Melatih Anak Maenjaga Kebersihan dan Kesehatan Gigi Sejak Usia Dini

sumber : http://www.diskes.jabarprov.go.id/?mod=pubArtikel&idMenuKiri=10&idArtikel=510

Anak adalah pribadi yang unik, ia bukanlah seorang dewasa yang bertubuh kecil. Namun ia adalah sosok pribadi yang berada dalam masa pertumbuhan baik secara fisik, mental dan intelektual. Mereka mengalami berbagai fase dalam perkembangannya,dimana pada usia 2 sampai 5 tahun merupakan fase yang paling aktif, terutama pada perkembangan otak anak,oleh karena itu periode tersebut dikenal sebagai masa keemasan anak atau golden age.

Dalam memberikan pendidikan kesehatan fisik pada anak seringkali orangtua dan guru hanya membatasi pada kesehatan tubuh saja. Pendidikan kesehatan gigi (Dental Health Education) seringkali menjadi topik yang kurang mendapat perhatian baik dirumah maupun sekolah.

Ada beberapa alasan mengapa seringkali orangtua kurang memperhatikan kebersihan dan kesehatan gigi anak. Alasan yang paling banyak ditemukan adalah masih banyak orangtua yang beranggapan bahwa gigi pada anak adalah gigi susu ,jadi tidak usah dirawat karena nanti juga akan berganti dengan gigi tetap. Padahal sebenarnya justru pada masa gigi susu itulah anak harus mulai dajarkan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan giginya.Karena alasan berikut :

1. Pada masa gigi susu,sedang terjadi pembentukan gigi tetap didalam tulang. Sehingga jika ada kerusakan gigi susu yang parah dapat mengganggu proses pembentukan gigi tetapnya. Hal ini dapat mengakibatkan gigi tetap nya tumbuh dengan tidak normal.
2. Mulut adalah pintu utama masuknya makanan kedalam perut. Mulut adalah lokasi pertama yang dilalui makanan dalam proses pencernaan. Jika terjadi gangguan pada mulut maka akan mengganggu kelancaran proses pencernaan.
3. Infeksi yang terjadi pada gigi dan mulut dapat mempengaruhi kesehatan organ didalam tubuh seperti jantung, paru-paru, ginjal,dll. Karena infeksi dalam mulut dapat menyebar kedalam organ-organ tersebut yang disebut dengan fokal infeksi.
4. Infeksi gigi dan mulut yang diderita anak akan membuat anak menjadi malas beraktivitas dan akan mengganggu proses belajar mereka.

Melihat alasan-alasan tersebut, maka saat ini beberapa sekolah tertentu gencar memberikan pendidikan kesehatan gigi bagi siswa mereka. Bahkan ada sekolah yang menjadikan pendidikan kesehatan gigi bersama dengan pendidikan kesehatan umum sebagai bagian dari kurikulum sekolah.
Bagi para orangtua di rumah pendidikan kesehatan gigi sudah harus dimulai sejak gigi pertama ada dalam mulut anak.Bagaimana caranya?
Yaitu dengan selalu membersihkan gigi anak setiap selesai minum susu atau selesai makan. Tidak perlu menggunakan sikat gigi, namun bisa dilakukan dengan menggunakan kain kassa lembut yang dibasahi dengan air hangat. Sepertinya hanya sebuah perlakuan yang biasa saja, namun sesungguhnya hal itu memberikan sebuah pengalaman baru yang luar biasa pada anak. Ketika ibu membersihkan gigi dengan kain lembut yang dibasahi air hangat, anak merasa bahwa kegiatan membersihkan gigi adalah kegiatan yang menyenangkan dan itu akan terekam dalam memori anak.Dampaknya,ketika anak akan diperkenalkan dengan sikat gigi pada usia 1 tahun tidak akan ada lagi keluhan anak tidak mau menyikat gigi karena takut melihat sikat gigi yang akan dimasukkan dalam mulut mereka.
Ketika anak berusia dua tahun, jumlah gigi dalam mulut sudah lengkap dua puluh buah. Mulailah anak diajarkan menyikat gigi sendiri dan orangtua tetap mengawasi. Saat mereka sudah bisa berkumur, boleh ditambah dengan pasta gigi. Ajaklah anak untuk biasa mengkonsumsi sayur atau buah dan kontrol makanan manis yang mereka konsumsi. Bukan tidak boleh anak memakan makanan yang manis karena itu makanan kesukaan mereka. Hanya orang tua perlu mengontrol banyaknya atau macam dari makanan manis yang mereka makan.

