Demam Berdarah Tak Pilih Kasih


sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/23/04225059/demam.berdarah.tak.pilih.kasih

Handrawan Nadesul

Presiden Direktur atau CEO PT Astra International Michael D Ruslim
yang kemarin lusa wafat karena DBD sepatutnya tak cuma mengundang
sesal sanak keluarga, terlebih merundungi kita semua. Mengapa?

Siapa pun mestinya tak perlu jadi korban demam berdarah dengue (DBD).
Seturut paham medik, itu kematian prematur (premature death) yang
kelewat sederhana. Masih pantas CEO dikalahkan serangan jantung, atau
kanker. Menjadi tragedi kalau nyawa terenggut cuma gara-gara nyamuk.
Pikiran medik meniscayai kejadian itu bisa digagalkan. Selain dengan
menghalau nyamuk belang hitam-putih pembawa virus dengue, juga
membangun wawasan masyarakat soal cara menghindarinya, Namun, sayang,
kondisi preventif seperti itu belum juga penuh terbentuk.

Daerah bebas nyamuk

Memberantas DBD lebih soal urusan bagaimana menekan populasi nyamuk
pembawa virus dengue. Ada dua kepelikan dalam upaya meniadakan nyamuk
jenis ini: susahnya menyingkirkan sarang perindukan nyamuk dan tak
mudah mengajak masyarakat menyingsingkan lengan baju.

Derasnya mobilisasi masyarakat menjadikan virus dengue makin lekas
lebar menyebar lewat pesawat udara, bus, dan kereta api. Bahkan, kini
DBD bukan lagi penyakit kota sebagaimana kodratnya, tetapi sudah lama
merambah desa. Ini petaka.

Wabah DBD yang berjangkit di pedesaan cenderung muncul lebih kerap
karena masyarakatnya belum dibuat melek cara mencegahnya. Padahal,
setiap kali wabah DBD berjangkit, populasi virus dari tubuh pasien
yang akan disebarkan nyamuk juga kian berlipat ganda. Itu berarti
makin meninggikan risiko masyarakat terserang DBD.

Upaya meniadakan nyamuk hanya satu, yakni menyuluh masyarakat. Bukan
air comberan atau sampah, melainkan air jernih tergenang, tempat
nyamuk Aedes bersarang. Maka, segala yang berpotensi menjadi sarang
perindukan nyamuk wajib disingkirkan. Kebijakan pencegahannya bukan
dengan menyemprot (fogging), melainkan membunuh jentik dengan
larvasida, mengingat umur nyamuk dewasa tak lebih panjang dari
jentiknya. Nyamuk dewasa baru disemprot kalau sudah ada yang
terjangkit.

Lingkaran setan kerap terjadi. Makin acap wabah DBD berjangkit, makin
bertambah populasi virus dengue. Apabila pada saat yang sama populasi
nyamuk pembawa virusnya juga bertambah, makin besar risiko masyarakat
terjangkit. Karena itu, upaya mencegah wabah DBD perlu dua gatra
terpadu, yaitu menyiangi sanitasi dari sarang nyamuk dan membuat
masyarakat melek cara pencegahannya.

Belajar dari Kuba

Kini, wilayah endemik DBD sudah melebar ke semua provinsi. Tangan
pemerintah tak cukup panjang meladeni upaya pencegahan. Melihat tabiat
jangkitan penyakitnya, perlu gerakan gotong royong masyarakat.

Tak boleh ada lagi sarang nyamuk di pekarangan, waspadai rumah,
kantor, dan gedung kosong tak berpenghuni di tempat sarang nyamuk tak
terusik bersumber. Kegiatan larvasida dilakukan merata ke seluruh
rumah tanpa kecuali di wilayah langganan terjangkit setiap menjelang
musim hujan. Kita belum rajin secara rutin melakukannya.

Kendala kita, kebanyakan masyarakat belum memahami cara pencegahan
DBD. Yang sudah memahami, tidak melakukannya. Tak cukup hanya imbauan
karena lebih banyak masyarakat sukar patuh melakukan pencegahan. Radio
dan televisi saatnya ikut menyuluh masyarakat.

Penyiangan lingkungan belum paripurna. Puskesmas dan rumah sakit masih
luput menyiangi lingkungannya dari sarang nyamuk. Padahal, di situ
sumber penyakit yang datang dari pasien berpotensi estafet berjangkit.
Juga perhatian pada lingkungan sekolah karena DBD lebih banyak menimpa
usia anak.

Belajar dari Kuba pada tahun 1981 dalam memberantas DBD, masyarakat
perlu digerakkan. Militer dikerahkan, selain murid sekolah berpraktik
mengenali jentik dan membasminya. Pemerintah juga minta uluran tangan
LSM serta organisasi perempuan bersama-sama menggerakkan masyarakat
bergotong royong menyiangi lingkungan dari sarang nyamuk, dan
berhasil.

Kini, Kuba bebas DBD. Tinggal satu yang masih terus dilakukan agar
wabah tak lagi berjangkit. Secara reguler Kuba memantau kepadatan
jentik nyamuk. Itu pun dilakukan bersama masyarakat secara bergotong
royong.

Kultur kita mendukung untuk mengadopsi cara pemberantasan DBD seperti
ini. Tinggal kemauan politik membuatnya jadi sebuah kebijakan
sederhana yang sesungguhnya tak perlu ongkos tinggi. Lebih mahal
apabila sudah telanjur banyak kasus masuk rumah sakit, atau sampai
merenggut sosok penting yang masih dibutuhkan masyarakat.

Handrawan Nadesul Seorang Dokter

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s