DEMAM BERDARAH DENGUE


sumber :http://www.diskes.jabarprov.go.id/index.php?mod=pubInformasiPenyakit&idMenuKiri=56&idSelected=1&idInfo=14&page=

PENDAHULUAN

Demam dengue / Dengue fever / DF dan demam berdarah dengue / DBD / dengue haemorrhagic fever / DHF, adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot, dan atau nyeri sendi yang disertai penurunan dari sel darah putih, adanya bercak kemerahan di kulit, pembesaran kelenjar getah bening, penurunan jumlah trombosit dan kondisi terberat adalah perdarahan dari hampir seluruh jaringan tubuh.

ETIOLOGI

DF dan DHF disebabkan oleh virus dengue, merupakan virus dari genus Flavivirus, yang memiliki beberapa jenis yaitu DEN-1 sampai DEN-4, dan di Indonesia palng banyak adalah virus DEN-3. Infeksi virus dengue ini dapat terjadi reaksi silang dengan virus lain seperti virus yellow fever, japanese enchepalitis dan west nile virus, yang akan memperberat gejala dari infeksi virus ini sendiri.

EPIDEMOLOGI

Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia tenggara, Pasifik barat dan Karibia. Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah tanah air. Angka kejadian DBD di Indonesia antara 6 hingga 15 oer 100.000 penduduk dan terus menurun hingga 2% pada tahun 1999.

Penularan infeksi virus dengue tejradi melalui vektor nyamuk genus Aedes (terutama A. aegypti dan A. albopictus). Peningkatan kasus setiap tahunnya berhubungan dnegan sanitasi lingkungan dengan tersedianya tempat perindukan bagi nyamuk betina yaitu bejana yang berisi air jernih (bak mandi, kaleng bekas dan tempat penampungan air).

Beberapa faktor diketahui berkaitan dengan peningkatan transmisi virus dengue yaitu 1) vektor (nyamuk), terutama berhubungan dengan sanitasi lingkungan, 2) Penjamu (manusia) terdapatnya penderita dilingkungan, 3) Lingkungan : curah hujan, suhu, sanitasi dan kepadatan penduduk.

PATOGENESIS

Terdapat bukti kuat bahwa mekanisme imunopatologis berperan dalam terjadinya demam berdarah dengue dan demam dengue. Respon imun yang diketahui dalam patogenesis DBD adalah : a) respon humoral berupa pembentukan antibodi yang berperan dalam proses penghancuran virus, b) respon imun seluler, yang berperan terhadap penghancuran dari sel yang mengandung virus, c) Sel imunologis pertahanan awal, d) komplemen.
Pendapat lain menyatakan bahwa seseorang dapat terkena terkena demam berdarah apabila terinfeksi ulang oleh virus dengue dengan tipe yang berbeda.
Dari berbagai teori ini dapat disimpulkan bahwa penularan virus demam berdarah ini selain dipengaruhi oleh faktor nyamuk dan ada tidak nya penderita di lingkungan sekitar juga tidak kalah penting adalah daya tahan tubuh sendiri, apabila daya tahan tubuh kita baik maka virus yang masuk ke dalam tubuh dapat di hancurkan sehingga tidak terjadi penyebaran dan menyebabkan gejala kelainan pada tubuh.
Trombositopenia pada infkesi dengue terjadi melalui mekanisme : 1) penurunan fungsi pembentuk sel-sel darah di sumsum tulang, 2) penghancuran dan penurunan fungsi dari trombosit.
Kondisi yang paling berbahaya pada proses penyakit ini adalah perdarahan pada hampir seluruh tubuh. Hal ini disebabkan akibat virus yang menginfeksi endotel dan menyebabkan gangguan fungsi dari endotel, sehingga pembuluh darah tidak berfungsi dengan baik dan mengakibatkan kebocoran darah. Apabila kebocoran ini terjadi pada pembuluh darah kulit akan tampak bercak-bercak kemerahan pada kulit, apabila terjadi pada saluran pencernaan akan menyebabkan perdarahan yang terus menerus, kondisi ini dapat terjadi pada organ-organ lain seperti hidung, mata dan otak.
PERJALANAN PENYAKIT
Manifestasi dari penyakit ini dapat berupa gejala demam yang tidak khas, demam dengue, atau demam berdarah dengue, dan kondisi terberat adalah demam berdarah dengue dengan syok.
Masa inkubasi dalam tubuh manusia sekitar 4 – 6 hari (rentang 3 – 14 hari) timbul gejala awal seperti : nyeri kepala, nyeri tulang belakang dan perasaan lelah.
Demam dengue
Merupakan penyakit demam akut selama 2 – 7 hari. Ditandai dengan dua atau lebih manifestasi klinis sebagai berikut :
• Nyeri kepala
• Nyeri retro-orbital
• Mialgia / atralgia
• Ruam kulit
• Tanda-tanda perdarahan (petekie atau uji bendung positif)
• Penurunan jumlah sel darah putih

