Kemunduran Kakak Balita


sumber :http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman|0|0|8|462

sumber : Mother And Baby Mon, 07 Apr 2003 13:45:00 WIB

Kakak Balita yang tadinya banyak kepintaran dan ngemong adik, bisa sekonyong-konyong mengalami kemunduran sikap dan kepintaran.
”Satu-satu aku sayang cepot.
Dua-dua juga sayang badut.”
”Kok nyanyinya gitu?”
”Biarin aja. Ibu nakal!”

Meita heran deh, melihat ulah Sulungnya akhir-akhir ini. Haikal (3 tahun) yang tadinya sudah pintar segala macam, kini sering ngaco. Nyanyi dibikin ngaco. Berhitung dibikin ngaco juga, bukan, 1, 2, 3 sampai 20, tetapi, 1, 6, 12, 4. Bicaranya juga dicadel-cadeli. Kalau ditanya kenapa, dia ngambek. Ibunya dimusuhi. Terhadap ayah kesayangannya pun dia seolah sedang “perang”. Pengasuhnya baru-baru ini mengeluh, ”Mas Haikal sekarang kolokan banget, Bu. Masak saya ke kamar mandi saja ditangisi, disuruh buru-buru keluar. Adiknya juga dibikin nangis terus.”

Yang dialami Haikal, menurut Konsultan Psikologi Anak Kassandra S. Psi, umum dikenal sebagai kemunduran sikap kakak balita. Tentu saja hal ini bikin gundah orangtua. Habis, Kakak balita yang tadinya sudah pintar baik secara intelektual maupun sikap, tiba-tiba seperti mundur 2-3 tahun. ”Memang tidak gampang menjadi kakak. Apalagi kalau usianya masih balita. Ibaratnya, belum puas menikmati status sebagai anak tunggal, adiknya sudah lahir,” ujar Kassandra.

Menurut Kassandra, kemunduran balita ini seringkali memang terkait dengan status anak sebagai kakak. Katanya, akibat jarak kelahiran anak yang terlalu dekat, banyak balita “terpaksa” menyandang predikat sebagai kakak lengkap dengan konsekuensinya, misal, tidak boleh nakal lagi, harus mengalah pada adik, harus sayang adik, tidak boleh kolokan lagi, tidak boleh minta gendong, dll. Meski banyak kakak balita yang bisa memenuhi tuntutan ini, dalam beberapa waktu bisa saja mereka tiba-tiba mengalami fase kemunduran sikap.

Kemunduran sikap kakak balita dapat disebabkan berbagai faktor. Coba ayah-ibu ingat-ingat, kira-kira apa faktor pencetus yang baru-baru ini terjadi sehingga Kakak bersikap demikian. ”Apakah Kakak balita baru saja didaftarkan ke pre school, apakah akhir-akhir ini ayah-ibu terlalu sibuk sehingga agak mengabaikan anak, atau apakah adik baru saja sakit sehingga perhatian seisi rumah tercurah padanya dan melupakan Kakak?” demikian Kassandra.

Kemunduran sikap, lanjut Kassandra, bisa saja dilakukan anak dalam rangka mencari perhatian orangtua, atau katakanlah semacam kompensasi terhadap suatu keadaan yang dibencinya – namun tidak bisa ia ungkapkan – sehingga mengemuka sebagai ulah yang serba mundur. ”Perilaku demikian masih dalam batas yang normal, bukan abnormal. Karena klarifikasi abnormal adalah jika anak tidak bisa berfungsi sebagaimana anak-anak lain pada umumnya dalam usia yang sama,” jelas konsultan di Psycologycal Practise ini.

Namun meski normal, menurut Kassandra bukan berarti sikap balita yang mundur ini boleh didiamkan. Membiarkan balita berkelakuan seperti bayi lagi juga tidak baik, karena, ”Jika didiamkan dan tidak dikoreksi, fase kemunduran yang mula-mula sengaja dilakukan anak bisa menjadi keterusan. Lama-lama anak pun tidak berkembang sebagaimana adanya, sebab ia akan terbiasa berbicara cadel, atau berperilaku manja, atau tak mandiri.”

CEPAT KOREKSI
Supaya balita berubah, Kassandra menyarankan jangan sekali-kali menganggap kelakuannya yang seperti bayi lagi adalah sesuatu yang lucu dan pantas ditertawakan. ”Ini karena saat ini balita sangat membutuhkan pengertian dari Anda, bukannya olok-olok.”

