Menghindari Tuli Dini


sumber :
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/09/14/KSH/mbm.20090914.KSH131357.id.html

Tim dokter Indonesia sudah bisa memasang implan pendengaran pada dua
telinga. Ini merupakan prestasi, karena di Asia Tenggara metode ini baru
bisa dilakukan di Indonesia. Anak tunarungu dan bisu menjadi normal.

KAYLA beruntung mulai bisa bicara. Sebelumnya, akibat gangguan
pendengaran, gadis cilik empat tahun itu seperti orang bisu. Maklum,
menurut Profesor Helmi, dokter spesialis telinga, hidung, dan
tenggorokan (THT), anak mulai bisa bercakap karena bisa mendengar orang
lain berbicara. Jadi, ada batas usia seorang anak tak bisa bicara. Orang
tua wajib curiga bila si buah hati masih saja diam padahal teman-teman
sebayanya sudah cerewet. ”Jika didiamkan, tidak dilatih mendengar, pada
usia tertentu walau dibantu alat bantu dengar, seperti cochlear implant,
tak ada gunanya lagi,” tutur guru besar THT Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia itu kepada Tempo, pekan lalu.

Menurut Helmi, usia delapan tahun adalah batas kemampuan otak bisa
mengerti percakapan. Lebih dari umur itu, anak sudah tidak mampu
mengerti bahasa verbal. Namun, jika sudah menerima stimulus pendengaran,
seperti alat bantu dengar, sampai usia 12 tahun pun masih bisa ditolong.

Kayla adalah pasien pertama di Indonesia yang dipasangi implan
pendengaran pada kedua telinganya, atau simultaneous bilateral cochlear
implant. Di Malaysia, sudah ada 300 orang pasien implan, namun belum ada
yang di dua sisi telinga.

Di Indonesia baru 28 orang yang dipasangi susuk cochlear tunggal.
Maklum, harga alat bantu dengar ini mahal: US$ 22 ribu hingga 26 ribu,
atau Rp 220 juta sampai 260 juta. Itu masih ditambah ongkos operasi
sekitar Rp 40 juta. ”Kalau di Singapura, ongkos operasinya saja Rp 100
juta,” kata dokter Eko Teguh Prianto, asisten tim Profesor Helmi.

Cochlear implant memiliki cara kerja yang berbeda dibanding alat bantu
dengar biasa yang berfungsi seperti loudspeaker atau pengeras suara.
Alat bantu dengar biasa cuma bisa efektif bagi orang yang mengalami
ketulian hingga 60 desibel. Sedangkan yang hingga 100 desibel,
pendengarannya tetap minim walau memakai alat bantu dengar. Audiogram
orang berpendengaran normal terletak antara nol dan 20 desibel. Di atas
angka itu, kemampuan kondisi telinga dipertanyakan.

Pemasangan implan dapat dilakukan pada beberapa jenis penderita.
Misalnya pada anak-anak yang lahir tanpa bisa mendengar dan punya
kelainan bawaan (congenital deafness). ”Kelainan tidak mendengar sejak
lahir itu jenis yang terbanyak,” ujarnya.

Implan bisa juga untuk orang dewasa atau yang tidak mendengar setelah
pernah bisa mendengar, misalnya akibat keracunan obat, gangguan aliran
darah ke telinga dalam, infeksi, dan radang otak. ”Cairan otak itu punya
hubungan langsung dengan cairan dalam telinga. Jika ada infeksi otak
menjalar ke telinga, itu juga bisa menyebabkan tuli,” tutur Helmi.

Alat bantu dengar atau susuk cochlear terdiri atas komponen dalam dan
luar (lihat infografis Cara Kerja dan Tahap Pengobatan). Untuk
pemasangannya, dokter melakukan operasi pada tulang temporal, yang
menggantikan fungsi ”rumah siput” sebagai organ pendengaran. Komponen
implan diletakkan di bawah kulit di belakang telinga. Faktor waktu
operasi juga menentukan. Pasien anak tak boleh terlalu lama dibius.
”Untuk dua sisi telinga, kami sudah bisa dalam waktu tiga jam. Pembiusan
memiliki risiko, karena itu kecepatan operasi menjadi penting,” ujar Helmi.

Sejak disetujui Badan Makanan dan Obat-obatan Amerika Serikat (FDA),
pasien anak yang dipasangi implan semakin banyak. Pada 2009, sekitar 150
ribu anak di seluruh dunia telah menerima cochlear implant. Di Amerika
Serikat, sekitar 30 ribu orang dewasa dan lebih dari 30 ribu anak
mendapat operasi implan rumah siput. ”Di Indonesia, pasien termuda
berusia 19 bulan, di Amerika, Eropa, Australia yang termuda 6 bulan,”
katanya.