Usia dua tahun merupakan usia yang pas bagi anak untuk belajar mengenal dokter gigi. Ajaklah anak ke klinik gigi untuk memeriksa gigi mereka walaupun belum ada keluhan. Karena bisa saja sudah terjadi lubang kecil pada gigi anak yang tidak dirasakan mereka namun sudah harus dilakukan penanganan oleh dokter gigi.

Jadikanlah pendidikan kesehatan gigi sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan bagi anak. Karena dengan demikian kita sebagai orangtua tidak akan berteriak-teriak lagi menyuruh anak menyikat gigi saat mandi pagi dan Insya Allah kita tidak akan mengalami bangun tengah malam karena anak menangis karena giginya sakit. Dan yang lebih penting lagi proses tumbuh kembang anak tidak terganggu akibat anak sakit gigi.

Junk Food Bikin Anda Depresi?

sumber :http://www.diskes.jabarprov.go.id/?mod=pubArtikel&idMenuKiri=10&idArtikel=505

Mudah-mudahan Anda tidak stres jika membaca artikel ini. Sebuah penelitian baru menyebutkan bahwa mengonsumsi makanan berlemak atau makanan yang sudah diproses akan mengakibatkan depresi dan kecemasan.

Fakta ini diperoleh dari hasil penelitian tim dari University of Melbourne, Australia. Mereka mensurvei 1.046 perempuan usia 20-93 tahun secara acak, selama lebih dari 10 tahun. Mereka lantas membuat suatu evaluasi psikiatri dan menilai pola makan wanita secara teratur. Dari situ didapati bahwa wanita yang menerapkan pola makan ala barat -seperti burger, pizza, roti putih, keripik kentang, dan minuman yang tinggi kadar gulanya- lebih cenderung mengalami mood disorder ketimbang mereka yang menerapkan pola makan Australia, yaitu sayuran, buah-buahan, daging merah, ikan, dan gandum utuh.
Kemungkinan ini tetap berlaku, terlepas dari usia wanita, berat badan, status ekonomi dan sosial, pendidikan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan minum-minuman keras. Hal ini tentu mengejutkan, karena faktor-faktor tersebut biasanya saling berkaitan. Misalnya, orang yang menerapkan pola makan yang buruk, berat badannya terus bertambah, dan hal ini menyebabkan depresi. Atau, orang yang sedang depresi bisa melarikan diri ke makanan, dan hal ini bisa membuat berat badan naik. Mengapa hanya karena mengonsumsi junk food lalu jadi depresi?

Sayangnya, tim peneliti hanya menyimpulkan bahwa pembalikan penyebab tidak dapat dijadikan perkecualian oleh studi mereka. Namun terlihat bukti-bukti kuat bahwa pola makan dan kesehatan mental memang saling terkait. Dan hal ini memang cukup mengkhawatirkan.
Menurut National Institute of Mental Health, lebih dari 26 persen orang Amerika berusia di atas 18 tahun (atau 1 dari 4 orang) mengalami mood disorder seperti depresi dan kecemasan. Depresi juga terlihat lebih banyak dialami wanita daripada pria. Mungkinkah karena lebih banyak wanita yang melarikan diri ke makanan saat sedang stres?

Sumber : kompas.com

Mau Cukup Serat? Makan Tiga Porsi Sayur dan Dua Buah

sumber : http://www.diskes.jabarprov.go.id/?mod=pubArtikel&idMenuKiri=10&idArtikel=473
Serat makanan (dietary fiber) memang merupakan bagian dari makanan yang tidak bisa tercerna dan terserap untuk menghasilkan energi dalam tubuh. Meski begitu, perannya tak bisa dianggap sebelah mata.

Untuk mendapatkannya pun mudah. Setiap jenis sayuran dan buah-buahan mengandung serat. Dengan kebutuhan rata-rata tubuh sekitar 25 gram sampai 40 gram per hari, mengonsumsi tiga porsi sayuran dan dua porsi buah-buahan sejatinya sudah cukup.

