Teman Si Kecil Agresif


sumber :
http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman|0|0|8|459

Mother And Baby Thu, 03 Apr 2003 10:11:00 WIB
Lho, lho, teman Si Kecil yang satu itu agresif betul! Anak kita sering diserangnay secara fisik. Bagaimana mengatasinya?

Interaksi Si Kecil dengan sebayanya tak selalu mulus. Maklum, karakter anak berbeda-beda. Ada lho, batita yang cenderung agresif pada kawan-kawannya. Dalam pergaulan dia suka melakukan kekerasan fisik jika mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, misal, saat berebut mainan, saat tersenggol atau terinjak kakinya – padahal kawannya tidak sengaja – saat pamdangan tertutupi.

Hal-hal sepele seperti itu bisa membuatnya “meledak” dan menggunakan tangan atau kakinya untuk menyakiti. Selain itu, ada juga balita yang memang suka jahil menggoda kawan dengan kekerasan; memukul, menarik rambut, menjitak, bahkan mengejek. Wah, wah, Bagaimana ya, jika Si Kecil kita ikut menjadi salah satu “korban” agresifitas di antara batita ini?

Menurut psikolog anak Risatianti Kolopaking, S.Psi., di kalangan balita memang bisa terjadi hal yang dalam bahasa Inggris disebut bully atau bullying, yaitu sebutan untuk kondisi dimana anak yang lebih tua usianya, atau lebih kuat, atau lebih besar fisiknya, mengganggu anak yang lebih lemah, muda, atau lebih kecil.

Selain itu, lanjut Risa, ada juga agresifitas balita yang masuk kategori “dilakukan bukan secara sengaja”, melainkan karena seorang anak mengalami hambatan komunikasi. Jadi, alih-alih menyapa kawannya, dia malah memukul. Perlakuan mendorong keras dilakukan untuk mengganti kalimat “Jangan menutupi jalanku!”, atau tonjokan dipersepsikan sebagai ganti “Pinjam mainannya dong”.

Apa pun bentuk dan alasan agresifitas kawan Si Kecil, sebagai orangtua, tentu geram dan kesal jika kita mendapati kekerasan menimapa putera-puteri kita, bukan? Kalau tak ingat itu ulah anak-anak, ingin rasanya membalas. ”Ini bisa dimaklumi, tapi sebaiknya tidak dilakukan karena kalau kita membalas dengan kekerasan juga, tidak mengajarkan anak bagaimana cara bersikap menghadapi tekanan teman yang bully atau bermasalah,” demikian Risa.

Jangan Langsung Terlibat
Risa menganjurkan, meski kita merasa pantas ikut campur karena tak ingin Si Kecil “menderita”, sebaiknya tidak menceburkan diri dulu dalam masalah anak. Menurutnya, anak bisa kok, mengambil keputusan sendiri. Orangtua jangan langsung intervensi dengan memberi saran ini-itu. Coba biarkan dulu anak mengambil sikapnya sendiri dalam menyesuaikan diri.

Setiap anak, sambung Risa, memiliki cara sendiri dalam menyesuaikan dan mempertahankan diri. ”Ada anak yang kalau dipukul balas memukul, ada yang begitu akan dipukul buru-buru lari, ada juga yang diam karena takut. Apa pun caranya, ini berarti cara anak untuk survive. Hargai cara mereka itu,” ujar psikolog yang praktik di RS Hermina Bekasi ini.

Risa menganjurkan orangtua untuk tidak menghakimi tindaka membela diri terbaik adalah cara X, apalagi membalas atau memarahi anak yang suka memukul tersebut. ”Cara ini tak mengajar anak untuk bersikap benar dan berani,” tegas Risa.

Ya, mungkin Anda juga tak tega melihat anak menangis, apalagi jika wajahnya sampai lebam. “Melihat hal-hal seperti ini memang kita harus tidak emosional, karena persoalan ini melibatkan dua balita yang sama-sama sedang tumbuh dan mungkin memang belum mengerti benar etika
pergaulan. Coba anak bicara mengapa terjadi demikian?” saran Risa.