Ide membantu pendengaran orang tuli sebenarnya sudah dimulai pada 1790.
Saat itu Alessandro Volta, pengembang listrik dan baterai, membuat
stimulasi listrik di sistem pendengaran. Saat itu Volta meletakkan
batang-batang besi di telinganya sendiri dan menghubungkan ke sirkuit
atau kumparan 50 volt. Dia mengalami guncangan dan mendengar suara
seperti sup mendidih.

Lalu usaha yang sungguh-sungguh mendekati metode pengobatan pendengaran
dilakukan dokter bedah Prancis dan Aljazair Andre Djourno dan Charles
Eyries 167 tahun kemudian. Sebuah kabel terbuka dengan bunyi seperti
suara jangkrik yang dihasilkan dari sebuah kumparan dicobakan di kulit
dekat telinga. Secara klinis percobaan itu berhasil, sampai sebuah
perusahaan menawarkan pembuatan alat bantu tersebut. Namun Djourno
menolak dengan alasan dunia akademis tidak boleh dinodai kepentingan bisnis.

Pada 1978, cochlear implant tunggal pertama kali ditanam ke telinga
pasien di Australia. Lalu alat itu dikembangkan secara massal ke seluruh
dunia. Sedangkan pemasangan pada dua sisi telinga baru terjadi lima
tahun lalu di Rumah Sakit Melbourne, Australia, dan awal Agustus tahun
ini di Indonesia. Selain rumah sakit swasta yang memiliki peralatan
lengkap untuk bedah telinga, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta dan
Rumah Sakit Dr Soetomo Surabaya memiliki tim dokter yang mampu memasang
cochlear implant pada dua sisi telinga. ”Enggak perlu ke luar negeri
lagi,” kata Helmi.

Menurut Helmi, yang terpenting dari pemasangan susuk cochlear itu adalah
pascaoperasi. ”Bantuan orang tua berperan penting pada kecepatan anak
bisa mendengar dan berbicara pascaoperasi,” ujarnya. Dokter Eko menunjuk
beberapa pasien yang berkembang cepat. Amel, pasien usia tiga tahun yang
dipasang cochlear implant satu telinga, sudah bisa mengaji dan menyanyi
dalam waktu satu tahun. ”Karena ibunya aktif ikut terapi,” katanya.
Kayla, yang dipasangi dua implan kiri-kanan, mengalami perkembangan 60
persen lebih baik daripada pasien yang dipasang sebelah.

Ahmad Taufik

Cara Kerja Cochlear Implant

1. Alat bantu dengar, susuk cochlear, terdiri atas komponen dalam dan
luar. Komponen dalam, alat seperti kumparan setipis dan selebar uang
logam Rp 25, ditanam di telinga pasien, terdiri atas alat penerima dan
elektroda.
Komponen luar, terdiri atas speech processor, mikrofon, dan pemancar
(transmitter). Komponen tersebut bekerja dengan cara mengubah gelombang
suara yang ditangkap mikrofon menjadi gelombang listrik.
2. Gelombang listrik diproses dalam speech processor dan dipancarkan
transmitter yang berada di luar tubuh pasien ke dalam receiver yang
berada di dalam telinga.
3. Sinyal listrik yang telah diolah itu dihantarkan elektroda yang
sesuai di dalam cochlear implant, menggetarkan cairan di rumah siput,
merangsang serabut saraf. Saraf pendengaran meneruskan ke otak, dan
menerjemahkan informasi ini sebagai suara.

Tahap Pengobatan

TAHAP I
– Orientasi pengenalan cochlear implant kepada orang tua
– Evaluasi audiologi pasien
– Evaluasi medis pasien, fisik, dan THT klinis
– Diskusi hasil tes, jika diperlukan pemindaian (CT scan atau MRI)

TAHAP II
– Pemindaian tulang temporal
– Diskusi dengan orang tua tentang harapan dan dukungan pada pasien
– Pemeriksaan klinis untuk memastikan tidak ada indikasi kemungkinan
terjadi penolakan tubuh bila dioperasi (kontra-praoperasi)
– Vaksinasi
– Evaluasi psikologis untuk menilai kemampuan kognitif di luar faktor
pendengaran
– Tes lain, misalnya evaluasi mata dan saraf

TAHAP III
– Konseling tentang risiko operasi, penentuan hari dan tanggal operasi,
serta pemberian jadwal pascaoperasi.

TAHAP IV
– Operasi

TAHAP V
– Pascaoperasi
Memfungsikan implan (switch on implant), 4-6 minggu pascaoperasi,
setelah luka operasi sembuh
– Pemasangan alat eksternal dan pemroses bicara (speech processor)
– Program aktivasi selama 2-4 jam
– Rehabilitasi aural dan terapi bicara
– Evaluasi persepsi bicara, kemampuan menangkap kata-kata dan berbicara.

Iklan

One thought on “Menghindari Tuli Dini

  1. adik saya mnderita bisu tuli…
    tpi klo nangis swaranya kenceng skali,,,
    gmana ya pa ada jalan altrnatif lain,,,
    tankz…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s