“Jumlahnya setara 300 gram sayuran setiap kali makan dan dua biji buah-buahan, itu cukup memenuhi kebutuhan serat,” ajar Haryati, ahli gizi Rumah Sakit Mediros, Jakarta Pusat.

Benar, tiap jenis sayur dan buah-buahan memang punya kandungan serat yang berbeda. Buah semangka mengandung serat 0,3 gram per 100 gram, apel merah 2 gram, belimbing 0,9 gram, pir hijau 2,3 gram, jambu biji merah 7,3 gram, dan pepaya 1,3 gram per 100 kg. Adapun sayuran, seperti kangkung, wortel, terong, kol, bayam, buncis, nangka muda, daun pepaya, rata-rata punya 1,2 gram tiap 100 gramnya.

Serat dalam sayur-sayuran dan buah-buahan merupakan serat yang larut dalam air atau soluble fiber. Serat ini akan bercampur dengan air dan membentuk jaringan yang pekat seperti agar-agar. Adapun serat yang tidak larut dalam air disebut insoluble fiber.

Sumber terbaiknya dari gandum, serealia, sayur, dan buah yang dimakan dengan kulitnya serta kacang-kacangan. Serat yang tak larut bersifat higroskopis, yaitu mampu menahan air 20 kali dari beratnya.

“Ini bisa mencegah pencernaan kekurangan air dan feses dihasilkan tetap lunak,” kata Haryati. Selain dari sayur dan buah-buah, serat juga bisa didapat dari minum suplemen.

Serat tersebut dikenal dengan sebutan serat instan. Maklumlah suplemen tersebut terbuat dari ekstra tumbuh-tumbuhan yang kaya serat, seperti rumput laut. Namun, para ahli lebih menyarankan untuk memilih serat makanan yang alami, yakni yang berasal dalam sayur dan buah-buahan. Selain tidak mengandung bahan-bahan kimia, buah dan sayur itu tidak sekadar mengandung serat.

“Tetapi juga sebagai numb komponen pangan lain yang bermanfat bagi tubuh, seperti vitamin dan mineral,” tandas Susianto, pakar gizi Indonesia Vegetarian Society. Bagaimana, siap menyantap banyak serat?

Sumber : kompas.com

Si Licin Belut Kuatkan Tulang

sumber :http://kesehatan.kompas.com/read/2008/11/07/10453394/si.licin.belut.kuatkan.tulang

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Ebiet menjajakan belut segar di sekitar pinggiran Jalan Rumah Sakit, Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (11/5). Belut segar ini ditawarkan dengan harga Rp 10.000 per kantong berisi lima sampai sepuluh ekor. Belut-belut ini banyak dibeli wisatawan luar kota yang melewati jalan tersebut, seperti dari Jakarta dan Bogor, untuk dijadikan oleh-oleh. Jika ramai pembeli, Ebiet bisa menjual sekitar 50 kantong per hari.
TERKAIT:

* Cumi-Cumi Jinakkan Tumor
* Nasi Cobek Belut…Nyam-nyam
* Nasi Cobek Belut

MESKI tampilannya tak menarik, bahkan sementara orang jijik melihatnya, belut merupakan makanan unggulan yang kaya berbagai zat gizi. Salah satu keunggulannya, kaya hormon kalsitonin, yang berfungsi untuk memelihara kekuatan tulang.

Licin bagaikan belut merupakan pepatah lama yang ditujukan kepada orang yang sangat licik, tetapi selalu terbebas dari segala tuntutan. Ungkapan itu merupakan sebuah pengakuan bahwa belut itu sangat licin dan sulit ditangkap. Belut (Monopterus albus) merupakan ikan darat dari keluarga Synbranchidae dan tergolong ordo Synbranchiodae, yaitu ikan yang tidak mempunyai sirip atau anggota lain untuk bergerak.

