25 Cara Berbicara dengan Anak


sumber :http://www.mail-archive.com/balita-anda@balita-anda.com/msg169064.html

TWENTY FIVE WAYS TO TALK SO YOUR CHILDREN WILL LISTEN
source : (http://www.askdrsears.com/html/6/T061000.asp ; translated by Sylvia
Radjawane)

Bagian penting dari DISIPLIN adalah belajar bagaimana berbicara dengan
anak-anak. Cara Anda berbicara dengan anak Anda menentukan cara dia belajar
berbicara dengan orang lain.

Ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk masalah ini:

1. Connect before you direct
Sebelum memberikan arahan kepada anak Anda, jongkoklah setinggi level mata
anak Anda dan tatap matanya untuk mendapatkan perhatiannya. Ajarlah dia
bagaimana untuk fokus: ‘Mary, saya butuh perhatianmu’, ‘Billy, saya butuh
kamu mendengarkan ini’.
Berikan ‘bahasa tubuh’ yang sama saat mendengarkan mereka. Pastikan kontak
mata Anda tidak terlalu intens sehingga anak Anda menganggap pandangan mata
itu sebagai cara ‘berkomunikasi’ bukan ‘mengontrol’.

2. Address the child
Awali permintaan Anda dengan menyebutkan nama anak Anda, “Lauren, bisa
tolong …”

3. Stay brief
Gunakan aturan ‘satu kalimat’: letakkan kata arahan di permulaan
kalimat. Semakin lama Anda bertele-tele, anak Anda semakin berperi laku
‘tuli’ dengan isi kata-kata Anda. Terlalu banyak bicara adalah kesalahan
paling umum terjadi saat berdialog tentang suatu masalah. Kondisi seperti
ini membuat anak Anda merasa bahwa Anda sendiri tidak terlalu yakin dengan
apa yang ingin Anda sampaikan. Dan ia akan beranggapan bahwa semakin ia
membuat Anda terus bicara, semakin mudah membuat Anda menyimpang dari pokok
masalah sebenarnya.

4. Stay simple
Gunakan kalimat-kalimat pendek dengan kata-kata yang mengandung 1 suku
kata. Cobalah dengarkan bagaimana anak-anak berkomunikasi dengan teman
sebayanya dan cermatilah caranya. Bila anak Anda sudah memperlihatkan
pandangan yang menunjukkan bahwa ia sedang tidak berminat, itu artinya
kata-kata Anda tidak lagi dimengerti olehnya.

5. Ask your child to repeat the request back to you
Jika ia tidak dapat mengulanginya, mungkin kata-kata Anda terlalu panjang
atau terlalu rumit.

6. Make an offer the child can’t refuse
Anda dapat memberikan alasan kepada seorang anak usia 2 atau 3 tahun,
khususnya untuk menghindari ‘unjuk kekuatan’ antara Anda dengannya,
misalnya: ‘Cepat berpakaian supaya kamu bisa main di luar’. Berikan sebuah
alasan untuk permintaan Anda yang memang untuk ‘keuntungan’ sang anak dan
juga ‘sulit untuk ditolak’ dia. Kondisi ini akan membuatnya tidak
mencoba ‘unjuk kekuatan’ dan mau melakukan apa yang kita inginkan.

7. Be positive
Daripada mengatakan ‘Jangan lari-lari!’, cobalah dengan: ‘Di dalam rumah
kita berjalan, di luar rumah kamu boleh berlari’.

8. Begin your directives with “I want”.
Daripada mengatakan ‘Turun!’, cobalah dengan: ‘Saya ingin kamu turun’.
Daripada, ‘Sekarang giliran Becky’, cobalah dengan: ‘Saya ingin kamu beri
giliran buat Becky’. Metode seperti ini berhasil baik untuk anak-anak yang
ingin bersikap baik tapi tidak suka ‘diperintah’. Dengan mengucapkan, ‘Saya
ingin,’ Anda memberinya alasan untuk ‘rela melakukannya’ dibandingkan hanya
sekadar ‘sebuah perintah’.

