhnya.

Sebelumnya, anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hasan Bisri
menyatakan, hasil audit menunjukkan adanya dana BUMN yang ditempatkan di
Bank Century sekitar Rp 400 miliar. ”Saya tidak hafal satu per satu,”
ujarnya.

Data audit menunjukkan ada lima BUMN yang menyimpan dana senilai total
Rp 412 miliar. Kelima BUMN tersebut adalah Jamsostek, PT Perkebunan
Nasional (PTPN), Wijaya Karya, Telkom, dan Timah. Berdasar audit BPK,
dana-dana itu ditempatkan oleh BUMN sebelum Bank Century dimasukkan ke
pengawasan khusus BI karena bermasalah. Dana-dana itu lalu ditarik
setelah Bank Century diselamatkan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Poin menarik lain yang terkuak dari rekaman RDG BI adalah kenyataan
bahwa pengubahan Peraturan BI (PBI) No 10/26/PBI/2008 mengenai Fasilitas
Pendanaan Jangka Pendek (FPJP), sejak awal didesain khusus untuk Bank
Century. Ini sekaligus mementahkan pernyataan semua pejabat BI saat
diperiksa pansus yang menyatakan bahwa perubahan PBI tersebut tidak
dilakukan hanya untuk Bank Century, tapi untuk seluruh bank.

Perubahan PBI itu akhirnya juga menjadi salah satu temuan BPK. Dalam
audit investigasi, BPK jelas menyebut bahwa perubahan PBI yang
menurunkan syarat penerima FPJP dari rasio kecukupan modal (CAR) 8
persen menjadi hanya positif, patut diduga dilakukan untuk merekayasa
agar Bank Century dapat memperoleh FPJP.

Dalam rekaman RDG BI pada 13 November yang membahas FPJP, jelas
terdengar bahwa sejak awal para pejabat BI hanya menyebut-nyebut Bank
Century. Karena itu, aturan mengubah CAR dari 8 persen menjadi positif
pun disesuaikan dengan kondisi Bank Century yang saat itu hanya memiliki
CAR 2,35 persen.

Akibat perubahan PBI itulah, akhirnya pada 14 November 2008, Bank
Century mendapat kucuran dana FPJP dari BI Rp 689 miliar. ”Istilahnya,
itu /lawry engineering/ atau rekayasa hukum untuk kepentingan
tertentu,” ujar Andi Rahmat.

Dikonfirmasi terpisah, anggota Pansus Century FPKS M. Misbakhun
menyatakan, hasil rekaman RDG pada 13 November menegaskan
ketidakkonsistenan saksi. ”Ini /confirm nggak/ konsisten, PBI diubah
untuk kepentingan Bank Century,” katanya.

Menurut dia, fakta menyebutkan bahwa ada salah satu pihak di rekaman
yang menyebutkan bahwa PBI memang direkayasa. ”Keterangannya
menyebutkan, harap hati-hati supaya PBI tidak dikesankan membantu bank
ini, Bank Century tentunya,” lanjutnya.

Dia menambahkan, sangat disayangkan bahwa pansus tidak memiliki dokumen
rekaman telekonferensi pada 13 November 2008. Padahal, telekonferensi
itu menyebutkan cara penyelamatan Bank Century, termasuk penyebutan
surat berharga dan aset kredit. ”Ini harus diperiksa, tidak dikasih
atau memang tidak ada rekamannya,” tandasnya.

*Sita Dokumen *

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengeluarkan penetapan penyalinan
dokumen-dokumen di kertas kerja pemeriksaan (KKP) Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) yang terkait kasus Bank Century. Hari ini PN Jakarta
Pusat akan berkoordinasi dengan BPK untuk menentukan waktu
penyitaan/penyalinan dokumen-dokumen yang diminta Panitia Khusus Angket
Kasus Bank Century DPR.

”Besok (hari ini) suratnya akan dikirim ke BPK. Isinya, pemberitahuan
dari pengadilan bahwa pelaksanaan penyalinan dokumen sebagaimana yang
diminta pansus akan dilaksanakan pekan depan,” ujar Humas PN Jakarta
Pusat (Jakpus) Sugeng Riyono kemarin (4/2).

Dalam suratnya, pengadilan memberitahukan bahwa penyalinan
dokumen-dokumen yang ada dalam kertas kerja pemeriksaan BPK dilaksanakan
pada Selasa pe­kan depan (9/2) atau Rabu (10/2). Penyalinan dilakukan
petugas pengadilan didampingi pimpinan pansus dan anggota BPK. ”Surat
ini hanya sebatas penetapan pengadilan. Soal apakah penetapan ini bisa
dilaksanakan atau tidak, nanti kita lihat saat pelaksanaan,” terang Sugeng.

Kedudukan surat penetapan pengadilan untuk penyalinan do­kumen sama
dengan surat pe­netapan pengadilan untuk penyi­taan bangunan yang
menjadi objek sengketa perdata. Karena itu, ada kemungkinan tim
eksekutor akan menghadapi perlawanan dari pihak tereksekusi meski sudah
membawa surat penetapan pengadilan.

Pansus Angket Kasus Bank Cen­tury DPR sebelumnya meng­a­jukan permohonan
penetapan penyitaan/penyalinan dokumen-dokumen yang berada dalam kertas
kerja pemeriksaan kasus Bank Century. Di antara 97 dokumen penting
terkait kasus tersebut, baru 27 dokumen atau sekitar 30 persen yang
diberikan dari Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan. Sisanya berada
dalam kertas kerja pemeriksaan BPK.

Rincian data yang dibutuhkan, antara lain, 20 dokumen terkait merger, 20
dokumen terkait pengawasan BI, 26 dokumen fasilitas pendanaan jangka
pendek (FPJP), dan 22 dokumen terkait penentuan Century sebagai bank
gagal yang berdampak sistemik.

”Di antara 97 dokumen, pansus sudah menerima 27 dokumen. Yaitu, 3
dokumen dari proses merger, 1 pengawasan, 7 FPJP, dan 16 penentuan bank
gagal berdampak sistemik. Artinya, baru terima 30 persen dari seluruh
yang diminta. Di antara 97 dokumen, baru diterima 27. Jadi, masih ada 70
dokumen yang belum diterima,” papar staf ahli Pansus Khairiansyah.

Dokumen-dokumen tersebut dinilai menjadi data penting yang bisa
menggambarkan kondisi awal indikasi kecurangan di balik kebijakan
bailout. Mayoritas dokumen yang belum diberikan berasal dari Bidang
Pengawasan Bank Indonesia*. (owi/bay noe/oki/iro)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s