Belut mempunyai ciri-ciri badan bulat panjang seperti ular tetapi tidak bersisik, dan kulitnya licin mengeluarkan lendir. Matanya kecil hampir tertutup oleh kulit. Giginya juga kecil runcing berbentuk kerucut dan bibir berupa lipatan kulit yang lebar di sekeliling mulutnya. Belut mempunyai sirip punggung, sirip dubur, dan sirip ekor yang sangat kecil, sehingga hampir tidak terlihat oleh mata.

Jenis ikan darat ini merupakan komoditas perikanan darat yang bergerak dengan jalan melenggak-lenggokkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Habitatnya di tempat berlumpur, genangan air tawar, atau aliran air yang kurang deras.

Bentuknya yang seperti ular membuat sebagian orang enggan untuk melihatnya. Padahal, dagingnya sangat lezat dan dapat diolah menjadi berbagai makanan yang bergizi tinggi. Selain itu, belut juga memiliki berbagai khasiat untuk kesehatan.

Jenis Belut
Di Indonesia terdapat tiga jenis ikan belut, yaitu belut sawah (Monopterus albus Zuieuw), belut rawa (Synbranchus bengalensis Mc. Clell), dan belut bermata sangat kecil (Macrotema caligans Cant). Belut sawah merupakan jenis yang paling dikenal di Indonesia, sedangkan belut rawa jumlahnya terbatas sehingga kurang begitu dikenal.

Ikan belut sawah mempunyai bentuk tubuh panjang dan bulat seperti ular, tetapi tidak bersisik dan matanya kecil. Panjang seekor belut berkisar antara 10 cm hingga 3 m, dengan berat yang sangat bervariasi, dari ratusan gram hingga ada yang mencapai 65 kg.

Penangkapan belut sama seperti cara menangkap ikan lainnya, yaitu dengan peralatan antara lain bubu/posong, jaring/jala bermata lembut, serta pancing atau kail. Cara lainnya adalah dengan mengeringkan air kolam, sehingga belut mudah diambil.

Distribusi geografis belut cukup luas mencakup Asia Tenggara, Cina, dan Indonesia (Pulau Jawa, Madura, Bali, dan Sumatera). Di Indonesia, selain untuk pemenuhan pasar lokal, belut juga merupakan salah satu komoditas ekspor. Untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat jumlahnya, saat ini budi daya belut sudah mulai banyak dilakukan oleh petani.

Sumber Energi dan Protein
Dilihat dari komposisi gizinya, belut mempunyai nilai energi yang cukup tinggi, yaitu 303 kkal per 100 gram daging. Nilai energi belut jauh lebih tinggi dibandingkan telur (162 kkal/100 g tanpa kulit) dan daging sapi (207 kkal per 100 g). Hal itulah yang menyebabkan belut sangat baik untuk digunakan sebagai sumber energi.

Nilai protein pada belut (18,4 g/100 g daging) setara dengan protein daging sapi (18,8 g/100g), tetapi lebih tinggi dari protein telur (12,8 g/100 g). Seperti jenis ikan lainnya, nilai cerna protein pada belut juga sangat tinggi, sehingga sangat cocok untuk sumber protein bagi semua kelompok usia, dari bayi hingga usia lanjut.

Protein belut juga kaya akan beberapa asam amino yang memiliki kualitas cukup baik, yaitu leusin, lisin, asam aspartat, dan asam glutamat. Leusin dan isoleusin merupakan asam amino esensial yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan anak-anak dan menjaga kesetimbangan nitrogen pada orang dewasa.

Leusin juga berguna untuk perombakan dan pembentukan protein otot. Asam glutamat sangat diperlukan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan asam aspartat untuk membantu kerja neurotransmitter.

Tingginya kadar asam glutamat pada belut menjadikan belut berasa enak dan gurih. Dalam proses pemasakannya tidak perlu ditambah penyedap rasa berupa monosodium glutamat (MSG).

Kandungan arginin (asam amino nonesensial) pada belut dapat memengaruhi produksi hormon pertumbuhan manusia yang populer dengan sebutan human growth hormone (HGH). HGH ini yang akan membantu meningkatkan kesehatan otot dan mengurangi penumpukan lemak di tubuh. Hasil uji laboratorium juga menunjukkan bahwa arginin berfungsi menghambat pertumbuhan sel-sel kanker payudara.