9. “When … then”.
‘Setelah kamu selesai menggosok gigi, saya akan mulai membacakan cerita’.
‘Setelah PR mu selesai, kamu boleh nonton TV’. Kata ‘setelah’ yang
menyatakan bahwa Anda mengharapkan ‘kepatuhan’, lebih berhasil diterapkan
dibandingkan kata ‘kalau’. Pemilihan kata ini mengondisikan anak pada suatu
pilihan, saat Anda tidak bermaksud memberinya pilihan.

10. Leg first, mouth second.
Daripada berteriak ‘Matikan TV, sekarang makan malam!’, cobalah untuk
berjalan mendekati anak, bergabung dengan keasyikannya nonton TV
sebentar,dan setelah itu, saat ada jeda iklan TV, mintalah anak Anda
mematikan TV. Berjalan mendekati anak Anda sebelum memintanya melakukan
sesuatu memiliki pesan tersirat bahwa Anda serius dengan permintaan
Anda. Jika tidak demikian, anak-anak hanya akan menafsirkannya sebagai
pilihan belaka.

11. Give choices
‘Kamu mau pakai piyama atau gosok gigi dulu?’ ‘Baju warna merah atau yang
biru?’

12. Speak developmentally correctly.
Semakin kecil usia seorang anak, pengarahan Anda seharusnya semakin pendek
dan semakin sederhana. Pertimbangkan tingkat pengertian anak Anda. Sebagai
contoh, suatu kesalahan umum yang sering dilakukan orang tua saat bertanya
pada anaknya yang masih berusia 3 tahun, ‘Kenapa kamu lakukan itu?’ Bahkan
sebagian besar orang dewasa pun hampir tidak dapat menjawab pertanyaan
seperti itu. Cobalah dengan, ‘Mari kita bicarakan tentang apa yang baru
saja kamu lakukan’.

13. Speak socially correctly
Bahkan anak usia 2 tahun pun dapat belajar mengatakan ‘tolong’. Upayakan
anak Anda belajar bersikap sopan. Jangan sampai mereka berpikir bahwa
‘etika’ adalah sebuah ‘pilihan’. Berbicaralah kepada anak Anda dengan cara
yang Anda inginkan mereka lakukan juga kepada Anda.

14. Speak psychologically correctly.
Kalima pembuka berupa ‘ancaman’ atau ‘menghakimi’ cenderung menempatkan anak
pada sikap mempertahankan diri. Kata ‘kamu’ berisi pesan yang membuat
seorang anak jadi bungkam. Kata ‘saya’ berisi pesan yang ‘tidak menuduh’.
Daripada mengatakan, ‘Kamu lebih baik lakukan ini…’ atau ‘Kamu harus …’,
cobalah katakan, ‘Saya ingin …’ atau, ‘Saya senang sekali kalau kamu
…’. Daripada mengatakan ‘Kamu harus membersihkan meja’, cobalah katakan,
‘Saya butuh kamu untuk membersihkan meja ini’.
Sebaliknya, jangan berikan pertanyaan arahan bila tidak ingin mendapatkan
jawaban ‘tidak’. Contoh: jangan katakan, ‘Maukah kamu mengangkat jas mu?’,
cukup katakan, ‘Tolong angkat jas mu.’

15. Write it.
‘Mengingatkan’ dapat berubah dengan mudah menjadi ‘mengomel’, khususnya bagi
anak-anak pra-remaja yang merasa jika mereka diperintahkan sesuatu akan
membuat mereka langsung masuk ke dalam golongan ‘budak’.
Tanpa mengucapkan 1 kata, Anda dapat berkomunikasi apa saja yang ingin Anda
sampaikan. Bicaralah dengan pensil dan notes. Tinggalkan catatan/pesan
jenaka untuk anak Anda. Lalu duduklah dan lihatlah apa yang akan terjadi.

