Learning is A Journey not A Race


source : milis asi for baby diposting oleh dibbie

*”The principle goal of education is to create men who are capable of doing
new things, not simply of repeating what other generations have done – men
who are creative, inventive and discoverers”.*
*Jean Piaget*

Adalah hal yang wajar ketika orangtua menginginkan anaknya lebih pintar,
lebih hebat, lebih cemerlang dan banyak “lebih” lainnya. Hanya sayangnya
kadang orangtua yang berkeinginan “lebih” tersebut menjadi lupa
memperhitungkan kondisi kesiapan mental anaknya. Anak tanpa sadar dijadikan
“alat” untuk mencapai apa yang dahulu tidak dapat diraih orangtuanya.

Hal yang paling mudah ditemukan dan terjadi nyata dalam masyarakat adalah
adanya kebanggaan dari para orangtua jika anak mereka mampu melakukan
kegiatan membaca dan menulis di usia dini. Seolah-olah, semakin cepat anak
dapat membaca, menulis atau bahkan berhitung akan membawa sang anak
memenangkan “perlombaan” keberhasilan hidup. Sekali lagi, banyak orangtua
tidak menyadari resiko atas pengenalan membaca dan menulis pada anak di usia
dini yang belum siap secara mental.

Akhirnya apa gunanya kebanggaan sesaat yang dapat dipamerkan ke saudara,
tetangga dan para teman; akan anak yang sudah mampu membaca dan menulis
bahkan berhitung di usia dini? Kalau pada ujungnya tejadinya “pemberontakan”
anak ketika di usia SMP, SMA atau kuliah nanti dalam hal belajar? Yang
menjadi pertanyaan berikutnya adalah: Pada usia berapa seorang anak boleh
diajarkan membaca dan menulis? Bagaimana kita mengetahui bahwa seorang anak
sudah siap secara mental?

*Apa kata para pakar?*

Jean Piaget (1896 -1980) seorang filsuf, ilmuwan dan psikolog perkembangan
asal Swiss yang terkenal karena hasil penelitian tentang anak-anak dan teori
perkembangan kognitifnya; menunjukan bahwa cara berpikir anak secara
kualitatif berbeda dari cara berpikir orang dewasa. Cara berpikir anak-anak
berkembang melalui serangkaian tahapan yang berbeda. Bahkan anak yang sangat
belia pun berperan aktif dalam memahami sesuatu. Mereka “membangun”
kenyataan dan bukan “sekedar menyerap” pengetahuan.

Beliau secara tidak langsung menegaskan bahwa pelajaran membaca, menulis,
dan berhitung dilarang untuk diperkenalkan pada anak-anak di bawah usia 7
tahun. Alasannya, usia anak di bawah 7 tahun belum mencapai fase operasional
konkrit. Yang dimaksud dengan fase tersebut adalah sebuah fase di mana
anak-anak dianggap sudah mampu berpikir secara terstruktur dan nyata.
Sedangkan kegiatan membaca, menulis dan berhitung dikatakan sebagai kegiatan
yang memerlukan cara berpikir terstruktur, sehingga tidak cocok diajarkan
kepada pendidikan anak-anak usia dini.

Piaget mengkhawatirkan perkembangan mental anak akan menjadi terbebani jika
kegiatan tersebut jika diajarkan terlalu dini (di bawah 7 tahun). Bukannya
menghasilkan anak yang cerdas, malah akan membuat anak memiliki pengalaman
buruk tentang belajar. Ketika mereka beranjak besar menjadi kehilangan
gairah terhadap kegiatan belajar.

Sementara itu Glenn Doman, seorang terapis asal Amerika sepertinya berada
pada sisi sebaliknya. Beliau memperkenalkan sebuah metode untuk membaca dini
pada anak melalui flash card. Ide awal penemuannya tersebut didapatkan
ketika beliau membantu menyembuhkan pasien-pasiennya yang mengalami cendera
otak. Glenn melakukan terapi dengan kartu-kartu kata yang ditampilkan dengan
cepat di hadapan pasien hanya 1 kata per detik. Dari hasil tersebut
ditemukan adanya perkembangan pada otak pasien. Kemudian hal tersebut
diterapakan ke anak-anak dan bahkan bayi.

