Stimulus untuk Pra Sekolah


sumber : http://cyberman.cbn.net.id
Mother And Baby

Di usia pra sekolah- usia 3 – 5 tahun-anak harus sudah menguasai beberapa keterampilan penting. Jika tidak, bisa berpengaruh buruk pada masa sekolahnya.

Semua pakar perkembangan setuju, usia 0 hingga 5 tahun adalah usia emas (golden age) bagi seorang anak. Disebut demikianm, karena pada masa inilah perkembangan otak dan kecerdasan anak sedang pesat-pesatnya. Sekitar 50 persen terbentuk di usia ini, dan sisanya berkembang bertahap hingga dewasa. Tak heran, jika orangtua, mampu mengisi masa 5 tahun pertama dengan optimal, kecerdasan anak pun berkembang optimal.

Pada 5 tahun pertama ini menjadi masa-masa yang penting. Menurut Dewi Asih Heriyani,SH.MH., kepala Sub. Direktorat Kesiswaan Direktorat Pendidikan Taman-Kanak-kanak dan Sekolah Dasar, Departemen Pendidikan Nasional, apakah anak akan bisa menghadapi masa-masa selanjutnya dengan baik, semisal lancar di sekolahnya kelak, mampu menyerap berbagai pelajaran dengan baik, mampu beradaptasi dengan lingkungan, ditentukan pada masa ini.

Tiga Faktor Pendukung
Seperti dikatakan Dewi, banyak kemampuan anak yang harus distimulus pada usia ini. Lantaran jika tidak, ada akibat-akibat yang bisa dialami anak. Misal, jika motorik halus yang berkaitan dengan gerakan halus seperti menulis, merangkai bunga, dsb.) tak sedari dini dilatih, anak bisa mengalami kesulitan menulis saat ia masuk sekolah. Atau jika tak dirangsang kemampuan berbahasanya, maka anak pun bisa sulit berkomunikasi dan memahami hal-hal penting di luar dirinya.
Masa pra sekolah yang berkisar antara usia 3 – 5 tahun, dalam tahap perkembangan intelektual menurut Jean Piaget, berada pada tahap pra operasional. Yakni, anak sudah bisa menggunakan bahasa dan simbol, dapat menghadirkan obyek baik dalam fikiran maupun kata, mampu mengelompokkan benda berdasarkan cirinya, dan mampu menggunakan bilangan.

Tetapi, agar anak benar-benar menguasai hal-hal tersebut di atas, menurut Dewi, dibutuhkan dua faktor stimulus yang mendasar, yakni faktor keluarga dan lingkungan. Dalam keluarga, tentu saja ayah ibu, dan kerabat terdekat seperti kakek-nenek, dan juga orang dewasa lainnya, punya peran yang sangat penting.

Sedangkan faktor lingkungan, ini yang harus disesuaikan dengan kebutuhan anak. Yakni, memberikan lingkungan yang mendidik dan mendorong anak untuk mengoptimalkan perkembangan otaknya. “Bisa dengan memberikan permainan yang positif, edukatif, serta keamanan lingkungan. Termasuk sekolah juga bisa menjadi sarana perkembangannya, misalnya dengan memasukkan anak ke taman bermain, playgroup atau pun tempat penitipan anak,” demikian Dewi Asih.
Dewi Asih juga menegaskan pentingnya stimulus yang seimbang, antara otak kiri dan kanannya. Otak kiri yang berhubungan dengan kemampuan analisa (seperti matematika), memang cenderung digenjot orangtua, lantaran percaya ukuran anak pintar atau anak cerdas jika ia pintar secara matematik. Inilah yang banyak terjadi sekarang ini. Padahal, kata Dewi, otak kanan anak pun tak kalah penting. Karena, bagian otak yang berhubungan dengan bahasa, imajinasi, dan musik inilah yang dapat mendukung bahkan mengoptimalkan kecerdasan anak secara menyeluruh.

“Artinya jangan hanya pintar saja, gerakan jasmaninya saja, tetapi emosi seperti rasa dan seni, serta spiritualitas atau iman juga harus diasah agar anak mendapat pondasi yang kokoh saat ia besar nanti.”
Pada saat usia pra sekolah ini, saat otak berkembang pesat, saat keingintahuan anak sedang besar-besarnya, kata Dewi, inilah waktu yang tepat mempersiapkan anak memasuki masa sekolah. “Pada usia ini taman bermain atau TK hanya penunjang, stimulus yang paling penting ya harus dilakukan orangtua. Tetapi, jangan lupa, untuk mengenalkan banyak hal meski sederhana seklaipun, harus disesuaikan dengan kemampuan mereka.”