16. Talk the child down.
Semakin nyaring anak Anda berteriak, semakin lembut Anda meresponinya.
Biarkan anak Anda meluapkan kemarahannya sementara Anda sewaktu-waktu
menyela dengan komentar: ‘Ok, saya mengerti’ atau, ‘ Boleh saya
bantu?’ Kadang-kadang hanya dengan memiliki seorang pendengar yang perduli
akan meredakan sifat tantrum seorang anak.
Jika Anda menghadapinya dengan tingkat kemarahan yang sama dengan anak Anda,
Anda harus berhadapan dengan 2 macam tantrum. Jadilah sebagai orang dewasa
untuk anak Anda.

17. Settle the listener.
Sebelum memberikan perintah, pulihkan lebih dahulu keseimbangan emosi Anda.
Jika tidak, Anda hanya akan membuang waktu saja. Tidak ada satupun yang
‘mengendap’ dalam pikiran seorang anak bila dia sedang berada dalam kondisi
emosi yang tidak baik.

18. Replay your message.
Batita butuh diarahkan ribuan kali. Anak-anak di bawah usia 2 tahun masih
sulit memahami arahan-arahan Anda. Sebagian besar anak usia 3 tahunan
mulai belajar memahami arahan sehingga apa yang Anda bicarakan mulai
‘mengendap’ dalam pikiran mereka. Cobalah untuk mulai mengurangi ‘arahan
yang diulang-ulang’ saat anak Anda mulai beranjak lebih besar. Anak-anak
pra-remaja bahkan menilai ‘pengulangan’ ini sebagai bentuk ‘omelan’.

19. Let your child complete the thought
Daripada mengatakan, ‘Jangan sampai barang-barang kotor dan berantakan ini
bertumpuk!,’ cobalah katakan, ‘Matthew, coba pikirkan di mana kamu mau
menyimpan peralatan sepak bolamu ini.’. Membiarkan anak memikirkan hal
seperti ini cenderung memberikannya sebuah pelajaran yang bertahan lama.

20. Use rhyme rules.
Misal: ‘If you hit, you must sit.’. Mintalah anak Anda mengulangi ritme
yang semacam ini.

21. Give likable alternatives.
‘Kamu nggak bisa pergi sendirian ke taman itu, tapi kamu bisa bermain di
lapangan sebelah’

22. Give advance notice.
‘Kita akan segera pergi. Bilang ‘bye-bye’ ke mainanmu, ‘bye-bye’ ke
teman-temanmu.’

23. Open up a closed child.
Hati-hati dalam memilih kalimat yang bertujuan untuk ‘membuka’ pikiran dan
mulut si kecil yang sedang ‘tertutup’ ini. Tetaplah pada topik-topik yang
Anda tahu bisa membuat anak Anda antusias. Ajukan pertanyaan-pertanyaan
yang membutuhkan jawaban lebih daripada hanya ‘ya’ atau ‘tidak’. Tetaplah
pada hal-hal yang spesifik. Daripada mengatakan, ‘Apakah kamu senang di
sekolah hari ini?’, cobalah katakan ‘Apa yang paling menyenangkan yang kamu
kerjakan hari ini?’

24. Use “When you… I feel… because..”
Contoh, ‘Kalau kamu lari-lari dan jauh dari mama di dalam toko ini, mama
akan sangat khawatir karena mungkin saja kamu akan tersesat’

25. Close the discussion.
Jika memang ada hal yang tidak dapat lagi didiskusikan, katakanlah kepada
anak Anda. ‘Saya tidak akan berubah pikiran tentang masalah
ini. Maaf.’ Anda akan menghemat ‘kelelahan’ dan ‘air mata’ Anda juga anak
Anda. Simpan saja nada ‘serius’ Anda jika diperlukan nanti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s