Metode Glenn Doman dengan flash cards ini ternyata juga mendapatkan
pertentangan dari sebagian ahli psikologi. Bahkan BBC London mempublikasikan
sebuah film tentang hal ini. Alasannya, flash cards dianggap kurang rasional
dan dapat merusak pembelajaran pada nalar dan logika. Kemampuan membaca
menurut para psikolog umumnya diproses melalui tahapan-tahapan fonemik dan
fonetik. Anak-anak harus terlebih dahulu mengenal huruf agar mampu
membedakan bunyi, sampai akhirnya dapat menggabungkan huruf-huruf tersebut
menjadi sebuah kata. Jadi belajar membaca, menulis dan berhitung tidak dapat
dengan cara menghafal dengan flash cards.

Walaupun kedua aliran ini terlihat berbeda kutub, tetapi kedua pengikut
aliran ini memiliki kesepakatan yang sama yaitu proses belajar haruslah
dalam kondisi dan cara yang menyenangkan. Anak yang belajar dalam keadaan
tertekan dapat menimbulkan trauma dan pada akhirnya akan menimbulkan
keenganan untuk belajar.

*Bagaimana dengan peraturan pemerintah?*

Pada dasarnya pihak Dikdas tidak pernah mensyaratkan calon murid SDN harus
bisa membaca dan menulis. Alasannya, karena saat belajar di TK belum sampai
diajarkan seputar membaca dan menulis. Tetapi pada kenyataannya; entah
sekolah dasar mana yang memulainya, seorang calon murid yang akan masuk
sekolah dasar (SD) sudah dilakukan tes masuk membaca, menulis dan berhitung.

Berikut kutipan pernyataan dari Ibu Sylviana Murni, Kepala Dinas Pendidikan
Dasar (Dikdas) DKI tentang usia anak masuk sekolah. “Sekolah TK itu masih
sebatas pengenalan huruf dan angka dan belum sampai diajarkan membaca,”
tegas. “Yang jelas bila mau masuk SDN harus berusia tujuh tahun, dan bila
masih ada bangku kosong baru mereka yang berusia enam tahun.”

“Dan bila usia tujuh tahun dan enam tahun sudah tertampung masih juga ada
bangku kosong maka bisa menerima calon murid berumur di bawah enam tahun,
tetapi harus dilampirkan surat keterangan dari psikolog pendidikan. Surat
keterangan dari psikolog pendidikan harus menyatakan bahwa calon murid
secara mental sudah siap belajar di SD. Memang kadang ada usia di bawah lima
tahun sudah bisa membaca, tapi kalau ternyata rekomendasi dari psikolog
pendidikan belum siap sekolah di SD, ya jangan dipaksakan,” sambungnya.

Dari pernyataan Ibu Sylviana Murni di atas menandakan bahwa pemerintah tidak
membuat peraturan yang memaksa seorang anak harus mampu membaca, menulis dan
berhitung di usia dini. Peraturan usia minimal masuk SDN usia 7 tahun
menunjukan bahwa kematangan mental seorang anak pun telah diperhitungkan.

*Bagaimana orangtua mengambil sikap?*

Ada sebuah pernyataan yang menyebutkan,” Guru terbaik dan terhebat di muka
bumi ini tetaplah seorang Ibu”. Karena sebenarnya orangtualah yang paling
mengetahui perkembangan anak, bukan orang lain. Yang perlu diwaspadailah
adalah masuknya informasi-informasi yang dapat menimbulkan bias dari
orangtua terhadap anaknya. Misalnya, orangtua tanpa sadar membuat pengukuran
dengan membanding-bandingkan antar anak-anaknya, atau dengan anak orang
lain. Atau terpengaruh oleh sebuah alat tes yang sebetulnya hanya mengukur
sebagian perilaku manusia untuk menyederhanakan pemahaman akan manusia
sebagai mahluk yang unik sekaligus kompleks. Apakah hal-hal tersebut dapat
dijadikan kesimpulan akhir yang dapat mengakibatkan anak menjadi tertekan
dan mogok belajar?

Sepertinya sudah saatnya para orangtua untuk kembali memberi perhatian pada
pertumbuhan nilai anak akan budi pekerti, kemandirian, dan tanggung jawab;
bukan dengan memacu percepatan dan nilai anak pada pelajaran membaca,
menulis dan berhitung. Mana yang lebih Anda senangi? Seorang itu pintar
secara intelektual tetapi mengalami ketimpangan pada budi pekerti? Atau
seseorang yang memiliki keseimbangan antara intelektual dan budi pekertinya?
Pilihan ada di tangan Anda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s