Senada dengan Risa, psikolog asing Linda Grossman juga mengatakan, “Keterlibatan orangtua mendengarkan keluhan anak merupakan unsur penting dalam membina kemampuan anak melawan tekanan teman sebayanya.” Misal, jika Si Kecil Brian mengadu, “Toto itu brengsek!” maka ayah jangan buru-buru bereaksi “Kok kamu ngomong kasar begitu? Ayah tak suka!” karena
respons ini membuat anak kesal dan menutup pembicaraan dengan Anda.

Coba bandingkan dengan kondisi ini; jika Si Kecil Brian mengadu, “Toto itu brengsek!” Ayah bersikap rensponsif dengan bertanya tenang, “Memang kenapa? Kamu marah sama Toto, ya?” Mungkin jawaban Brian akan memberi informasi lebih jelas, “Iya. habis tadi Toto memukulku. Akan kupukul lagi lain kali.”

Tanggapan orangtua yang tak menghakimi membuat anak memberi respons positif, sehingga kita lebih mudah mengajaknya bicara dan menyarankan hal-hal yang positif untuknya.

Biarkan Anak Mengambil Sikap
Jika seorang anak mengalami masalah dengan teman-temannya, kadang orangtua menceritakan contoh dari pengalamannya sendiri di masa kecil, dan menyarankan hal serupa pada anak. Padahal hal terbaik sebenarnya menyimpan perasaan pribadi dan menghindari pemberian saran kepada anak, lalu, lakukan sesuatu yang membuat anak berpikir dan memecahkan masalahnya sendiri.

Latihan memecahkan masalah ini akan sangat berguna ketika batita tumbuh menjadi remaja dan dewasa. Lawrence E. Saphiro, penulis Kecerdasan Emosi menyarankan Anda melakukan teknik bertanya untuk membantu anak berpikir bagaimana memecahkan masalah. Ilustrasinya sebagai berikit:

Anak : Bu, aku dipukul teman…”
Ibu: “Oh ya? Terus apa yang kamu lakukan?”
Anak: “Aku diam saja.”
Bapak: “Kalau diam saja, besok kamu dipukul lagi, lho. Tapi kalau kamu membalas, kamu juga bisa berkelahi ya sama dia. Bagaimana ya, supaya ini tak terjadi dan kalian bisa tetap berteman?

Jangan lupa, lanjut Risa, sekali lagi setiap anak punya cara menghadapi situasi ini. Mungkin saja anak bereaksi seperti ini. “Aku nggak mau memukul lagi, ah. Takut. Dia kan badanya besar. Aku cepat-cepat lari saja deh, kalau dia mau memukul. Ini berarti anak punya strategi sendiri mengambil sikap. Sebaliknya, jika ternyata anak bersikap lain, misal,”Kalau dia pukul, aku pukul saja lagi biar dia kapok.” menurut Risa ini pun bukan masalah, karena memang demikianlah sikap reflek anak dalam membela diri. Hanya Risa menyarankan yang perlu dilakukan orangtua dan guru adalah memberi anak pengertian memukul balik tidak menyelesaikan masalah, demikian pula dengan diam saja atau lari menghindar.

Bangkitkan Percaya Diri Anak
Jika kasus agresifitas anak terjadi di sekolah, menurut Risa, gurulah yang bertanggung jawab dalam melerai anak-anak. Orangtua bisa meminta guru menyelesaikan masalah ini agar tidak berkepanjangan. Di luar sekolah pun, jika anak yang agresif tercatat sebagai murid sekolah tersebut, guru bisa diberi informasi dan dimintai bantuan. ”Guru yang credible pasti berusaha memecahkan masalah, mencari sebab-akibat yang membuat terjadinya perkelahian atau perseteruan di antara murid. Diharapkan guru bisa bersikap adil, berada di tengah, dan melihat yang terjadi secara jernih sehingga bisa menyelesaikan persoalan dengan baik,” demikian Risa.

Bagi “korban”, kalau peristiwa ini sudah lama terjadi, bisa jadi tumbuh perasan minder dan kecil. Orangtua bisa membantu mengembalikan keberanian dan percaya dirinya dengan mengajarkannya lebih berani dan percaya diri. Coba ajarkan anak untuk bisa merespon perlakuan buruk yang menimpanya dengan kata-kata, ”Jangan memukul, dong. Sakit nih. Lebih baik kita berteman.” Atau, “Kalau aku diam saja bukan berarti aku takut, tapi papa dan mama tak mengizinkan aku memukul. Katanya itu bukan tindakan jagoan.” b Rahmi Hastari

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s