Kaya Mineral dan Vitamin
Belut kaya akan zat besi (20 mg/100 g), jauh lebih tinggi dibandingkan zat besi pada telur dan daging (2,8 mg/100g). Konsumsi 125 gram belut setiap hari telah memenuhi kebutuhan tubuh akan zat besi, yaitu 25 mg per hari. Zat besi sangat diperlukan tubuh untuk mencegah anemia gizi, yang ditandai oleh tubuh yang mudah lemah, letih, dan lesu.

Zat besi berguna untuk membentuk hemoglobin darah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Oksigen tersebut selanjutnya berfungsi untuk mengoksidasi karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi untuk aktivitas tubuh. Itulah yang menyebabkan gejala utama kekurangan zat besi adalah lemah, letih, dan tidak bertenaga. Zat besi juga berguna untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, sehingga tidak mudah terserang berbagai penyakit infeksi.

Belut juga kaya akan fosfor. Nilainya dua kali lipat fosfor pada telur. Tanpa kehadiran fosfor, kalsium tidak dapat membentuk massa tulang. Karena itu, konsumsi fosfor harus berimbang dengan kalsium, agar tulang menjadi kokoh dan kuat, sehingga terbebas dari osteoporosis. Di dalam tubuh, fosfor yang berbentuk kristal kalsium fosfat umumnya (sekitar 80 persen) berada dalam tulang dan gigi.

Fungsi utama fosfor adalah sebagai pemberi energi dan kekuatan pada metabolisme lemak dan karbohidrat, sebagai penunjang kesehatan gigi dan gusi, untuk sintesis DNA serta penyerapan dan pemakaian kalsium. Kebutuhan fosfor bagi ibu hamil tentu lebih banyak dibandingkan saat-saat tidak mengandung, terutama untuk pembentukan tulang janinnya.

Jika asupan fosfor kurang, janin akan mengambilnya dari sang ibu. Ini salah satu penyebab penyakit tulang keropos pada ibu. Kebutuhan fosfor akan terpenuhi apabila konsumsi protein juga diperhatikan.

Kandungan vitamin A yang mencapai 1.600 SI per 100 g membuat belut sangat baik untuk digunakan sebagai pemelihara sel epitel. Selain itu, vitamin A juga sangat diperlukan tubuh untuk pertumbuhan, penglihatan, dan proses reproduksi.

Belut juga kaya akan vitamin B. Vitamin B umumnya berperan sebagai kofaktor dari suatu enzim, sehingga enzim dapat berfungsi normal dalam proses metabolisme tubuh. Vitamin B juga sangat penting bagi otak untuk berfungsi normal, membantu membentuk protein, hormon, dan sel darah merah.

Waspada, Lemaknya Cukup Tinggi
Meskipun mempunyai nilai gizi yang tinggi, kandungan lemak pada belut cukup tinggi, yaitu mencapai 27 g per 100 g. Lebih tinggi dibandingkan lemak pada telur (11,5 g/100 g) dan daging sapi (14,0 g/100 g).

Di antara kelompok ikan, belut digolongkan sebagai ikan berkadar lemak tinggi. Kandungan lemak pada belut hampir setara dengan lemak pada daging babi (28 g/100 g). Menurut publikasi yang dikeluarkan oleh Singapore General Hospital, belut termasuk makanan berkolesterol tinggi dan wajib untuk diwaspadai.

Walaupun kadar lemaknya tinggi, belut tidak perlu dihindari dalam pola makan kita. Bagaimanapun, lemak memegang peran penting sebagai sumber kelezatan, sumber energi, penyedia asam lemak esensial, dan tentu saja sebagai pembawa vitamin larut lemak (A, D, E dan K).

Pada lemak ikan terdapat vitamin D yang cukup tinggi, yaitu 10 kali lipat dibandingkan bagian dagingnya dan 50 kali lipat vitamin D yang terdapat pada susu. Vitamin D sangat berguna bagi tubuh untuk membantu penyerapan kalsium dan menghalanginya dari proses resorpsi (pelepasan kalsium dari tulang).

Upaya untuk mengurangi kadar lemak pada belut adalah dengan cara dipanggang di atas bara api. Proses pemanggangan akan menyebabkan lemak mencair dan keluar dari daging belut, menetes ke bara api. Sebaiknya belut tidak diolah dengan cara digoreng, agar kadar lemaknya tidak bertambah banyak.