Demam Berdarah Dengue (DBD)
Berdasarkan kriteria WHO 1997 diagnosis DBD ditegakan bila semua hal di bawah ini :
• Demam atau riwayat demam akut, antara 2 – 7 hari
• Terdapat minimal satu dari manifestasi perdarahan berikut :
– Uji bendung positif
– Petekie (bintik-bintik kemerahan di lipat tangan atau kaki), ekimosis (kemerahan pada kulit dengan batas tidak tegas) atau purpura (kemerahan atau ungu pada kulit yang tidak hilang pada tekanan)

Purpura

Petekie
– Perdarahan mukosa (tersering epitaksis atau perdarahan gusi), atau perdarahan dari tempat lain
– BAB berdarah atau BAB hitam
• Trombositopenia ( trombosit 20% dibandingkan standar sesuai dengan umur dan jenis kelamin.
– Penurunan Ht > 20% setelah mendapat terapi cairan, dibandingkan dengan nilai hematokrit sebelumnya.
– Tanda kebocoran plasma seperti : efusi pleura, asites atau hipoproteinemia
Sindroma Syok Dengue (SSD)
Seluruh kriteria diatas ditandai dengan DBD disertai kegagalan sirkulasi dengan manifestasi nadi yang cepat dan lemah, tekanan darah turun ( 20% yang biasanya terjadi pada hari ke 3.
• Faktor pembekuan darah (PT, aPTT) : akan meningkat apabila di curigai sudah terjadi fase perdarahan.
• Ureum/kreatinin : merupakan pemeriksaan fungsi ginjal, dapat terjadi peningkatan akibat perdarahan yang hebat tanpa terapi yang adekuat.
• Elektrolit : melihat kekurangan cairan dalam tubuh akibat demam yang berkepanjangan dan asupan cairan yang kurang.
• Golongan darah : apabila diperlukan tambahan darah akibat pendarahan yang cukup banyak.
• IgM : terdeteik setelah hari ke 3 – 5, meningkat sampai minggu ke-3 dan menghilang setelah hari ke 60-90.
• IgG : pada infeksi primer terdeteksi pada hari ke 14, sedangkan infeksi sekunder terdeteksi pada hari ke 2.

PENATALAKSANAAN
Seseorang yang dicurigai terkena demam berdarah dengue harus segera memeriksakan diri ke dokter. Selama proses sebelum pemeriksaan dapat dilakukan :
– Perbaikan cairan tubuh : minum dalam jumlah yang banyak terutama cairan pengganti elektrolit.
Kebutuhan cairan dianggap cukup pada orang dewasa apabila rasa haus telah hilang, air seni berwarna kuning jernih, jumlah air seni minimal 0,5 cc/kgBB/jam. Pada bayi kekurangan cairan ditandai dengan ubun-ubun cekung, air mata sedikit, mukosa bibir kering, air seni kurang dari 1 cc / kgBB / jam.
– Istirahat cukup.
– Makan-makanan lunak dan tidak mengandung lemak, agar tidak cepat mual.
– Kompres air hangat untuk mengurangi rasa demam.
– Periksa laboratorium sesuai petunjuk dari petugas kesehatan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s