ANAK CADEL? KADANG GARA-GARA AYAH-IBUNYA JUGA,LO!

(sumber: http://www.tabloid-nakita.com)

Sampai usia 5 tahun, si kecil mungkin masih akan cadel. Apalagi jika
lingkungan ikut mendukung. Supaya tidak keterusan, Anda juga harus hati-hati
menanganinya.

“Bu, kok, pelut aku cakit?” Nah, buat mereka yang punya anak balita, pasti
langsung mengerti apa maksud kalimat itu. Soalnya, memang begitulah bahasa
anak-anak.

Memang, tak semua anak usia 3-5 tahun masih cadel bicaranya. Banyak yang
sudah pandai melafalkan kata dengan baik dan benar. Jadi, kalaupun ia masih
cadel, “Wajar-wajar saja. Kemampuan anak mengucapkan kata-kata, vokal dan
konsonan secara sempurna, tergantung kematangan sistem syaraf otaknya.
Terutama bagian yang mengatur koordinasi motorik otot-otot lidah,” terang
Dra. Evi Sukmaningrum dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta.

IKUTAN CADEL
Pada umumnya, kata Evi, di usia 2-3 tahun anak baru menguasai pengucapan 2/3
dari seluruh konsonan. Jadi, untuk konsonan seperti S, Z, R, ia mengalami
kesulitan. Terutama huruf R. “Sebab, untuk mengucapkan R, diperlukan
manipulasi yang cukup kompleks antara lidah, langit-langit, dan bibir,”
jelas Evi. Nah, karena itulah si kecil menjadi cadel.

Menginjak usia 3-4 tahun, otot-otot lidah mulai matang. Dengan demikian,
pada usia prasekolah, anak diharap sudah bisa mengucapkan seluruh konsonan.
“Hanya saja, perkembangan tiap anak, berbeda. Makanya, meski usianya sama,
ada anak yang masih cadel.” Perbedaan kematangan, lanjut Evi, bisa
disebabkan faktor keturunan, gizi, atau nutrisi.

Selain kematangan fisiologis, cadel juga disebabkan faktor lingkungan. Saat
anak bilang, “Minta cucu (susu, Red.), ibu menanggapi, “Mau cucu, ya?
Cebental, ya, sayang.” Jadi, si orangtua malah ikut-ikutan cadel. Padahal,
seperti dituturkan Evi, reaksi seperti itu malah bisa membuat anak jadi
terkondisi untuk terus bicara cadel. “Ia jadi senang karena kalau bicara
cadel, ditanggapi dan dibalas cadel pula.” Asal tahu saja, tugas pertama
yang harus dilakukan seorang anak dalam belajar berbicara ialah mengucapkan
kata. Nah, ia bisa mengucapkan kata karena meniru. Kalau Anda bicara cadel
dengannya, ia akan berpikir, itulah yang benar. Jadilah dia cadel sungguhan.

Begitu juga jika ayah atau ibunya cadel (sungguhan). “Bisa saja terjadi,
anak tak pernah mendengar dan belajar, bagaimana seharusnya mengucapkan R.
Soalnya, dasar dari pengucapan kata-kata, dari lingkungan terdekat anak,
yaitu keluarga,” tutur Evi.

Pada beberapa kasus, anak yang sudah bisa melafalkan R, misalnya, tiba-tiba
jadi “mundur” alias kembali cadel. “Ini bisa disebabkan faktor psikologis.
Misalnya, dia cari perhatian karena baru punya adik. Nah, untuk merebut
perhatian ayah dan ibunya, dia kembali men”cadel”kan dirinya.”

SULIT DIDETEKSI
Umumnya pada usia 5 tahun, anak sudah tidak cadel lagi karena kematangan
otot-ototnya sudah menyerupai orang dewasa. “Paling lambat usia 6 tahun.
Kalau sampai umur ini dia masih cadel, berarti ada kelainan. Bisa kita duga
si anak mengalami defisiensi kemampuan fonologis, yaitu ketidakmampuan untuk
mengucapkan konsonan tertentu,” terang Evi.

Sayangnya, sulit untuk mendeteksi, apakah kecadelan di usia 3-5 tahun akan
berlanjut terus atau tidak. Soalnya, ini menyangkut sistem syaraf otak yang
mengatur fungsi bahasa, yakni area broca yang mengatur koordinasi alat-alat
vokal dan area wernicke untuk pemahaman terhadap kata-kata. Kerusakan pada
area broca disebut motor aphasiam yang membuat anak lambat bicara dan
pengucapannya tak sempurna sehingga sulit dimengerti. Sedangkan kerusakan
pada area wernicke disebut sensori aphasia di mana anak dapat berkata-kata
tapi sulit dipahami orang lain dan dia pun sulit untuk mengerti kata-kata
orang lain.

