Bertengkar di Depan Anak Tidak Sehat


Sumber : http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman|0|0|8|460

Mother And Baby Fri, 04 Apr 2003 08:47:00 WIB
Ayah -ibu mana sih yang tak pernah bertengkar. Tapi sebaiknya pilih tempat kalau mau ribut, jangan di depan anak karena pertengkaran kecil bagi kita cukup bisa mengguncang jiwanya, lho.

“Bertengkar ibarat bumbu penyedap perkawinan”, pepatah ini bisa diterima, bagi pertengkaran yang tidak pandang lokasi bisa pahit akibatnya bagi balita kesayangan, lho.

Hasil penelitian banyak pakar psikologi menyebutkan, tidak satu pun anak di dunia suka melihat orangtuanya bertengkar. Tak peduli berapa pun usia anak, atau reaksinya saat pertengkaran terjadi – bisa saja dia tampak tenang ketika ayah-ibunya ribut – anak sesungguhnya tidak tahan melihat dua orang kesayangannya saling berteriak dan tampak “membenci” satu sama lain.

Meski kita kerap mengabaikan eksistensi balita di dekat kita sebagai pertimbangan pantas tidaknya kita ribut-ribut – apalagi di puncak emosi yang mau meledak – ada baiknya mulai menyadari balita bukan orang yang tepat berada di tengah perang meletus. Coba pahami perasaan si kecil.

Pertengkaran Reda, Trauma Terbawa
Saat kita berselisih paham dan adu argumentasi, apa boleh buat, kemungkinan terjadi out of control, sangat besar. Saat dilanda emosi, bisa saja ayah-ibu tidak sengaja mengeluarkan kata-kata, sikap, atau tindakan, yang bertentangan dengan nilai-nilai
baik yang selama ini ditumbuhkan di rumah. Misal, tidak boleh berteriak, tidak boleh berkata kasar, tidak boleh omong kotor, tidak boleh merusak barang, dll. Aturan yang selama ini ditegakkan terhadap Si Kecil pun alhasil dilanggar sendiri. Jika anak melihat kejadian ini, tak heran bila dia kehilangan keyakinan pada nilai-nilai yang ditanamkna itu. Lebih jauh, bisa juga anak bingung dan menjadi tidak respek karena orangtua sebgai role model, melanggar ajarannya sendiri.

Selain itu, menurut Henny Eunike Wirawan, psikolog sekaligus pembantu Dekan I Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara, Jakarta, anak yang sering melihat pertengkaran orangtuanya bisa meragukan kebahagiaan dan kedamain yang dijanjikan sebuah ikatan perkawinan. ”Bagaimana tidak, yang dia lihat dalam perkawinan orangtuanya banyak keributan dan piring melayang?” cetus Henny.

Kemungkinan terbesar – bila orangtua tidak cepat-cepat sadar akan tindakannya – anak akan mengalami trauma. Ironis sekali jika pertengkaran reda namun trauma anak terbawa. ”Bisa jadi setelah anak beranjak remaja dan dewasa, dia malas atau takut menikah, sebab dalam pikirannya untuk apa menikah kalau nantinya sering diisi pertengkaran?” jelas Henny lagi.

Memang, Henny setuju, perkawinan tidak selalu mulus. Pasti ada sandungan. Namun sebisanya tanggapi ini dengan kepala dingin. Kalau pun sampai terjadi pertengkaran usahakan proses mencari titik temu dan solusi di kamar saja, atau di luar rumah seperti di mobil yang diparkir di tengah lapangan, sehingga suara keras sekalipun tidak terdengar orang lain. “Hati=hati, lho, anak itu sensitif sekali. Bayi 8 bulan saja sudah bisa mengenali suara orang marah,” lanjut Henny.

Menjadi Rendah Diri
Efek lain anak sering menyaksikan orangtua bertengkar, lanjut Henny, adalah dia bisa jadi individu minder dan tidak percya diri. Apa hubungannya? ”Mendengar orangtua yang disayanginya bertengkar sangat melukai hati si kecil. Dia pun kerap kebingungan menempatkan posisi dimana harus berada, membela Ibu atau Ayah? Perasaan dilematis inilah yang kemudian mengganggu pemikirannya.”

Dampaknya bisa muncul dalam berbagai bentuk, bukan hanya kesedihan dan air mata. Jika balita sudah bersekolah, tutur Henny, kecemasan akan terjadi hal yang buruk pada keluarganya bisa meembuat konsentrasinya turun, prestasi belajarnya anjlok, dan rasa percaya dirinya melorot karena merasa tidak ada dukungan dari keluarga.

Keadaan ini jika tidak diatasi segera bisa berkembang menjadi perasaan jenuh, malu, stres, dan tidak kerasan di rumah. ”Jika anak masih balita, ia akan lebih senang mengurung diri di kamar atau bermain dengan mainannya sendiri, kehilingan nafsu makan, takut mendekati ayah atau ibu, rewel, susah tidur, sampai ngompol.”

Jika belum telanjur parah, menurut Henny, dampak negatif pertengkaran di depan anak dapat disembuhkan. Caranya, orangtua dan anak sama-sama pergi ke konseling untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Di sini mereka akan diberi nasihat dan bimbingan psikolog. Tapi kalau sudah telanjur parah atau trauma, penyembuhannya tentu butuh waktu lebih lama.

Henny melanjutkan, ”Kalau saya boleh memberi pendapat bagi orangtua yang memnag tengah dilanda persoalan perkawinan, karena bertengkar tidak ada segi positifnya, alternatif lebih baik mungkin diskusi. Lakukan perdebatan atau komunikasi dengan kepala dingin, dengan suara
halus. Ingatlah kita sudah menjadi orangtua, segala tindak-tanduk berefek pada anak. Anak yang terbiasa mendengar atau melihat orangtuanya bertengkar lebih mungkin tumbuh menjadi orang yang cepat naik darah, sebab kepalanya sudah merekam dan terbiasa mendengar suara keras dan penuh emosi,” Henny menutup perbincangan.

JIKA KELEPASAN BERTENGKAR
Kelepasan bertengkar di depan anak sulit dihindari. Bila itu terjadi, jangan abaikan.
1. Segera beri penjelasan kepada anak. Katakan pertengkaran itu hanyalah perdebatan, bukan berarti ayah-ibu tidak saling mencintai lagi. Atau jika anak melihat orang tuanya berdebat dengan suara tinggi, beritahu mereka hanya bicara atau tukar pikiran, tapi suaranya memang terlalu keras.

2. Ada baiknya orangtua juga memperlihatkan keseriusannya dengan perbuatan, misal, saling peluk, cium, atau meminta maaf satu sama lain terlebih dulu setelah bertengkar di depan anak, baru kemudian menerangkannya kepada anak.

3. Minta maaf dan berjanjilah untuk tidak bersuara keras lagi saat berbicara atau berdebat. Kalau perlu, minta anak mengingatkan jika ayah-ibu mulai bersuara tinggi di depan anak.

4. Agar si kecil nyaman dan tenteram di rumah, buatlah kesepakatan dengan pasangan, apa pun yang terjadi jangan sampai ada “perang” lagi di rumah. Jika sekiranya akan terkadi perdebatan yang menjurus ke pertengkaran, segera cari tempat sepi, jauh dari anak juga orang lain. (Rahmi Hastari)

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s