Sama-sama Menang berkat Kompromi


SUMBER : cyberjob.cbn.net.id

Mother And Baby

Batita mulai punya pilihan-pilihan sendiri. Tak selamanya pilihan itu cocok dengan kita. Yuk, belajar berkompromi!

“Bunga mau pakai baju biru!”
“Kok, tiap hari pakai baju itu terus? Pakai baju merah saja, ya?”
“Nggak! Pokoknya pakai baju biru!”
“Kenapa pakai baju biru terus?”
“Baju biru enak!”
“Iya deh, hari ini Bunga boleh pakai baju tidur biru. Tapi besok kita cari baju lain yang sama enak, ya.”
“Oke, Bos!”

Akhirnya Bunga memakai baju kesayangannya, piama biru motif kotak-kotak. Jika saja ibunya tetap tak mengizinkan bocah tiga tahun itu mengenakan baju pilihannya, pasti dia sudah masuk angin. Acara berpakaian pun bisa ‘rusak’ karena Bunga mengamuk, ibunya hilang kesabaran.

Seperti ibunda Bunga, ayah-ibu harus belajar berkompromi dengan batita. Ini karena seiring dengan bertambahnya usia, batita mulai menyadari eksistensi dirinya sebagai pribadi tersendiri. Artinya, dia punya pilihan-pilihan dalam hidup ini, dan tidak mesti ikut pilihan ayah-ibu atau pengasuhnya terus.

Sulitnya – sulit menurut kita, lho – seringkali pilihan batita jatuh pada hal-hal yang di mata kita kurang sreg. Misal, pilihan baju kurang matching, pilihan menu kurang bergizi, atau pilihan mainan kurang mendidik. Banyak ayah-ibu nggak tahan untuk tidak menggunakan otoritas sebagai orangtua alias memaksakan pilihan mereka. Padahal ada lho, jalan keluar yang lebih mendidik, yang dalam dunia komunikasi sebutannya berkompromi.

Cara ini ditempuh terlebih dulu melalui proses mendengarkan pendapat batita, berempati terhadap pendapat tersebut, lalu menawarkan solusi sebagai jalan tengah. Menurut psikolog pendidikan anak Prof. DR. S.C. Utami Munandar, kompromi sebaiknya mulai dibiasakan di rumah sebagai cara untuk mengatasi perbedaan pendapat orangtua dengan anak.

Dan Batita Pun Percaya Diri

Sebenarnya dengan berkompromi, tak ada pihak yang ‘kalah’, melainkan semua menang karena kompromi biasanya menghasilkan win-win solution. Jadi saat berkompromi dengan anak, ayah-ibu tak perlu merasa egonya direndahkan. Malah menurut Utami, sebenarnya kompromi mengandung lebih banyak manfaat ketimbang ‘main paksa’. “Banyak hal akan kita dapat bila mau mendengarkan pendapat si kecil saat berkompromi. Pertama, kita akan mengetahui pandangannya (sebetulnya kenapa sih, Bunga inginnya memakai piama biru terus?) sehingga akan lebih mudah menyampaikan apa yang hendak kita sampaikan (“Nanti kita cari baju lain yang sama enaknya, ya”).

Kedua, pada beberapa kasus menghadapi anak yang ‘sulit’, biasanya mereka akan lebih kooperatif setelah orangtuanya mau mendengar alasan anak berbuat demikian,” papar Utami. Manfaat ketiga, dengan didengar suaranya, anak akan merasa dihargai sehingga percaya dirinya tumbuh. Batita seperti ini kelak akan mudah bergaul di lingkungan baru karena self esteem-nya sudah terbangun sejak kecil.

Yang paling mendasar bila kita mau berkompromi dengan batita adalah, dia akan terlatih berkomunikasi dengan baik karena kebiasaan berdiskusi dan menyampaikan argumen – meski sederhana. Kompromi juga bermanfaat bagi orangtua karena merupakan proses pembelajaran memupuk kesabaran, menekan ego, dan menumbuhkan jiwa demokratis.

Sayangnya, menurut Utami, sangat sedikit orangtua secara tulus mau berkompromi dengan anak, apalagi anaknya batita. “Budaya Timur mendudukkan anak sebagai pendengar, bukan teman. Padahal kompromi biasanya dilakukan jika kedua belah pihak merasa ‘berdiri sama tinggi duduk sama rendah’.”

Tidak mau berkompromi juga ciri sifat egois dan otoriter, lho. Selain bikin capek, karena nantinya membuat kita bersitegang terus dengan anak, jika iklim berkompromi tak dihidupkan di rumah, anak tidak terbiasa dengannya. Kelak setelah dewasa dia akan mencari cara-cara lain dalam menghadapi perbedaan pendapat atau pilihan, misal, cara kekerasan. Wah!

Di bawah ini langkah-langkah belajar berkompromi untuk diterapakn di rumah.

Lakukan Segera
Lakukan segera upaya mencari jalan tengah meski si kecil belum sempurna berbicara. Saat dia punya pilihan sendiri dan menolak pilihan kita, tuntunlah ke arah kompromi. “Oh, adik nggak mau sarapan dengan telur mata sapi? Kalau telurnya Mama rebus terus dikecapin seperti di tukang siomay, adik mau? Wah, pintar!”

Luangkan Waktu
Berpakaian atau mengenakan sepatu mungkin tidak selancar tahun lalu, karena kini kita harus meluangkan ekstra waktu beberapa menit menunggu pilihan anak, kemudian ekstra beberapa menit lagi untuk berkompromi jika pilihan itu terasa kurang sreg. Namun demi sempurnanya tumbuh kembang si kecil, luangkan saja waktu.

Perhatikan Pendapatnya
Jangan jadikan kompromi sebagai basa-basi, tapi hargailah betul-betul pendapat si kecil. Mengiyakan saja kata-katanya sekadar untuk menunjukkan seolah-olah kita berkompromi, tapi mengabaikan ‘isi kata-kata’ tersebut dengan kembali memaksakan kehendak kita, akan membuat anak merasa dikhianati. Upayakan kedua belah pihak sama-sama puas dengan hasil kompromi yang diambil.

Biarkan Dia ‘Menang’
Hasil kompromi tak selalu win-win untuk saat yang sama. Bisa jadi saat itu seolah kita ‘kalah’ karena harus mengalah pada pilihan batita. Perlu diingat, orangtua yang baik tidak akan selalu menekankan otoritasnya – kadang mereka menyerahkannya. Kabar baiknya, semakin banyak kesempatan Anda berikan pada anak untuk menentukan sendiri, makin dia tidak terdorong untuk memaksakan pilihannya.

Tetap Tenang
Bila kompromi sulit dicari, jangan kehilangan kesabaran (ingat, Anda-lah orang dewasanya, bukan batita). Sesekali bersedialah mengalah jika yang diperdebatkan tidak prinsipil (misal, soal pilihan piama, menu makan di hari Minggu, atau tempat rekreasi yang dituju). Akan tetapi, mengalahlah sebelum batita mengamuk.

Jangan Kompromi jika Tak Ada Pilihan
Jika urusannya tak dapat ditawar seperti makan obat, imunisasi, atau memakai sabuk pengaman di mobil, tentu kita tak bisa menerapkan kompromi.

Beri Pujian untuk Keberhasilan Berkompromi
Pujian dan kata-kata positif atas suksesnya suatu kompromi yang kita ambil bersama anak, akan mendorong batita lebih kooperatif lagi. b Mila Meiliasari

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s