Nah, dalam belajar berbicara, pemahaman terhadap kata-kata akan muncul lebih
dulu. Baru kemudian anak bisa memproduksi kata-kata alias ngomong. Merujuk
pada tingkatan perkembangan bahasa anak, di usia 1,5-2 tahun biasanya ia
sudah bisa berkata, “Mama”, “Papa”, “Dada” dan sebagainya. Di usia 3 tahun,
minimal anak sudah bisa mengkombinasikan dua kata, “Mama pergi” atau “Mau
susu”, dan sebagainya.

Jika anak belum mampu berbicara sesuai tingkat perkembangannya, kita patut
curiga. Bukan curiga pada masalah cadelnya tetapi, “Kenapa, kok, enggak bisa
ngomong seperti anak-anak lain seusianya,” terang Evi.

Selain itu, kesulitan mendeteksi juga disebabkan anak usia 2-6 tahun masih
berkembang. Artinya, dia sedang dalam proses belajar berbicara. “Ia tengah
berada pada fase mulai menyesuaikan, mulai menambah perbedaharaan kata,
meningkatkan pemahaman mengenai bahasa dan perkembangan makna kata. Termasuk
juga penguasaan konsonan.”

KOREKSI & PUJI
Jadi, seperti dipesankan Evi, rajin-rajinlah memberi stimulasi pengucapan
yang benar pada anak. Paling lambat, saat ia berumur 2 tahun. Dengan kata
lain, kalau bicara dengan anak seusia ini, “Jangan gunakan bahasa dengan
pengucapan yang cadel. Jangan mengganti huruf ‘S’ dengan ‘C’ atau ‘R’ dengan
‘L’. Jangan pula menghilangkan konsonan tertentu. “Yang paling sering adalah
konsonan ‘R’. Misalnya ‘pergi’ jadi ‘pegi’ atau ‘es krim’ jadi ‘ekim’.”

Jika kebetulan ayahnya cadel (tak dapat melafalkan huruf R), ibulah yang
harus secara aktif memberikan stimulasi tersebut. Tapi kalau sampai ayah-ibu
sama-sama tak bisa ngomong “R”, maka perlu diupayakan agar si anak
mendapatkan stimulasi dari orang lain semisal kakek-nenek. Atau
diperkenalkan ke lingkungan lain seperti “sekolah”. “Usia 3 tahun, kan,
biasanya anak sudah masuk Kelompok Bermain. Nah, dari situ anak bisa
belajar. Mungkin pada awalnya dia sulit ngomong ‘R’ karena otot-otot yang
tadinya sudah matang tapi karena tak terlatih, tentunya akan menyulitkan dia
untuk menyesuaikan mengatakan ‘R’. Tapi kalau terus dilatih, pasti bisa.
Dalam hal ini, gurunya yang harus aktif melatih si anak.”

Orangtua seharusnya juga sudah bisa melihat, apakah si anak sebenarnya sudah
bisa ngomong “R” atau belum. Mungkin saja hari ini dia sudah bisa bilang
“Pergi” tapi besok berubah jadi “Pelgi”. “Jadi, sebenarnya dia sudah bisa,
cuma karena ngomong ‘R’ sulit, dia jadi cadel lagi atau malah ‘R’nya
dihilangkan.” Kalau itu yang terjadi, segera koreksi anak. Katakan padanya,
“Bukan pelgi, tapi pergi.” Lalu minta ia mengulangi mengucapkan kata
tersebut dengan benar. Kalau ia bisa melakukannya, jangan lupa beri pujian.
“Aduh, pintar. Ternyata adik bisa, kan, ngomong ‘pergi’.”

Tapi jika saat mengulangi, ia masih juga salah, jangan dimarahi. Latih terus
dan jangan lupa memujinya bila ia berhasil. Dengan demikian anak jadi tahu,
“Oh, yang benar adalah “pergi” atau susu dan bukan cucu.” Ia pun jadi
terpola untuk berbicara dengan lafal yang benar.

MINDER
Begitulah, meski wajar-wajar saja kalau si kecil masih cadel di usia 3-5
tahun, ia harus tetap dirangsang dan dilatih untuk mengucapkan kata-kata
dengan benar. Ini penting agar cadelnya tak berkelanjutan sampai ia mulai
masuk sekolah dan mempengaruhi penyesuaian sosialnya.
Apalagi pada waktu anak bertambah besar, cadelnya tak akan hilang secara
otomatis meskipun kadar keseringannya berkurang. Kecuali bila cadelnya
memang disebabkan faktor biologis, yang lebih sulit untuk diperbaiki. “Di
samping mungkin struktur lidahnya yang memang berbeda,” kata Evi.

