Nutrisi Cukup, Anak pun Sehat dan Bahagia


sumber : http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1119847763,98411,

Nutrisi Cukup, Anak pun Sehat dan Bahagia
Gizi.net – KONVENSI Hak Anak (KHA) yang telah diratifikasi pemerintah Indonesia sejak tahun 1990 menyatakan sehat adalah hak anak. Sehat di sini tidak hanya dalam pengertian fisik semata, melainkan juga kesehatan mental-sosial. Kebutuhan untuk menjadi bahagia, dalam hal ini sehat mental dan sosial, juga merupakan hak anak.

Bagaimana orangtua merespon kebutuhan ini? Perlu pengetahuan dan keterampilan orangtua agar anak tumbuh dan berkembang dengan sehat dan bahagia.

Anak yang bahagia, ujar, dr Tinuk Agung Meilany dari RSAB Harapan Kita, adalah anak yang bisa bernyanyi, tertawa, bebas berekspresi, serta tumbuh wajar sesuai kebutuhan dan minatnya. Menurutnya, untuk menjadi anak yang bahagia dan merasa puas pada dirinya sendiri perlu rangsangan yang cukup. Rangsangan ini akan diterima dengan optimal bila tubuh sehat dan hal ini perlu didukung nutrisi yang cukup dan seimbang.

Anak yang sehat, antara lain ditandai dengan aktif, ceria, memiliki selera makan yang baik, serta bisa bermain dan belajar. Berat badan naik setiap bulan dan perkembangan anak sesuai dengan usianya. Tinuk menyebut, agar seorang anak mampu menerima rangsangan dengan optimal, kebutuhan nutrisi atau zat gizi anak harus sejajar dengan pertumbuhan, aktivitas fisik, ukuran badan, energi yang dikeluarkan dan fase sakit.

“Keseimbangan zat gizi yang dikandung dalam komposisi, macam, maupun jumlahnya, harus sesuai dengan kebutuhan menurut berat badan ideal,” katanya.

Empat Golongan

Ada empat golongan makanan yang harus terdapat pada makanan anak sehari-hari. Keempat golongan itu adalah: makanan pokok, da ging dan telur, sayur dan buah, serta susu. Makanan pokok merupakan sumber karbohidrat, protein nabati, mineral serat, dan vitamin B. Daging dan telur mengandung protein, zat besi, vitamin A dan B. Dari sayur dan buah, kata Tinuk, diperoleh vitamin E, provitamin, serat. Sedangkan dari susu, anak akan mendapatkan berbagai zat gizi, antara lain kalsium, fosfor, vitamin A, B, dan D.

Selain keempat golongan makanan itu, anak juga memerlukan makanan tambahan yang kaya gizi. Menurut Tinuk, orangtua hendaknya mengatur jadwal makan anak. Artinya, orangtua jangan menunggu anaknya meminta makan. Namun tidak mudah membuat anak patuh terhadap jadwal makan yang sudah ditetapkan. Untuk mengatasi hal ini, perlu diciptakan suasana makan yang menyenangkan. Agar suasana menyenangkan, dari sisi fisik yang perlu diperhatikan adalah jadwal makan teratur, serta makanan tambahan diberikan dua jam sebelum atau sesudah makan. Peralatan makan seperti sendok dan gelas disesuaikan dengan anak. Demikian juga dengan meja dan kursi makan.

Di samping itu, emosi sosial pun perlu diperhatikan, seperti menu baru agar anak tidak merasa bosan, tidak mendikte atau memarahi anak, serta menu berbeda setiap hari. Tak kalah penting adalah orangtua mengajak dan mendampingi anak di meja makan.

Zat Gizi

Dijelaskan, beberapa zat gizi berperan dalam kerja otak, seperti asam aspartat yang terdapat pada kacang, kentang, telur, gandum. Kolin yang terdapat pada telur, hati, kedelai. Asam glutamat terdapat pada terigu dan kentang. Fenilalanin terdapat pada kedelai, almond, telur dan daging. Triptofan terdapat pada telur, daging, susu skim, pisang, susu, keju, serta, zat gizi tirosin yang banyak terdapat pada susu, daging, ikan, dan kacang-kacangan.

“Otak memerlukan glukosa, asam amino, lemak, vitamin dan mineral, yang diperoleh dari makanan. Bila kekurangan atau kelebihan akan berdampak pada sistem saraf,” kata Tinuk.

Dicontohkan, asam lemak esensial (omega oil) mempengaruhi fungsi otak berupa perilaku dan mood, kognitif, pergerakan, dan sensasi pada anak. Kekurangan asam lemak omega 3 menimbulkan masalah penglihatan, belajar, motivasi, serta motorik. Kekurangan omega 6 berdampak pada produksi neurotransmiter dan kemampuan sel saraf menggunakan glukosa. Sedangkan kekurangan zat besi menimbulkan gangguan pada selaput otak yang menyebabkan pendengaran terganggu, bicara terlambat, perilaku anak berubah dan penglihatan terganggu. Tinuk menegaskan, kecukupan gizi hendaknya dimulai dari masa kehamilan (janin).

Keterampilan

Agar anak sehat dan bahagia, gizi yang seimbang perlu didukung keterampilan orangtua menciptakan suasana supaya mental si anak pun sehat. Menurut psikolog Agustina Hendriati Psi MSc, ada lima keterampilan yang harus dimiliki orangtua agar hal itu tercapai. Pertama, orangtua mengenali ciri anak yang sehat dan bahagia. Kedua, orangtua mendorong anak mengekspresikan diri secara verbal. Ketiga, orangtua memberi kesempatan anak memilih, sambil mengajarkan anak membuat pilihan yang terbaik baginya.

Keempat, orangtua menyampaikan dan menerapkan batasan perilaku. Kelima, orangtua berjaga dan bekerja saat anak berperilaku positif.

Dikatakan, orangtua di kawasan Asia cenderung santai ketika anaknya “baik-baik” saja. Padahal, ketika itulah seharusnya orangtua harus bekerja, yakni menunjukkan penghargaan tulus dan mendorong agar si anak terus mempertahankan perilaku tersebut.

“Pada dasarnya semua orang ingin dihargai. Oleh karena itu mengembangkan anak yang sehat dan bahagia akan lebih mudah dilakukan dengan fokus pada perilaku positifnya,” kata Agustina.

Lebih jauh dikatakan, orangtua hendaknya menunjukkan atau menyampaikan harapannya yang realistis terhadap perilaku anak. Tidak hanya itu, orangtua juga harus menerapkan batasan perilaku mana yang dapat diterima dan yang tidak. Semakin dini orangtua memberlakukan hal ini dan konsisten, semakin mudah terlihat hasilnya.

Globalisasi berdampak pada perkembangan anak dan hubungan antara orangtua dan anak. Ada banyak rangsangan di dalam dan luar rumah yang diterima anak, misalnya, melalui televisi, radio, media cetak dan internet. Oleh karena itu, ujarnya, sangat baik jika sejak anak masih kecil, orangtua terbiasa menunjukkan adanya pilihan dan menjelaskan alasan dibalik keputusan yang dibuat orangtua.

Agustina menambahkan, orangtua juga perlu mendorong anak berekspresi secara verbal (berbicara), sekalipun anak bisa bereskpresi secara nonverbal, seperti menangis atau menunjuk. Orangtua yang terlalu sering mengatakan jangan atau tidak, akan menghambat ekspresi anak. (N-4)

Sumber: http://www.suarapembaruan.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s