Menyusui saat Puasa, Mengapa Tidak?


sumber : http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=88193

Oleh : Dr Widodo J. SpA

PUASA Ramadan hukumnya wajib bagi setiap muslim, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui. Meski demikian, Islam memberikan kelonggaran bagi ibu hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa, asal diganti berpuasa di waktu yang lain, atau membayar fidyah.

Untuk memutuskan puasa atau tidak demi kepentingan bayi, para ibu yang sedang menyusui harus mengetahui kondisi biologis dan psikologisnya. Ini agar bayi tidak menjadi korban.

Beberapa penelitian menyebutkan, sebenarnya tidak terdapat perbedaan mencolok antara saat berpuasa dan tidak berpuasa. Puasa saat Ramadan tidak memengaruhi secara drastis metabolisme lemak, karbohidrat, dan protein. Meskipun terjadi peningkatan serum uria dan asam urat, dan ini sering dialami saat dehidrasi ringan karena puasa.

Dalam sebuah penelitian juga disebutkan, saat puasa tidak berpengaruh pada sel darah manusia. Tidak terdapat perbedaan jumlah retikulosit, volume sel darah merah, rata-rata konsentrasi hemoglobin (MCH, MCHC) bila dibandingkan dengan orang yang tidak berpuasa.

Ada juga sebuah penelitian yang dilakukan di perkampungan Afrika Barat terhadap dua kelompok ibu-ibu. Pertama, ibu hamil dan ibu menyusui yang berpuasa. Kedua, ibu tidak hamil dan ibu tidak menyusui. Ternyata, dalam penelitian tersebut disimpulkan tidak terdapat perbedaan kadar glukosa serum, asam lemak bebas, trigliserol, keton, beta hidroksi butirat, alanin, insulin, glucagon, dan hormon tiroksin.

Pada penelitian hormon wanita tidak terjadi gangguan pada hormon virgisteron saat melaksanakan puasa. Tetapi, 80 persen populasi penelitian menunjukkan penurunan hormon prolaktin. Penurunan hormon prolaktin ini mungkin harus diwaspadai pada ibu yang menyusui. Tetapi, belum ada bukti penelitian yang menunjukkan kualitas dan kuantitas ASI (air susu ibu) berkurang atau berat badan bayi menurun bila ibu menyusui berpuasa.

Saat bayi menyusu, saraf-saraf di permukaan payudara memberikan rangsangan sensoris ke hipotalamus atau kelenjar pada otak untuk memproduksi hormon prolaktin dan hormon oksitosin. Hormon prolaktin memberi perintah agar sel-sel dalam payudara memproduksi ASI. Sementara hormon oksitosin menyebabkan otot-otot payudara berkontraksi, dan memompa ASI keluar dari puting. Banyaknya ASI yang diproduksi dan dikeluarkan dari payudara, sesungguhnya diatur oleh isapan bayi. Makin sering bayi mengisap, makin sering ASI dikeluarkan dan diproduksi di payudara. Melihat kondisi tersebut, ibu yang menyusui dengan kondisi tertentu harus lebih waspada, terutama saat memberikan ASI eksklusif sebelum bayi berusia 6 bulan.

Memutuskan Puasa

Melihat berbagai kondisi tersebut di atas, kecermatan ibu dalam menentukan perlu tidaknya puasa sangat diperlukan. Pada keadaan ibu yang sedang memberikan ASI eksklusif sebelum bayi berusia 6 bulan, harus dipertimbangkan secara ketat. Sebab, konsumsi ASI adalah jenis makanan tunggal yang dikonsumsi. Tidak ada salahnya kalau ibu menunda puasa. Kalaupun ibu bersikeras melakukan puasa, harus berkonsultasi lebih sering dengan dokter anak yang merawat untuk memantau kesehatan bayi. Bila dalam observasi ketat setiap minggu dokter dapat mengevaluasi bahwa jumlah ASI tidak terganggu dan bayi tidak terpengaruh pertumbuhannnya, bisa saja ibu terus berpuasa.

Keadaan lain yang perlu dicermati adalah bila ibu menyusui mempunyai aktivitas fisik tinggi, ibu dengan gizi buruk, mengalami gangguan ginjal, diabet atau penyakit kronis lain, sebaiknya juga mempertimbangkan untuk menunda puasa.

Melihat berbagai keadaan dan kondisi saat puasa yang tidak mengganggu metabolism tubuh, secara umum berpuasa saat menyusui tidak bermasalah. Untuk mencapai hasil optimal, mungkin ibu menyusui yang sedang berpuasa sangat penting tetap mempertahankan pola makan dengan kualitas dan kuantitas seperti saat tidak berpuasa. Kalau perlu, menjadwal makan tiga kali per hari. Yaitu, saat sahur, ketika berbuka puasa, dan menjelang tidur sesudah salat Tarawih. Demikian pula kebutuhan cairan, kalori, mineral, dan vitamin harus tidak berbeda dengan saat tidak puasa.

Jumlah konsumsi cairan sebaiknya didapatkan sekitar dua liter per hari. Jenis asupan cairan bisa meliputi teh manis, jus buah, air madu, kolak, air kacang hijau, susu, atau sebagian air putih. Asupan makanan yang lengkap dan seimbang harus cermat dilakukan. Pemberian asupan suplemen vitamin dan mineral tambahan terutama zat besi, bisa saja dilakukan bila disadari aktivitas meningkat, sedangkan konsumsi nutrisi dirasakan berkurang. Asupan nutrisi yang manis seperti kurma, jus buah, atau teh manis sangat diperlukan untuk dapat memperoleh energi secara cepat akibat kehilangan cadangan glukosa saat puasa. (*)

Dr Widodo J. SpA, bertugas di RS Bunda Jakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s