Ciptakan Ikatan Emosi


SUMBER : http://cyberjob.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/pda/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman|0|0|8|1553

Mother And Baby

Bisakah terbentuk ikatan emosi antara orangtua dan anak angkatnya, terutama yang sebelumnya mendapat kasih sayang dari pengasuh di rumah yatim piatu? Psikolog anak dari University of Washington, JoAnne Solchany PhD, mengatakan kunci dasar dari sebuah ikatan emosi yang sehat ialah sebuah proses. Ikatan antara anak-orangtua tidak langsung terbentuk dalam satu momen indah melainkan juga saat menjalani masa-masa yang sulit atau bermasalah bersama-sama.

Tak memandang seberapa pun rumitnya latar belakang anak, pada dasarnya mereka tetap berkeinginan untuk membentuk jalinan emosi yang sehat, nyaman dan aman dengan orangtuanya. Asalkan Anda tahu kunci pengasuhan yang tepat untuk anggota keluarga baru ini terutama untuk anak di usia dini.

1. Dampingi Anak
Usahakan berada di samping anak dalam kondisi apapun. Berikan respon kurang dari 15 detik baik secara verbal maupun fisik ketika anak menangis, rewel, mengeluh, dan memanggil. Anak memerlukan bukti kasih sayang, dalam artian Anda akan ada di sampingnya saat mereka membutuhkan.

2. Bersikaplah empati dan sensitif
Peduli pada pendapat si kecil, tanyakan pada diri Anda Apa yang sedang dipikirkan anakku saat ini?? atau ?Bagaimana pendapat dia tentang?(menu makan malam misalnya). Jangan menyimpulkan bahwa anak pasti memiliki atau mengikuti pendapat Anda. Karena setiap anak memiliki pengalaman hidup yang mempengaruhi pandangan mereka terhadap suatu hal.

3. Ekspresikan emosi Anda
Anak perlu mengenal perubahan ekspresi Anda, misalnya bagaimana mimik wajah dan intonasi nada bicara Anda ketika merasa senang atau puas. Selain itu ungkapkan kesedihan Anda pula saat tengah menangis. Anak akan belajar untuk tidak sungkan-sungkan mengekspresikan dirinya pada orangtua angkatnya. Jika anak dibekali perbendaharaan kata untuk menggambarkan perasaannya maka mereka tak perlu lagi bertindak agresif atau memendam emosi.

4. Lebih memahami anak
Umumnya orangtua menceritakan betapa sakitnya perasaan mereka ketika anak bersikap menolak saat didekati atau dipeluk. Atau beberapa diantaranya menunjukkannya dengan kata-kata seperti? Anda bukan Ibu kandung saya?. Ini penting diketahui orangtua angkat, tindakan demikian bukanlah sebuah penolakan dari anak. Namun merupakan bentuk ekspresi rasa marah, takut, frustasi, merasa terancam atau perasaan yang tidak nyaman lainnya. Karena di masa ini kemampuan anak mengekspresikan emosinya belum sempurna.

5. Tunjukkan kasih sayang Anda
Saat Anda masuk ke kamarnya, sapa dengan ramah dan peluk anak dengan hangat. Tunjukkan kasih sayang Anda tak hanya melalui bahasa verbal saja melainkan juga sentuhan. Anak akan melihat keseimbangan bentuk kasih sayang melalui tindakan dan suara hangat Anda.

6. Ajarkan anak berinteraksi.
Ajari anak bagaimana sebaiknya memperlakukan kedua orangtua atau anggota keluarga barunya. Misalnya anak memalingkan wajah saat Anda menghampirinya, berpura-puralah Anda tak melihat itu. Hampiri anak dengan senyuman, kata-kata sambutan yang hangat dan pelukan.

7. Fokus pada kebutuhan anak
Pada usia tertentu anak-anak merasa dirinya haruslah menjadi pusat perhatian. Keegoisan ini merupakan bagian dari perkembangannya. Di periode ini orangtua bisa memanfaatkannya untuk membantu anak mendefinisikan dirinya dan kemampuan yang dimilikinya. Rasa percaya diri dan motivasi diri akan terbentuk dalam diri anak. Berikan kepercayaan pada anak. Tak ada salahnya bermain bertukar peran dengannya. Biarkan anak menjadi orangtua sedangkan Anda menjadi anaknya.

8. Jangan langsung menghakimi anak
Berikan respon positif jika anak sedang rewel, bertindak agresif, dan tantrum. Bantu anak mendeskripsikan penyebab dari reaksi yang dilakukannya seperti dengan mengatakan? Apakah kamu ingin mengatakan bahwa kamu ingin bersama mama sekarang? Katakan padanya tidak mengapa jika anak marah, namun tunjukkan pada anak bagaimana sebaiknya mengekspresikan emosinya. Waspadai pula anak yang tidak pernah bersikap tantrum, hal ini mungkin saja disebabkan anak tidak mengerti cara mengekspresikan kebutuhan dan perasaannya.

9. Buat kegiatan ritual dan rutinitas dengan anak
Biasanya anak sudah memiliki kegiatan ritual atau rutinitas bersama lingkungan tempat ia dibesarkan sebelumnya. Namun, Anda bisa mulai memperkenalkan rutinitas barunya seperti waktu jam tidur atau pergi ke prasekolah. Deskripsikan kegiatan dan situasi yang akan dihadapinya sehingga anak bisa mempersiapkan diri ketika harus belajar di sekolah tanpa Anda dampingi. Seiringnya berjalan waktu anak pun sudah mampu mandiri melakukan kegiatan rutinitasnya.

10. Hindari terlalu memanjakan anak
Semakin anak merasa nyaman dengan perasaannya, maka anak akan semakin mandiri nantinya. Semakin sering Anda memberikan respon, semakin jarang anak melakukan tindakan yang bertujuan hanya untuk mendapatkan perhatian Anda. Hubungan interaksi antara orangtua-anak pun akan semakin kaya dan dalam.

Mita Zoelandari

Sumber: Majalah Inspire Kids

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s