Seperti pada jenis ikan lain, belut juga mengandung asam lemak omega 3. Kadar omega 3 pada lemak ikan, termasuk belut, sangat bervariasi tetapi berkisar antara 4,48 persen sampai dengan 11,80 persen. Kandungan omega 3 pada ikan, tergantung kepada jenis, umur, ketersediaan makanan, dan daerah penangkapan.

Dari hasil penelitian, diketahui bahwa bagian tubuh ikan memiliki lemak dengan komposisi omega 3 yang berbeda-beda. Kadar omega 3 pada bagian kepala sekitar 12 persen, dada 28 persen, daging permukaan 31,2 persen, dan isi rongga perut 42,1 persen (berdasarkan berat kering).

Nutrisi Cukup, Anak pun Sehat dan Bahagia

sumber : http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1119847763,98411,

Nutrisi Cukup, Anak pun Sehat dan Bahagia
Gizi.net – KONVENSI Hak Anak (KHA) yang telah diratifikasi pemerintah Indonesia sejak tahun 1990 menyatakan sehat adalah hak anak. Sehat di sini tidak hanya dalam pengertian fisik semata, melainkan juga kesehatan mental-sosial. Kebutuhan untuk menjadi bahagia, dalam hal ini sehat mental dan sosial, juga merupakan hak anak.

Bagaimana orangtua merespon kebutuhan ini? Perlu pengetahuan dan keterampilan orangtua agar anak tumbuh dan berkembang dengan sehat dan bahagia.

Anak yang bahagia, ujar, dr Tinuk Agung Meilany dari RSAB Harapan Kita, adalah anak yang bisa bernyanyi, tertawa, bebas berekspresi, serta tumbuh wajar sesuai kebutuhan dan minatnya. Menurutnya, untuk menjadi anak yang bahagia dan merasa puas pada dirinya sendiri perlu rangsangan yang cukup. Rangsangan ini akan diterima dengan optimal bila tubuh sehat dan hal ini perlu didukung nutrisi yang cukup dan seimbang.

Anak yang sehat, antara lain ditandai dengan aktif, ceria, memiliki selera makan yang baik, serta bisa bermain dan belajar. Berat badan naik setiap bulan dan perkembangan anak sesuai dengan usianya. Tinuk menyebut, agar seorang anak mampu menerima rangsangan dengan optimal, kebutuhan nutrisi atau zat gizi anak harus sejajar dengan pertumbuhan, aktivitas fisik, ukuran badan, energi yang dikeluarkan dan fase sakit.

“Keseimbangan zat gizi yang dikandung dalam komposisi, macam, maupun jumlahnya, harus sesuai dengan kebutuhan menurut berat badan ideal,” katanya.

Empat Golongan

Ada empat golongan makanan yang harus terdapat pada makanan anak sehari-hari. Keempat golongan itu adalah: makanan pokok, da ging dan telur, sayur dan buah, serta susu. Makanan pokok merupakan sumber karbohidrat, protein nabati, mineral serat, dan vitamin B. Daging dan telur mengandung protein, zat besi, vitamin A dan B. Dari sayur dan buah, kata Tinuk, diperoleh vitamin E, provitamin, serat. Sedangkan dari susu, anak akan mendapatkan berbagai zat gizi, antara lain kalsium, fosfor, vitamin A, B, dan D.

Selain keempat golongan makanan itu, anak juga memerlukan makanan tambahan yang kaya gizi. Menurut Tinuk, orangtua hendaknya mengatur jadwal makan anak. Artinya, orangtua jangan menunggu anaknya meminta makan. Namun tidak mudah membuat anak patuh terhadap jadwal makan yang sudah ditetapkan. Untuk mengatasi hal ini, perlu diciptakan suasana makan yang menyenangkan. Agar suasana menyenangkan, dari sisi fisik yang perlu diperhatikan adalah jadwal makan teratur, serta makanan tambahan diberikan dua jam sebelum atau sesudah makan. Peralatan makan seperti sendok dan gelas disesuaikan dengan anak. Demikian juga dengan meja dan kursi makan.