Anak usia sekolah yang cadel akan merasa berbeda dengan teman-teman
sebayanya. Ia menjadi malu dan asing dari orang lain. Ia tak akan suka
disuruh berbicara dalam kelas karena takut ditertawakan teman-temannya.
Akibatnya, anak jadi minder dan menarik diri.

Buntut-buntutnya, rasa minder itu akan mempengaruhi self esteem atau harga
diri si anak, yang berlanjut ke konsep diri. Bila sampai terjadi seperti
itu, lanjut Evi, tugas orangtualah untuk membangunkan harga diri si anak
agar ia tak minder. “Juga guru di sekolah.” Caranya dengan menonjolkan
kelebihan si anak sehingga dia tetap percaya diri bahwa, “Saya juga punya
kemampuan lain, kok. Saya tidak ‘kalah’ dengan mereka yang enggak cadel.”

Nah, Anda tentu tak ingin buah hati tercinta mengalami cadel berkepanjangan,
bukan? Mulailah dari sekarang melatihnya mengucapkan kata dengan benar.
Jadi, berhentilah “bercadel-cadelan” dengan anak!

Iklan

AIR TRAVEL WITH INFANTS: IS IT SAFE?

sumber : milist balita-anda
source :
http://www.mayoclinic.com/health/air-travel-with-infant/HQ00197.

translated by : Sylvia Radjawane
QUESTION:
Apakah perjalanan dengan pesawat terbang aman untuk bayi baru lahir?
(N.N.)

ANSWER:
(by Jay Hoecker, M.D., et.al.)
Perjalanan dengan pesawat terbang aman untuk para bayi, bahkan bayi yang
baru lahir. Akan tetapi, dokter mungkin akan menyarankan untuk menunda
perjalanan seperti ini selama 2 minggu pertama sejak bayi lahir – di mana
tubuh bayi Anda saat itu masih berusaha untuk beradaptasi dengan kehidupan
di luar rahim ibunya.
Perjalanan dengan pesawat terbang mengondisikan seorang bayi jadi terekspos
dengan banyak orang dan juga kuman-kuman, khususnya dalam ruang kabin (yang
punya sirkulasi ulang udara, seperti ruangan ber-AC). Selain itu, Anda tetu
tidak ingin bepergian jika bayi Anda sedang sakit, apalagi dengan kenyataan
bahwa kondisi sakit pada bayi baru lahir kadang tidak kentara.

Jika para orang tua ingin melakukan perjalanan udara dengan bayi yang baru
lahir, beberapa hal lain yang perlu diperhatikan, di antaranya:

– Sakit telinga
Banyak orang tua khawatir bahwa perjalanan udara akan menyakiti kedua
telinga bayi mereka yang baru lahir. Tetapi dampak terhadap telinga mereka
ini tidak berbeda dengan yang juga dialami oleh telinga orang dewasa. Turun
naiknya tekanan udara dalam ruang kabin menyebabkan perubahan sebentar dalam
telinga bagian tengah, yang akhirnya menyebabkan seseorang merasakan sakit
pada telinganya. Aktivitas menghisap membantu menetralkan tekanan dalam
telinga ini. Itulah sebabnya memberi makan (menyusui) bayi Anda saat
pesawat sedang ‘take off’ dan ‘landing’ mungkin dapat membantu.

– Sudden Infant Death Syndrome (SIDS).
Beberapa orang tua mungkin khawatir dengan berkurangnya kadar oksigen di
tempat ketinggian akan meningkatkan resiko SIDS pada bayi baru
lahir. Tetapi tidak ada bukti yang mendukung kekhawatiran ini.

– Keamanan perjalanan
Jika ada melakukan perjalanan udara dengan seorang bayi yang baru lahir,
lembaga AAP (American Academy of Pediatrics) merekomendasikan agar Anda
menempatkan anak anda pada ‘safety seat’ khusus untuk anak-anak, yang
terpasang dengan benar dan aman di tempat duduk sebelah tempat duduk
Anda. Sebagian besar ‘safety-seat’ ini telah dinyatakan dan khusus
diperuntukkan untuk perjalanan udara. Anda bisa memeriska label
sertifikasinya jika masih ragu-ragu.
Menurut rekomendasi dari lembaga FAA (Federal Aviation Administration),
‘safety-seat’ untuk anak-anak ini tidak boleh lebih lebar dari 16 inci
sehingga pas ukurannya jika terpasang pada tempat duduk penumpang di dalam
pesawat – khususnya untuk pesawat komuter yang lebih kecil. Jika
memungkinkan, pilih tempat duduk ‘bulkhead seat’ dan hindari duduk di baris
tempat duduk yang dekat dengan pintu ’emergency exit’