Menstimulus Pra-Sekolah

Apa saja sih yang harus dikuasai si kecil di usia 3 – 5 tahun? Menurut Drs. M.S. Hadisubrata, M.A., dalam bukunya “Meningkatkan Intelegensia Anak Balita, pada usia pra sekolah, selain stimulus fisik, anak harus ditingkatkan kemampuan berbahasa dan dipersiapkan kemampuan baca tulisnya.

Stimulasi Bahasa dan Pengertian
Berkomunikasi membutuhkan kemampuan untuk mengerti dan dimengerti oleh orang lain. Karena itu untuk menstimulus kemampuan ini diperlukan:

1. Ajarkan anak memahami arti kata. Ini merupakan stimulasi yang paling mudah dilakukan dibandingkan dengan stimulasi lainnya. Sebelum si kecil dapat berbicara, biasanya terlebih dahulu ia memahami apa yang dikatakan oleh orang lain. Selain memahami arti kata, juga termasuk tindakan, intonasi suara dan gerakan tubuh. Karena itu, mulai usia bayi pun, orangtua berbicara dengan suara (kata-kata), gerakan tubuh serta tindakan. Sehingga sejak dini anak belajar memahami apa yang dikatakan orang lain.

2. Ucapan kata dengan benar. Ucapan kata mulai ditiru anak-anak pada usia 9 – 12 bulan. Saat itu, si kecil akan berusaha menirukan ucapan yang belum pernah ia ucapkan sebelumnya. Kemajuan dalam peniruan ini, sangat tergantung pada kesiapan mekanisme suara dan bimbingan yang diberikan. Karena itu berucaplah dengan benar agar anak kelak dapat mengucapkan kata dengan benar.

3. Perkaya perbendaharaan katanya. Umumnya si kecil mengasosiasikan kata dengan suara-suara. Yang pertama ia pelajari biasanya berhubungan dengan obyek, orang dan situasi tertentu, terutama yang merupakan kebutuhan pokoknya. Setelah itu barulah ia belajar mengumpulkan kata kerja, seperti memberi, memegang atau mengambil. Selanjutnya ia belajar kata sifat, dan yang terakhir kata ganti nama orang.

4. Pembentukan kalimat. Umumnya bayi menggunakan kalimat yang terdiri dari satu suku kata, yang digabung dengan gerakan tubuh. Kemudian pada usia dua tahun, ia mulai menggabungkan kata dengan kalimat yang sederhana, meski sering tidak lengkap. Semakin lama, penggabungan kalimatnya akan semakin bertambah hingga saat masuk TK, usia 4 – 5 tahunan, ia sudah mampu membuat kalimat yang panjang dan lebih rumit.

5. Komunikasi dua arah harus terus dilakukan sambil si kecil belajar menguasai ke-empat poin diatas. Semakin banyak orangtua mengajak si kecil bercakap-cakap, baik mengajaknya bicara maupun melibatkannya dalam percakapan, mendengar dengan sungguh-sungguh serta memberikan reaksi terhadapnya, maka semakin banyaklah kemampuan yang akan dicapainya.

Persiapan Baca-Tulis
Masa pra sekolah anak belum disarankan untuk belajar baca tulis. Namun persiapan harus dimulai sejak dini, agar ketika anak memasuki sekolah dasar ia sudah terlatih untuk menghadapi intruksi guru. Apalagi, kurikulum serta pola didik guru di sini, membebani anak kelas 1 SD sekalipun dengan pelajaran berat.

Persiapan belajar membaca mempunyai tiga unsur pokok. Yaitu minat untuk membaca, kemampuan membedakan secara visual (bentuk, warna, ukuran) dan kemampuan membedakan suara-suara. Untuk memupuk minat baca si kecil, orangtua bisa melatihnya dengan memberikan dan membacakan buku-buku cerita dengan gambar yang menarik.

Persiapan yang tak kalah pentingnya, adalah persiapan menulis. Kemampuan seorang anak menulis tergantung pada kemampuannya mengendalikan otot-otot jari tangan. Maka tugas orangtua adalah membantu si kecil menggunakan tangannya, caranya bisa dengan mengajaknya bermain menggunting dan menempel pada karton besar.

Latihan berikutnya adalah melatih koordinasi jari-jari tangan dan mata, karena kemampuan menulis selain tergantung pada kemampuan intelektual, juga tergantung dari kemampuan koordinasinya ini. Untuk latihan, kita bisa melatihnya dengan sering mengajak si kecil membuat bentuk dengan bantuan logam atau benda-benda kecil yang diletakkan di atas kertas. (Rahmi Hastari)

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s