Di samping itu, emosi sosial pun perlu diperhatikan, seperti menu baru agar anak tidak merasa bosan, tidak mendikte atau memarahi anak, serta menu berbeda setiap hari. Tak kalah penting adalah orangtua mengajak dan mendampingi anak di meja makan.

Zat Gizi

Dijelaskan, beberapa zat gizi berperan dalam kerja otak, seperti asam aspartat yang terdapat pada kacang, kentang, telur, gandum. Kolin yang terdapat pada telur, hati, kedelai. Asam glutamat terdapat pada terigu dan kentang. Fenilalanin terdapat pada kedelai, almond, telur dan daging. Triptofan terdapat pada telur, daging, susu skim, pisang, susu, keju, serta, zat gizi tirosin yang banyak terdapat pada susu, daging, ikan, dan kacang-kacangan.

“Otak memerlukan glukosa, asam amino, lemak, vitamin dan mineral, yang diperoleh dari makanan. Bila kekurangan atau kelebihan akan berdampak pada sistem saraf,” kata Tinuk.

Dicontohkan, asam lemak esensial (omega oil) mempengaruhi fungsi otak berupa perilaku dan mood, kognitif, pergerakan, dan sensasi pada anak. Kekurangan asam lemak omega 3 menimbulkan masalah penglihatan, belajar, motivasi, serta motorik. Kekurangan omega 6 berdampak pada produksi neurotransmiter dan kemampuan sel saraf menggunakan glukosa. Sedangkan kekurangan zat besi menimbulkan gangguan pada selaput otak yang menyebabkan pendengaran terganggu, bicara terlambat, perilaku anak berubah dan penglihatan terganggu. Tinuk menegaskan, kecukupan gizi hendaknya dimulai dari masa kehamilan (janin).

Keterampilan

Agar anak sehat dan bahagia, gizi yang seimbang perlu didukung keterampilan orangtua menciptakan suasana supaya mental si anak pun sehat. Menurut psikolog Agustina Hendriati Psi MSc, ada lima keterampilan yang harus dimiliki orangtua agar hal itu tercapai. Pertama, orangtua mengenali ciri anak yang sehat dan bahagia. Kedua, orangtua mendorong anak mengekspresikan diri secara verbal. Ketiga, orangtua memberi kesempatan anak memilih, sambil mengajarkan anak membuat pilihan yang terbaik baginya.

Keempat, orangtua menyampaikan dan menerapkan batasan perilaku. Kelima, orangtua berjaga dan bekerja saat anak berperilaku positif.

Dikatakan, orangtua di kawasan Asia cenderung santai ketika anaknya “baik-baik” saja. Padahal, ketika itulah seharusnya orangtua harus bekerja, yakni menunjukkan penghargaan tulus dan mendorong agar si anak terus mempertahankan perilaku tersebut.

“Pada dasarnya semua orang ingin dihargai. Oleh karena itu mengembangkan anak yang sehat dan bahagia akan lebih mudah dilakukan dengan fokus pada perilaku positifnya,” kata Agustina.

Lebih jauh dikatakan, orangtua hendaknya menunjukkan atau menyampaikan harapannya yang realistis terhadap perilaku anak. Tidak hanya itu, orangtua juga harus menerapkan batasan perilaku mana yang dapat diterima dan yang tidak. Semakin dini orangtua memberlakukan hal ini dan konsisten, semakin mudah terlihat hasilnya.

Globalisasi berdampak pada perkembangan anak dan hubungan antara orangtua dan anak. Ada banyak rangsangan di dalam dan luar rumah yang diterima anak, misalnya, melalui televisi, radio, media cetak dan internet. Oleh karena itu, ujarnya, sangat baik jika sejak anak masih kecil, orangtua terbiasa menunjukkan adanya pilihan dan menjelaskan alasan dibalik keputusan yang dibuat orangtua.

Agustina menambahkan, orangtua juga perlu mendorong anak berekspresi secara verbal (berbicara), sekalipun anak bisa bereskpresi secara nonverbal, seperti menangis atau menunjuk. Orangtua yang terlalu sering mengatakan jangan atau tidak, akan menghambat ekspresi anak. (N-4)

Sumber: http://www.suarapembaruan.com/