Kassandra menyarankan orangtua segera mengoreksi kelakuan balita, tetapi, ”Koreksinya jangan langsung dimarahi atau dipaksa langsung mengoreksi kelakuannya. Lakukan koreksi dengan trik khusus, karena namanya anak-anak, semakin dilarang biasanya semakin menjadi-jadi. Coba sementara ikuti dulu apa maunya,” Kassandra tersenyum, seraya membeberkan sejumlah tips.

1. Biarkan Tingkahnya Sementara

Saat balita mulai bertingkah seperti bayi, biarkan tingkahnya sementara. Biarkan ia menjadi begitu manja, kolokan, atau menyita perhatian Anda. Memarahi atau menyangkal ulahnya hanya akan memperpanjang masa-masa kemunduran ini. Berusahalah peka terhadap perasaannya. Katakan Anda tahu apa yang ia rasakan dan yakinkan ia tetap akan mendapatkan cinta, kasih sayang, pelukan dan ciuman seperti biasanya, tanpa harus berulah seperti itu.

2. Memuji Sikap Dewasanya

Saat kakak menunjukkan sikapnya yang lebih dewasa, segera berikan pujian dan komentar positif. Gunakan kesempatan ini untuk memperlihatkan keuntungan menjadi orang yang lebih besar, misal, ia jadi boleh bermain dengan teman-temannya, boleh main sepeda, atau boleh makan es krim. Ucapkan kalimat, “Kamu beruntung sudah besar, sudah bisa main sendiri dan makan es krim yang enak ini.”

3. Beri Pengertian

Kemunduran yang terjadi pada balita bisa juga terjadi karena sebenarnya ia belum siap memiliki adik. Apalagi jika ia tak pernah diberitahu sebelumnya kalau sebentar lagi akan mendapat adik baru. Ini bisa membuatnya takut kehilangan perhatian dan kasih sayang orangtua. Kakak pun menjadi uring-uringan dan berperilaku seperti bayi lagi. Perilaku ini bisa berubah asal kakak diberi pengertian, meski ada adik ia tetap akan mendapat perhatian dan kasih sayang yang sama. Coba mengatakan ini saat kakak dalam keadaan tenang. Untuk membuktikan betapa sayangnya Anda pada kakak, beri ia mainan baru sambil menggendong adik. Katakan padanya Anda sangat sayang padanya, adik pun sayang pada kakaknya. Kemudian mintalah kakak mencium kening adiknya dengan lembut.

4. Ajak Bicara dari Hati ke Hati

Agar kakak tak lagi berpikiran kalau ia disisihkan adiknya, ajaklah ia bicara tentang perasaannya terhadap adik. Coba ajak ia duduk santai, buat suasana sehangat mungkin, kemudian dengarkan kakak bicara tentang yang ia rasakan dan takutkan. Biarkan iamengeluarkan unek-unek dan ketakutannya. Tujuannya agar Anda mengerti yang diinginkan dan yang dialami anak. Setelah anak mengeluarkan pendapatnya, berilah ia pengertian Anda menyayangi semua, ”Karena kalian semua anak-anak Ibu dan Ayah.” Katakan pula kalau ia sudah besar karena sudah memiliki adik. Itu sebabnya Anda memperlakukannya seperti anak besar.

5. Libatkan Kakak

Agar kakak lebih sayang adik, coba libatkan ia dalam kegiatan adik. Mengajak kakak beraktivitas bersama adik adalah salah satu cara menumbuhkan rasa sayang dan mendekatkan diri kakak dengan adik, sehingga membuatnya tidak merasa dijauhi keluarga.

6. Kurangi Perubahan Dalam Hidupnya

Menjadi kakak sudah cukup menggelisahkan tanpa harus ada perubahan lain di dalam hidupnya. Jadi, usahakan untuk menjaga jadwal dan rutinitas yang selama ini Anda terapkan pada kakak. Bila Anda begitu sibuk, jangan hilangkan jadwal dan rutinitas kakak tapi kurangi sedikit durasi kegiatannya.

7. Beri Perhatian yang Diperlukan

Alasan utama kakak bersikap kembali menjadi bayi adalah karena ia menginginkan perhatian tambahan seperti yang didapat bayi. Karena itu berikan perhatian pada Kakak tanpa perlu menunggunya menangis atau merengek. Pembagian peran ayah-ibu atau bantuan keluarga lainnya mungkin diperlukan agar kakak mendapat cukup perhatian Anda. b Rahmi/Berbagai sumber

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Iklan

One thought on “Kemunduran Kakak Balita

  1. Ping-balik: Imajinasi atau kemunduran (regresi)? | Indra Dewaji & Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s